
Ana melongo menyaksikan kekacauan yang terjadi di ruangan Bosnya. Ruangan itu berubah jadi berantakan, seperti baru saja diguncang gempa bumi.
Ana mengalihkan pandangannya pada pelaku. Bahkan gadis labil itu, masih melempar-lemparkan barang apa pun yang ada di dekatnya.
"Gila!" Ana berdecak, sembari menggelengkan kepala.
Apa yang merasuki gadis itu? Ana semakin heran karena tak ada satu pun yang mampu menghentikan aksi gadis itu. Apa Pak Rey akan terus diam?
Ana melirik Bosnya yang berdiri di sampingnya. Pria itu terlihat sangat marah, rahangnya mengetat dengan kedua tangan terkepal. Mati lah kau setan kecil, bapak setan sudah hadir siap menerkammu!
"Tiara!!"
Benar saja dugaan Ana. Suara bariton Rey, sukses membuat gadis itu menghentikan aksi gilanya.
Tiara menoleh, lalu berbalik menghadap Rey yang berdiri di ambang pintu.
"Hai." Sapa Tiara, dengan wajah innocent.
Ana melongo, hebat sekali gadis itu. Bahkan dia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Ana menatap Bosnya, melihat ekspresi Rey yang tak berubah. Malah terlihat semakin garang, sorot matanya bahkan mengalahkan tatapan burung hantu.
"Apa yang kamu lakukan!" Bentak Rey, sepertinya sudah habis kesabaran pria itu. Jika tadi Rey hanya menyaksikan kebrutalan Tiara, sepertinya kali ini dia akan memberi perhitungan pada si tengil itu.
"Gimana kejutan aku?" Tanpa rasa malu Tiara mengalungkan tangannya di leher Rey.
Ana mendengus, menyaksikan hal itu di depan matanya. Astaga! Pengen banget celupin nih bocah di adonan bakwan!
"Lepas!" Rey mendorong tubuh Tiara, hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
Tiara tersenyum miring, menyugarkan rambutnya ke belakang.
"Sampai kapan kamu mau nolak aku?" Rey memutar bola matanya, jengah mendengar pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut gadis itu.
"Cukup Tiara!" Rey mengembuskan napasnya.
"Apa kau lupa dengan kesepakatan kita!" Tiara memutar bola matanya.
"Apa karena dia?" Tiara menoleh pada Ana.
What? Kok gue? Kenapa Ana harus dibawa-bawa di sini. Bahkan dia tak mengerti mereka sedang membahas apa.
"Waktu itu kamu juga nolak aku, bahkan turunin aku di pinggir jalan." Tiara kembali mendekati Rey.
"Kamu bilang aku gak perlu melakukan hal itu, dan kamu berjanji akan memberikan project itu padaku." Tiara mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Lalu, kenapa kamu ingkar janji? Hah! Kenapa project itu kamu serahkan ke orang lain!!" Teriak Tiara di depan wajah Rey, dengan emosi menggebu-gebu.
"Saya sudah penuhi permintaan kamu, project itu sudah saya tanda tangani dan kamu modelnya!" Sergah Rey.
Tiara mendesis, lalu tertawa sinis. "Tapi karyawan kamu bilang ...." Dia menoleh pada wanita bertubuh gempal yang berdiri tak jauh darinya.
"Semua kontrak itu sudah dibatalkan, bahkan sudah ada penggantiku. Apa itu dia." Kata Tiara, melirik Ana dengan sinis.
"Melly!" Rey melemparkan tatapan penuh tanya pada wanita itu.
"Em, anu ... Pak ...." Melly menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tampak ragu, wajahnya terlihat gelisah.
"Bisa kamu jelaskan, ini semua!" Kata Rey.
Melly meremas jemarinya, dia gugup tak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Tiara tersenyum sinis, melihatnya.
"Melly!" Panggilan Rey membuat wanita itu semakin gugup.
"Me———"
"Pak Sean yang minta." Potong Melly, dia tampak memejamkan mata siap menerima makian dari bosnya.
"Sean?" Ucap Rey. Melly langsung mengangguk dengan cepat.
"I ... Ii-ya Pak. Beliau bilang Tiara tidak cocok dengan kriterianya, jadi ...." Melly menggantungkan ucapannya membuat Rey semakin penasaran.
"Jadi apa? Di sini Bos kamu saya atau Sean!" Bentak Rey, amarahnya semakin mencuat ke ubun-ubun saat mendengar nama Sean.
"Tapi ...."
"Mba Melly, ini kontrak ...." Suara merdu itu menginterupsi semua orang, mereka lalu menoleh ke sumber suara.
"Vania!"
"Rey!"
Keduanya sama-sama terkejut.
"Apa?!"
•••
Ana baru selesai merapikan ruangan Rey yang berantakan. Dia terus menggerutu, karena Bosnya menyuruh dia membereskan kekacauan yang di perbuat sih bocah tengil itu.
Sekarang Ana tahu kenapa Tiara bisa seberani itu pada Rey. Ternyata gadis itu anak salah satu pemegang saham, pantas saja dia berani bersikap kurang ajar pada Bosnya.
Namun Ana terus kepikiran dengan ucapan Tiara tadi. Kenapa gadis itu harus menyangkut pautkan dirinya dengan masalah internal mereka. Apa hubungannya Ana dengan penolakan Rey pada gadis itu.
Ana terdiam, memikirkan hal yang terus mengganggu otaknya. Jadi waktu itu Rey tidak makan siang dengan gadis itu? Dan yang dia lihat di ruang kerja Rey itu cuma salah paham. Karena kenyataannya Tiara yang sengaja menggoda Rey! Jadi selama ini Ana sudah berprasangka buruk pada Bosnya.
"Aiissshh ...." Ana menggelengkan kepalanya.
"Ngapain juga gue pusing mikirin itu! Emang kalo mereka ada hubungan atau gak, kenapa? Bukan urusan gue. Lagian gue cuma pacar settingan kan." Ana tersenyum kecut, menyadari posisinya.
Hingga suara derit pintu yang terbuka mengalihkan konsentrasi Ana. Dia mengangkat wajahnya, menatap orang yang kini berdiri di ambang pintu.
Ana melotot, menelan saliva. Bibirnya tiba-tiba kelu, tubuhnya menegang seketika.
"Ana."
Ana terdiam, terpaku di tempatnya bahkan ketika orang itu memanggilnya dia sama sekali tak merespon.
Sean!
"Bisa kita bicara sebentar?"
Ana tersadar ketika suara Sean kembali terdengar, dia segera bangkit.
"Sepertinya gak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Sean." Ana segera berlalu, dia tak tahan jika berada di dekat pria itu.
Entahlah perasaannya tak karuan, antara kecewa, benci dan putus asa yang bercampur jadi satu. Terlebih jika melihat pria itu, Ana akan langsung teringat perlakuan buruk mamanya waktu itu.
Ana segera keluar, meski Sean terus memanggil namanya. Ia sengaja menulikan pendengarannya.
"Pak Rey," Panggil Ana saat melihat siluet bosnya yang keluar dari kantor.
"Pak Rey, tunggu!" Teriak Ana namun pria itu tak mendengarnya.
"Pak ...." Ana terkesiap saat tangannya di cekal oleh Sean.
"Lepas!" Ana berontak lalu menatap ke arah mobil Rey.
"Pak Rey, tunggu ... Sean Lepas!" Hardik Ana karena pria itu terus menahannya.
"Lima menit. Izinkan aku bicara sebentar." Kata Sean.
Dan disinilah sekarang mereka, duduk di cafe dekat kantor. Ana memalingkan wajahnya, melihat keluar jendela. Meski telinganya terus mendengar ucapan maaf dari mulut Sean.
"Sudah lima menit." Kata Ana, dia segera bangkit namun Sean menahan lengannya.
"Apa lagi?"
"Ana, please. Beri aku kesempatan." Lirih Sean, terlihat putus asa.
"Maaf, Sean." Ana melepaskan tangan Pria itu dari lengannya.
"Tapi aku gak bisa. Kamu tahu kan, aku calon istri Rey sepupu kamu. Lagi pula kamu juga sudah punya calon istri. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan berjodoh." Ujar Ana. Seketika harapan Sean hancur bersamaan dengan langkah kaki Ana.
"Vania!" Suara Sean menghentikan langkah Ana, meski wanita itu enggan berbalik menghadapnya.
"Dia cinta pertama Rey!"
Ana terdiam, merasakan guncangan hebat di hatinya. Ucapan Sean seakan memberikan pukulan telak padanya.
Apa karena itu, tatapan Rey tadi berbeda ketika bertemu dengan wanita itu? Ana tak tahu kenapa dadanya begitu sesak, sakit luar biasa.
"Bahkan aku yakin, Rey masih mencintai Vania." Gak mungkin!
Ana terus menyangkal ucapan Sean, namun ingatannya berputar saat melihat bosnya tadi. Ana melotot, menyadari satu hal yang terlewatkan olehnya. Ada wanita yang duduk di samping bangku kemudi. Dan wanita itu ....
"Vania!"
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊