It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 16



Ana menganga melihat belanjaan di troli, lalu mengalihkan pandanganya pada Rey.


"Bapak belanja ini semua buat apa?"


"Em ... kamu bawel!" Ana mengerucutkan bibir mendengar jawaban Bosnya yang membuat mood-nya ambyar seketika.


"Bawa!" Rey mendorong troli itu pada Ana, pria itu melenggang pergi begitu saja.


"What?" Ana menatap sebal punggung Rey yang sudah menjauh. Perempuan itu menyumpah serapah Bosnya.


Rey itu sehangat kopi sedingin balok es semenyebalkan Squidward! Meskipun begitu dia pria baik, malaikat penolong yang dikirim Allah untuknya, sekaligus setan penggoda yang menghantuinya.


Andai saja waktu itu Rey tidak memberinya penawaran itu, mungkin kini Ana sudah jadi istri kelima rentenir tua bangka di kampungnya.


Membayangkannya saja sudah mengerikan! Tapi Ana kira lepas dari jeratan rentenir hidupnya akan damai. Salah! Sang Maha Kuasa menggantikan cobaanya melalui Bos mesum itu, Reynaldi stronghold.


Teringat jelas kenangan setahun silam, dimana keluarganya makin terpuruk dililit hutang yang makin membengkak.


Ana melirik jam di meja, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 dan gadis itu masih berkutat dengan komputer yang masih menyala. Dia melirik sekitar hanya ada dirinya seorang, gadis itu menghela napas panjang.


Dia harus lembur setiap hari, mengerjakan berbagai laporan yang bukan jadi wewenangnya hanya untuk mendapat uang tambahan. Seandainya Nyonya Reynata tahu, mungkin Ana akan didepak dari kantornya.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuyarkan fokus Ana, dia segera beranjak dari sana saat melihat nama Masnya di layar ponsel. Ana melirik kesekitar, setelah dirasa aman dia segera masuk ke tangga darurat. Tempat paling aman untuknya menelepon, meskipun di luar juga aman karena sudah tidak ada siapapun. Tetap saja Ana lebih nyaman di sini.


"***Halo Mas." Sapa Ana ketika telepon sudah tersambung.


"Hah! Bapak kenapa?" Pekik Ana saat mendengar suara panik di seberang sana.


"Bapak masuk rumah sakit lagi?" Ana menghela napas panjang, penyakit Bapaknya kembali kumat. Serangan jantung***!


Setelah kepergian Ibunya, kondisi Bapaknya memang menurun ditambah beban hidup yang semakin menekannya. Termasuk hutangnya pada lintah darat. Dulu Bapak pinjam uang itu untuk biaya pengobatan Ibu dan biaya Kakaknya sekolah, namun karena belum bisa membayar bunganya semakin membengkak.


Itu sebabnya Ana nekad ke Jakarta mencari kerja untuk mencicil hutang yang segunung. Beruntung dia bertemu Nyonya Reynata, orang baik yang menolongnya sekaligus memberikan pekerjaan padanya.


"***Eh, iya Mas!" Ana tersentak dari lamunan, suara Masnya kembali terdengar.


"Apa? Gak!" Ana menggelengkan kepala.


"Gak mau. Ana gak mau nikah sama Pak Jalal, apalagi jadi istri ke lima!" Amit-amit. Tak pernah terbayangkan olehnya harus menikah dengan lelaki bau tanah itu***.


"***Mas." Ana menghela napas panjang.


"Ana bakal cari uangnya, lagian Ana juga kan cicil tiap bulan." Ana berusaha bernegosiasi,


namun terdengar helaan napas berat masnya***.


Memang benar sekalipun Ana menyicil setiap bulan dengan gajinya yang hanya sekitar tiga jutaan mana cukup, hutangnya saja sudah membengkak sampai limaratus juta. Memang biadab sih lintah darat itu!


"Oke, please ... Kasih Ana waktu, sampai besok. Ana bakal cari solusinya, Mas tenang aja jagain Bapak jangan sampai banyak pikiran lagi." Ana menutup sambungan telepon setelah mengucapkan salam.


Dia memeluk lututnya, menelungkupkan wajahnya dilipatan tangan. Gadis itu menangis, meracau menyumpah serapah takdir yang tak berpihak padanya.


Hingga suara bass itu tiba-tiba menginterupsi tangisannya.


"Saya bisa bantu kalo kamu mau?" Ana tersentak, dia segera menoleh ke arah pintu. Di sana sesosok pria asing tengah berdiri menatapnya dengan datar.


"Anda siapa?" Tanya Ana, dia masih tercengang melihat sosok tampan yang nyaris membuat jantungnya loncat.


"Saya? Perkenalkan saya Reynaldi stronghold."


"Mba?"


Ana tersadar dari lamunannya, ketika Mba-mba kasir melambaikan tangan di depan wajahnya. Apakah dia melamun selama itu? Hingga antrian panjang pun sudah berakhir, menyisakan dirinya sendiri dan belanjaannya pun sudah dikelurkan dari troli.


"Eh, iya ...." Ana menatap Mba-mba kasir yang tengah menatapnya heran. Ada apa? Ana mulai bingung melihat ekspresi kasir itu.


"Ini alat kontrasepsinya semua?"


"Ko ... alat kontrasepsi?" Benak Ana lalu matanya tertuju pada kotak kecil di depannya. Wuah, bukan hanya satu tapi sepuluh kotak? Buat apa? Ana celingukan mencari sosok Rey yang tiba-tiba menghilang. Sial! Tuh orang ngilang kemana?


"Gimana Mba?" Ana tampak garuk-garuk kepala saat kasir itu kembali bertanya.


"Bisa di cancel saja?" Ana tersenyum canggung, rasanya malu sekali beruntung hanya ada dia dan petugas kasir saja. Bayangkan jika orang lain melihat kejadian itu, mungkin Ana akan menyetrika wajahnya, dilipat lalu ia masukkan ke saku celana.


"Maaf ya Mba, Bos saya pasti salah ambil. Dia pikir itu permen rasa buah mungkin ... iya dia pikir itu sejenis 'Buble gum' kayanya." Ana memaksakan senyumnya, mana ada permen karet berbentuk balon. Memang bodoh dia jika membuat alibi.


"Ana sudah selesai, maaf tadi saya angkat telepon dulu." Ana hanya melirik sekilas ketika Rey menghampirinya.


Dia masih dongkol bahkan semua belanjaan ini terpaksa dia harus bayar sendiri, menguras saldo tabungannya. Belanja apaan coba, bisa habis lima juta sendiri. Sungguh tidak masuk akal!


Ana melengos begitu saja, mengabaikan Rey yang terus mengejar sambil mencecarnya dengan banyak pertanyaan atas sikap dinginnya.


Bosnya itu memang seperti Squidward tetangganya Spongebob, sama-sama menyebalkan!


•••


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Rey mengacak-ngacak rambutnya, frustasi. Dia tidak tahu apa yang terjadi sampai Ana merajuk seperti ini. Bahkan perempuan itu tak menanggapinya sama sekali, mungkin dia pikir Rey ini mahluk astral tak kasat mata yang keberadaanya saja tidak di sadari.


"Ana." Panggil Rey, dia menggenggam jemari tangan Ana. Namun segera ditepis oleh perempuan itu. Rey berdecak, dia semakin bingung dengan sikap Ana. Perasaan dia tak melakukan kesalahan apapun.


"Ana please, jawab saya. Kamu kenapa?" Tanya Rey, dia sudah jengah memikirkan berbagai kemungkinan tentang alasan Ana mendiamkannya.


"Apa ini gara-gara pembalut? Atau pember–––"


"Pak Rey!" Hardik Ana, memotong ucapan bosnya.


"Harus banget, Bapak bahas itu lagi!" Ana memutar bola matanya, semakin jengkel dengan Bosnya.


"Oke, lalu masalahnya apa? Kenapa kamu mendiamkan saya seperti ini? Please, jangan buat kepala saya serasa mau pecah hanya karena memikirkan sikap kamu yang sedingin Antartika!"


Ana melotot, Antartika? Yang benar saja bukankah Bosnya itu yang biasa bersikap dingin seperti balok es. Dasar Squidward menyebalkan!


"Ana!"


"Bapak ini nyebelin tau gak sih!" Bentak Ana.


"Pertama bapak sudah melanggar privasi saya, tindakan Bapak itu termasuk pelecehan karena Bapak sudah memilih pembalut dan pembersih kewanitaan seenak jidat tanpa persetujuan saya. Belum lagi Bapak beli susu Prenagent essen, memang buat apaan coba!!" Ana mengatur napas yang menggebu, hatinya bergejolak siap menumpahkan segala emosi yang tertahan.


"Kedua, Bapak ngapain beli alat kontrasepsi? Sepuluh lagi! Buat apaan memangnya? Bapak gak bisa bedain mana alat kontrasepsi mana permen karet?!" Rey mengerjapkan mata berulang kali, mendengarkan rentetah ocehan Ana yang tak henti-henti.


"Ketiga! Bapak sudah belanja sebanyak ini, dengan tanpa dosa ngilang! Saya harus membayar belanjaan Bapak, dan itu menguras saldo tabungan saya yang gak seberapa!!"


Rey menganga, tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut sektetarisnya. Mulut Ana sudah seperti petasan banting! Oke, mungkin ini salah dia. Tapi semua hanya salah paham. Sungguh!


Pertama dia membeli pembalut karena dia tahu kalo siklus datang bulan Ana akan jatuh minggu ini, dan perempuan itu tidak mempunyai stok pembalut. Kurang perhatian apa coba, dan masalah pembersih kewanitaan itu hanya inisiatifnya saja agar Ana tetap merasa nyaman saat datang bulan dan tidak perlu khawatir dengan bau amis. Apa dia salah?


Susu prenagent, Rey sering dengar dari teman-teman perempuannya. Jika perempuan yang akan menikah mereka sering mengonsumsi susu itu, jadi Rey pikir Ana pun perlu itu. Karena sebentar lagi mereka akan menikah, bukan? Apakah dia salah lagi?


Dan terakhir masalah alat kontrasepsi. Itu hanya kecerobohannya, harusnya dia tidak mengiyakan ketika orang itu menitipkan padanya. Dan sialnya dia lupa malah memasukkan ke dalam troli.


Kini semua tanda tanya di pikirannya sudah terpecahkan, Rey mengangkat kepala menatap Ana yang masih mengomel panjang lebar. Mata Rey justru terfokus pada gerakan bibir Ana, yang terlihat sensual. Shit!


Rey merutuki dirinya yang justru berpikiran jorok, tapi sungguh bibir Ana sangat menggoda imannya. Lihat saja lekukan bibirnya yang bergerak tanpa henti. Tanpa Ana sadari Rey mencondongkan tubuhnya, lalu langsung mengecup bibir Ana.


Sontak saja Ana terkejut dengan tindakan Rey. Bibirnya terkatup, matanya melebar bahkan bola matanya sudah membulat sempurna. Ana tertegun, lagi-lagi tubuhnya tak mampu merespon perintah dari otaknya. Lagi-lagi tubuhnya menerima begitu saja tindakan Bosnya yang gila!


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊