It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 20



Ana terus merutuki diri. Seharusnya


dia tidak hadir ke acara itu. Memang benar yang dikatakan Mamanya Sean, dia tidak pantas berada di sana.


Kini ingatannya kembali berputar pada kejadian memalukan tadi.


"Sean!" Pekik Ana.


Bagaimana mungkin pria itu ada di sini? Pikir Ana. Namun melihat wanita yang menggandeng lengan Sean, Ana paham. Jadi benar mereka memang pasangan kekasih?


Ana tersenyum kecut. Padahal dia sempat berharap banyak pada pria itu. Karena dia selalu mengelak ketika ditanya soal hubungan asmaranya, dengan dalih masih single.


"Ana!" Sean terkejut, menyadari Ana berada di acara keluarganya.


"Ichi, kamu kenal?" Tanya Mamanya.


"Em ...." Sean tampak ragu untuk menjelaskan.


"Oh ya, dia kan sekretarisnya Rey. Pasti kamu tahu, karena kamu sering ketemu dia di kantor Rey." Kata Mamanya.


Sean hanya mengangguk pelan, namun tatapannya tak lepas dari Ana. Perempuan itu tampak kecewa. Bahkan kini dia menundukkan wajahnya. Ada rasa bersalah yang menelusup ke hati Sean.


"Oh ya, kenalin ini Kimmi. Dia tunangannya Ichi." Kata Mama Sean, dengan bangga memperkenalkan calon menantunya.


"Ma!" Tegur Sean. Namun Mamanya tak menggubris, dia semakin menyanjung Kimmi.


"Halo tante." Sapa Kimmi pada dua wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa.


"Hai, Ana." Ana tersentak saat namanya dipanggil, dia mengangkat wajahnya sembari tersenyum tipis pada Kimmi.


Ana sadar diri, wanita itu jauh di atasnya. Kulitnya putih, tinggi seperti galah, lehernya jenjang layaknya jerapah. Wajahnya cantik, bahkan Kimmi himme pun kalah. Jangan tanyakan bodi wanita itu. Semangka sekal dan pepaya gandul milik dirinya tak sebanding dengan balon udara milik Kimmi.


Ana mulai tak nyaman ketika Mama Sean terang-terangan membandingkannya dengan Kimmi. Meski berulang kali Mama Rey terus menyela, dan meminta Kakaknya untuk tidakΒ  membahas hal itu. Tetap saja, wanita itu membahas sampai ke akar-akarnya.


"Saya permisi, mau ke toilet." Pamit Ana, dia sudah tak tahan lagi. AnaΒ  segera melenggang pergi dari sofa panas itu.


Kini dia berdiri di depan cermin, mencengkram wastafel. Menatap pantulan dirinya pada cermin.


"Harusnya kamu tidak pernah menerima tawaran itu, Ana." Gumam Ana lirih.


Ana tak tahu kenapa mamanya Sean seolah terus mengulik kekurangannya, selalu mempermasalahkan statusnya. Memang apa salahnya, dia memang sekretaris. Lalu, kenapa?


Cukup lama Ana berdiam diri, hingga pesan masuk dari Rey membuatnya harus kembali ke acara itu. Ana mencuci tangan, membenahi penampilannya. Lalu dia bergegas keluar.


"Ana."


Ana yang sudah keluar dari toilet lantas berbalik ketika namanya dipanggil.


"Sean!" Pekik Ana, dia tampak terkejut melihat Sean yang berdiri di dekat pintu toilet.


"Ada apa?" Tanya Ana. Dia sebisa mungkin terlihat biasa saja, meski hatinya menjerit tak kuasa menahan sesak di dada.


Pria yang dia harapkan akan menjadi calon imamnya, justru sudah bertunangan dengan orang lain. Ana merasa sudah ditipu oleh pria itu, merasa di beri harapan palsu.


"Apa benar, kamu dan Rey ...." Sean menggantungkan ucapannya, meraih kedua tangan Ana.


"Sean! Apa-apaan sih kamu!" Ana menarik tangannya dengan cepat, sebelum ada yang memergokinya.


"Kalo ada yang lihat bagaimana? Bisa salah paham nanti!" Bisik Ana, dia tampak celingukan memastikan kalo tak ada siapa pun di sana kecuali mereka berdua.


"Saya tidak peduli!" Kata Sean, membuat Ana menatap tajam pria itu.


"Maksud kamu apa? Kalo Kimmi lihat bisa salah paham dia!" Seru Ana.


"Ana." Sean kembali berusaha meraih tangan Ana, namun segera ditepis oleh perempuan itu.


"Saya dan Kimmi belum bertunangan ... kami di jodohkan." Ujar Sean tampak frustasi.


"Saya tidak mencintai dia ...." Ana mengerjapkan mata, mendengar ucapan Sean yang terdengar seperti bualan.


"Saya mencintai kamu Ana." Lirih Sean. Dia meraih kedua tangan Ana dan mengecup punggung tangannya.


Ana mengerjapkan mata, tak percaya. Sean mencintainya? Sungguh? Ini bukan mimpi, kan? Rasanya Ana ingin berjingkrak-jingkrak, hatinya berbunga-bunga. Namun itu hanya sesaat, sebelum bayangan Mama Sean terlintas di pikirannya.


Ana bergidik ngeri, refleks dia mundur melepaskan tangannya dari genggaman Sean.


"Aku gak bisa, karena aku akan menikah dengan Rey minggu depan. Maaf, Sean." Ana segera berbalik, dan pergi meninggalkan Sean yang tercengang mendengar pernyataan Ana barusan.


Ana mengontrol detak jantungnya yang tak karuan, mengatur napasnya yang memburu. Bodoh! Kenapa dia harus bilang begitu, kini Ana merutuki mulut sialannya. Bagaimana bisa, dia bilang pada Sean kalo dia akan menikah! Minggu depan pula.


Ana mengambil segelas sirup berwarna merah. Dia meminum sedikit, membasahi tenggorokannya yang kering. Ana bernapas lega, setidaknya tak ada yang melihat apalagi mendengar kejadian tadi. Bisa bahaya, bisa jadi skandal besar nanti.


"Hai Ana." Sapa Kimmi, yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya.


Ana menoleh, melemparkan senyum tipis pada perempuan itu. Entah kenapa Ana tampak tidak nyaman berada di sampingnya.


"Kamu dan Ichi ... dekat?" Tanya Kimmi to the point, menatap Ana dengan tatapan curiga.


"Oh, aku pikir kalian dekat." Kimmi kembali tersenyum pada Ana.


Ana membalasnya dengan senyuman tipis, lalu pamit undur diri. Dia tidak nyaman berada di sisi perempuan itu. Senyumnya terlihat palsu bagi Ana. Baru saja Ana akan melangkah tiba-tiba dia tersungkur, karena seseorang sengaja menginjak dress-nya.


"Aaaaaaa!!!" Jerit wanita itu. Ketika gelas sirup yang dipegang Ana tumpah, menyiram dress putihnya. Meninggalkan bekas berwarna merah.


"Kamu!!" Geram wanita itu yang ternyata Mamanya Sean.


M*mpus!


Ana mengutuk tindakan cerobohnya. Dan sial, kenapa harus Mama Sean yang terkena tumpahan sirup.


"Maaf Tante." Kata Ana, tampak takut dan gugup sekali.


"Kamu tahu berapa harga dress ini?!" Bentak Mama Sean.


"Sangat mahal, bahkan gaji kamu saja tidak cukup untuk membelinya!" Emosi wanita itu semakin menggebu-gebu.


"Ini dress limited edition, saya beli ini di paris. Dan sekarang ... lihat!" Dia menunjukkan dress-nya.


"Sudah ternodai, gara-gara tindakan bodoh kamu! Apa kamu sengaja?!" Sarkas Mama Sean.


Ana menggeleng, matanya berkaca-kaca. Dia sungguh ketakutan, dia bahkan tidak sengaja melakukannya. Kini semua orang mulai memperhatikan, bahkan posisinya yang masih di lantai semakin membuatnya terlihat mengenaskan.


"Kamu seharusnya tidak ada di sini!! Kamu tidak cocok menjadi anggota keluarga kami, DASAR MISKIN!!"


BYURRRR!


Ana memejamkan mata, saat air sirup itu membasahi wajahnya. Belum puas, Mama Sean kembali menyiramkan air lebih banyak pada Ana.


"Kamu itu gak pantes buat keponakan saya, apalagi anak saya! Dasar parasit!!" Bisik wanita itu.


Ana tak kuasa menahan tangis, dia segera berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu.


Ana mengusap air matanya, kini dia terduduk di trotoar. Lalu menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan. Ana sesenggukan, meratapi nasibnya yang tak pernah mujur. Selalu saja kalo gak sial, ya malang.


Ana tersentak saat merasakan usapan lembut di kepala, dia mengangkat wajahnya. Seketika mata Ana melotot, dia sampai terlonjak mundur. Ana tampak ketakutan melihat sosok pria paruh baya yang tengah cengengesan menatapnya.


"Jangan menangis, istriku." Kata pria itu.


"Kamu jelek kalo nangis." Pria itu terus berceloteh membuat Ana semakin panik dan ketakutan.


Dia merangkak mundur saat pria itu terus mendekat.


"Jangan dekat-dekat, husss!!" Usir Ana. Tapi pria itu justru tertawa.


"Pergi!!" Bentak Ana.


Bukannya pergi dia justru memegang kaki Ana.


"Aaaa!!" Jerit Ana. Dia segera berdiri lalu lari terbirit-birit.


"Tolong!!" teriak Ana. Namun jalanan begitu sepi dengan lampu jalan yang meremang, mustahil ada orang yang akan menolongnya.


Ana semakin mempercepat larinya, karena orang gila itu terus mengejar. Hingga tiba-tiba kakinya tersandung, dan dia terjatuh.


"Kena!" Seru orang gila itu, kembali memegangi kedua kaki Ana.


"Aaaa ... pergi, hussss!!!" Teriak Ana histeris, bersamaan dengan suara tawa orang gila. Ana semakin takut, dia tidak mau jadi korban kebiadaban orang gila di jalanan sepi ini.


"Tolong!! Pergi! Hussss pergi!!" Ana menutupi wajahnya dengan kedua tangan, kakinya meronta-ronta.


Menendang-nendang orang gila itu sekuat tenaga.


Ana terus merapalkan segala macam doa, dari doa makan sampai doa tidur. Berharap akan ada orang yang menolongnya.


"Pergi!!" Teriak Ana, ketika kakinya kembali disentuh.


"Husss!!!" Dia tak berani membuka mata.


"Ana."


"Pergi!! Jangan ganggu aku, Pak Rey tolong!!" Ana semakin terisak, tak tahu lagi harus bagaimana.


"Ana!"


Ana tersentak saat tangannya di tarik secara paksa. Waktu dia membuka mata bukan orang gila yang ada di hadapannya, melainkan Bosnya.


"Pak Rey!" Ana langsung memeluk Rey dengan erat. Membuat pria itu tertegun atas tindakan Ana yang tiba-tiba.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊