It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 11



Kamu seperti belut listrik, sulit ditangkap sekalinya kena menyetrum.


—Reynaldi Stronghold—


Suasana mobil yang dingin, hening dan juga canggung. Ana duduk terdiam di samping Rey yang sedang mengemudikan mobil, keduanya dalam perjalanan kembali menuju Jakarta.


Ana menatap hampa ke depan, bayangan ciuman panas semalam terus berputar diotaknya seperti putaran video dewasa.


Astaga! Ana merutuki diri, bisa-bisanya terbuai dengan sentuhan Rey. Mungkin jika ada setan lewat keduanya akan khilaf bukan hanya sekedar ciuman mungkin akan ada adegan dewasa secara live.


Bodoh!!  Ana terus mengumpati diri sendiri. Sedangkan Rey sedari tadi terus melirik Ana dengan ekor matanya. Entah kenapa bibirnya kelu, setiap kali dia akan membuka percakapan seolah semuanya tersangkut di tenggorokan.


Sensasi panas sisa semalam masih terasa oleh Rey, bagaimana Ana membalas ciumannya. Bagaimana lidah wanita itu menari-nari di dalam mulutnya, meninggalkan rasa manis dan kecanduan pada Rey.


Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, hanya ada suara radio yang jadi saksi kecanggungan keduanya. Hingga mobil Rey memasuki parkiran rumahnya.


Ana mengernyitkan dahi, menatap Rey dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Kok ke sini?" Tanya Ana.


"Kelamaan kalo ke apart." Jawab Rey, pria itu langsung turun begitu saja.


Ana menatap kepergian Bosnya dengan heran.


"Bukannya malah deketan ke apart, ya?" Gumam Ana, semakin aneh dengan sikap Bosnya yang tiba-tiba berubah seperti bunglon kadang panas kadang juga dingin.


"Bodo amat, ah." Ana mengedikkan bahu tak ingin memusingkan diri dengan hal itu, dia sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


Ana turun dari mobil, susah payah dia mengeluarkan kopernya dan koper Rey. Dia berkali-kali mendengkus, semakin gondok pada bosnya.


"Bukannya bantuin main nyelonong aja. Dasar kipatkay!!" Gerutu Ana sambil menyeret koper ke dalam.


•••


Ana terbangun di tengah malam saat ia merasakan lapar, wanita itu berjalan sambil menggosok-gosok matanya menuju dapur. Ia mencepol tinggi rambutnya, berdiri di depan kulkas.


Ana menghela napas, saat membuka kulkas yang ternyata kosong, tak ada apapun kecuali botol air minum.


Lalu ia berpindah membuka laci lemari atas. Wanita itu bernapas lega,  bersyukur masih menemukan dua bungkus indomie di sana. Semoga saja gak expired.


"Berbahagialah cacing hari ini kita masih bisa makan, walaupun cuma indomie." Monolognya pada diri sendiri. Ia memasak dua indomie sekaligus karena perutnya sangat lapar.


Ana bersenandung menyanyikan lagu 'Buble pop' milik Hyuna sambil menunggu mie–nya matang.


"Ah ah ... uh, ah ... uhhhh ...." Ana menirukan lirik lagu sembari menggoyangkan pinggul, meliuk-liukkan tubuhnya.


"Buble, buble pop ... Buble buble pop!" Seru Ana. Dia begitu antusias, menggoyangkan pinggul dan memundurkan bokongnya dengan tangan berkacak pinggang persis seperti Hyuna.


Dia terus asyik berjoget bahkan ia tak sadar sedang diperhatikan. Ana berbalik dengan semangkok mie penuh ditangannya.


"Huuuuawaaaa ...." Teriak Ana, yang terkejut melihat Rey tengah bersender di dekat pintu.


Hal itu membuat tangannya refleks menutup mata, sehingga mangkok ditangannya terjatuh.


Ana membuka mata, meringis saat kuah panas itu menyiram kakinya. Sakit tapi tidak berdarah, bukan kakinya melainkan hatinya meratapi mie yang sudah berserak dilantai. Mie gue bangsul!


Ana mengangkat kepala menatap sebal ke arah Bosnya.


"Bapak bisa gak sih, gak ngagetin saya?!" Hardik Ana, dengan mata tajamnya.


"Bapak itu kaya jaelangkung tahu, dateng tiba-tiba, nongol dimana-mana." Gerutu Ana, dia menghela napasnya lalu berjongkok memungguti pecahan beling di lantai.


Sedangkan Rey  masih mematung di sana dengan mata yang tak putus menatap Ana.


Shit!! Rey mengumpat, merutuki cobaan yang menggoyahkan iman. Susah payah dia menelan saliva, saat balon udara itu menyembul dari persembunyiannya.


Ayolah Rey ini pria normal di tambah mesumnya akut. Melihat Ana hanya menggunakan gaun tidur satin yang begitu tipis, bagaimana mungkin tidak menggoyahkan iman Rey yang hanya sebiji toge. 


Rey menepis jauh pikiran kotornya, namun melihat dua gunung yang tergencet lutut di tambah belahan dada yang membuatnya meragu dan hilang arah.


Sabar Rey, belum saatnya. Tahan jangan *****!!


Rey menghela napas dengan kasar. Bahkan ia yakin kalo Ana tidak memakai bra terlihat jelas saat perempuan itu berdiri sesuatu yang kecil menonjol dari balik kain setipis saringan tahu.


"Apa?" Ana menaikkan sebelah alisnya saat melihat Rey menatapnya dengan aneh.


"Gak!" Jawab Rey, lalu berbalik dan segera pergi. Membuat Ana semakin heran.


"Tuh orang beneran kesambet jaelangkung kali?" Ana mengedikkan bahunya dan kembali membereskan lagi tumpahan mie yang mengenaskan.


•••


"Huhhh!!" Rey terus bergerak naik turun, hingga keringat membanjiri tubuhnya.


"Pak Rey." Panggil Ana. Dia sudah berdiri di ambang pintu.


"Hm." Sahut Rey  tanpa menoleh, pria itu tetap melanjutkan gerakannya.


Ana menatap heran Bosnya. Ngapain push-up malem-malem coba, kurang kerjaan.


"Saya laper." Ucap Ana.


Perutnya sudah bergetar minta diisi, sedangkan malam semakin larut. Tidak mungkin Ana keluar seorang diri, dia takut dibegal.


Apalagi yang lagi viral ada begal payudara. Dia bergidik ngeri, takut jika dia menjadi korban.


Rey pun menghentikan gerakannya, dia bangkit dan berbalik menghampiri Ana.


"Ayo." Ana terkesiap, dia mengerjapkan mata berkali-kali saat tangan Rey menggengam lengannya.


"Hah." Gumam Ana, dengan wajah cengo.


"Katanya laper?" Ucap Rey, saat melihat tampang Ana yang diam dan menatapnya dengan bingung.


"Oh ... aa–ayo." Jawab Ana dengan gelagapan.


Lalu keduanya pun berjalan keluar.


"Kenapa?" Tanya Ana.


"Tunggu sini." Rey berlari masuk ke dalam rumah.


Pak Rey kenapa sih? Ana semakin heran dengan sikap Rey, aneh banget.


Ana memeluk tubuhnya saat angin malam berembus menusuk ke dalam kulitnya. Dia pun menyadari sesuatu yang janggal pada tubuhnya. Astoge dragon ball!


Ana melotot, langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada. Kini ia sadar jika tidak memakai bra, kebiasaan dia jika akan tidur melepasnya.


Karena ia berpikir itu baik untuk kesehatan, dan membuatnya lebih nyaman saat tidur. Namun begitu bodohnya dia membawa kebiasaan itu di sini, di rumah Reynaldi.


"Eh" Ana terkejut saat Rey menyampirkan jaket di bahunya.


"Diluar dingin." Kata Rey.


Ana hanya mengangguk, dia tak mampu berkata-kata. Dia malu, bahkan ia terus berpikir apakah itu sebabnya Rey masuk mengambilkan jaket untuknya? Ana b*go!!  Ana terus merutuki kebodohannya.


Bahkan kini saat tangan Rey menggenggam jemarinya, mengusapnya memberikan sensasi aneh pada tubuh Ana.


Seolah ada yang menggelitik hatinya, tanpa sadar Ana menarik kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyum tipis.


Sweet.


keduanya berjalan keluar rumah untuk makan nasi goreng yang ada di depan komplek.


Kamu itu kaya belut listrik Ana, susah ditangkap. Sekalinya ketangkap memberikan sengatan listrik pada tubuhku hanya karena sebuah sentuhan tangan. Meski gugup Rey terus mengulas senyum yang terus terpatri di wajahnya.


•••


Ana berkali-kali menghela napas, saat ia melangkahkan kakinya di kantor pagi ini. Tatapan aneh dari para karyawan menyambutnya, di tambah bisik-bisik dari mereka yang terlihat jelas dari ekor matanya. Tenang Ana, sabar-sabar belum waktunya baku hantam.


Ana terus menenangkan hatinya yang terus bergejolak, bahkan kepalanya sudah mendidih menyebulkan asap lewat telinga.


Sungguh wabah gibah yang menyebar dengan cepat, di tambah cuti kemarin memperkuat spekulasi mereka kalo Ana ini simpanan Rey. Dasar tukang gibah penikmat hoax.


"Kamu kenapa?" Rey berbalik saat melihat Ana komat-kamit sendiri.


"Ah ... gak apa-apa, Pak." Ana mengusap tengkuknya tampak salah tingkah. Semua gara-gara lo boss bangke!


Ana rasanya sudah jenuh dengan situasi yang tidak kondusif lagi baginya. Ada tali gak gue pengen gantung diri dipohon toge. Kalo gak wipol biar gue tenggak saat ini juga.


"Oh yaudah, tolong kamu cek semua jadwal saya yang tertunda, kamu atur kembali." Kata Rey sebelum akhirnya pria itu pergi keruangannya.


Ana menghela napas panjangnya, dia berjalan ke mejanya melemparkan tas begitu saja.


"Bakalan lembur!"


Pikiran Ana sedikit teralihkan dengan kesibukannya, dia menghubungi satu persatu kolega Rey yang mempunyai jadwal temu dengan Bosnya. Ana mendengkus saat melihat jarum jam yang berputar dengan cepat, padahal kerjaanya masih banyak.


Ting!


Satu notifikasi pesan masuk, Ana segera melihatnya. Dia menaikkan sebelah alisnya saat melihat nomer yang tak terdaftar.


+62854679****


'Makan siang bareng yuk?'


Ana berpikir sejenak setelah membaca pesan itu. Siapa, ya? Ia terus mengingat-ingat, hingga dia teringat sosok tampan yang meminta nomernya waktu itu. Ana sedikit berjingkrak merasakan senang yang berlebihan, bahkan pipinya sudah memanas.


"Sumpah mimpi apa gue semalem, di ajak makan siang sama Pak Sean." Ana mengetikkan balasan pada Sean, namun belum selesai mengetik telepon di depannya berbunyi.


Rey menyuruhnya segera keruangannya.


Ana mendengus, meletakkan ponselnya begitu saja. Bahkan dia belum sempat membalas pesan untuk Sean.


"Bapak manggil saya?" Tanya Ana, saat masuk ke ruangan Rey.


"Oh, iya." Rey mengangguk dan menyuruh Ana duduk disampingnya.


"Kamu cek ini, kepala saya pusing." What the hell. Jadi dia nyuruh gue masuk cuma buat ngecek profil model baru. Kerjaan gue belom kelar!! Ana menjerit dalam hati merutuki Bos–nya yang semena-mena.


Tapi ia tidak membantah, dia duduk disamping Rey. pria itu bersandar di bahu sofa sambil memijit pelipisnya.


Ana tidak bisa fokus, saat mendengar rintihan Bosnya.


"Bapak sakit?" Tanya Ana, tangannya terulur memegangi kening Rey.


"Gak cuma pusing." Jawab Rey.


"Tapi badan Bapak panas, saya ambilin obat dulu." Ana berdiri dan akan beranjak pergi saat lengannya ditahan Rey dan ditariknya.


"Saya gak butuh obat Ana." Gumam Rey pelan.


"Tapi badan Pak Rey panas." Ana mendorong tubuh Rey, ia hendak bangun tapi pria itu justru mempererat pelukannya.


"Kamu mau tahu obat yang paling mujarab buat saya."


Ana terdiam tidak menyahut tapi matanya menatap mata Rey yang begitu sayu.


"Kamu." Hah? Ana melebarkan matanya. 


"Saya cuma butuh kamu, dan ini." Rey mengusap bibir bawah Ana yang berwarna peach.


Tubuh Ana menegang, kaku tak bisa digerakkan. Please, jangan sekarang! Rutuknya saat wajah Rey mendekat menepis jarak keduanya.


Ana merutuki skenario hidupnya yang berulang-ulang, selalu mati gaya saat Rey melancarkan aksinya.


Hansip, security, kang parkir, siapapun help me!!


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊