It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 22



Suara alarm berbunyi nyaring, mengusik Ana yang masih terbuai oleh mimpi indahnya. Senyumnya merekah, semakin erat memeluk bantal guling yang berada dalam dekapan.


Mungkin jika Rey melihat, dia akan sangat cemburu dengan guling itu. Ana menggeliat, tangannya terulur mematikan alarm yang begitu berisik.


Ana bangun bergegas turun dari ranjang. Dia mengosok-gosok matanya, berjalan menuruni tangga. Terdengar suara berisik dari arah dapur, membuat rasa penasarannya tumbuh. Kekacauan apa lagi yang diperbuat Bosnya?


"Pagi." Sapa Rey, ketika melihat Ana berjalan memasuki dapur.


"Sudah mendingan?" Tanya Rey, karena semalem Ana mengeluh sakit perut. 


"Hm." Ana menjawabnya dengan gumaman.


"Pak Rey, masak lagi?" Tanyanya. Pria itu mengangguk.


"Nasi goreng jawa. Semalam kamu mau makan itu kan? Tapi sayang sudah habis, jadi saya buatin spesial buat kamu." Kata Rey, yang sedang menuangkan nasi goreng ke piring.


"Emang Pak Rey bisa?" Tanya Ana, terlihat meragukan bosnya.


"Em, bisa kan ada youtube. Tapi ... saya gak jamin soal rasanya." Rey menaruh sepiring nasi goreng ke hadapan Ana.


"Semoga kamu suka." Tambahnya, lalu duduk di sebelah Ana.


Ana terdiam memandangi nasi goreng buatan Rey, terlihat menggiurkan. Tapi ....


"Kenapa?" Tanya Rey yang memperhatikan keterdiaman Ana.


"Gak suka?" Ana langsung menggeleng dengan cepat.


"Lalu?"


"Em, sedikit Aneh." Kata Ana, menunjuk telur mata sapi yang di atasnya di bubuhi saos berbentuk hati.


Rey hanya terkekeh, enggan menanggapi. Ana ini memang spesies paling unik. Selain polos yang setengah b*go, dia juga tidak peka. Jadi, percuma saja Rey mengkodenya. Bahkan ketika pria itu terang-terangan menyatakan cinta, Ana justru mengira dirinya kerasukan.


"Kamu manis." Kata Rey, menatap Ana yang lngsung terdiam setelah mendengar ucapannya.


"Saya suka kamu." Tambahnya.


Ana terdiam cukup lama, lalu perlahan tangannya terulur menyentuh kening Rey.


"Pak Rey gak lagi kerasukan setan bucin, kan?" Celetuk Ana, dengan wajah innocent-nya.


Rey tersenyum tipis mengingat tingkah konyol Ana, bahkan perempuan itu sampai membacakan doa pengusir setan. Menyebalkan memang, tapi juga menggemaskan.


Ana tersentak ketika tangan Rey menyentuh helaian rambutnya. Dia menoleh dan Rey sudah mencondongkan tubuhnya. Pria itu meraih rambut Ana lalu mengikatnya.


"Kalo gini kan, gak ribet makannya." Kata Rey, lalu kembali makan dengan tenang.


Ana terdiam, merasakan detak jantungnya yang seperti di buru setan. Ada apa ini? Perasaan aneh itu kembali menelusup ke dalam hatinya.


•••


Hari ketiga, Ana kembali menjalani perannya sesuai isi perjanjian. Entahlah, apa yang ingin di lakukan bosnya. Pria itu membawa Ana ke pusat perbelanjaan.


"Pak Rey mau belanja bulanan lagi?" Tanya Ana yang berjalan di belakang pria itu. Rey menggeleng, membuat Ana heran.


"Lalu?" Tanya Ana yang masih penasaran. Pasalnya sejak tadi pria itu berjalan tak tentu arah.


Ana mendengus, kesal ketika tak mendapati sahutan dari bosnya. Dengan ogah-ogahan dia mengikuti langkah pria itu, hingga akhirnya mereka memasuki sebuah toko.


Ana terdiam, melongo. Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Astaga. Tekadnya semakin bulat, untuk menceburkan Bosnya ke kubangan lumpur lapindo. Dia bahkan berencana melempar pria itu ke Antartika kalo perlu. Agar otaknya beku, dan tak bisa berpikir kotor lagi.


"Kamu pilih saja, mana yang kamu suka." Kata Rey. Pria itu duduk sembari memainkan game di ponselnya.


Ana menggeram, semakin kesal dengan Bosnya yang berotak udang. Apa dia perlu merukiyah Bosnya? Ana mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Mba cari yang ukuran berapa?" Suara SPG itu menginterupsinya. Ana menatap wanita yang berdiri di depannya.


"Mau yang pake kawat atau yang berbusa?" tanya mba-mba itu.


"Atau yang sedang viral, ada lampu diskonya."


Ana semakin cengo, ketika Mba-mba itu menunjukkan bra yang dihiasi lampu kerlap kerlip. Ana terus merutuki Bosnya. Pria itu tidak berubah, sekali mesum tetap mesum. Bisa gila dia, jika harus menikah dengan Rey.


"Mba carikan saja ukuran yang paling besar, yang bisa buat menutup kedua mata Bos saya!" Seru Ana. Dia berbalik dan melangkah keluar dari toko itu.


Rey yang melihat pun segera mengejar, memanggil-manggil namanya. Namun Ana enggan menggubris pria itu. Dia sangat kesal dengan bosnya yang selalu mesum, berbuat sesuka hati dia.


"Kamu marah?" Tanya Rey.


Ana memutar bola mata, menghempaskan tangan Rey dari lengannya.


"Pikir aja sendiri!" Dia kembali berbalik dan melangkah lagi.


Namun Rey kembali menahannya, memegangi kedua bahunya.


"Oke saya salah, maaf. Sebagai permintaan maaf saya, gimana kalo kita beli es krim?" Ujar Rey dengan senyuman maut.


Ana mendesis, siapa juga yang mau disogok es krim. Dia pikir Ana anak SD, bahkan mungkin anak SD sekarang juga tidak mau kalo disogok es krim.


"Gak!" jawab Ana.


"Please, mau ya ... mau. Abis ini kita nonton gimana?" Ana menggeleng.


"Ayo dong, mau. Saya janji gak lagi-lagi ajak kamu ke sana, please maafin saya." Rey terus merengek membuat Ana risih karena mereka jadi tontonan publik.


Akhirnya Ana memaafkan, dan di sinilah dia sekarang di dalam bioskop. Setelah menghabiskan satu cup es krim vanila, Rey langsung menyeretnya untuk menonton film.


Ana tampak asik menonton film yang tengah di putar, berbeda dengan Rey. Pria itu terlihat tegang, dia terus merutuki keputusannya. Harusnya memang dia tidak memilih film horor, jika tahu film yang ditonton seseram ini.


Alasan Rey memilih film horor, agar bisa modus pada Ana. Tapi lihatlah, semua justru berbanding terbalik dengan ekspetasinya. Ana sama sekali tidak takut, dia terlihat sangat menikmati filmnya. Dan Rey ... jangan tanyakan.


Dia tengah menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Jika ekspetasinya Ana akan memeluk dia saat ketakutan, mungkin kenyataanya justru Rey yang memeluk Ana.


"Aaaaa!" Pekik Rey, ketika hantu valak muncul membuatnya kaget setengah mati dan refleks memeluk Ana.


"Pak Rey gak apa-apa?" Tanya Ana.


"Aaaa ... serem banget wajahnya!" Rey menyembunyikan wajahnya di pundak Ana.


Ana terus menertawakan wajah konyol Bosnya yang ketakutan. Bayangkan saja, sepanjanga film berlangsung Rey terus menutupi wajah. Dia mengintip lewat sela-sela jarinya. Bahkan pria itu terus berteriak waktu hantu Valak itu muncul tiba-tiba.


Rey mendengus, wajahnya pucat. Kini keduanya sudah keluar dari bioskop.


"Ketawa aja terus! Tapi jangan menyesal jika bibir kamu saya bungkam dengan bibir saya!" Refleks Ana membekap mulutnya dengan kedua tangan, sambil mengelengkan kepalanya.


"Abis Pak Rey lucu, tampang garang tapi takut sama valak." Kata Ana.


Kini keduanya sudah berada di foodcurt, berniat mengisi perut yang sudah meraung minta jatah.


"Coba kalo tadi kita nonton spiderman aja." Ana terus berceloteh, membahas hal itu.


Hingga tangan Rey membuat bibirnya terkatup seketika. Sial, Ana mengumpati tubuhnya yang tiba-tiba tegang saat Rey meletakkan telunjuk di bibirnya.


"Kamu bahas itu lagi, saya beneran akan bungkam bibir kamu." Bisik Rey.


"Ta———"


Ana membulatkan mata, saat Rey memajukan tubuhnya. Menepis jarak diantara mereka. Ana melirik ke arah sekitar. Gila, gila! Gak mungkin kan, dia beneran cium gue di sini!


Ana memejamkan mata, malu saat tatapannya bersibobrok dengan mata hitam milik Rey. Dia terus merutuki tubuhnya yang tiba-tiba mati rasa, tak bisa digerakkan.


Ana terus merapalkan doa, hingga suara ponsel Rey membuat pria itu menarik tubuhnya kembali. Ana membuka mata, bernapas lega karena Rey tak jadi melakukan tindakan gilanya.


"***Apa?!" Pekik Rey ketika menerima panggilan itu.


"Oke, saya segera ke sana." Rey langsung mematikan sambungan teleponnya***.


"Ada apa Pak?" Tanya Ana, saat melihat ekspresi Rey yang berubah tegang.


"Tiara!" Rey mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kita ke kantor sekarang." Ana yang masih bingung pun hanya bisa menahan rasa penasarannya, dia berjalan mengikuti Rey yang terlihat sangat panik.


Tiara? Ana tampak mengingat-ingat, nama itu begitu familiar baginya. Dia terus berpikir, hingga terlintas bayangan seorang gadis di kepalanya.


Gadis tengil itu!


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊