It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 9



Ana berjalan menuju ruangan Rey, ia mengabaikan jam makan siangnya hanya untuk menulis surat pengunduran diri. Ana sudah di depan pintu ruangan Rey, ia menghela napas panjangnya.


"Kamu bisa Ana." Gumamnya menguatkan tekad.


Ana sudah akan mendorong knop pintu, saat suara keras seperti benda terjatuh menerpa indra pendengarannya. Suara yang nyaring yang memekikan telinga, membuatnya bergidik ngeri.


Bahkan terdengar erangan dari dalam, Ana bisa melihat dari balik pintu kaca itu. Rey sedang mengacak-ngacak ruangannya. Membuang apapun yang ada di meja, membanting apapun untuk pelampiasannya. Masuk gak, masuk gak, tapi ....


Ana ragu haruskah ia masuk, bukankah waktunya tidak tepat. Tapi dia tidak bisa harus menunggu lagi, dia sudah tidak tahan terus di cemooh oleh orang-orang dikantornya.


"Hadapi Ana, kamu bisa!" Ana sudah siap akan mendorong knop pintu, hingga ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Lagu aserehe yang berbunyi nyaring, Ana gelagapan lalu ia melihat layar ponselnya. Melihat nama mas-nya tertera di layar, dia bergegas melenggang pergi dari sana.


Ana menuju ketangga darurat, tempat paling sepi yang jarang dilalui orang.


"***Halo, assalamualaikum." Ana mengangkat sambungan telepon. "


Ada apa mas?" Tanya Ana to the point***.


"***Apa?!" Ana tampak terkejut.


"Terus keadaan Bapak gimana?" Tanya Ana, terlihat sangat panik***.


"Yaudah, Ana usahain Mas gak perlu khawatir biayanya. Biar Ana yang cari, yang penting Bapak sehat." Ana bersender pada pegangan tangga.


Badannya lemas mendengar kabar bapaknya masuk rumah sakit lagi, penyakit jantungnya kembali kumat.


"***Eh, iya mas ...." Ana tersentak saat menyadari telepon masih tersambung.


"Oh, iya mas, Ana usahain minta cuti." Ana mendesah pelan, mana mungkin Rey akan memberinya cuti. Mustahil!


"Walaikumsalam." Ana menutup sambungan telepon***.


Ana memijit pelipisnya, bagaimana dia bisa bayar pengobatan bapak kalo dia mengundurkan diri, kini Ana kembali bimbang, ragu dan putus asa.


•••


Ana duduk diruangannya, menatap kosong layar komputer yang menyala. Pikirannya telah bercabang, membuat dia tak konsen dengan pekerjaan. Hatinya berkecamuk.


Ada keraguan dalam dirinya, ia ingin pulang. Dia rindu bapaknya. Tapi bagaimana bisa dia pulang, mengingat Rey yang mustahil akan menerima pengajuan cutinya. Ditambah lagi beban pikiran dengan gosip yang makin melebar kemana-mana.


"Hey!" Ana tersentak saat suara bass itu menggema ditelinganya. Dia mengangkat kepala, mendongak menatap pria yang ada dihadapannya.


"Pak Sean!" Pekik Ana, tampak terkejut.


"Sean saja, kan kemarin sudah sepaka." Sahut Sean dengan senyum manisnya.


"Iya Pak ... eh, Sean." Ana tersipu malu.


"Udah makan siang?" Tanya Sean, Ana menggeleng.


"Kalo begitu timing yang pas, ayo temenin saya makan siang, di depan ada restoran baru. Katanya sih enak."


Ana berpikir sejenak, dia ingin sekali menerima tawaran Sean. Perutnya juga mendukung, tapi dia tidak mungkin keluar diluar jam makan siang. Bisa mengamuk sih Rey.


"Gimana?" Tanya Sean, saat tak mendapat tanggapan dari Ana.


"Emm ... maaf aku gak bisa, lain kali saja." Ana merutuki dirinya, padahal ini kesempatan emas kapan lagi dia bisa makan siang dengan orang tampan. Gini caranya jadi perawan tua gue.


"Yah, padahal pengen banget makan siang bareng." Gumam Sean, tampak kecewa dan Ana kini merasa bersalah.


"Next time mungkin?" Ujar Ana, dan Sean pun menanggapinya dengan senyuman.


"Beneran gak bisa, atau karena kamu takut sama Rey? Biar aku izinin." Kata Sean, pria itu masih tak menyerah.


Ana tampak bimbang hingga suara derit pintu yang terbuka membuatnya menoleh.


Pak Rey! M*mpus gue!! Ana menatap Rey dengan mata melebar, apalagi tatapan pria itu yang begitu dingin dan menusuk.


"Hai Rey, kebetulan ada lo. Gue mau ajak sekretaris lo makan siang boleh, kan?" Sean menghampiri Rey.


Rey tak langsung menjawab, dia melirik sekilas ke arah Ana yang sedang menundukkan kepala.


"Ana!"


Ana langsung mengangkat kepala, menatap ke arah Rey yang memanggilnya.


"Mama minta kamu ikut makan siang." Ujar Rey.


"Oh,ii-iiya Pak." Jawab Ana tergagap.


"Sorry Sean, mungkin lain waktu saja." Rey menepuk bahu Sean lalu pergi begitu saja.


"Maaf Sean, mungkin next time kita bisa makan siang bareng." Kata Ana tampak menyesal.


Sean mengangguk tersenyum kecut, kentara sekali kekecewaan di raut wajahnya.


Wanita itu lantas berbalik menatap Sean tanpa bersuara, tapi sorot matanya seolah bertanya kenapa?


"Aku boleh minta no telepon, kamu?" Sean menyodorkan ponselnya, tapi Ana tak langsung menjawab.


"Buat ngabarin kamu kalo mau ngajak makan siang." Tambah Sean, dia mengusap tengkuknya tampak salah tingkah ditatap Ana seperti itu.


Ana mengangguk, dengan senyum manis diwajahnya. Dia mengambil ponsel Sean mengetikkan beberapa digit no telepon, membuat Sean bersorak dalam hati.


"Makasih." Ujar Sean saat Ana mengembalikan ponselnya.


Ana mengangguk.


"Kalo begitu aku duluan, bye Sean." Ana melambaikan tangannya setelah itu dia berjalan pergi.


Sean berjingkrak kegirangan, namun saat Ana kembali berbalik melihatnya dia langsung salah tingkah memberikan senyuman canggung ke arah Ana. Jatuh cinta gini banget sih! Monolog Sean dalam hati.


•••


Ana duduk dengan gelisah karena sedari tadi Rey menatapnya tanpa bersuara. Tatapan bosnya sangat menusuk, seolah-olah dia tengah menguliti Ana hidup-hidup.


"Udah lama nunggu, ya?" Suara merdu dari Mama Rey yang baru tiba, Ana tampak menghela napas. Setidaknya kehadiran nyonya Reynata mampu membuat keadaan tidak terlalu menyeramkan seperti tadi.


"Gak apa-apa Ma, kita baru dateng." Rey memeluk Mamanya, lalu nyonya Reynata beralih menatap Ana. Wanita itu berdiri membungkukkan badannya memberi hormat pada Mama Rey.


"Oh, Ana ikut juga." Kata Mama Rey tampak senang. Sedangkan Ana mengernyitkan dahinya tampak heran. Bukankah tadi Pak Rey bilang nyonya Reynata menyuruhnya ikut? Ana melirik kearah Rey, pria itu terlihat biasa saja tak acuh.


"Rey yang minta Ma, kasian dia belum makan siang juga." Sahut Rey.


Ana mendesis pelan. Kasian pala kau bau menyan, bilang aja lo gak mau gue makan siang sama Jaehyun lokal.


Makan siang pun berjalan lancar, meski semua percakapan didominasi oleh nyonya Reynata dan Rey. Sedangkan Ana hanya sesekali menyahut dengan anggukan dan gelengan.


"Oh. Ya Ana, bapak kamu apa kabar?"  Tanya nyonya Reynata.


Ana yang sedari tadi menunduk pun mengangkat kepalanya.


"Bapak ...." Ana tampak ragu, haruskah ia jujur atau berbohong.


"Kenapa?" Tanya nyonya Reynata yang sepertinya sudah curiga. Kesempatan bagus. Ana menatap nyonya Reynata, memasang muka melasnya.


"Bapak lagi sakit Nyonya, baru saja masuk rumah sakit." Ucap Ana tampak sedih.


"Bapak, sakit apa?" Tanya nyonya Reynata yang ikut khawatir mendengar kabar itu.


"Jantungnya kumat." Jawab Ana, dia meremas jemarinya tampak gelisah.


"Terus kamu gak pulang?" Yess! Pertanyaan yang sedari tadi Ana tunggu-tunggu.


"Pengennya tapi ...." Ana melirik Rey sekilas.


"Takut enggak di-acc sama Pak Rey." Ana menundukkan kepala, lewat ekor matanya ia kembali melirik ke arah Rey. Pria itu Terlihat kesal dan geram. M*mpuss!


"Kamu gimana sih, Rey?!" Hardik Mamanya. Rey tak menyahut tapi pria itu malah menatap Ana dengan tajam.


"Kalo begitu kamu pulang saja Ana, masalah Rey biar saya yang urus."


Ana mengangguk.


"Makasih Nyonya." Ana mengulas senyum kemenangan.


"Rey gak masalah kok Ma." Celetuk Rey tiba-tiba, membuat Ana terkejut. Apalagi? Semoga bukan drama lagi.


"Bagus." Sahut Mamanya.


"Asal ...." Rey menggantungkan ucapannya menatap Ana yang sudah gelisah.


"Asal apa?" Tanya Mamanya yang sudah tak sabaran.


"Asal Rey ikut."


"Apa?!" Ana yang terkejut pun langsung berdiri membuat Mama Rey menatapnya dengan heran.


"Maaf." Ana kembali duduk, wanita itu menatap sebal ke arah bosnya.


"Buat mastiin aja kalo dia gak bohong, sekalian kenalan sama calon mertua." Rey menyunggingkan senyum kemenangan.


Sedangkan Ana terus mengumpat dalam hati, merutuki ucapan bosnya. Calon mertua bapak lo peyang!! Sial, sial, sial.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊