
Semua berubah seiring berjalannya waktu, tak terkecuali perasaanku untukmu.
Ana mendengus, memutar bola mata. Masih jelas di ingatannya, apa yang dilakukan Vania tadi.
"Wanita gila! Memangnya dia pikir dia anggota trio macan apa?!" Gerutu Ana.
Ana masih tak habis pikir dengan kelakuan wanita itu, bisa-bisanya dia naik ke atas kap mobil Rey. Seperti singa mengamuk, menggedor-gedor kaca mobil. Kejadian itu terus mengusik pikirannya.
"Rey!" Vania menggedor kaca depan mobil Rey.
"Rey, keluar!" Teriakan lantang wanita itu membuat Ana semakin bergidik ngeri.
"Sepertinya kalian perlu bicara." Kata Ana. Dia menoleh pada Rey yang sudah tegang, mata pria itu masih menatap lurus ke depan. Dia menggeleng, lalu melirik Ana sekilas.
"Kamu harus selesaikan semuanya." Ana menggenggam jemari tangan Rey, refleks membuat pria itu terkejut dan menoleh pada Ana.
"Aku percaya sama kamu." Ana tersenyum tipis.
Rey terdiam, namun senyuman Ana menghangatkan hati, memberikan dorongan kuat pada dirinya. Kamu bisa Rey!
Rey hendak turun, tapi dia urungkan. Rey kembali berbalik menatap Ana.
"Ada apa?" Ana mengerutkan dahi, ketika Rey meringis padanya.
"Kamu bisa panggilin pak ustad, atau paranormal ... apa pun yang penting ...." Rey melirik ke arah Vania yang terus berteriak.
"Aku takut dia kesurupan."
Ana tertawa jika mengingat betapa Rey ketakutan, terlebih saat harus menenangkan wanita itu. Sungguh lucu ekspresinya tadi. Kini Ana berjalan ke ruang tamu sembari membawa secangkir teh, meletakkannya di meja depan Vania.
"Kalo begitu aku permisi ...." Ana mengatupkan bibirnya ketika suara Rey menginterupsinya.
"Iya."
"Duduklah." Kata Rey, sembari menepuk tempat di sebelahnya.
"Tapi ...."
"Ana, please." Tatapan memohon Rey tak mampu ia tolak. Mau tidak mau Ana akhirnya duduk di sebelah Rey, berhadapan dengan sih singa betina.
Hening, Ana tampak kikuk berada di antara mereka yang memilih jadi bisu. Dia melirik Rey yang tampak lesu, mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara Vania ... wanita itu menunduk, mencengkram handuk yang di pakai untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Ekhem!" Ana berdehem, dia bosan melihat keduanya masih diam.
"Rey, sepertinya kalian butuh bicara berdua. Aku akan masuk, kalian bisa selesaikan semuanya." Ana beranjak berdiri, namun tangannya ditahan oleh Rey.
Rey menggeleng, menatap sendu Ana.
"Tetap di sini." Pintanya.
Ana menghela napas panjang, dia kembali duduk. Rey menggenggam erat jemari tangan Ana, menyalurkan semua rasa gugup serta gelisah di hatinya.
"Vania." Lirih Rey. Wanita itu mengangkat wajahnya, menatap sayu Rey.
"Rey, please. Beri aku kesempatan." Vania langsung berlutut di depan Rey. Jelas Rey terkejut apalagi Ana, dia berusaha mengontrol gejolak emosi di dalam hati.
Drama sinetron termehek-mehek! Batin Ana. Berusaha menahan rasa cemburu yang menggebu.
"Aku tahu aku salah. Maaf, tapi ... izinkan aku memperbaiki semuanya
Tolong beri ...."
"Vania." Wanita itu mendongak menatap Rey dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Lupakanlah. Apa yang sudah berlalu tak perlu di bahas kembali, apalagi di rajut kembali."
"Rey ...." Vania meraih tangan Rey, namun pria itu langsung menepisnya dengan cepat.
Rey menggenggam kedua tangan Ana semakin erat. Vania mundur, dadanya semakin sesak melihat Rey kembali memberinya penolakan.
"Maaf, cerita kita sudah usai Vania." Vania menyeka air matanya. Dia bangkit berdiri, menatap Rey begitu dalam.
"Aku cuma mau bilang, alasan aku ke Paris bukan semata untuk menjadi model." Rey tak peduli, dia berusaha menulikan pendengarannya.
"Tapi karena orang tuaku bercerai waktu itu." Rey refleks menatap Vania.
Wanita itu terlihat sangat rapuh. "Aku ingin lari dari kenyataan itu, mereka tak peduli padaku ... mereka sibuk mengurus harta gono gini. Mereka mulai menelantarkan aku, untung ada om Bayu yang mau merawatku." Rey terdiam, bahkan dia baru tahu semua itu. Kemana saja dia kala itu?
"Aku tidak mau menjadi beban buat kamu. Aku malu ...." Vania menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku takut kalo orangtua kamu tidak akan menyetujui anaknya berhubungan dengan anak broken home. Orang tua kamu orang terpandang, sedangkan aku ...."
"Lalu kenapa kamu baru bilang sekarang," Sela Rey. Suaranya begitu parau, genggaman tangannya mulai mengendur. Ana bisa merasakan kebimbangan pria itu.
"Karena aku masih mencintai kamu hingga detik ini." Lirih Vania.
"Aku pikir dengan aku pergi ke Paris, aku bisa melupakan kamu. Tapi ternyata tidak! Aku masih mencintai kamu, sama seperti dulu."
Genggaman tangan Rey terlepas, bahunya merosot begitupun tatapannya tak fokus lagi. Keraguan mulai menyelimuti hatinya.
Ana terdiam, dia melirik Rey. Apa kali ini dia akan di campakkan? Lalu Rey balikan dengan cinta pertamanya? Terus bagaimana nasib dirinya?
"Aku berusaha mengubur perasaan itu, tapi aku tidak bisa. Rasa cintaku begitu besar, bahkan melupakanmu saja terlalu sulit bagiku." Vania kembali tertunduk.
"Maaf terlambat mengatakan semua ini." Vania mengangkat wajahnya, menatap sendu Rey.
"Kamu juga masih cinta aku kan, Rey? Aku bisa merasakan itu."
Ana menjauh, ketika netranya menyaksikan Vania merengkuh tubuh Rey yang terpaku. Sungguh dia ingin melarikan diri saat ini juga. Kenapa? Kenapa rasanya sakit melihat Rey dipeluk wanita itu? Perih tak terkira ketika pria itu hanya diam tanpa bereaksi.
Kamu jahat Rey!
Sementara Rey tersentak ketika terdengar suara berdebum dari pintu yang dibanting dengan kasar. Dia refleks mendorong tubuh Vania, hingga wanita itu terjungkal.
Vania mengaduh, meringis memegangi sikunya.
"Rey ...." Vania terkejut ketika tatapan Rey menusuk, begitu mengintimidasi dirinya.
"Cukup Vania!" Bentak Rey.
"Hubungan kita sudah selesai, semenjak kau melangkahkan kakimu dari taman waktu itu. Seiring berjalannya waktu semua perasaanku sudah mati, tak perlu berharap lagi untuk kembali."
"Tapi Rey ...." Vania bersimpuh di bawah kaki Rey, memegangi kedua kaki pria itu.
"Aku ...."
"LEPAS!!" Rey menarik kakinya dengan kasar.
"Aku hanya mencintai Ana. Sebaiknya kamu pergi, atau aku suruh security buat nyeret kamu keluar!!" Vania terus menggeleng, memohon kesempatan. Tapi Rey sudah muak dengan ucapan wanita itu.
"KELUAR!!" Rey mengacungkan jarinya ke arah pintu.
"JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DI HADAPANKU!"
"Rey, please ...."
"Security!"
"Rey ...."
"Security!!" Rey mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bawa dia keluar!" Perintah Rey ketika security itu tiba di hadapannya.
"Rey!!" Jerit Vania, tubuhnya di seret paksa oleh security.
"Aku gak bakal nyerah Rey!!"
Rey terduduk lemas di kursi, memijit pelipisnya yang berdenyut. Hingga bayangan Ana tiba-tiba muncul.
"Ana!" Dia langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Ana.
"Ana." Panggil Rey, sembari mengetuk pelan pintu kamar Ana.
"Ana, buka. Aku tahu kamu di dalam." Rey terus menggedor pintu itu, namun tak kunjung mendapat sahutan dari dalam.
"Ana ...." Rey bersandar di pintu, tubuhnya merosot terduduk di lantai.
"Ana." Dia masih terus mengetuk pintu kamar wanita itu.
"Buka." Lirih Rey.
Bodoh!
Rey terus merutuki dirinya yang harus terbuai oleh ucapan Vania. Meski rasa itu tak lagi sama, tetap saja Vania masih berbekas di hatinya. Kenapa begitu sulit mengendalikan perasaan terkutuk ini!
"Ana, aku tahu kamu pasti kecewa ... maaf." Gumam Rey, mulai putus asa karena Ana tak kunjung membukakan pintu.
"Tapi ... bisakah kamu dengarkan penjelasanku." Rey mulai meracau, meski ia tak yakin Ana akan mendengarkannya.
"Aku butuh kamu Ana."
Hening, hingga waktu terus berputar. Rey masih setia di sana, meracau, menggumamkan apa pun. Berharap Ana berbaik hati memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
"Ana kamu bilang ... kamu percaya sama aku." Rey tertunduk. Bodoh! Bukankah dia yang merusak kepercayaan wanita itu.
"Maaf." Rey terus menggumamkan kata maaf.
"Maaf Ana, please. Kumohon, aku sangat butuh kamu saat ini. Aku tak tahu lagi harus memendam ini sampai kapan, bantu aku Ana. Aku benar-benar tersiksa dengan perasaan ini." Rey menghela napas lelah.
Sepertinya Ana memang tak akan memaafkannya. Rey berdiri, menatap sekilas pintu yang tertutup. Apa sudah tak ada lagi kesempatan? Rey kembali berbalik.
Namun, tiba-tiba pintu terbuka. Refleks Rey menoleh.
"Ana!" Pekik Rey.
Wanita itu tampak kuyu, dengan mata sembab.
"Maaf." Lirih Rey, menundukkan kepalanya. Hingga hal tak terduga terjadi.
Ana menghambur pada Rey, memeluk dirinya.
"Kamu jahat!" Cicit Ana, memukul-mukul punggung Rey.
"Maaf. Maaf membuatmu kecewa." Rey mempererat pelukannya, meredam emosi wanita itu dalam dekapannya.
"Aku sayang kamu Ana." Lirih Rey mengecup kepala Ana.
Meski kamu bukan yang pertama, tapi aku berjanji kamu akan jadi satu-satunya dan yang terakhir.
Bukan tentang siapa yang lebih dulu, tapi tentang siapa yang berhasil mempertahankan.
Hanya ada kamu di hatiku, tak akan pernah berubah. Selamanya!
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊