
Ana mempererat pelukannya, sungguh hal paling menggelikan adalah ketika kecoak terbang ditubuhnya.
"Pak Rey! kecoak." Cicit Ana, terlihat masih panik. Sampai tak menyadari bagaimana ekspresi tegang Rey.
Tentu saja bukan karena kecoak, melainkan sesuatu yang kenyal menyengol perutnya. Sungguh Adik kecilnya sudah bangun dengan semangat 45 mencoba menerobos keluar, jika saja tak ada penghalang.
"Ekhem ... Kecoaknya sudah tidak ada." Jawab Rey. menundukkan kepala, begitupun Ana. dia mengendorkan pelukannya. Mendongak menatap Rey.
Keduanya saling tatap, Ana yang terpesona tak sadar saat wajah Rey kian mendekat menepis jarak yang kian tak kentara.
"Aaaaaaaaaaa!!" Teriak Ana, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rey. Membuat pria itu mendengus kesal saat listrik tiba-tiba padam. Hampir, hampir sejengkal lagi. Arrghhh ....
"Pak Rey, saya takut." Cicit Ana, bahkan tubuh wanita itu sampai menggigil.
"Tenang Ana, ada saya." Rey mengusap punggung Ana yang polos. Ya, Allah ujianmu begitu berat sekali.
"Kamu sudah mandi?" Tanya Rey. Ana menggeleng.
"Kalo begitu kamu mandi, saya tunggu diluar." Pria itu hendak berbalik tetapi Ana justru menahannya.
"Jangan pergi, saya takut gelap." Ujar Ana dengan lirih nyaris tak terdengar.
"Kalo begitu gak usah mandi." Ucap Rey, pria itu hendak membawa tubuh Ana. Lagi, wanita itu menahan pergerakannya.
"Apa lagi Ana?!" Hardik Rey, merasa jengah dengan tingkah Ana. Jujur posisi ini begitu menyiksanya, bukan apa-apa dia hanya takut khilaf.
"Saya gak bisa tidur kalo gak mandi dulu." Cicit Ana, ia masih menyembunyikan wajahnya. Tetapi terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
"Lalu?" Rey menaikkan sebelah alisnya, menatap Ana meski samar-samar tapi dia tahu wanita itu tengah bimbang. Terlihat jika dia sedang meremas jemarinya.
"Emmss ...." Ana tak tahu haruskah ia meminta tolong Rey tetap disampingnya atau tidak.
Tapi jujur dia malu, tapi ia juga tidak mungkin membiarkan tubuhnya lengket sudah pasti dia tak kan bisa tidur.
"Kamu mau saya di sini?" Tanya Rey, meski ragu Ana mengangguk pelan. Dan kini Rey benar-benar dalam kebimbangan antara bersyukur atau merutuki insiden listrik padam ini.
•••
Ana tak melepaskan Rey sedetikpun, bahkan kini keduanya berada dalam ranjang yang sama.
"Pak Rey." Panggil Ana, saat merasa ada pergerakan dari Rey.
"Saya mau mandi Ana, saya juga belom ganti baju." Ujar Rey, yang tahu akan kerisauan wanita itu.
"Bisakah nanti saja? Setelah saya tidur." Ana mendongak, menatap lekat wajah Rey yang masih terlihat tampan meski minim cahaya.
Rey menghela napasnya, terdengar berat. Sungguh wajah Ana dengan puppy eyesnya membuat ia tak tahan, wanita itu begitu menggemaskan seperti anak kecil pada umum nya yang takut gelap.
"Baiklah, kalo gitu kamu tidur." Rey membaringkannya perlahan, dan tanpa dia duga Ana langsung memeluk tubuhnya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rey.
Rey merasa kalo kali ini jantungnya benar-benar bekerja diluar kendali, hawa panas kini menyerangnya ditambah adik kecilnya yang menegang akibat tanpa sengaja bersentuhan dengan kaki Ana. Ya Allah maafkan hambamu jika kali ini harus khilaf.
"Ana." Panggil Rey.
"Hmm." Hanya gumaman samar yang terdengar, sepertinya wanita itu mulai kehilangan kesadarannya.
"Apakah salah jika saya mencintaimu?" Rey bersuara cukup pelan, lebih terdengar seperti bisikan. Namun tak ada tanggapan kecuali dengkuran halus dari Ana.
"Kamu tahu?" Rey mengusap rambut Ana.
"Kamu bukan tipe saya, tapi entah kenapa kamu selalu menarik di mata saya." Gumam pria itu, tampak tersenyum mengingat betapa ia tergila-gila pada Ana.
"Saya tahu, mungkin saya bukan tipikal yang tepat untuk kamu jadikan suami. Tapi tak bisakah kamu belajar menerima saya ...." Rey masih terus bergumam, hingga lambat laun ia mulai meracaukan segala hal hingga matanya terpejam.
“Saya juga tidak tahu pak.” Gumam Ana.
•••
Ana terbangun saat alarm ponsel berdering dengan nyaring. Ia Mengerjapkan mata, tangannya menggapai-gapai kasur sampingnya. Kosong. Ana langsung bangun, duduk dengan mata yang terbuka lebar.
"Pak Rey, kemana?" Gumam Ana, menyadari pria itu tidak ada. Hingga suara dentuman keras terdengar, dia langsung turun dari ranjang dan beranjak keluar.
Ana bersender pada tembok, dengan tangan yang ia lipat di depan dada. Menatap Rey yang tengah sibuk dengan peralatan perangnya.
Sungguh dapur ini sudah seperti diguncang gempa. Sangat berantakan dengan peralatan dapur yang berserakan. Begitupun dengan tepung yang bertebaran dimana-mana dan juga telur yang berjatuhan di lantai.
"Ekhem!"
Ana berdehem membuat Rey langsung berbalik menatap wanita itu dengan tatapan horor, seperti orang kena serangan jantung. Sungguh Ana ingin sekali tertawa, begitu lucu wajah bosnya saat ini.
"Aduhhhh!" Pekik Rey, saat penggorengan itu justru terjatuh menimpa kakinya.
Ana langsung berlari ke lemari mengambil kotak obat. Sedangkan Rey tengah berjingkrak memegangi sebelah kakinya sambil meringis menahan sakit.
Ana berdecak, setelah membawa Rey ke sofa kini ia mengobati kaki bosnya yang terluka.
"Kenapa Bapak begitu ceroboh, sih?" Gerutu Ana. Rey langsung memberengut kesal mendengarnya.
"Apa kamu sedang balas dendam?" Tanya Rey, merasa jika posisinya kini dibalik.
"Apa Bapak merasa begitu?" Ana menyunggingkan senyumnya, melirik sekilas ekspresi masam Rey. Ia fokus memberikan salep pada kaki bosnya yang bengkak.
"Lagian Bapak ngapain, sih? Pagi-pagi bikin huru hara." Rey melotot, menatap Ana dengan tajam.
"Huru hara?" Rey menaikkan sebelah alisnya. Ana mengangkat kepala, menatap bosnya yang tengah menuntut penjelasan.
"Ya, terus apa dong kalo bukan huru hara. Latihan perang? Kalo dapur kebakaran dan gasnya ikut meledak gimana coba? Bukan cuma kita bahkan bisa satu gedung ini yang meninggal." Ana terkekeh geli, melihat Rey membuang muka. Menatap kesegala arah.
"Padahal saya mau masakin kamu." Gumam Rey.
"Hah, apa?" Please, ini gue gak congekan, kan? Ana menatap Rey dengan wajah terkejut.
"Apa?" Tanya Rey yang terlihat salah tingkah.
"Tadi bapak bilang apa?" Tanya Ana penasaran.
"Gak! saya gak ngomong apa-apa, kamu salah dengar kali." Rey mulai gelagapan.
"Saya denger kok Bapak tadi ngomong sesuatu." Ujar Ana.
"Gak, ya gak!!" Hardik Rey, menarik kakinya dari paha Ana dan langsung berdiri.
"Pak Rey, jelasin du---" Ana menarik lengan Rey yang hendak pergi dan berakhir terjatuh di sofa dengan posisi Rey di atas tubuhnya.
Ana mengerjap-ngerjapkan mata, tak percaya. Bahkan kini jantungnya seperti orang dikejar debt collector, bekerja diluar batas normal. Pak rey ganteng banget.
Dan entah sekedar halusinasi atau memang nyata, jika saat ini wajahnya dan Rey semakin tak berjarak. Pria itu semakin mendekat merapatkan tubuhnya pada Ana. Hingga bibir kenyal yang begitu menggoda itu mendarat dibibirnya. Please bangunin gue kalo udah kelar. Gak pa-pa nikmati sekali aja gue yakin ini cuma mimpi.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊