
Ana terdiam menimang-nimang tawaran Rey, yang makin ke sini tingkat kewarasannya patut dipertanyakan?
"Serius?" ini orang kesambet apaan sih! Coba penonton tolong ambilin palu thor, getok pala bos gue yang gak ngotak ini.
"Apa wajahku meragukan?" Rey menaikkan sebelah alisnya. Banget tampang-tampang cucu kakek sugiono.
"Tapi ... Pak Rey, harus banget saya?" Jawab Ana, mulai putus asa. Rey tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Saya maunya kamu Ana, saya bosan dengan mama, yang selalu menyuruh saya kencan buta dengan anak-anak koleganya." Rey mengembuskan napas dengan kasar.
"Tapi ... Pak–––"
"Setahun." Potong Rey, pria itu berjalan mendekati Ana. Duduk disampingnya.
"Hutang kamu akan saya anggap lunas, jika kamu setuju dan kamu hanya perlu jadi pacar saya selama setahun. Setelah itu terserah kamu mau tetap kerja atau resign. BEBAS." Mata Ana membulat sempurna, mulutnya menganga. Entah ini rezeki atau musibah.
"Bapak beneran gak boong?" Tanya Ana, memastikan ucapan Rey. Pria itu mengangguk.
"Ok." Jawab Ana tanpa pikir panjang, ia tersenyum manis membayangkan kebebasan di depan mata momen yang paling ditunggu-tunggunya.
Tidak apa-apa Ana, setahun bukan waktu yang lama setidaknya kamu tidak perlu terjebak seumur hidup dengan bos mesum ini. Ana berusaha meyakinkan tekad bahwa keputusannya kali ini benar.
"Hanya jadi pacar saja, kan?"
Rey mengangguk lalu menyodorkan secarik kertas berisi perjanjian baru. Ana membaca satu persatu poin yang tertulis di kertas. Bibirnya tidak berhenti berdecak. Tinggal satu apart? Yang bener saja, bisa dilecehin tiap hari.
"Pak ini gak berlebihan?" Tanya Ana, merasa keberatan dengan isi perjanjian.
"Saya kira itu harga yang pantas untuk waktu kamu seumur hidup." Ana berdecak, ia lupa jika bosnya ini selain mesum juga peritungan, tidak mau kalah maunya menang sendiri.
"Jadi ...." Rey menggantungkan ucapannya, menatap ekspresi Ana.
"Kamu gak mau no problem, itu artinya ka–––"
"Baik saya setuju, tapi Bapak gak boleh macem-macem ngerti!!" Potong Ana, dengan peringatan keras pada Rey.
"Jadi ...." Rey menggantungkan ucapannya, menatap ekspresi Ana.
"Kamu gak mau no problem, itu artinya ka–––"
"Baik saya setuju, tapi Bapak gak boleh macem-macem ngerti!!" Potong Ana, dengan peringatan keras pada Rey.
•••
Ana menghela napas panjang. sepertinya keputusan kali ini salah. Bukan berpotensi lepas dari Rey justru akan semakin terikat.
"Jadi ... sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Wildan stronghold, papa Rey. Kini keduanya sedang makan malam di kediaman orangtua Rey.
"Sudah lama." Jawab Rey.
"Kemaren." Jawab Ana, keduanya menjawab dengan serempak.
Tentu saja itu membuat tanda tanya besar pada kedua orangtua Rey, mereka berdua saling beradu pandang satu sama lain.
"Jadi yang bener, sudah lama atau kemaren?" Tanya Mama Rey meminta kejelasan.
Ana meremas ujung dress, merutuki mulut sialan ini.
"Gak penting Ma, intinya aku sama Ana sekarang pacaran." Jawab Rey, ia kembali fokus dengan makanannya.
"Kalo gitu, besok kita ketemu orangtua kamu ya, Ana." Ujar Mama Rey. Ana mengerjapkan mata, saat semua berbanding terbalik dengan rencana yang telah dia susun.
"Apa?!" Pekik Ana, lalu melempar pandangan pada Rey menuntut penjelasan. Memang Rey sialan, dia justru mengedikkan bahunya tak acuh.
"Kenapa?" Tanya Mama Rey, yang bingung dengan reaksi Ana.
"Emss ... apa gak kecepetan, Nyonya?" Jawab Ana, dia tampak gugup. Benar-benar situasi yang tidak menguntungkan.
"Lebih cepat lebih baik bukan, kalian cocok, Saya sama Papanya Rey juga gak ada masalah tunggu apalagi?" Susah payah Ana menelan saliva, berusaha mencerna ucapan nyonya Reynata. Sial.
Ana merasa Rey sengaja menjebaknya dalam hubungan yang semakin rumit.
"Gimana?" Tanya tuan Will, Ana tidak tahu harus menjawab apa. Ia menundukkan pandangan, tetapi kakinya bergerak menendang kaki Rey.
******! Bantuin ngomong kek!!
"Aww ...." Rey meringis, melototi Ana. Ia membalas tatapan Rey dengan senyum mengejek. Emang enak karma buat lo bos sengklek.
"Gimana Rey, kamu setuju, 'kan?" Tanya mamanya.
"Husssst ...." Mama rey langsung menyambar ucapan Rey.
"Jangan ngomong gitu, pamali." Rey mendengus.
"Mama gak mau kamu main-main sama pernikahan, inget nikah itu sekali seumur hidup."
"Ya, makanya biarin kita saling mengenal dulu. Baru kita pikirin nikah kalo memang kita sama-sama sudah siap." Jawab Rey.
"Iya tapi kapan? inget umur Rey." Mama Rey tampak mendesah berat.
"Mama sama Papa juga udah tua Rey, kita pengen nimang cu––––"
"Satu tahun." Potong Rey.
"Oke, kita bisa tunangan dulu kok, jadi gak perlu buru-buru nikah." Rey berusaha meyakinkan mamanya.
Terdengar desahan berat dari orangtuanya. " Yaudah, kita bicarain lagi nanti untuk itu." Ana akhirnya bisa bernapas lega mendengar jawaban nyonya Reynata.
"Tapi inget, dalam setahun kalian gak nikah-nikah. Jangan salahin kalo Mama sama Papa yang turun tangan." Rey mengangguk, dan mereka kembali makan dengan tenang.
Tetapi itu tidak berlaku untuk Ana, dia masih memikirkan tentang saran gila bosnya. bertunangan?
•••
Ana masuk ke apartemen, ia memberengut kesal pada Rey. Orang mesum, apa-apaan sih dia main cium-cium sembarangan.
Rey mengembuskan napas dengan kasar, berjalan menghampiri Ana.
"Masih marah?" Tanya Rey.
"Menurut Bapak?" Jawab Ana, tanpa mau menoleh pada Rey.
"Kamu tau Mama saya kan Ana, dia bukan orang yang mudah percaya dia ...."
"Tapi bukan dengan ciuman juga kan buat meyakinkan?" Ujar Ana, ia berjalan menjauhi Rey menuju meja bar untuk mengambil air.
Buuuurrrr
Ana menyemburkan air dari mulut, saat Rey tiba-tiba menyelipkan tangannya di perut Ana.
"Pak rey!" Pekik Ana, mencoba melepaskan diri tetapi pelukan Rey terlalu kencang.
"Kamu lupa poin no 2?" Bisik Rey, Ana terdiam, mengingat-ingat 10 poin perjanjian terkutuk itu.
"Tidak ada kepalsuan?" Ucap Ana.
"Iya, hubungan kita tidak ada kepalsuan, saya mau jalani semuanya dengan nyata tidak ada kepura-puraan." Ana menghempas tangan Rey, berbalik menatap pria itu dengan tajam.
"Tapi Bapak kan mintanya saya buat jadi pacar pura-pura saja, dan what the hell!" Hardik Ana melepaskan diri dan menjauhi Rey, ia benar-benar kesal merasa ditipu mentah-mentah.
"Saya tidak bilang begitu." Jawab Rey dengan santainya. Sarap ni orang, perlu diruqyah.
"Pak Rey yang gila hormat." Persetan dengan sopan santun.
"Jelas-jelas Bapak memberi saya tawaran untuk jadi pacar pura-pura bukan pacar beneran." Ana benar-benar gemas, ingin sekali mencelupkan Rey ke dalam aspal goreng.
Rey pun membuka ponselnya dan memutar audio.
"Hutang kamu akan saya anggap lunas, jika kamu setuju dan kamu hanya perlu jadi pacar saya selama setahun, setelah itu terserah kamu mau tetap kerja atau resign. BEBAS."
Daebak. Ini orang benar-benar menguji emosi Ana. Dia menganga, menelan mentah-mentah semua sumpah serapah yang ingin dilontarkan pada pria gila itu. Kembali merutuki kecerobohannya karena tertipu dengan ucapan Rey. Pria itu selalu hebat memanipulasi ucapannya. Bodohnya kamu Ana, ini otak bantet apa gimana sih? Gak encer-encer, begonya gak ketulungan.
"Kamu denger sendiri kan, saya minta kamu jadi pacar saya selama setahun, bukan pura-pura jadi pacar." Rey berdiri mengahampiri Ana yang tengah menatapnya dengan horor.
"Jadi ...." Mata mereka saling beradu.
"Jadilah pacar yang baik selama setahun." Rey mengacak-ngacak rambut Ana.
"Night sayang." Rey mendaratkan kecupan di pipi Ana, setelah itu dengan tanpa berdosa dia pergi begitu saja.
Meninggalkan Ana yang terpaku di tempat, melongo seperti orang habis kena hipnotis . Tabok gue dong, terus teriak kalo ini cuman mimpi. Ana menyentuh sebelah pipinya, hangat bekas kecupan Rey masih terasa membuat jantungnya seakan mau copot.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊