It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Epilog



Rey terpaku, menatap lurus ke depan. Begitu indahnya mahluk ciptaan Tuhan ini, tak bosan-bosannya dia memandangi wajah Ana yang tengah menikmati embusan angin pantai.


Keduanya duduk di bibir pantai, membiarkan kaki mereka tersapu oleh ombak. Langit senja mulai menampakkan diri, ketika matahari mulai berpulang ke tempatnya.


"Cantik." Gumam Rey tanpa sadar.


"Ha? Apa?" Ana refleks menoleh, mengerutkan kening karena di tatap seintens itu oleh Rey.


"Kenapa? Ada yang salah?" Ana tampak mengamati dirinya sendiri.


"Tidak." Kata Rey, membuat Ana kembali menatap pria itu.


"Ana, kenapa Tuhan menciptakanmu begitu sempurna, sampai aku tak bisa berpaling dari wajahmu walau sejenak saja." Ana mengerutkan dahi, memperhatikan gelagat Rey.


"Wajahmu seperti magnet yang menarikku untuk terus terfokus padamu." Rey membingkai wajah Ana, tak peduli dengan reaksi bingung wanita itu.


"Alis lebat, bulu mata lentik, hidung mancung ditambah bibir ranum yang selalu menjadi candu." Rey mengusap bibir bawah Ana dengan ibu jarinya.


Ana terdiam tak bereaksi, bahkan saat Rey mendekatkan wajahnya menepis jarak diantara keduanya. Rey memejamkan mata, semakin maju secara perlahan sebelum akhirnya ....


"Awww!" Pekik Rey saat bokongnya menghempas pasir. Matanya terbuka memandang Ana yang sudah bangkit.


"Ana." Cicit Rey dengan wajah memelas.


"Sadis!"


"Bodo! Dasar mesum!" Ana mendengus.


Ana berbalik, menyunggingkan senyum di bibirnya. Rey memang mahluk Tuhan dengan ciri khas berbeda. Di setiap gombalan pria itu selalu terselip modus terselubung, namun justru hal itu yang selalu membuat Ana merasakan gejolak berbeda dalam hati.


Seperti saat ini, dia merasakan letupan-letupan di hatinya. Seolah ada banyak kembang api yang dinyalakan serentak di dalam sana. Ana yang baru akan melangkah refleks berbalik, Rey menarik lengannya membuat Ana tersentak dan jatuh ke pelukan pria itu.


"Marah?" Rey menatap sendu Ana yang tengah menatapnya.


"Inget, marah sama suami itu dosa."


"Sejak kapan kamu peduli sama dosa!" Cibir Ana.


"Sejak aku mengucap ijab kabul di hadapan bapak kamu, semenjak aku ditetapkan jadi imammu seumur hidup ...."


"Yakin banget seumur hidup?" Ana melepaskan diri dari pelukan Rey, dia berbalik. Hal itu membuat Rey tercengang.


"Maksud kamu?" Rey langsung menatap Ana yang mulai berjalan meninggalkannya.


"Ana!" Rey berlari mengejar wanita itu.


"Ana maksud kamu apa?" Rey menarik bahu Ana hingga gadis itu berbalik menghadapnya.


"Apa?" Ana menaikkan dagunya, seolah menantang Rey.


"Maksud kamu apa? Kamu becanda ...."


"Ayo cerai!" Rey mengerjapkan mata berulang kali, dia syok bukan main. Hatinya seperti di hantam bom nuklir. Meledak, remuk, berkeping-keping.


"Ana." Lirih Rey, menatap sayu wanita itu.


"Kamu liat di sana banyak berondong, sepertinya cocok jadi Bapak baru buat bayi ini." Ana mengusap perutnya yang buncit, lalu berbalik menuju kerumunan pria yang hanya mengenakan celana boxer saja.


"TIDAAAAAAAKKKK!!!" Rey terbangun dari mimpi buruknya. Napasnya memburu dengan keringat bercucuran di dahi.


Suara ponsel yang berdering mengalihkan perhatian Rey yang masih setengah sadar.


"Halo." Jawab Rey saat telepon tersambung.


Rey mengucek-ngucek sebelah matanya, sembari memulihkan kesadaran. Sementara telinganya terus mendengar omelan dari sang penelepon. Rey mendengus, lalu menarik napas sebelum bicara.


"***Iya Mamaku yang bawelnya ngalahin suara abang-abang tahu bulat. Tanpa perlu Mama suruh, Rey pasti jagain Ana ...." Rey memutar bola matanya, karena sang Mama terus menyambar ucapannya.


"Iya ... astagfirullah, Mama, iya. Nanti Rey bawa Ana ke sana. Udah ya, Rey mau siap-siap kerja. Bye Mama, muachh." Rey langsung memutus sambungan teleponnya, sebelum Mamanya kembali mengomel***.


Rey mengusap keningnya, tak habis pikir dengan Mamanya yang menelepon terus menerus. Begitu khawatirnya dia sama Ana, padahal mereka juga selalu bertemu setiap hari. Tiba-tiba Rey terlintas Ana di pikirannya, refleks dia menoleh ke sebelah.


Mata Rey melotot mendapati tempat di sebelahnya sudah kosong.


"Ana!" Rey langsung loncat dari atas ranjang. Naas, tubuhnya justru tersungkur karena kakinya tersangkut di selimut.


"Awww!" Rey meringis mengusap siku dan lututnya.


Dengan tertatih dia segera keluar, mencari keberadaan Ana. Pikiran-pikiran aneh mulai memenuhi otaknya, Rey mulai panik mencari ke setiap sudut ruangan.


Rey terdiam saat menemukan Ana tengah memasak di dapur, akhirnya dia bisa bernapas lega mendapati istrinya baik-baik saja. Rey bersandar di dinding, mengamati Ana yang tengah sibuk memasak. Seketika bibirnya membentuk garis lengkung ke atas.


Rey tersenyum geli melihat Ana tengah meliuk-liukkan tubuhnya, diringi lagu kpop milik Hyuna yang berjudul 'Bubble Pop'. Mengingatkan Rey akan waktu itu, tapi bedanya sekarang Ana tengah berbadan dua. Meski begitu wanita itu tetap energik, melenggak lenggokkan pinggulnya dengan bebas. Mulutnya pun sedari tadi ikut bernyanyi, sungguh menggemaskan bagi Rey.


"OMO!!" Pekik Ana, terkejut saat mendapati Rey ada di belakangnya.


Hampir saja piring yang dipegangnya jatuh, jika saja Rey tak sigap menangkapnya.


"Hati-hati sayang." Pipi Ana langsung merona hanya karena panggilan sayang. Ah, lucunya.


"Kamu ngangetin tau!" Ana mengerucutkan bibir, dia berjalan menuju meja makan.


"Rey!" Ana tersentak saat tangan Rey tiba-tiba menyelinap ke perutnya yang tak lagi rata. Ana pun menoleh, seketika matanya melebar.


Rey terkekeh setelah mengecup sekilas bibir Ana, wajah istrinya yang tengah melongo sungguh sangat lucu.


"Morning kiss." Bisik Rey.


"Pagi anak papa." Rey berlutut, mengecup lembut perut Ana yang buncit.


"Gak sabar pengen cepet liat kamu launching." Ana tersenyum lebar, melihat tingkah Rey yang terus mengajak bicara bayi dalam kandungannya.


"Oh, ya. Nanti malem kita ke rumah Mama, katanya dia kangen sama mantu." Kata Rey yang sudah beranjak berdiri. Pria itu membantu Ana menyiapkan sarapan.


"Mama tuh kangen kamu Rey, bukan aku. Lagian aku juga tiap hari ketemu Mama. Itu cuma alesan Mama aja, biar kamu mau ke sana. Kamu terlalu sibuk sama kerjaan sampai gak ada waktu buat jengukin Mama." Ana duduk di kursi merasakan kakinya mulai pegal berdiri.


"Iya sayang, maap ya kan kamu tahu pekerjaan aku banyak banget di kantor. Nanti kita jengukin Mama, ok." Rey mengecup kepala Ana.


"Aku mandi dulu." Ana tersenyum memandang punggung Rey yang mulai menjauh.


•••


Ana berjalan memasuki kantor Rey. Bukan St Entertaiment, melainkan ST Group. Semenjak menikah Rey memang lebih fokus pada perusahan milik orangtuanya dan St Entertaiment dialihkan kepada sepupunya.


Dia tampak asik memandangi ujung kakinya, hingga terdengar suara lift terbuka. Ana mengangkat wajahnya, dia terdiam saat matanya bertemu dengan mata pria di depannya. Pria itu menatapnya sesaat lalu melemparkan senyum tipis pada Ana.


Ana tersenyum simpul dengan canggung dia masuk ke dalam lift. Ana tampak kikuk, merasa tak nyaman berdiri di depan pria itu. Terlebih hanya ada mereka berdua di dalam lift.


"Apa kabar, Ana?" Ana menoleh saat suara itu menginterupsinya.


"Aah, baik." Ana kembali menghadap ke depan.


"Kamu sendiri?" Tanya Ana.


"Seperti yang kamu lihat, aku tampak baik-baik saja." Tapi tidak dengan hatiku.


"Berapa bulan?" Pria itu menatap ke arah perut Ana.


"Delapan bulan." Pria itu manggut-manggut. Setelah itu tak ada lagi yang berbicara hingga pintu lift terbuka.


"Sean, aku duluan." Ana tersenyum tipis sebelum akhirnya dia keluar. Meninggalkan Sean yang terdiam kaku di dalam sana.


"Bahkan perasaan itu masih sama sampai detik ini," gumam Sean. Dia mengusap wajahnya dengan kasar lalu memencet tombol lift.


Ana tak menyangka akan bertemu Sean kembali, setelah pernikahannya pria itu memang tak lagi menampakkan diri di depannya dan ini kali pertama mereka dipertemukan lagi.


Perasaan Ana sudah tak lagi sama, dia hanya merasa bersalah karena pernah menolak lamaran Sean. Hal itu membuatnya merasa canggung saat bertemu dengan pria itu.


Ana berhenti di depan ruangan Rey, melebarkan senyum sebelum membuka pintu.


"Say ...." Ana mengatupkan bibirnya, saat menyadari ada orang lain  di ruangan Rey.


"Ana." Rey menatap ke arahnya, tampak terkejut. Lalu wanita yang duduk di depannya pun ikut menoleh.


"Hai Ana," Sapa wanita itu.


Ana hanya mengangguk, dia belum terbiasa berinteraksi dengan Vania. Meski mereka sering bertemu.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Ana.


"Gak, aku malah seneng kamu dateng ke sini. Soalnya aku udah kangen banget." Rey beranjak dari duduknya, menghampiri Ana membawa wanita itu duduk di sofa.


"Ada apa?"


"Katanya mau ke rumah Mama, jadi aku ke sini. Kita bisa langsung ke rumah Mama kalo kerjaan kamu udah selesai." Rey mengangguk, tak lupa mengusap lembut perut Ana.


"Kamu pasti capek, aku ambilin minum ya." Ana mengangguk.


Vania hanya mengamati interaksi keduanya, mereka berdua membuatnya iri. Dia pun berdiri tak ingin mengganggu keromantisan suami istri itu.


"Rey aku pamit ya." Vania menoleh pada Ana.


"Jangan lupa dateng, aku seneng kalo kamu bisa dateng." Vania tersenyum, setelah itu melangkah pergi.


"Hati-hati!" Teriak Rey.


"Ini." Rey menyodorkan gelas berisi air putih pada Ana.


"Kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Ana setelah meletakkan gelas di meja. Rey yang paham jika istrinya cemburu pun langsung mencubit hidungnya.


"Cemburu ya." Goda Rey.


"Rey!" Ana mengerucutkan bibirnya, terlihat kesal.


"Lucu, deh. Jadi gemes." Rey mencubit kedua pipi Ana yang tembam, efek kehamilannya.


"Vania ke sini kasih ini." Rey memberikan undangan kepada Ana.


"Vania menikah!" Ana mengerjapkan mata, melihat nama Vania tertera di undangan itu.


"Iya, akhirnya dia nemuin jodoh yang tepat. Kebetulan calon suaminya rekan bisnis aku, dia pria baik nyatanya bisa menerima masa lalu Vania." Rey mengusap lengan Ana, wanita itu mengangguk tersenyum hangat padanya.


"Aku ikut seneng." Setidaknya aku tak perlu khawatir lagi.


•••


Rey membantu Ana turun dari mobil, menuntunnya masuk ke dalam. "Hati-hati, licin." Rey berusaha menjaga langkah Ana, agar tidak tergelincir karena jalanan yang basah habis hujan.


"Assalamualaikum." Ana tersenyum lebar saat memasuki rumah mewah yang begitu besar itu.


"Walaikumsalam ... Ana!" Mama Rey yang baru saja keluar dari dapur langsung berlari menghampiri Ana.


"Mantu kesayangan." Wanita paruh baya itu langsung mengambil alih Ana dari gandengan Rey.


Hal itu jelas membuat Rey tak suka.


"Kebiasaan." Pria itu mendengus.


"Mah, aku gak disambut gitu?" Rey berjalan di belakang.


"Gak!" jawab sang Mama.


"Berasa anak tiri di rumah sendiri," gerutu Rey.


Mama Rey terkikik geli, begitupun Ana. Mereka langsung menuju ke ruang makan.


"Loh Bapak, Mas Yudha, Mba Lin juga ada di sini!" Ana tampak terkejut, tak menyangka jika bapak dan kakaknya juga ada di sini.


"Mama yang undang mereka." Sahut Mama Rey, membantu Ana duduk.


"Bapak Sehat?" Tanya Ana setelah menyalami bapaknya.


"Sehat, kamu sendiri Nduk. Kandunganmu sehat, kan?" Ana mengangguk.


Mereka pun mengobrol, saling menanyakan keadaan. Melepas tawa, bercengkrama bersama. Dua keluarga yang sangat harmonis. Baik Ana maupun Rey bersyukur, karena Tuhan menyatukan mereka berdua sekaligus keluarga mereka.


Sejauh ini mereka bahagia, tanpa ada masalah yang menerpa rumah tangganya. Mereka selalu bisa menyelesaikan setiap masalah tanpa mendahulukan emosi dan ego. Karena rumah tangga yang baik dilandasi rasa kasih sayang, saling memahami, mengerti tanpa ada ego diantara keduanya.


Bye! Salam dari Ana dan Rey


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊