It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 8



Berkali-kali Ana menelan saliva, keadaan yang sangat canggung menambah kedongkolan pada bosnya. Sial! Dia mengumpat dalam hati, merutuki Rey yang menyuruhnya untuk menyetir. Emang gue sopir, apa?


Tidak ada yang saling membuka suara, hingga mobil Rey memasuki area kantor. Pria itu langsung turun, tanpa mengucapkan apapun. Dih, songong! Ana berdecak, memutar bola matanya. Ya Allah tabahkan hambamu ini.


Ana diam saja, berjalan mengikuti langkah Rey menuju ruangannya.


"Pak." Panggil Ana, saat dia sudah berada di ruangan bosnya. Pria itu berbalik menatapnya tanpa bersuara.


"Hari ini ada pemotretan untuk sampul majalah Time." Ujar Ana.


Wanita itu sengaja memfokuskan pandangan pada buku agendanya, dia belum siap jika harus bersitatap dengan Rey. Mengingat kejadian tadi pagi, Ana menepis bayangan itu, bayangan nikmat yang sangat mengerikan.


"Siangnya, ada jadwal makan siang dengan nyonya Reynata." Tambah Ana, masih menundukkan pandangannya.


"Kalo sudah tidak ada lagi, kamu boleh keluar." Ucap Rey, kembali berbalik melangkah menuju kursinya.


•••


Ana mengangkat kepala menatap punggung Rey. Ini orang ngeselin banget sih!! Gak minta maaf, gak ada niatan ngelakuin sesuatu gitu malah jadi sok dingin gini!!


"Tunggu apa lagi?!" Suara Rey membuat Ana tersentak, wanita itu mengusap tengkuknya.


"Em ... kalo begitu saya permisi." Ucap Ana, memutar tubuhnya berjalan menuju pintu.


Gue santet lo lama-lama. Dia memutar bola mata sebelum akhirnya keluar dari ruangan yang entah kenapa berasa seperti freezer jika biasanya seperti tungku api.


•••


Rey tidak bisa fokus, berkali-kali ia menepis bayangan bibir sensual Ana. Lagi, dan lagi bayangan itu kembali muncul dipikirannya. Rasa yang tak pernah bisa ia lupakan, bagaimana wanita itu membuat bibirnya tak berdaya mengikuti gerakannya yang lembut.


Bahkan deru napas yang lolos dari mulut Ana terdengar sangat sexy, membuat darahnya berdesir seketika. Jika saja bau gosong itu tidak mengacaukan momentnya. Rey meraup wajahnya dengan kasar membanting proposal ditangannya dengan kasar ke atas meja.


"Kenapa jadi panas, sih?" Gerutu Rey, ia bangkit melonggarkan dasinya.


"Ana bawakan saya kopi." Ucap Rey, melalui sambungan telepon diruangannya.


Rey merebahkan diri di sofa memijit pelipisnya, Ana benar-benar membuatnya gila. Gue gak akan lepasin lo Ana. Never!


Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Ana masuk membawa nampan berisi secangkir kopi dan piring berisi kue.


"Kamu gak bisa ketuk pintu dulu?!" Sarkas Rey, menatap Ana yang berjalan menuju kearahnya.


"Saya sudah ketuk pintu, tapi tidak ada sahutan. Ya ... masuk aja, lagian pegel Pak berdiri di depan." Cerocos Ana, ia membungkukkan badannya menaruh secangkir kopi kehadapan Rey.


Shit!


Rey menelan saliva, jakunnya naik turun saat belahan dada Ana terlihat karena wanita itu tak mengancingkan kancing atasnya.


"Ada lagi, Pak?" Tanya Ana, menatap heran pada Rey yang melamun.


"Oh, gak ada." Jawab Rey, saat kesadarannya pulih.


Lalu Ana pun pamit undur diri, dia sudah melangkah ke arah pintu, namun terkejut saat Rey tiba-tiba menghadangnya di depan pintu.


"Pak Rey!" Ana melotot saat Rey mengunci pintu dan memasukkan kuncinya dalam saku celana.


"Pak Rey, mau apa?!" Cicit Ana, mendekap nampan di depan dada, dia berjalan mundur saat Rey terus melangkah maju.


"Pak Rey!" Ana bergidik ngeri, ia mulai panik saat Rey tak menyahut dan justru semakin mendekat dengan tatapan yang tak bisa Ana jelaskan.


"Pak!" Pekik Ana saat Rey menjatuhkannya ke sofa, hingga nampanya pun terjatuh. Ana melotot menatap horor wajah bosnya yang sudah tak berjarak.


"Pak Rey, mau apa?" Kata Ana lirih, Rey tak menjawab tetapi dia mendekatkan wajahnya membuat wanita itu panik. Please siapapun tolong gue.


"Tolong!!" Teriak Ana mulai frustasi.


"Pak Rey! jangan gila, ya?" Ana semakin ketakutan.


"Lepas!!" Ana meronta saat tangannya dicengkram ke atas oleh Rey.


"Maaf Ana, saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


"Maksud Bapak apmmmmb ...." Rey membungkam mulut Ana, meski wanita itu meronta menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tapi serbuan Rey tak terelak, dia mencium Ana dengan sangat brutal menyecap bibir kenyal itu.


Tanpa memberikan kesempatan Ana untuk melawan, Rey semakin memperdalam ciumannya. Memasukkan lidah ke dalam mulut Ana. Mengabsen setiap inci gigi dan rongga mulutnya.


"Ahhhh ...." Sial!! Setan! Ana merutuki mulut bodohnya yang bisa-bisanya mendesah di saat Rey mengecupi lehernya. Lo lagi mau diperkosa b*go!Tetapi tubuhnya sudah benar-benar lemas tak ada lagi tenaga untuk melawan. Cengkraman bosnya terlalu kuat.


Rey melepaskan kancing baju Ana, dan di saat itulah tangan Ana menahannya. Dia menggeleng, bahkan butiran air mata itu terjatuh. Tapi Rey yang sudah di ambang batas tak mampu mengelak, di tambah pesona tubuh Ana membuatnya terbelenggu oleh nafsu.


"Pak Rey!" Wanita itu terisak, saat Rey terus melepas kancing kemejanya.


"Maaf Ana, seandainya kamu tidak menolak ajakan saya menikah ini tidak akan tejadi." Gumam Rey sambil melepaskan kancing terakhir.


"Pak Rey, tapi bukan begini caranya." Rey berhenti lalu ia duduk masih di atas Ana, menatapnya dengan ekspresi datar.


"Lalu seperti apa?" Rey menaikkan sebelah alisnya, tatapannya tajam menusuk ke dalam relung hati Ana.


"Aku harus menunggu sampai kapan? sampai kamu akhirnya menikah dengan orang lain?!" Rey menghela napasnya, lalu turun dari tubuh Ana.


Sedangkan Ana yang masih syok mendengar ucapan Rey hanya terdiam tanpa mampu mengucapkan apapun. Menunggu? maksudnya apa?


"Maafkan saya, kamu rapikan pakaian kamu dan silahkan keluar." Rey berjalan ke arah meja kerjanya meninggalkan Ana begitu saja.


•••


Ana merenung, ia terus memikirkan ucapan bosnya. Kini ia tengah berada di dalam bilik toilet, mungkin sudah ada setengah jam dia di sana.


"Pak Rey, kenapa sih? Akhir-akhir ini jadi aneh." Ana memijit jidatnya, pusing itu semakin membuatnya kesakitan.


Hingga terdengar suara langkah kaki masuk ke toilet. Ana tahu itu segerombolan karyawan cabe-cabean yang kemana-mana memang selalu bergerombol. Seperti gerombolan b*bi gibah.


"Eh, kalian tahu gak? Masa ya, sih Ana tadi keluar dari ruangan Pak Rey acak-acakan!" seru seorang wanita dengan suara cempreng. Membuat beberapa wanita yang lain melotot kearahnya karena terkejut.


"Serius, Nek?!" Sahut wanita disampingnya.


"Serius, lipstiknya aja nih belepotan." Tambah wanita cempreng dengan menggebu.


"Ya ampun, memang ya tuh Gadun pinter banget cari target." Timpal yang lain.


"Pantes saja sih, gue juga heran saat dia tiba-tiba diangkat jadi sekretaris Pak Rey, mengingat background dia sama sekali gak memenuhi kriteria." Wanita cempreng itu mencebikkan bibirnya.


"Ya, jual diri Bro! Buat naik jabatan." Terdengar gelak tawa dari wanita-wanita itu.


Ana meremas roknya, merutuki takdir yang membuatnya harus menerima komentar negatif seperti itu. Ini semua gara-gara Rey, berengsek!


Brakkk


Wanita itu langsung mengatupkan bibirnya, begitupun yang lain melongo saat melihat pantulan Ana di belakang mereka yang terlihat dari cermin.


Ana mendecit, muak melihat wajah-wajah mereka. Dia lalu keluar melewati mereka semua. Cukup Ana, cukup lo seperti ini. Gue bakal resign, persetan dengan perjanjian itu. Ana melangkah keluar, tatapannya tajam ke depan tangannya mengepal dengan erat.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊