It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 12



Tubuh Ana menegang seketika, saat Rey semakin memajukan wajahnya. Membuat sekujur tubuh perempuan itu merinding, dia memejamkan matanya. Mungkin kali ini dia harus pasrah, pada skenario hidupnya yang seperti drama sinetron tengik.


Ana tersentak dan langsung membuka mata saat wajah Rey justru terjatuh di ceruk lehernya.


"Pak Rey." Cicit Ana. Merasa lega namun juga panik melihat Rey tak sadarkan diri.


Ana bangun, menepuk pipi Rey pelan namun tak ada reaksi. Jangan-jangan ....


Ana segera menepis pikiran negatifnya, lalu mengulurkan tangan di depan hidung Rey. Ana bernapas lega, merasakan embusan napas Rey yang hangat di telunjuknya.


Ana bangkit, lalu membenarkan posisi tidur Rey. Membuka dua kancing teratas kemeja Rey, tangannya terulur memegangi kening pria itu yang begitu panas.


Dia menghela napas berat, menatap lekat wajah Rey yang begitu pucat. Bandel banget sih Pak! Ana mendengus pelan, lalu berdiri dan berjalan keluar menuju pantri.


Aura panas semakin terasa saat Ana keluar dari ruangan Rey, sorot mata membunuh dari para karyawan. Apa lo! Gue colek mata lo, mau? Ana terus mengumpat saat mereka mulai berbisik menggunjingkan dirinya.


"Gundik, habis jual diri!"


Ana langsung berbalik menatap pria setengah matang yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Menatap sengit pada pria itu dan gerombolannya. Meskipun mereka saling berbisik, namun terdengar jelas di telinga Ana.


Ana mendesis, memutar bola matanya. Rasanya muak sekali dengan orang-orang bermulut ganas, ingin sekali dia melemparkan mereka semua ke sungai Amazon untuk makanan ikan piranha.


"Banci!" Umpat Ana dengan lantang, membuat gerombolan itu balas menyorakinya. Ana mendesah pelan guna merilekskan diri, lalu melenggang pergi.


Brakkk!


Ana membuka kasar pintu pantri, menimbulkan bunyi nyaring dan membuat dua orang di dalam terkejut menatap Ana dengan horor.


"Gak tahu malu banget sih!" Sindir dua karyawati itu saat berjalan keluar sambil menatap sinis Ana.


Ana sudah geram, tapi dia ingat wejangan Bapaknya untuk tidak pernah mencari masalah. Menjadi orang yang sabar dan jangan membalas kejahatan orang lain.


"Sabar?" Keluh Ana, lalu membatin kesal. Sabar apanya? kalo yang di hadapi mulut kobra semua!


Ana tak mau ambil pusing memikirkan hal itu, dia segera membuat teh hangat dan air kompresan. Tanpa sengaja dia melirik ke arah cermin. Seketika matanya melotot, mendapati dua kancing kemeja atasnya terbuka.


Ana berdecak kesal, merutuki kecerobohannya. Pantas saja semua orang menatapnya seperti itu.


Mereka pikir Ana habis begituan! Ana mengusap wajahnya dengan kasar sembari merutuki diri. kenapa ia tidak sadar waktu pria sialan itu melepas kancing kemejanya? Rey sialan!!


•••


Ana keluar dari ruangan Rey, setelah hampir tiga jam di dalam. Setelah mengompres dan memberikan obat, pria itu bertingkah seperti anak kecil yang selalu memegangi lengannya. Tidak ingin ditinggalkan sedetikpun, membuat Ana ikut tertidur di sisi Rey.


Ana duduk di kursinya, menyenderkan bahu sambil memijit pelipis yang berdenyut. Ia terpejam sejenak. Ketika ia kembali membuka mata, tanpa sengaja ia melihat sesuatu di atas meja. Sebuah bungkusan.


Ana membuka bungkusan itu, dan matanya langsung berbinar. bagaimana tidak, jika isinya ternyata satu bungkus ayam geprek plus nasi. Pas sekali dia sudah kelaparan karena melewatkan jam makan siangnya.


"Dari siapa?" Seketika Ana mengerutkan keningnya, tampak bingung. Gak mungkin dari teman kantornya.


"Gak-gak!" Ana menggelengkan kepala menepis dugaannya.


"Mereka tidak sebaik itu!" Gumam Ana.


Lalu dia mengambil ponselnya dan mendapati dua pesan masuk dari Sean.


***Sean


'Aku pikir kamu sibuk sehingga tidak bisa makan siang, jadi tadi aku pesankan gofood buat kamu***.'


Kedua sudut bibir Ana terangkat, merasa bahagia saat ada yang memperhatikannya.


Sean


'Jangan sampai mati kelaparan.'


Ana tertawa membaca pesan terakhir Sean.


"Gue gak bakal mati cuma gara-gara kelaparan. Kalo pun gue mati, itu karena kesintingan Bos gue."


Ana kembali mendengkus teringat kelakuan Bosnya yang sangat menyebalkan! Namun dia jadi kepikiran jika Rey juga belum makan.


Setelah mengetikkan balasan 'terima kasih' kepada Sean, dia pun kembali menyantap makanannya. Setelah selesai Ana langsung beranjak meninggalkan kantor.


Kini Ana tengah menunggu pesanannya, saat Rey meneleponnya berulang kali.


"Apa lagi sih Pak?!" Teriak Ana, persetan dengan orang-orang yang memperhatikan. Ini sudah yang ketiga kali Rey menelepon dan itu sangat membuatnya dongkol.


"***Dimana? Kok lama?" Ana mendesah pelan, mendengarkan suara parau di seberang sana.


"Saya sedang beli bubur buat Pak Rey." Jawab Ana.


"Saya gak suka bubur***."


"***Saya gak nanya, gak peduli!" Ana berdecak. Sedang sakit saja masih menyebalkan! Dia pikir orang sakit makan apa kalo gak makan bubur, batu?


"Belikan saya nasi padang***."


"***Jauh Pak, musti naik pesawat keburu tutup!" Jawab Ana, asal bicara.


"Di depan kantor ada. Jadi gak perlu ke padang***!"


"Udah tutup, lagian Bapak ribet banget sih!! Udah makan bubur aja. Lagi sakit gak boleh makan yang aneh-aneh!" Katakanlah Ana ini kurang ajar, tapi dia tidak peduli. Dia sudah kesal sendiri dengan Rey yang terus meneleponnya dan meminta hal aneh.


•••


Ana masuk ke dalam ruangan Rey, pria itu sudah bangun dan duduk di sofa sambil memijit pelipisnya.


"Lama banget sih kamu?!"


Ana mendengus, memutar bola matanya saat masuk langsung disemprot oleh Bosnya yang rese. Orang sakit bawaannya kaya PMS!


"Saya gak suka bubur Ana!" Sergah Rey, membuang wajahnya ke samping.


"Saya gak nanya!" Sahut Ana dengan ketus.


"Ka ... mmppph."


Ana langsung memasukkan sesendok bubur ke mulut Rey, saat pria itu menoleh dan akan mengomelinya. Ana menahan tawa melihat wajah Rey melotot kearahnya.


"Pak Rey, bukan anak kecil lagi. Jadi gak usah ngerengek!" Kata Ana, sambil menyuapi Rey.


Pria itu hanya bisa pasrah menerima suapan Ana. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya, membuatnya entah kenapa merasa bahagia hanya karena setitik perhatian dari perempuan itu.


•••


Ana terlalu sibuk mengerjakan pekerjaan Rey yang terbengkalai, sedangkan pria itu tengah tertidur di sofa. Ana tengah meneliti laporan di depan layar laptop Rey, yang sedari tadi dia kerjakan.


Ana mulai merenggangkan tangan, merasakan pegal di sekujur tubuhnya.


"Akhirnya kelar!" Seru perempuan itu dengan senyum manisnya. Dia melirik ke arah jam di depannya. Sudah menunjukkan pukul 21.00, pantas saja kantor sudah sepi. Semua karyawan pasti sudah pulang dari dua jam yang lalu.


Dia merapikan meja Rey, lalu berjalan menghampiri pria itu.


"Pak." Ana menggoyangkan bahu Rey, namun pria itu terlalu pulas terlelap hingga tak bereaksi sama sekali.


"Pak Rey!"


"Pak ayo pulang."


Ana berdecak, ia mulai tak sabaran, karena Rey sama sekali tak bergerak atau pun menyahut.


"PAK REY!" Teriak Ana di depan wajah Rey. Dia melotot saat pria itu membuka mata dan langsung menarik tengkuknya, mencium bibirnya dengan lancang.


Sial!


Ana mendorong dada Rey, ia langsung berdiri menatap sebal Bosnya yang tengah tertawa geli. Ana menggosok-gosok bibirnya dengan punggung tangannya. Asin!


"Sejijik itu kamu?" Cibir Rey. Dia bangun dan berdiri di depan Ana.


"Bapak bisa gak? Gak usah cium-cium saya!!" Ana merengut, memalingkan wajahnya.


"Gak!" Jawab Rey tampak tak acuh.


Ana pun langsung melotot menatap garang Bosnya. Ia mendengkus saat Rey terlihat tak acuh dan tidak merasa bersalah. Ana menghela napas nya yang begitu berat, mengatur emosi yang siap membludak setelah itu dia berjalan melewati Rey.


"Dasar mesum!" Umpat Ana berjalan menuju pintu.


"Aaaaarergghhh ...."


Ana yang sudah akan menarik knop pintu pun langsung berbalik saat mendengar erangan dari Rey.


"Pak Rey!" Pekik Ana. Dia panik dan langsung berlari menyangga tubuh Rey yang akan jatuh.


"Kepala saya pusing Ana." Cicit Rey.


"Biar saya yang menyetir Pak, ayo pelan-pelan." Ana memapah Rey, merangkulkan tangan pria itu dipundaknya.


Ana sedikit lega saat keluar tak mendapati siapapun, keadaan sudah sepi.


Tidak terbayang akan seperti apa b*cot mereka jika melihat Ana memapah bosnya seperti ini.


"Ana!"


Ana yang baru keluar lobi pun terkejut saat suara bass yang begitu familiar memanggilnya.


"Sean!" Pekik Ana. Dia sangat terkejut mendapati Sean berdiri di depan lobi.


"Akhirnya kamu keluar juga, saya sudah dua jam nungguin kamu, saya khawatir karena ponsel kamu gak aktif." Kata Sean yang berjalan menghampiri Ana.


"Em ... itu ponsel saya lowbat." Jawab Ana memaksakan senyumnya.


Perempuan itu merutuki kebodohannya yang membiarkan ponselnya mati tak berdaya. Di tambah lagi kini posisinya yang sedang memapah Rey, sungguh membuatnya merasa canggung dan serba salah.


"Saya ke sini mau anterin kamu pulang, sekalian buat ajak makan malam. Itung-itung buat ganti makan siang yang tertunda." Ucap Sean saat melihat Ana terdiam.


"Maaf Sean, tapi saya gak bisa." Ana merutuki diri, telah menyia-nyiakan kesempatan emas. Namun dia juga tidak mungkin membiarkan Rey pulang sendiri dalam keadaan sakit.


"Kenapa?" Tanya Sean, terlihat jelas raut kecewa di wajahnya.


"Saya harus anterin Pak Rey pulang, beliau sedang sakit."


Kini Sean mengalihkan pandangannya pada Rey yang tengah menyandarkan kepala di pundak Ana. Entah kenapa ada perasaan tak suka yang timbul.


"Kalo begitu saya pulang dulu." Ucap Ana.


Dia berjalan dengan susah payah karena Rey memeluknya dari samping, dengan kepala pria itu yang membebani pundaknya.


"Pak Rey, jangan kaya gini." Bisik Ana.


Bukannya menjauhkan kepalanya, Rey malah semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Ana. Semakin erat memeluk pinggang Ana dan itu semua tak luput dari pandangan Sean.


Kenyataanya PDKT tak segampang iklan kornetto! Sean tersenyum kecut, menatap kepergian Ana.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊