It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 18



Ana tertegun, matanya terus tertuju pada pria di hadapannya. Tangan kokoh itu dengan telaten mengobati telunjuknya yang hanya tergores sedikit.


Kenapa jadi Aneh?


Ana merasa ini situasi biasa. Bukankah dia memang sering terluka, dan Bosnya sering mengobatinya. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda. Ada apa dengan dirinya?


"Bisa gak, sehari aja jangan ceroboh! Kamu selalu membahayakan diri sendiri."


Ana memutar bola matanya jengah, sedari tadi Rey tak henti-henti mengomeli dirinya. Seolah-olah Ana ini anak kecil yang selalu berbuat kesalahan. Ana menghela napas panjangnya.


"Ini cuma luka kecil Pak Rey, jadi please gak perlu di besar-besarkan." Kata Ana menarik tangannya yang sudah selesai diobati.


Rey hanya menatapnya datar, lalu beralih menatap kompor yang Ana tinggalkan.


"Saya mau masak mie, tapi Pak Rey malah datang kaya jaelangkung. Bikin kaget saja!" Seru Ana saat tahu bosnya tengah memperhatikan kompor yang sudah dimatikan.


"Bapak mau kemana?" Tanya Ana ketika Rey bangkit dari posisi duduknya.


"Kamu diam di situ, biar saya yang lanjutin." Rey berjalan ke arah kompor, meninggalkan Ana yang terdiam dengan pikirannya sendiri.


Mata Ana terus memperhatikan punggung bosnya. Dia terus berpikir apa yang salah dengan bosnya saat ini.


Sejak kapan pria itu mau ke dapur? Terakhir kali dia ke dapur pun hampir membuat apartemen kebakaran. Lalu sekarang ....


Tak lama Rey selesai membuatkan mie kuah untuk Ana. Dia meletakkan semangkuk mie dan susu milo di depan Ana.


"Perut kamu masih sakit?" Tanya Rey yang sudah duduk di sebelahnya.


"Hm ...." Gumam Ana.


"Makasih juga buat roti lipat dan kirantinya." Tambah Ana.


Rey hanya mengangguk lalu beralih memandangi gelas kopi di depannya.


"Tapi dari mana Pak Rey tahu kalo saya datang bulan? Dan soal kiranti ...." Ana menggantungkan ucapannya, menoleh pada Rey yang tengah bermain dengan ponselnya.


"Dari ini." Rey menunjukkan layar ponselnya, membuat Ana tercengang.


"Kata Melly ini aplikasi untuk mengetahui siklus datang bulan. Kamu sering marah-marah gak jelas waktu PMS. Jadi, saya antisipasi agar tidak membuat mood kamu buruk waktu datang bulan." Ujar Rey, dia tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Ana yang cengo.


"La-lalu ... kiranti itu?" Ana tak menyangka. Bosnya sampai melakukan hal sejauh ini, membuat Ana jadi serba salah.


"Mama yang bilang, kalo wanita datang bulan sering merasakan sakit perut. Saya tadi sempat melihat kamu meringis memegangi perut. Jadi, saya pikir kamu akan datang bulan." Ana semakin tercengang mendengar penuturan Rey.


Banyak pertanyaan yang memenuhi otaknya yang tiba-tiba tumpul. Apa ini? Kenapa begini? Lalu harus bagaimana? Ana terus bertanya-tanya tanpa tahu apa yang terjadi padanya.


"Ana." Panggil Rey.


Ana tersentak dari lamunannya, dan baru menyadari Rey yang sudah tidak ada di sebelahnya. Ana berbalik dan di sanalah Rey, berdiri di anak tangga pertama.


"Notice me." Setelah mengatakan itu Rey pergi meninggalkan Ana yang terdiam dengan tatapan kosong.


Notice me?


•••


Jam weker terus berbunyi, membuat suara bising di ruangan kamar yang masih gelap.


Di atas ranjang, Ana terduduk dengan tatapan kosong ke depan. Matanya sayu dengan lingkaran hitam di bawah mata. Mungkin dia terlihat mirip panda saat ini. Rambutnya acak-acakan, wajahnya terlihat begitu lelah.


Semalaman dia terjaga tanpa bisa memejamkan mata walau sejenak. Perkataan Rey terus terngiang-ngiang di pikirannya seperti siaran radio Cawang.


Otaknya tak mampu bekerja terlalu buntu untuk hal yang menyangkut perasaan. Ana terus berpikir mungkinkah Bosnya itu benar-benar serius dengan ucapannya tempo hari. Tapi rasanya aneh, sangat aneh.


Ditambah perhatian-perhatian kecil yang ditunjukkan Rey padanya, semakin meyakinkan Ana kalo Rey bersungguh-sungguh soal perasaannya.


Dan bodohnya dia yang tidak peka.


"Gak! Gak boleh!" Ana menggelengkan kepalanya.


"Ini salah!"


Ana terus meyakinkan diri kalau semua perbuatan Bosnya semata-mata hanya untuk sandiwara. Ya, siapa yang tidak tahu track record seorang Reynaldi. Pria mesum yang selalu memiliki koleksi perempuan dan selalu berganti pasangan setiap minggu. Fuckboy!


Masih jelas diingatan Ana, waktu Rey menyuruhnya membelikan barang-barang mewah untuk para gadis koleksinya. Bahkan setiap menghadiri pesta perayaan atau semacamnya, dia akan selalu menggandeng wanita yang berbeda-beda.


Ana mengacak-ngacak rambutnya, frustasi. Tidak mungkin kan, kalo Bosnya tobat secepat itu?


Ana beranjak dari ranjang, ketika bunyi perutnya yang meraung-raung seperti singa kelaparan. Dia berjalan gontai menuruni tangga sembari mencepol rambutnya. Sesekali dia akan menutupi mulutnya saat menguap. Rasa kantuk mulai menguasai dirinya, namun rasa lapar lebih mendominasi.


"Pak Rey!" Pekik Ana. Dia terkejut melihat Rey tengah menata makanan di meja, bahkan pria itu masih mengenakan apron.


Apron?


Rey memasak?


Dia bisa masak?


"Kamu sudah bangun, ayo sarapan. Saya sudah masak makanan kesukaan kamu." Rey tersenyum, lalu melepas apron yang dikenakannya.


"Saya masak sayur asem kesukaan kamu. Ada ayam goreng juga, ah ... Sambal terasi juga ada."


Ana melongo, bahkan dia menurut saja ketika Rey menuntunnya ke meja makan.


"Ini semua Pak Rey yang masak?" Tanya Ana. Dia masih tak percaya Rey memasak semua ini. Bahkan semua yang di masak adalah makanan kesukaannya.


Sayur asem, ayam goreng dengan parutan kelapa diatasnya, mendoan, tahu tempe goreng dan ada sambel terasi juga. Apa yang merasuki Bosnya? Bagaimana mungkin? Setahu Ana, pria itu tidak bisa memasak.


"Saya harap rasanya tidak mengecewakan." Kata Rey membuyarkan lamunan Ana.


Ana mengerjapkan mata, berusaha menyadarkan diri. Kalo ini hanya mimpi atau halusinasinya saja. Tapi sepertinya ini memang nyata. Rey meletakkan sepiring nasi di depan Ana dengan lauk yang lengkap.


"Ana." Panggil Rey. Bahkan pria itu melambai-lambaikan tangannya di depan Ana.


"Kamu melamun?" Tanya Rey.


Ana tersentak, lalu dengan cepat dia menggelengkan kepala.


"Mari makan." Ucap Ana. Rey membalasnya dengan anggukan.


Keduanya makan dengan tenang. Ana semakin ragu dengan perasaannya. Haruskah dia bicarakan sekarang. Karena rasanya terlalu lama jika menunggu sepuluh hari. Baru dua hari saja bosnya sudah membuat Ana spot jantung. Ditambah hatinya yang mulai ketar-ketir menerima perhatian-perhatian kecil dari pria itu.


"Eh!"


Ana mengerjapkan mata, ketika tangan Rey mengusap lembut bibir bawahnya. Tubuhnya selalu tegang setiap kali bereaksi akan sentuhan pria itu.


Ya Allah, tolong sadarkan Bos hamba agar tidak berbuat khilaf lagi. Ana terus merapalkan doa ketika Rey mencondongkan tubuhnya ke depan Ana.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊