
Terkadang jodoh itu di depan mata hanya saja kita tidak peka
-Anastasya-
Cinta ... satu kata yang mendefinisikan perasaanku saat ini.
Ana memutar bola matanya, jengah. Sedari tadi Rey terus mengikuti langkahnya ke mana pun ia pergi. Memburu dia dengan berbagai pertanyaan, yang bahkan Ana sendiri tidak tahu jawabannya.
Seperti saat ini, Rey mengikuti Ana sampai berdiri di sampingnya untuk satu jawaban.
"Ana." Panggil Rey untuk yang kesekian kali.
"Hm." Ana sibuk dengan piring-piring kotor, bahkan untuk menoleh saja dia enggan.
"Jadi ... bagaimana?" Tanya Rey, terlihat gusar.
"Bagaimana apa sih Pak?" Ana berdecak.
"Jawaban kamu soal ... yang tadi." Rey meringis, ketika Ana langsung menoleh padanya.
"Jodoh itu di tangan Allah. Manusia hanya bisa berekspetasi." Ana kembali pada kegiatannya, membilas piring-piring kotor.
Rey terdiam mencerna ucapan Ana. Lalu sesaat dia kembali menatap perempuan itu.
"Apa?" Ana menatap heran Rey.
"Jodoh, rezeki, maut itu udah ditentuin Pak Rey. Jadi tenang aja, jodoh Pak Rey itu udah diatur dan bukan saya." Ujar Ana. Dia berbalik membawa piring-piring itu ke rak.
"Saya tahu. Tapi bukankah jodoh itu harus dikejar, kecuali kamu siap menunggu sampai jodoh kamu peka!" Ana hanya geleng-geleng kepala, dia tidak mau menggubris ucapan bosnya yang terdengar ambigu.
"Ana ... tunggu ...." Rey menarik lengan Ana, hingga tubuh perempuan itu tertarik jatuh dalam pelukannya.
"Pak Rey!" Pekik Ana, melototi Bosnya. Gila! Jantung Ana mau meledak, situasi yang tidak mendukung.
"Lepas!"
"Jawab dulu ...." Rey menahan tangan Ana yang terus berontak.
Ana menghela napas panjang, setelah pemberontakannya tak membuahkan hasil. Dia mendongak, menatap lekat wajah Rey yang menunduk ke arahnya.
"Pak Rey ...." Duh, kok bibir gue tiba-tiba kelu.
"Saya ...." M*mpus, kenapa mati gaya gini sih!
Ana merutuki diri, ketika tak ada satu kata pun yang bisa ia ucapkan. Padahal banyak kalimat berseliweran di otaknya. Entahlah, seolah memang keadaan tak mengizinkannya mengelak lagi.
"Beri saya alasan untuk mundur." Kata Rey.
Ana berpikir keras. Dia merutuk otaknya yang tiba-tiba b*go kuadrat. Ayo dong!
"Karena Pak Rey tidak memenuhi kriteria calon suami ...."
"Kriteria?" Rey menaikkan sebelah alisnya. Ana mengangguk, tatapannya tertunduk tak berani menatap bosnya.
"Memang kriteria kamu seperti apa?"
"Mapan." Jawab Ana.
"Saya Mapan!" Seru Rey.
"Tampan."
"Apa lagi itu, jelas sudah terbuktikan."
"Gak mesum!" Ana menatap lekat mata bosnya. M*mpus lo! Diem juga kan.
Rey terdiam, lalu menunduk kembali sambil mengusap tengkuknya.
"Emang kamu gak bisa maklumin satu hal itu?"
Ana langsung menggeleng, melepaskan diri dari pelukan Rey.
"Saya gak suka pria mesum!" Tukas Ana, dia berbalik menaiki tangga.
"Ana." Ana kembali menoleh ke belakang ketika mendengar panggilan bosnya.
"Beri saya kesempatan, bantu saya berubah ... sembuhkan luka saya." Rey menatap sendu Ana yang tercengang di tempatnya.
Tiba-tiba saja sesuatu yang aneh merayapi hati, menggerogoti perasaannya. Memberikan sensasi berbeda.
Apa dia jatuh cinta?
Ana terdiam cukup lama. Rey sendiri masih setia menunggu jawaban perempuan itu, meski rasa psimis mulai memenuhi otak dan hatinya. Namun dia masih optimis, jika Ana adalah jodoh yang dikirim Allah untuknya.
"Lima hari, waktu Pak Rey untuk membuktikan!" Seru Ana, lalu perempuan itu berbalik meninggalkan Rey yang terdiam dengan tatapan tak percaya.
•••
Rey benar-benar merealisasikan ucapannya. Dua hari berlalu tanpa ada kemesuman. Meski dia sangat merana, karena jiwa mesumnya yang terus meronta-ronta akibat di lockdown.
"Yah hujan." Ana menatap keluar jendela.
"Gak apa-apa, nanti juga reda." Kata Rey yang berjalan di belakangnya.
"Terus ... gak jadi pergi?" Ana berbalik menatap Rey yang kini berdiri di belakangnya.
"Ya, mau gimana lagi ujan." Ana mengerucutkan bibirnya.
"Gimana kalo nonton di rumah?" Rey menaik turunkan kedua alisnya.
"Yaudah ...." Ana tampak lesu, berjalan menuju kamarnya.
"Jangan lesu gitu dong. Masih ada hari esok." Rey tersenyum sembari mengacak-ngacak rambut Ana.
Ana hanya bergumam. Padahal dia sudah semangat waktu Rey mengajaknya piknik ke danau. Kapan lagi dia bisa menikmati tempat Asri seperti itu, merilekskan diri dari rasa penat dan kejenuhan.
Ana duduk di sofa bed, meluruskan kakinya sembari bersandar. Sedangkan Rey tengah memilih DVD film yang akan mereka tonton.
"Mau apa?" Tanya Rey. Dia bingung dia tidak tahu film apa yang bagus, yang dia tahu hanya filmnya Mia Kalipah dan Anime hentai.
"Terserah." Kata Ana. Sepertinya perempuan itu masih badmood.
Rey pun memilih asal DVD. Setelah selesai ia kembali duduk di sebelah Ana. Film bollywood 'Three Idiots' sudah berputar, menampilkan tiga orang pria yang berkelakuan konyol.
Awalnya Ana tak begitu berminat tapi lihatlah sekarang, dia tak henti-hentinya tertawa. Bahkan dia sampai melempar bantal ke arah Rey, saking lucunya tingkah tiga tokoh yang selalu bersikap konyol.
Rey tersenyum melihat Ana yang tak lagi murung. Tawa perempuan itu seperti candu baginya, tak cukup berkali-kali untuk puas memandang. Bahkan Rey ingin seumur hidupnya dihiasi oleh tawa melengking Ana, meskipun mirip Mrs. Kunti.
Lihat saja, Ana tengah cekikikan sendiri. Suara tawanya sudah tak tertolong. Mungkin jika Kunti melihat ini, dia akan murka karena dilecehkan oleh tawa Ana yang begitu melengking.
Film kedua berlanjut, Ana tampak antusias tapi tidak dengan Rey. Dia memasang wajah masam, karena film yang ditontonnya.
What's wrong with secretary Kim!
Entah kenapa tokoh dalam film itu begitu mirip dengannya. Sikap Bosnya yang menyebalkan, arogan dan juga narsis.
Astaga. Apa Ana sengaja memilih film ini untuk menyindir dirinya? Rey melirik perempuan itu, yang masih tertawa melihat tingkah konyol sih tokoh pria.
Rey mendengus, kenapa ada film yang begitu mirip dengan kisah hidupnya. Jatuh cinta dengan sekretarisnya sendiri.
Walaupun tetap berbeda. Sekretaris Kim lebih peka tidak seperti Ana yang sudah di kasih kode berulang kali masih saja pura-pura b*go.
Rey terdiam ketika film memasuki adegan bahaya. Astaga, kenapa tidak dari tadi. Pekik Rey yang tertahan di tenggorokan.
Berbeda dengan Ana, dia terdiam ketika melihat adegan delapan belas plus itu. Dia melirik Rey dan ... sejak kapan jarak mereka sedekat ini. Ana tampak gelisah, alarm bahaya terus berbunyi. Bisa di skip aja gak adegannya, dedek belum cukup umur.
Sial, Ana merutuki adegan itu yang membuatnya jadi panas dingin seperti ini. Dia menelan saliva, tenggorokannya tiba-tiba kering. Ana penasaran dengan reaksi Bosnya, dia kembali menoleh bersamaan dengan Rey yang menoleh padanya.
Astaga!
Ingin rasanya Ana menjerit, kenapa Pak Rey jadi kaya Park seo joon. Sejak kapan wajah dia berubah seperti Saori! Ana tertegun ketika wajah Rey semakin mendekat, tatapannya begitu teduh dan lembut. Bahkan alarm bahaya dalam dirinya tak lagi di dengar. Ia hanya diam dengan mata melebar.
Di saat seperti ini setan justru lewat. Mendominasi keduanya, menuntun ke arah yang tak semestinya. Ana semakin terpaku ketika bibir Rey menyentuh bibirnya. Dia justru memejamkan mata, merasakan pipinya yang memanas. Degup jantungnya mulai tak beraturan.
Ana terbuai menikmati sentuhan lembut pria itu. Sementara Rey yang sedari tadi menahan hasrat itu, kini mulai tak bisa mengendalikan diri.
Bibir Ana bagaikan candu baginya. Sekali menyentuh enggan melepas. Ditambah bisikan setan yang terus merongrong, seolah jadi dalang dalam adegan mereka.
Ana sadar!
Entah teriakan dari mana, tiba-tiba ana tersentak. Dia mendorong dada Rey, hingga pria itu terjungkal ke belakang.
Ana melotot, napasnya memburu. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan. Bibir gue?
Ana meraba bibir bawahnya, lalu beralih menatap Rey. Sialan! Ana mengutuk dirinya sendiri, yang terbuai oleh bisikan setan durjana!
"Aaaaaaaaaaa ...." Ana menjerit, berlari menaiki tangga.
Rey yang pulih dari rasa terkejutnya, kembali duduk. Menyentuh bibir bawahnya. Dia tersenyum tipis.
"Manis." Rey melirik Ana yang berlari ke kamarnya.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊