It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 30



Senyummu mengalahkan indahnya sunset di sore hari,


Rona merah pipimu seperti langit senja yang begitu memukau.


_Reynaldi Stronghold_


❤❤❤


Rey tampak gelisah, karena Ana masih menggantungkan perasaannya. Layaknya jemuran yang dibiarkan tertiup angin, seperti layangan yang sengaja di tarik ulur.


Walaupun Rey sangat yakin, jika Ana juga memiliki rasa yang sama seperti perasaannya. Apa Ana tidak tahu bagaimana perasaan Rey? Sampai pria itu tak bisa memejamkan matanya. Ucapan Ana terus terngiang-ngiang dipikirannya.


"Buktikan, kamu masih punya satu hari untuk membuktikan. Jangan sia-siakan itu!"


"Kita mau ke mana?"


Suara Ana menyadarkan Rey dari lamunan. Pria itu menoleh, melemparkan senyum andalan.


"Rahasia." Jawab Rey, kembali fokus menyetir.


"Kenapa harus main rahasia-rahasian.  Kita gak mau ke KUA kan ...." Ana menatap Rey lekat-lekat, mencari jawaban atas rasa penasarannya.


"Boleh, kalo kamu udah ngebet gini." Kata Rey. Dia terkekeh karena Ana langsung memukul bahunya.


"Gak lucu!" Ana mendengus, melipat tangannya ke depan dada. Dia memalingkan wajah, menatap keluar mobil sambil cemberut.


Ana memang menggemaskan, mau seperti apapun ekspresinya. Rey menarik tangan Ana, membuat sang empu terkejut. Rey menggenggam erat jemari tangannya.


"Marah aja bikin aku makin cinta, coba kalo tersenyum." Bisa diabetes.


Ana menyembunyikan wajahnya. Kata-kata Rey ini terlalu pasaran, tapi sukses membuat dia tersipu malu.


Sepanjang perjalanan Rey tak henti-hentinya membuat Ana tersenyum. Modal gombalan recehnya, sukses menimbulkan rona merah dipipi wanita itu.


Ana mengerjapkan mata tak percaya, dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sepi, tak ada pengunjung lain selain mereka berdua.


"Kita ngapain ke Ancol?" Tanya Ana. Dia masih celingukan, pasalnya tempat itu begitu sepi tak ada satupun pengunjung.


"Liburan, lagi pula kamu belum pernah ke sini kan?" Rey berjalan menuju pintu masuk.


"Tapi, kok sepi sih. Padahal lagi liburan ...."


"Aku booking. Aku gak mau kencan kita terganggu." Sela Rey.


Ana melotot, tak habis pikir dengan kelakuan Bosnya. Pemborosan! Ana tersentak ketika Rey menarik lengannya, membawanya menuju wahana outdoor.


"Mau yang mana dulu?" Tanya Rey.


"Em ...." Ana tampak berpikir, matanya jeli melihat berbagai wahana di depannya.


"Turangga-rangga!" Seru Ana sambil menunjuk komedi putar yang dilengkapi dengan 40 kuda tunggangan, serta dihiasi ribuan lampu.


Rey hanya menatap Ana dari luar pagar, dia tidak mau ikut naik. Baginya itu terlalu kekanak-kanakan. Rey tersenyum, ketika Ana memanggilnya sembari melambaikan tangan.


"Rey, ayo naik. Seru tau!"


"Bisa diabetes lama-lama liat senyum kamu," gumam Rey. Dia melambaikan tangan membalas lambaian tangan Ana.


Mereka begitu menikmati setiap wahana, dari mulai hysteria, turbo drop, tornado, bianglala dan kini mereka siap menaiki halilintar.


"Kok muka kamu pucet sih?" Tanya Ana.


"Sakit?" Ana memegang kening Rey.


"Gak kok." Rey menyingkirkan tangan Ana dari keningnya.


Sejujurnya Rey sudah merasa mual, perutnya terus bergejolak karena sedari tadi dia terus menaiki wahana yang memacu adrenalin. Rey pikir Ana takkan menaiki wahana seperti itu, tapi dugaannya salah.


Rey memejamkan mata, saat rollercoaster mulai berjalan naik. Jantungnya berdegup kencang, bibirnya tertutup rapat. Rey jangan teriak lagi! Please.


"Aaaaaaaaa ...." Teriak Rey. Pria itu masih memejamkan mata sambil berpegangan erat.


Sementara Ana terlihat begitu menikmati, meski dia berteriak tapi tak terlihat raut wajah ketakutan seperti Rey.


Keduanya turun dan Rey langsung berlari menuju tong sampah. Pria itu mengeluarkan cairan dari perutnya. Ana menghampiri Rey, memijit lehernya perlahan.


"Kenapa?" Tanya Rey, ketika melihat Ana menertawakannya.


"Gak apa-apa." Ana menahan senyumnya.


•••


Seharian mereka habiskan waktu di Ancol, menikmati berbagai wahana di sana.  Menelusuri pasar seni, menikmati berbagai karya seni yang dibuat oleh seniman lokal maupun internasional.


Mereka juga menikmati embusan angin pantai. Menaiki perahu, menyusuri setiap jalanan di tepi pantai Ancol.


Hari yang begitu mengesankan bagi Ana. Karena ini pertama kalinya dia ke sini. Hingga waktu begitu tak terasa. Siang berganti sore, memunculkan langit senja yang begitu menghipnotis mata.


Ana dan Rey kini sudah berada di dalam gondola, wahana terakhir yang mereka naiki. Mata Ana berbinar, menyaksikan pemandangan di bawah sana.


"Ana." Panggil Rey.


"Kamu suka?" Ana mengangguk.


"Suka banget, makasih." Rey membalas senyuman Ana. Ana kembali fokus pada pemandangan laut di bawahnya.


"Ana." Perempuan itu kembali menatap Rey.


"Ada yang ingin aku katakan mengenai perjanjian ...."


"Perjanjian?" Gumam Ana. Suasana tiba-tiba berubah canggung. Ekspresi Ana pun berubah datar.


Tiba-tiba hatinya kesal, mengingat isi perjanjian laknat yang diajukan bosnya. Dan sialnya dia menyetujui saja.


"Sebenernya ... aku punya alasan kenapa aku membuat perjanjian itu." Ana menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan maksud ucapan Rey.


"Apa?" Tanya Ana.


"Apa alasan dari semua poin perjanjian itu?"


Rey memalingkan wajahnya dari Ana. Menghirup napas kuat-kuat, mengembuskannya secara perlahan.


"Poin pertama, tinggal satu apartemen. Aku hanya ingin memastikan kamu aman dalam pantauanku selama 24/7. Karena kos-kosan kamu tidak aman, banyak lelaki di sana. Aku hanya khawatir."


Ana jelas tercengang, dia tidak berpikir sampai sejauh itu. Dia pikir Rey hanya ingin cari kesempatan, tapi ternyata pria itu memikirkan keselamatan dirinya.


"Kedua, tidak ada kepalsuan. Karena aku ingin menjalani hubungan kita tanpa ada kepalsuan maupun kepura-puraan. Meski aku tahu itu memaksamu, tapi aku berharap lambat laun perasaan kamu pun berubah."


Ana terpaku, terdiam seribu bahasa. Bibirnya kelu, mendengarkan ucapan Rey. Betapa jahatnya dia selama ini, telah berpikiran buruk pada Rey.


"Ketiga, tidak ada rahasia. Aku tidak mau kamu menyimpan beban masalahmu seorang diri. Aku ingin jadi orang yang bisa kamu ajak untuk berbagi suka dan duka." Hening, tak ada respon dari Ana. Tapi Rey tetap melanjutkan ucapannya.


"Keempat, lapor setiap jam. Aku hanya ingin tahu keadaan kamu, keberadaan kamu, agar aku tak perlu risau ataupun mencemaskanmu."


Ana meremas jemarinya, rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya. Betapa bodohnya dia dulu, justru merutuki setiap tindakan Bosnya.


"Kelima, selalu minta izin. Itu hanya alasan agar aku tahu dengan siapa saja kamu bertemu, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu berda di sekitar orang-orang baik."


"Keenam, dilarang dekat dengan pria mana pun. Jujur Ana, mungkin aku egois untuk itu." Rey menundukkan kepala.


"Tapi ... rasa cemburu selalu mendominasi, jika aku melihat kamu berhubungan dengan pria lain."


"Ketujuh, perintah Bos hukumnya mutlak. Aku hanya tidak ingin kamu membantah, aku takut akan penolakan kamu." Rey kembali mengangkat wajahnya, menatap lurus ke depan.


"Kedelapan, membuatkan makanan. Aku hanya ingin melihatmu makan teratur, kamu sering lupa makan padahal kamu punya maag."


Ana menatap Rey. Kini Ana tahu kenapa Bosnya itu selalu menyuruhnya ikut makan, bahkan terkadang dia meminta dibelikan makanan tapi justru Ana yang disuruh memakannya.


"Kesembilan, jaga jarak aman. Itu hanya alasan agar aku bisa selalu di dekatmu. Kamu sering menghindari aku, dan jujur aku gak suka." Rey menoleh, tersenyum tipis pada Ana.


"Kesepuluh ...." Rey terdiam memandang sendu Ana yang masih menatapnya.


"Kesepuluh apa?" Ana sudah tak sabar mendengar poin terakhir.


"Jangan tinggalkan aku."


Jadi arti poin nomor sepuluh dilarang melarikan diri itu ... sungguh konyol. Ana tersentak ketika Rey bersimpuh di depannya, menggenggam tangannya. Lalu, mengeluarkan kota cincin dari saku jaketnya.


"Will you marry me?"


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊