
Ana mengatur napas, kini dia berdiri di balik pintu kamarnya.
"Kamu pasti bisa Ana, hanya sepuluh hari. Setelah itu, kamu BEBAS!" Seru Ana berusaha menyemangati diri sendiri.
"Huh! Oke Ana, kita awali semua dengan doa dan senyuman," Tambahnya, menarik kedua sudut bibirnya membentuk garis lengkung ke atas.
Ana yang sudah rapi mengenakan setelan baju kerja pun turun menjinjing tas Chanel–nya. Ia langsung menuju dapur untuk mengisi perut yang mulai melakukan pemberontakan di dalam sana.
"OMO!! Pak Rey!" Pekik Ana, dia terkejut melihat sosok Bosnya yang sedang sarapan bubur ayam.
"Why?"
Ana tidak langsung menjawab, ia memperhatikan penampilan Rey dari atas sampai bawah. Pria itu mengenakan boxer selutut dan kaus oblong biasa, bahkan dia yakin jika Bosnya itu juga belum mandi. Bau asem!
"Pak Rey, kok belum siap?"
"Kita cuti mulai hari ini sampai sepuluh hari ke depan." Jawab Rey tanpa menatap Ana sekalipun.
What the hell! Drama apa lagi? Perasaan Ana mulai tidak enak, dia yakin ada yang Rey rencanakan.
"Tapi ...."
"Kita akan habiskan waktu sepuluh hari ke depan untuk saling mengenal, menjalankan semuanya sesuai isi perjanjian. Jadi ... tolong kamu ingat-ingat sepuluh poin penting ini." Rey menunjukkan surat perjanjian laknat antara dia dan Ana.
Kini Ana lagi-lagi merutuki keputusannya yang terlalu gegabah mengambil keputusan, membuatnya selalu terjebak dalam permainan bosnya. Sepuluh hari sama dia, bisa mati muda gue!
"Kamu sarapan dulu, saya sudah belikan bubur. Karena setelah ini kita akan memulai peran suami istri yang sesungguhnya." Ana tersentak mendengar penuturan Rey.
"Suami, istri?" Ucapnya, lalu dia dengan cepat menoleh pada Rey yang mulai menaiki tangga. Sunnah Rosul juga?
"YAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!" Ana yang malang.
•••
Ana menganga melihat list kegiatan yang diberikan Rey. Belanja? Nonton? Dinner? What? Ana mengangkat kepala menatap Rey yang tengah berdiri di depan cermin.
"Gimana, saya sudah ganteng kan?" Hoekkk! Ana ingin sekali muntah rasanya, mendengar ucapan Rey yang terlalu menggelikan. Menurut dia, Bosnya ini memang sangat narsis di tambah tingkat kepercayaannya yang di luar batas normal.
"Kamu beruntung bisa punya pacar seganteng saya." Celetuk Rey.
Beruntung? Ayolah jika mereka pasangan Real mungkin bisa dikatakan Ana beruntung, tetapi ini situasinya mereka hanya pasangan fake, PURA-PURA! Ana memang tidak memungkiri Rey terlampau tampan, dia mapan, juga pria baik. Tunggu, sepertinya perlu diralat. Rey bukan pria baik! Dia menyebalkan, arogan, egois, pemaksa dan MESUM!!
"Ayo." Ana tersentak dari lamunan, saat tangannya di genggam dan di seret Rey.
Ana mengerjapkan mata, namun ia tidak mengelak. Dia menurut saja saat Rey menyeretnya ke mobil. Ia hanya diam melamun dengan tatapan kosong dan pikiran entah kemana.
"Eh ...."
Lagi-lagi Ana tersentak saat Rey memasangkan safety belt padanya.
"Ck, masih pagi Ana, jangan menghalu." Cibir Rey. Astaga ingin sekali kubakar kau hidup-hidup Pak Rey!
Sepanjang perjalanan mereka saling diam, hanya ada suara dentuman musik yang membelah keheningan di dalam mobil.
Ana yang sejak tadi hanya memperhatikan jalanan mulai heran, pasalnya jalanan yang dilalui mereka sudah jauh dari rumah. Padahal jika mau ke mall saja di dekat rumah pun ada, tetapi Rey justru memilih tempat yang jauh.
Mobil Rey mulai memasuki parkiran mall, dia turun terlebih dahulu lalu memutari mobil ke pintu samping Ana.
"Ayo." Ana menatap heran pada Rey yang sudah membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya. Dia kesambet setan mana, sih?
"Ck, Lama!" Rey langsung menarik lengan Ana, menyeretnya masuk ke dalam mall.
Ana hanya diam mengikuti langkah Bosnya, dia terus berpikir keras akan tindakan pria itu yang semakin aneh. Semakin hari tingkat kewarasannya mulai diragukan.
"Kita akan belanja kebutuhan dapur, jadi pastikan semua kebutuhan selama sepuluh hari tercukupi. Jangan sampai ada yang kurang!" Ancam Rey, menunjuk hidung Ana.
"Dasar Bos sinting!!" Umpat Ana, menatap punggung tegap bosnya yang sudah meluncur dengan troli ditangannya.
Ana terus berdecak menatap horor Bosnya, pria itu memasukkan berbagai jenis produk ke troli. Ana tak begitu antusias, dia hanya berjalan mengikuti Rey di belakang. Matanya sesekali akan melirik ke kanan kiri melihat produk-produk yang berada di rak.
"Kamu lebih suka yang pake sayap, atau tanpa sayap?" Celetuk Rey.
Ana seketika menoleh, dan matanya langsung membulat menatap tajam Bosnya.
"Yang mana, sayap atau tanpa sayap?" Rey menunjukkan dua bungkus produk di tangan kanan dan kirinya. Pengen banget gue gantung dia di pohon cabe!!
Ana mengatur napas, mengembuskannya dengan kasar.
"Pak Rey, harus banget Bapak beli itu?" Tanya Ana dengan sorot mata tajam siap menguliti Rey hidup-hidup.
"Haruslah, ini penting Ana." Tukas Rey.
"Sayap lebih bagus." Ujarnya seraya memasukkan pembalut itu ke troli.
"Serah!!" Ana sudah tidak minat menggubris Bosnya, dia terus merutuki Rey yang seenak jidat membeli pembalut untuknya. Dasar sinting!
"Kamu suka yang mana? Sirih atau chamomile?" Rey menunjukkan dua jenis produk pembersih kewanitaan.
Astaga!! Ingin rasanya Ana mencelupkan bosnya itu ke dalam kubangan lumpur lapindo.
"Pak Rey!" Hardik Ana, dia sudah geregetan ingin mencabik-cabik Bosnya.
"Chamomile lebih bagus." Kata Rey mengabaikan kemurkaan Ana. Ya Allah, tolong kembalikan otak Bos hamba, kenapa makin hari makin bantet otaknya!
Ana terus merutuki tingkah Rey yang seenak jidat, bayangkan saja pria itu memasukkan susu prenagen essent ke dalam troli.
Memangnya siapa yang sedang promil? Jangan bilang Bos sinting itu benar-benar akan menjalankan peran suami istri, termasuk sunnah rosul? Bunuh aja gue sekarang! Menyebalkan!
"Kamu harus merawat diri Ana, menjaga aset itu penting ...." Ana memutar bola mata, mulutnya komat kamit menirukan ucapan Bosnya yang tak berkesudahan. Jika diukur mungkin melebih jalan tol Jakarta-Tangerang, oke Ana terlalu lebay soal ini.
"Pak Rey." Panggil Ana, pria itu menoleh menatap Ana yang tengah melihat-lihat produk di rak.
"Bapak, kenapa gak urus diri Bapak sendiri? misalnya beli obat pembesar anu ...." Ana merutuki mulut sialannya yang entah kenapa harus membahas hal itu.
"Anu?" Ucap Rey, menaikkan sebelah alisnya.
"Em ...." Ana tampak salah tingkah, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Anu ... Em, ya buat perawatan cowok ... Ya, begitulah pokoknya." Ana menghindari tatapan Rey.
"Dari pada Pak Rey sibuk milih produk perawatan buat saya." Tambah Ana yang sudah berjalan ke depan.
"Kenapa? Kamu meragukan milik saya?" Bisik Rey membuat Ana tersentak dan langkahnya langsung terhenti.
"Apa kamu mau mau tahu berapa ukurannya?" Ana mendelik mendengar penuturan Bosnya, dia menoleh menatap horor wajah Rey yang tengah menyeringai.
Tolong rukiah Bos gue!!
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊