It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 14



Keadaan paling awkward. Kini Ana duduk di samping Bosnya, berhadapan dengan kedua orangtua Rey. Dia merasa seperti sedang di sidang dan akan di vonis hukuman mati. Lebih menyeramkan dari itu!


Ana menelan saliva berulang kali, kini nasibnya di ujung tanduk. Ia melirik Rey, dan sedikit kesal karena pria itu terlihat santai seolah tak terjadi apa-apa. Gara-gara sih mesum gue ikutan kena. Sial!


"Jadi ... sudah berapa kali?"


Ana melotot, mendengar pertanyaan menohok dari nyonya Reynata. Berapa kali apanya? Sial! Harusnya dia sudah menduga akan begini jadinya.


Ingin rasanya membantah itu, tapi kalo bukti sudah jelas di depan mata mustahil mereka akan percaya dengan ucapannya yang mungkin akan dianggap bualan semata.


"Apa si, Mah? kita gak nga---"


"Berapa kali! Apa kamu ... pake pengaman?" Sergah mamanya, memotong ucapan Rey.


Seketika pria itu melotot, terkejut dengan pertanyaan frontal Mamanya. Sedangkan Ana semakin menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang jelas sudah merah padam.


Pengaman? Memangnya dia sama pak Rey ngapain?! Mereka cuma tidur bareng gak lebih. Tapi orang lain akan berpikiran negatif tentang itu Ana. Bodoh!


Kini Ana merutuki dirinya yang selalu ceroboh, kenapa juga harus sampai ketiduran dan kenapa juga kancing piyamanya harus terlepas semua.


Arrrghhhhh!!! Ana semakin geram dengan keadaan yang semakin rumit, seandainya jurus menghilang Naruto bisa ia gunakan. Mungkin saat ini juga dia akan menghilang dari situasi menyebalkan ini.


"Kita gak ngapa-ngapain Mah, kita cu---"


"Cuma bobok bareng!" Potong Mamanya penuh penekanan.


Rey mengacak-ngacak rambutnya, frustasi! Susah sekali menjelaskan hal sepele seperti ini pada Mamanya yang memang keras kepala.


Tapi ini juga salahnya, yang bermain-main dengan api. Beruntung Mamanya tidak kena serangan jantung. Jika iya, bisa dikutuk jadi malin kundang dia!


"Jadi ...." Mama Rey melirik keduanya, hingga tatapannya jatuh pada Rey.


"Kalian kapan mau nikah? Mama gak suka ya Rey, kamu ngelakuin hal seperti itu sebelum menikah." Cerca Mamanya.


"Nikah!" Pekik Ana.


Ana mengangkat wajahnya menatap nyonya Reynata. Matanya melotot, mulutnya menganga seolah perempuan itu baru saja mendengar kabar kematian. Mungkin lebih seram dari itu.


"Iya Ana, tenang saja Rey akan tanggung jawab. Gimana kalo kita adakan pernikahannya besok." Usul Mama Rey. Semakin membuat Ana tercengang.


Rey jelas setuju, sangat setuju malah. Serasa ketiban durian runtuh, namun berbeda dengan Ana seperti mimpi buruk mendengar hal itu.


"Besok?" Gumam Ana.


Berasa di vonis penjara seumur hidup. Menikah dengan atasannya yang super duper mesum dan menyebalkan! Sama sekali tak pernah terbesit dalam pikirannya. What the hell, dan kenapa sekarang hidupnya bisa jungkir balik 180°. Ana tersenyum kecut, sungguh ironi.


"Iya, lebih cepat lebih baik bukan." Kata nyonya Reynata.


"Gak! Gak! Gak mungkin! ini salah!" Ana berteriak sambil menggelengkan kepalanya.


Sontak saja itu membuat kedua orang tua Rey keheranan. Terlebih Rey yang sudah panik jika Ana bisa saja lepas kendali dan membocorkan semuanya. Bisa m*mpus dia digantung Mamanya yang garang.


"Kenapa Ana?" Mama Rey menaikkan sebelah alisnya, menatap Ana dengan heran.


"Saya gak bisa! Ini semua cuma ... emmmpbb!" Ana meronta karena Rey langsung membekap mulutnya.


"Maksud Ana, ini semua terlalu cepat. Kita butuh perencanaan yang matang, bagaimanapun pernikahan kan acara sakral sekali seumur hidup. jadi ... Kita mau siapin semuanya dengan sesempurna mungkin." Kata Rey, sambil meringis karena Ana menggigit jarinya.


Diamlah Ana! Rey menatap tajam Ana dengan tatapannya yang selalu mengintimidasi, membalas tatapan perempuan itu yang melototinya.


Rey sialan!!! Ana hanya bisa pasrah, terlebih orang tua Rey yang percaya begitu saja. Ya Allah, hamba bosan hidup tapi takut mati. Kutuk aku jadi Sandra dewi agar aku tak perlu jadi budak iblis tampan ini.


"Oke, Mama kasih waktu satu minggu dan minggu depan pastikan semuanya beres." Ujar Mamanya.


"Saya udah gak sabar pengen ketemu Bapak kamu Ana." Mama Rey tersenyum manis kearah Ana. Terlihat sekali jika wanita itu sangat antusias akan rencana pernikahan mereka.


Berbanding terbalik dengan Ana yang menatap nanar kepergian dua orang itu. Satu minggu?


"Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrghhhhhh!!" Teriak Ana yang langsung berlari ke atas.


Rey meraup wajahnya dengan kasar, tapi ia tak menyesali sama sekali. Memang ini momen yang ia nantikan, walaupun semua ini bukanlah rencananya. Dia hanya berniat mengerjai Ana, siapa kira jika kedua orang tuanya justru datang sepagi ini.


"Satu minggu Ana, dan akan aku pastikan aku bisa menaklukkanmu." Atau kalo tidak biarlah dukun yang bertindak. Seringai itu muncul di sudut bibir Rey.


•••


Ana merenung di kamarnya, ia mondar mandir tidak jelas sambil menggigiti kuku. Kebiasaan setiap kali dia sedang gelisah.


"Ishh ... mikir Ana, lo gak mungkin nikah sama Rey! Atas dasar apa lo nikah sama dia, bahkan kalian gak saling mecintai." Gerutu Ana.


Cinta? Persetan dengan cinta. Ya Allah. Kirimkanlah jodohku sekarang juga, dan kuharap bukan Bos sialan itu yang engkau kirim untukku. Ana memejamkan mata, merebahkan diri di atas ranjang. Hayati lelah!


"Kenapa tidak?" Ana tersenyum miring. Lalu dia dengan cepat bangkit dan berlari ke kamar mandi, mencuci wajahnya. Gak perlu mandi resiko orang cantik, mandi gak mandi tetep cantik. Ana merapikan semua barang-barangnya.


Dia sudah tidak sabar akan membuat perhitungan dengan bosnya.


•••


Ana turun dari tangga sambil menyeret kopernya. Rey menaikkan sebelah alisnya menatap Ana yang berjalan menghampirinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Rey.


"Saya mau pulang ke Wonosobo! Saya juga mau resign!" Ketus Ana, seraya menyodorkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya.


"Dan ini tabungan saya, untuk mengganti pinalti. Sisanya akan saya cicil." Tambahnya, lalu memberikan buku rekeningnya.


Rey melongo tak percaya, what the hell? Gue gak butuh duit lo Ana, gue butuh lo. Dengan tampang bodohnya Rey menatap Ana.


"Jangan pergi Ana." Gumam Rey.


"Saya harus pergi Pak, permisi." Ana berbalik, namun secepat kilat Rey langsung memeluknya dari belakang.


"Jangan tinggalin saya." Bisiknya lirih namun mampu menggetarkan hati Ana.


Ana terdiam, hatinya kian bergemuruh. Entahlah PMS membuat hormonnya tidak karuan. Cengeng!


"Jika kamu pergi karena pernikahan itu, saya tidak akan memaksa Ana ... Asal kamu tidak pergi. Please." Pinta Rey dengan suara yang begitu parau.


Dan entah kenapa itu cukup membuat guncangan hebat di hati Ana. Bisa mati muda gue kalo jantung gue maraton mulu. Jerit Ana dalam hati, sudah tak tahan lagi dengan gejolak aneh yang ia rasakan.


"Lepas!" Ana menghempas tangan Rey.


Namun lagi-lagi Rey memeluknya, enggan melepaskan Ana.


"Please, beri saya satu kesempatan Ana." Rengek Rey.


Ana menghela napasnya, kali ini dia tidak boleh goyah. Sudah cukup ia di jajah Rey. CUKUP!!


"Maaf saya ...."


"Sepuluh hari." Sela Rey.


Ana mengernyitkan keningnya, maksudnya? Jangan bilang dia minta hal aneh lagi, gak sudi! Persetanlah dengan perjanjian tengik itu.


"Saya mohon Ana, sepuluh hari saja kita jalani semua sesuai isi perjanjian itu. Setelah itu saya tidak akan menahan kamu jika kamu ingin pergi." Ujar Rey, dia melepas pelukannya.


Rey membalik tubuh Ana, menangkup wajahnya, dan sialnya perempuan itu sama sekali tak berkutik. Seolah tubuhnya kaku seketika.


"Saya janji, hanya sepuluh hari. Setelah itu semua keputusan ada di tangan kamu." Rey menunjukkan dua jarinya ke depan Ana, dengan senyum tipisnya.


"Deal?" Rey mulai gelisah saat Ana bergeming dan tak menanggapinya.


"Hanya sepuluh hari? Pak Rey gak ngibul kan?" Tanya Ana. Dia menatap Rey penuh selidik.


Kali ini dia takkan mudah tertipu oleh bosnya yang licik itu.


"Suwer!!" Jawab Rey. Pria itu tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat.


"Hanya sepuluh hari saja, kita jalani layaknya seperti suami istri dan setelah itu kamu bisa memilih akan tetap menikah dengan saya atau kamu akan pergi dengan keputusan kamu. Saya tak akan menahan kamu lagi." Tambah Rey.


"Suami istri?" Ujar Ana. Bosnya benar-benar sinting, maksudnya dia harus melayani pria itu setiap malam jumat begitu? Sunnah rosul bareng-bareng gitu? Aigoo! Gak sudi !!


"Iya, hanya sepuluh hari, kamu bisa membuktikan apakah saya pantas jadi suami kamu atau tidak." Kata Rey.


"Bapak gila!" Ana mendengus.


"Please, Ana. Saya gak punya pilihan lain, kamu tahu Mama saya senekad apa? Tapi jika saya gagal meyakinkan kamu dalam sepuluh hari ini. Saya janji, saya akan meyakinkan Mama saya untuk membatalkan semuanya." Rey tertunduk, dia sudah pasrah jika Ana tetap kekeh dengan keputusannya.


Ana merenung, entah apa yang ada dipikiran bosnya. Ana tak mengerti kenepa sulit sekali mengerti sikap Bosnya terlalu rumit baginya untuk memahami keadaan, bahkan ini lebih rumit dari rumus fisika yang paling dia benci.


"Oke, tapi setelah itu Pak Rey harus bebasin saya dari semua perjanjian itu!" Ana berharap kali ini keputusannya benar, apapun caranya akan dia tempuh agar terbebas dari belenggu seorang Reynaldi yang tingkat kewarasannya sudah diragukan.


Rey langsung mengangguk dan refleks memeluk Ana. Membuat perempuan itu tercengang akan tindakan Rey.


Sumpah ini jantung gue konslet! Panggilin dokter dong. Jantung gue versi pentium soalnya, bisa gawat kalo sampai gagal jantung.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊