Koi Wo Shiyou

Koi Wo Shiyou
29



*Kepala ku penuh dengan ribuan kata-kata yang ingin ku ungkapkan padamu,


...dan ribuan alasan untuk tidak mengungkapkannya*.


...


2 bulan sudah lewat semester 2 awal. aku akan sulit bertemu Acha dan Claude mereka sibuk dengan beasiswanya. dan aku akan sering bertemu dengan Lee dan Mizu karna mereka menerima tawaran untuk menjadi pemain dalam drama musikal club terater.


bahkan sampai saat ini pun aku belum berbaikan dengan Lee. aku merasa diriku sangat payah!


bahkan untuk melihat Lee saja aku tidak bisa. sejak kapan aku jadi begini ya? cewe yang selalu aktif tiba-tiba bisa jadi pasif sepertiku.


ah ga tau lah aku harus fokus belajar aku mau ke Jepang juga biar bisa ketemu sama Acha dan Claude lagi.


semenjak Minggu kemaren Acha dan Claude sudah jarang sekali datang ke ruang club. aku jadi sedikit kesepian rasanya.


hari ini latihan sudah selesai, aku duduk sambil menyandarkan tubuhku. aku menghela nafas panjang lalu memejamkan mata ku.


ternyata tanpa Acha dan Claude kegiatan club tidak se asik biasanya. kurang ada efek menegangkan dari Acha dan becandaan dari Claude.


*Ting


suara ponsel ku berbunyi memecah lamunan ku. aku pun langsung mengecek ponsel ku dan ternyata Acha yang mengirimkan ku pesan.



sejak kapan ya panggilan ku jadi Putri halu aku juga ga paham. ya sudah lah aku langsung jalan saja kesana. sudah jarang juga kumpul sama mereka ber 2.


sesampainya di kedai eskrim aku hanya bisa memandang Acha dan Claude dengan jengkel.


"katanya kita kumpul ber 3" Ujar ku dengan tatapan kesal ke arah Acha dan Claude.


"aku gak ngomong kita cuman kumpul ber 3 loh. lagian aku ajak Lee kan biar ramai" Jelas Acha sambil memaksakan senyumnya.


aku melihat Lee dia hanya asik mengaduk minumannya tanpa melihat ke arah ku.


"Acha, kamu pindah ya, kamu duduk di sebelah Lee. aku duduk di sebelah Claude dong!" Ujar ku sambil menarik tangan Acha agar dia bangkit dari duduknya.


"eh, eh, Ruby .... kamu duduk di sebelah Lee ya" Ujar Claude menahan Acha agar tetap di tempat.


aku pun akhirnya terpaksa duduk di sebelah Lee yang bahkan dari tadi terlihat tidak peduli dengan kedatangan ku.


aku memesan coklat milkshake dan mulai mengobrol bersama Acha dan Claude.


"oh ya, perkembangan belajar kalian gimana? pada mau ke Tohoku juga kan" Tanya Claude memastikan.


"Aku sih buat bahasa sudah lumayan dan nilai ku pastikan naik" Jawab Ku dengan bahagia karna memang baru kali ini aku memiliki semangat belajar yang tinggi.


"kalo aku hanya kesulitan bahasa buat nilai ga ada masalah karna dari awal gak pernah ada yang menggeser ranking ku" Jelas Lee dengan wajah dinginnya


"wah memang Lee terbaik" Ujar Acha "Ruby kamu tingkatkan lagi ya!" terusnya sambil mengepalkan tangan menyemangati ku


"tunggu! tunggu! Lee! kamu mau ke Tohoku University juga!?" Tanya ku langsung menengok ke arah Lee


"iya" Jawabnya


"Kenapa!? kan universitas luar negri lain banyak! kenapa harus jadi saingan ku" Tanya ku lagi. karna aku takut dia mengambil jurusan yang sama dengan ku.


"siapa yang kamu maksud bodoh! aku tidak bodoh! aku bisa masuk ke Tohoku university walau harus bersaing sama kamu!" Jawab ku mulai kesal


"pfftt, kita lihat saja nanti" Ujar Lee sambil menyedot minuman nya dengan ekspresi terlihat seperti menyepelekan ku.


"jadi kamu meragukan aku!?" aku pun semakin emosi hingga memukul meja.


"Guys, guys, tenang sedikit ya, kita lagi di luar loh" Ujar Acha mencoba menenangkan kami.


aku pun langsung membuang pandangan ku dari Lee. jujur deh! dia makin menjengkelkan rasanya. atau karna aku sudah jarang bicara dengannya jadi dia terasa lebih menjengkelkan dari biasanya.


"lagian Ruby, bukannya kamu ambil jurusan pendidikan ya? kalian beda jurusan gak jadi masalah dong.


"pffttt!" Lee sedikit tertawa membuatku mulai jengkel lagi


"heh! aku bisa ya masuk jurusan itu! jangan meremehkan ku. dasar cowo dingin ga berperasaan!" Ujar ku dengan tatapan kesal ke arah Lee


"sudah lah Lee jangan meledek Ruby terus. di lempar meja kamu lama-lama" Ujar Acha


"tidak, bukan begitu. sudah lama aku tidak melihat emosinya yang seperti ini. hahaha" Ujar Lee sambil mulai tertawa lagi.


wajahku pun terasa panas melihat Lee ketawa dengan lepasnya. emosi ku jadi sedikit mereda dan terganti dengan senyuman.


setelah pulang dari kedai eskrim aku dan Lee pun sudah berbaikan, aku pulang bersama Lee sedangkan Claude sama Acha mereka ada belajar kelompok dengan teman sekelasnya malam ini.


sesampainya di dalam mobil Lee aku pun hanya bisa terdiam membisu. aku bingung ingin memulai obrolan apa, karna memang sudah lama kami tidak mengobrol.


namun tiba-tiba saja Lee mendekap tubuh ku ke pelukannya. pelukan yang selama ini ku rindukan darinya. ahirnya aku bisa mencium harum tubuhnya lagi. aku pun membalas pelukan Lee.


setelah Lee melepaskan pelukannya aku melihat dia menangis membuat ku tidak tega. ini pertama kalinya aku melihatnya menangis. aku pun mengambil sebuah tisu dan mengelap air matanya.


"maafkan aku ya" Ujar Lee sambil menangis


"iya, sudah ya jangan menangis. kita temenan lagi ko" Jawab ku sambil terus mengusap air mata Lee


Lee pun langsung tersenyum sambil mengusap kepala ku dengan lembut.


namun tiba-tiba tubuhnya semakin mendekat seakan ingin mencium ku. aku hanya bisa menahannya sedikit.


"Lee, kita lagi di mobil loh" Ujar ku mengingatkannya namun dia tidak menghiraukan.


Lee pun mencium ku dengan sangat lama. aku mencoba mendorongnya namun tenaga dia lebih kuat dari biasanya. semakin lama aku berfikir tidak ada yang bisa di lakukan selain membalas ciumannya.


setelah mencium bibir ku Lee pun membuka 2 kancing seragam ku dan mencium leherku hingga menimbulkan bekas merah.


"Lee, udah ya. ini di mobil nanti ketauan orang gimana" Ujar ku sambil mencoba mendorong Lee.


"iya, iya. aku gak lanjutin ko" Jawab Lee sambil memposisikan dirinya seperti semula lagi.


Lee pun mulai menjalankan mobilnya ke arah rumah ku. saat itu dia sambil menyetir tangannya juga memegang tangan ku. sepertinya dia senang sudah berbaikan dengan Ku.


ya walau aku juga sebenarnya senang sih. ntah kenapa perasaan waktu itu belum sepenuhnya ilang, walau aku membecinya sekalipun.


perasaan itu tetap ada. harus sampai kapan perasaan ini terus muncul dan membuat ku bingung aku juga tidak tahu.