It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 21



Aku tanpamu bagaikan butiran rinso yang sekali kucek ambyar.


-Reynaldi Stronghold-


Acara yang awalnya damai berubah


jadi ricuh, akibat keributan yang ditimbulkan oleh Revina.


Reynata tidak habis pikir dengan sikap kakaknya yang berlebihan. Kini beberapa saudaranya sudah pamit pulang, karena ketegangan yang terjadi.


"***Halo, Rey." Sapa Reynata ketika sambungan telepon diangkat. Dia harus memastikan keadaan Ana baik-baik saja.


"Ana bagaimana***?"


Dia bernapas lega, saat Rey mengatakan tengah bersama perempuan itu.


"***Syukur deh, maafin Mama. Tadi Mama lagi di dapur. Jadi, gak tahu kalo tante kamu berulah." Reynata mendesah pelan, menyadari sikap Kakaknya yang tak pernah berubah. Dan kali ini wanita itu sudah cukup kelewatan.


"Hm, kamu jaga Ana baik-baik ya. Soal tante Revi ... biar Mama yang urus. Salam buat Ana ya, Rey." Reynata menutup sambungan telepon***.


Lalu pandangannya beralih pada keributan di ruang tengah, dia segera menghampiri orang-orang yang tengah berdebat itu.


"Mama kelewatan!" Bentak Sean yang tak mampu lagi mengendalikan emosinya. Dia melihat semua, bagaimana mamanya menyiramkan air itu ke wajah Ana.


"Kamu lebih membela perempuan itu, dari pada Mama kamu sendiri! Orang yang melahirkan kamu ke dunia. Kamu lahir dari rahim Mama, bukan di download Sean!!" Teriak Mamanya Sean, tak kalah lantang.


"Tetap saja Ma. Tak seharusnya Mama lakukan itu pada Ana." Sean mengusap wajahnya dengan kasar.


Mamanya sangat keras kepala, bahkan dia tak mau mengakui kesalahannya.


"Dia pantas mendapatkan itu! Dasar parasit!!" Gerutu Mamanya.


"Kak cukup!" Revina menoleh, terkejut karena suara lantang dari adiknya. Entah sejak kapan wanita itu berdiri di belakangnya.


"Ana tidak seperti yang Kak Revi bayangkan. Dia gadis baik, dia tidak seperti yang Kakak tuduhkan! Jadi, cukup ... jangan campuri urusan keluarga kami." Reynata langsung berbalik melangkah pergi, tak ingin mendengarkan pembelaan dari mulut kakaknya.


Revina hanya memutar bola matanya, semakin geram dengan semua orang yang menyalahkan dirinya.


"Sean kamu mau ke mana?" Teriak Revina ketika menyadari putranya hendak pergi.


"Aku mau cari Ana." Jawab Sean, dia berdiri memunggungi Mamanya.


"Wanita itu lagi! Lalu, bagaimana dengan Kimmi?" Emosi Revina kembali menggebu.


"Dia?" Sean menatap sinis Kimmi yang berdiri di sebelahnya.


"Bukankah aku sudah pernah bilang. Aku tidak mau dijodohkan dengannya!" Kimmi melotot mendengar ucapan Sean.


"Dan kamu!" Tunjuk Sean tepat di depan wajah Kimmi.


"Apa yang kamu lakukan itu menjijikkan! Kamu tidak pantas menjadi istriku, karena aku tidak akan menikahi wanita jahat seperti kamu!" Sean langsung melangkah pergi, setelah membuat Kimmi syok mendengar perkataannya.


"Sean!" Teriak Mamanya, membuat langkah Sean kembali terhenti.


"Maaf, Ma. Tapi aku akan tetap memperjuangkan Ana." Tekadnya sudah bulat. Meski tanpa restu Mamanya sekali pun, dia akan tetap memperjuangkan cintanya pada Ana.


•••


Rey menutup sambungan telepon dari Mamanya. Kini dia berada di dalam mobil. Rey melirik Ana yang sedari tadi menangis sesenggukan. Tangisnya tak henti-henti, entah berapa liter cadangan air matanya.


Rey mengelus dada, saat melihat Ana dengan santai menyeka air matanya menggunakan jaz milik Rey. Untung sayang.


Tak ingin jasnya jadi korban ingus Ana. Dia memberikan kotak tisu kepada perempuan itu.


"Makasih." Gumam Ana, mengambil tisu itu lalu menyeka ingusnya.


Mereka hanya berdiam diri di dalam mobil. Hingga Ana mulai tenang, dan tak lagi menangis. Meski begitu perempuan itu masih memilih diam, dengan tatapan kosong ke depan.


"Kita cari makan ya." Ucap Rey ketika mendengar suara perut Ana yang meraung.


Ana merutuki suara perutnya, yang sukses mempermalukan dirinya di depan Rey. Tak ada pilihan lain, selain mengangguk. Lagi pula perutnya juga lapar, sedari siang dia belum sempat makan.


Malam semakin larut, kini waktu telah menunjukkan pukul 22.00. Mobil Rey mulai memasuki tempat kuliner malam. Dia memarkirkan mobilnya.


"Kamu pake aja, di luar dingin." Kata Rey, saat Ana akan melepaskan jasnya.


Ana mengurungkan niatnya, lalu ia turun. Matanya berbinar melihat berbagai stand kuliner. Dari makanan khas jawa, sunda, betawi, minang, sampai bali pun ada.


"Mau apa?" Tanya Rey, dia memasukkan tangannya ke saku celana.


Ana tampak fokus melihat ke sekitar, rasa lapar semakin memberontak ketika matanya melihat berbagai makanan yang menggiurkan. Mau semua. 


Ana mengangguk, tak sabar untuk menikmati olahan ayam goreng dengan sambal pedas.


"Dua porsi mas, tambah es jeruk dua." Ucap Rey pada penjual pecel ayam.


Kini mereka sudah duduk di warung lesehan. Ana tampak termenung seolah tengah memikirkan beban hidupnya yang berat.


"Kalo kamu butuh tempat untuk berkeluh kesah, aku siap jadi pendengar setiamu." Celetuk Rey.


Ana tersentak dari lamunannya, lalu menatap Rey dengan alis berkerut. Maksudnya?


"Meskipun saya di mata kamu hanya butiran rinso yang sekali kucek langsung ambyar, saya tetap mau kok jadi tempat bersandar buat kamu." Tambah Rey.


Ana semakin melongo mendengar penuturan Bosnya itu. Pak Rey ngelawak ya?


"Berjodoh atau tidak, saya tetap akan jadi perisai buat kamu. Jadi orang yang akan selalu melindungimu, orang pertama yang akan menghapus air mata kamu dan selalu ada setiap saat ...." Rey menatap lekat wajah Ana.


"Meskipun kamu tak pernah peka dengan hal itu." Gumam Rey.


Apa yang merasukinya? Ana semakin terdiam, kata-kata Rey bagaikan bom Hiroshima yang mengguncang hatinya. Entahlah perasaan macam apa ini? Tapi seakan ada letupan-letupan di dalam sana.


"Jika hari ini kamu belum mencintai saya, percayalah suatu hari kamu akan merasakannya." Rey mengulas senyum termanisnya.


Sweet. Ana semakin terpana, namun bibirnya kelu. Dia tidak tahu harus bagaimana. Hingga pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.


Tak ingin larut dengan kebingungan, Ana memilih makan. Meskipun perkataan Rey terus terngiang di pikirannya.


"Apa kamu selalu makan belepotan begini?" Rey terkekeh sembari mengusap bibir Ana dengan tisu.


"Apa Pak Rey selalu hobi merusak suasana?!" Ana mendengus, kesal karena Rey selalu mengacaukan mood-nya. Terutama kekehan menyebalkan dari pria itu.


"Masih lapar?" Tanya Rey, mengalihkan topik pembicaraan.


Keduanya sudah selesai makan. Ana mengangguk, menyampingkan rasa malunya. Karena hanya dengan makan, dia bisa memperbaiki mood-nya yang ambyar. Sejenak dia melupakan masalahnya, melupakan tentang ucapan menyakitkan Mama Sean.


Calon mertua yang sudah ia blacklist dalam daftar calon mertua idaman. Ish, amit-amit.


Rey tersenyum tipis. Ketika melihat Ana yang begitu antusias menikmati berbagai makanan khas nusantara. Bahkan perempuan itu mulai tersenyum, melepaskan semua bebannya.


"Ada lagi yang mau kamu cicipi?" Tanya Rey.


Padahal Ana sudah makan banyak. Bayangkan saja setelah makan pecel ayam lamongan, dia langsung makan kerak telur. Lalu makan kue serabi, ditambah lumpia basah khas semarang. Rey sampai takjub dengan perut Ana yang mampu menampung semua makanan itu.


"Boleh?" Tanya Ana.


Sial, bagaimana Rey bisa menolak jika Ana menunjukkan puppy eye-nya. Rey mengangguk, lalu Ana langsung menyeretnya ke penjual gulali.


Lihatlah, wajah Ana berseri menikmati gulali yang tengah ia pegang. Layaknya bocah kecil, Ana tampak kegirangan.


"Pak Rey mau?" Ana menawari gulali itu pada bosnya, namun Rey menggeleng karena dia tidak suka.


"Kenapa?" Tanya Ana.


"Gak enak." Jawab Rey.


"Ish, coba dulu. Ini enak tau." Ana memaksa Rey membuka mulutnya.


"Gimana?" Tanya Ana setelah berhasil memaksa Rey memakan gulali.


"Enak. Manis kaya kamu."


Deg.


"Hah?" Tolong ulangi.


"Kenapa?" Rey menoleh, menaikkan sebelah alisnya ketika melihat ekspresi Ana yang melongo.


"Tadi Pak Rey bilang ...." Ana sengaja menggantungkan ucapannya, tatapannya masih tertuju pada Rey.


"Kamu manis."


Jantung Ana seperti dihempas ke atas awan. Pipinya merona, hanya karena ucapan Rey. Satu hal yang tak dapat ia mengerti, kenapa dia harus menunjukkan wajah tersipu malu pada bosnya.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊