It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 2



Ana mengerjapkan mata, saat tangan Rey terulur menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.


"Pak Rey becanda ya?" Ucap Ana melepaskan diri dari rengkuhan tangan Rey, ia berbalik mengambil piring tadi.


"Gak lucu tau pak." Tambahnya, sambil menaruh piring berisi okonomiyaki di meja makan.


"Kalo saya serius?" Tanya Rey, membuat Ana berbalik menatap pria yang tengah menatapnya begitu intens, pasalnya ia masih mengenakan pakaian pesta tadi, meskipun pakaian itu masih tergolong sopan tetap saja ia risih diperhatikan seperti itu.


"Pak rey, berhubung sudah malam saya mau pulang." Ana mencoba mengalihkan pembicaraan. Saat tidak mendapat respon dari Rey, ia langsung beranjak pergi.


"Apa-apaan sih dia? Gak lucu banget. Dikira nikah main-main, ijab lima menit kelar yang ada hidup gue kelar nikah sama dia." Gerutu Ana sambil berjalan menuju pintu.


Ana berhenti di teras, mendesah pelan menatap nanar pada hujan yang begitu deras. Gimana caranya pulang?


"Yakin mau pulang?" Ana berbalik saat suara bass itu menyadarkannya, ia tampak terkejut saat melihat sosok Rey yang sudah berdiri di ambang pintu menyenderkan bahu pada daun pintu dengan tangan dilipat di depan dada.


"Iya Pak" jawab Ana, ia tersenyum kecut.


"Hujan" Tunjuk Rey dengan dagunya.


Anak kecil juga tau itu hujan. "Gak pa-pa Pak, baru hujan air bukan hujan meteo." Jawab Ana, memaksakan tersenyum. Menyebalkan!


Rey hanya manggut-manggut, lalu Ana pun tanpa pikir panjang langsung berlari menerobos hujan menuju pintu gerbang. Ia menambah laju larinya saat tiba-tiba pintu gerbang itu bergerak dengan sendirinya.


"Yaah .... " Ana mematung di tempat, menatap kecewa pada pintu gerbang yang sudah tertutup. Ia berbalik menatap pelakunya.


Pak Rey!!! Ana meremas dressnya yang basah, sedangkan Rey tengah menyeringai seakan mengejaknya.


•••


Ana menatap pantulan diri di cermin, tangannya mencengkram ujung wastafel.


"Dasar boss mesum, sialan." Umpat Ana. Gadis itu mendesah berat, meratapi nasib yang selalu sial.


Ana lelah ingin istirahat tetapi lihatlah bos sialan itu justru menahannya di sini, entah apalagi yang akan Rey suruh padanya. Padahal besok hari senin dan saat ini sudah menunjukkan pukul 23.00.


Ana keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kaus Rey yang kedodoran di tubuhnya hingga sebatas paha dan boxer ketat yang pendek tertutup kaosnya.


"Pak Rey!" Pekik Ana, terkejut saat melihat Rey duduk di tepi ranjang, dengan wajah innocent. Nih orang jelmaan apaan si? Nongol dimana-mana?


"Bapak ngapain di sini?" Tanya Ana.


"Ngapain?" Rey menaikkan sebelah alisnya,


"Ini kan rumah saya." Jawabnya dengan polos dan tampang watados. (Wajah tanpa dosa)


Astaga, bunuh orang dosa gak sih!? Ana mengembuskan napas dengan kasar, bodo amat dengan bos sialan itu. Ia berjalan menuju meja rias sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk dan mata Rey terus mengikuti ke mana arah pinggul itu pergi.


"Buatin saya kopi." Ucap Rey kemudian ia pergi keluar. Ana mendengus, melirik kepergian bosnya.


"Hissk, dasar boss ngeselin gue capek mau tidur." Kesal Ana lalu ia melempar handuknya berjalan menuju dapur dengan segala sumpah serapah yang tidak terdengar oleh Rey tentunya.


"Apa gue beneran resign aja ya?" Gumam Ana, tangannya terus mengaduk kopi yang tengah ia pegang. Ia tampak bimbang, di sisi lain ia butuh sekali pekerjaan ini di sisi lain ia tidak betah harus bekerja dengan bos seperti Rey.


"Masih lama?" Suara bass itu membuat Ana terkejut dan tangannya refleks membuat cangkir yang ia pegang terjatuh.


"Aaaaahhhhwww!" Pekik Ana saat kopi panas itu tumpah mengenai kaki. Rey langsung berlari menghampiri Ana, membopongnya ke kursi. Membuat ia terkesiap dengan tindakan pria itu, bahkan matanya membulat sempurna saat tatapan mereka beradu.


"Sssstt, ahhhh aduh ... pelan-pelan Pak." Cicit Ana saat kakinya kini tengah diobati oleh Rey.


"Makanya jangan ceroboh." Sarkas Rey, membuat Ana mengerucutkan bibirnya.


"Kan gara-gara Pak Rey, ngagetin saya." Sanggah Ana, tidak mau disalahkan sepihak.


"Kamu yang ngelamun tapi malah saya yang di jadikan kambing hitam!" Ana terdiam, dan itu membuat Rey tampak bersalah karena sudah membentaknya.


"Maaf." Ucap Rey, ia kembali fokus memberi salep pada kaki Ana.


"Pak." Panggil Ana.


"Saya mau ngomong ...." Ana meremas jemarinya, tampak takut dan juga ragu.


"Apa?" Kini Rey menatapnya.


"Saya mau .... " Ana tampak bimbang, haruskah ia katakan tetapi ....


"Kalo kamu mau minta resign, lupakan. Kamu gak inget kalo kamu sudah tanda tangan kontrak seumur hidup dan kamu pikir kamu bisa ganti rugi pinalti 5x lipat." Ana terdiam, ia menundukkan kepala. Iya juga sih, nasib orang kismin.


"Maaf Pak." Ucap Ana tetapi Rey memilih diam, ia tampak mengembuskan napas dengan kasar. Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing.


"Mau kemana?" Tanya Rey, saat Ana menarik kakinya dari atas paha Rey, namun ditahan oleh pria itu.


"Mau bikinin kopi kan yang tadi tumpah." Jawab Ana, dengan wajah panik karena Rey yang mencondongkan tubuh kearahnya.


"Saya gak mau kopi." Jawab Rey.


"Terus?" Ana menaikkan sebelah alis, tampak bingung saat Rey menyeringai di depan wajahnya dengan mata tertuju kearah dada.


"Susu kayanya lebih enak, pas dengan cuacanya." Sontak saja Ana menutupi dadanya dengan kedua tangan, ia melotot mengingat ia tidak memakai bra karena basah.


•••


Rey menguap sambil menggeliat, saat sinar matahari mulai menerpa wajah. Karena kamar yang berjendela kaca dengan posisi menghadap ke timur membuat cahaya itu langsung masuk pas mengenai wajahnya.


Tangan Rey menggapai-gapai sisi tempat tidur, Kosong. Rey mengerjapkan mata lalu bangun, seingat dia semalam Ana tidur disebelahnya ke mana wanita itu?


Rey menyunggingkan senyum, mengingat kejadian semalam. Wajah panik Ana, wanita itu bahkan lari terbirit-birit dan mengunci kamar, Bodoh. Dia lupa kalo Rey pemilik rumah, jadi dia bisa masuk kapanpun dengan kunci cadangan.


Rey masuk menyelinap ke kamar saat wanita itu terlelap. Ia berbaring di sebelah Ana, wanita itu tampak cantik saat sedang tidur. Sejenak Rey hanya menatap wajahnya, hingga tangannya dengan lancang membelai pipi tirus itu.


"Cantik," Gumam Rey.


Semua berjalan normal hingga mata Rey tertuju pada kaus Ana yang tersingkap bahkan memperlihatkan perutnya yang rata, membuat naluri lelakinya keluar dengan tidak tahu diri. Tahan b*go!


Susah payah Rey menahan hasrat terpendam yang sudah sejak lama ia tahan.


"Lo bisa, Lo bukan si berengsek itu." Ia mengembuskan napas dengan kasar mengingat kejadian tadi di pesta, bahkan ia menghajar pria berengsek yang berani menyentuh Ana.


"Benar gue gak boleh jadi berengsek."


Rey langsung menurunkan kaus Ana menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu, sebelum jiwa mesumnya kian memberontak.


"Good night, Ana." Ucap Rey, lalu mengecup bibir Ana dan siapa kira reaksi wanita itu membuatnya hampir menjerit karena menahan ngilu.


Ana menendang Rey tepat di area sensitif yang sedang tegang. Ia memekik membungkam mulut saat melihat wanita itu merubah posisi jadi memunggunginya dengan mata masih terpejam. Rey pun hanya bisa menahan ngilu hingga akhirnya ia ketiduran.


Rey meraup wajahnya, mengingat kejadian semalam bayangan tubuh Ana membuat juniornya kembali bangun. Ia bergegas menuju kamar mandi, menuntaskan hasrat terpendam.


"Solo terus." Gumamnya.


Setelah setengah jam berada di kamar mandi , Rey keluar mengenakan kaus dan celana boxer selutut. Ia turun mencari keberadaan Ana, saat aroma sedap itu menyapa hidung membuatnya lapar, ia bergegas menuju dapur.


Mata Rey membulat saat ia sampai di dapur, melihat Ana tengah membungkukkan badan mengambil pisau yang terjatuh di lantai. Susah payah Rey menelan saliva, saat Ana masih diposisinya bongkahan semangka sekal itu terpampang jelas, karena gadis itu masih memakai kaos semalam dengan boxer ketat miliknya dan dari balik kaus yang tipis ia bisa melihat bayangan dua buah pepaya yang tergantung.


Entah dorongan setan mana, Rey langsung merengkuh pinggang Ana, membuat gadis itu memekik terkejut.


"Pak Rey!" Jeritnya.


Rey membawa tubuh Ana ke atas meja, mendudukkannya di sana dan langsung memburu leher Ana. Rey yang berengsek!!


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊