It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 25



"Jodoh itu di tangan Allah


Manusia hanya bisa berekspetasi"


Ana mencoba menyeimbangkan tubuhnya, namun Rey terlalu berat. Hingga akhirnya mereka terjatuh, Pria itu terus meracau tak jelas.


Ana menarik napas kuat-kuat, mengembuskannya dengan kasar. Ada apa dengan hidupnya, kenapa serasa drama sinetron cengeng. Ini hujan gak bisa di-pause dulu!


"Ana." Lirih Rey. Ana menoleh pada bosnya yang menggigil sembari memeluknya dengan erat.


"Jangan pergi ... jangan tinggalkan saya sendirian lagi."


Ana mengernyitkan dahi, kenapa sedari tadi Rey terus meracaukan hal itu. Memangnya dia mau ke mana? Hongkong! Jadi TKW!


Susah payah Ana berusaha bangkit, membawa tubuh Bosnya yang besar seperti Bear.


"Berasa lagi syuting Marsya and the Bear!" Gerutu Ana.


Hujan mulai mereda ketika mobil Rey memasuki gerbang rumahnya. Ana menoleh ke samping, bosnya sudah terlelap. Ana terus memperhatikan raut wajah pria itu yang terlihat gelisah, kerutan di dahi dengan bibir gemetar.


Ana langsung menempelkan punggung tangannya.


"Demam.Tuh kan ngeyel si! Dikira lagi syuting bollywood apa?!" Ana mendengus, dia segera turun lalu berlari ke pos security.


"Ada apa Mba?" Tanya security, ketika Ana menghampirinya.


"Bisa minta tolong angkatin Pak Rey ke dalam?" Pria paruh baya itu mengangguk. Lalu keduanya berjalan menuju mobil.


Ana sudah mengganti pakaiannya yang basah, kini dia berjalan menuju kamar Rey sembari membawa baskom. Ana terdiam ketika membuka pintu kamar Bosnya, dia berdiri mematung melihat pria itu terus bergumam memanggilnya.


"Ana, jangan pergi ... saya takut sendiri."


Ana meletakkan lap di kening Rey. Mengusap lembut kepala pria itu. Hingga pria itu kembali tenang. Rasanya aneh melihat Bosnya yang garang jadi sekacau ini.


Ana jarang melihat Bosnya menangis. Pria itu identik dengan kegarangannya. Bahkan wajah menyebalkan itu kini hilang, tergantikan wajah tampan yang begitu damai.


Tunggu ....


TAMPAN!


Ana langsung memukul-mukul kepalanya, merutuki diri yang mulai melantur. Sepertinya dia mulai terinfeksi virus yang ditebarkan oleh Bosnya.


β€’β€’β€’


Sinar matahari menembus celah hordeng yang tersingkap, teriknya tepat mengenai wajah yang tengah terlelap itu.


Pria itu menggeliat ketika tidurnya terusik. Perlahan dia membuka mata, hal pertama yang ia lihat seorang perempuan tengah tertidur bertumpu pada lengannya.


Rey tersenyum tipis, melihat wajah sendu perempuan itu.


"Makasih Ana." Gumam Rey seraya mengusap pelan pucuk kepala Ana.


Rey tak membangunkan Ana, dia hanya diam memperhatikan wajah teduh sekretarisnya. Dia sudah biasa melihat Ana tertidur, tapi kali ini rasanya berbeda. Perempuan itu begitu pulas, bahkan dia sampai tak sadar saat Rey membelai pipinya.


"Anaknya siapa sih? Gemes!" Rey tak bisa mengendalikan tangannya, bahkan dia mencubit pipi Ana saking gemasnya.


Rey melotot, ketika perempuan itu memekik. Dia segera memejamkan mata, mengintip Ana yang mulai terbangun sambil memegangi sebelah pipinya.


"Awwww ...." Ana mengusap pipinya, entahlah dia mimpi di cium Suho tapi kenapa malah sakit ya.


Ana menoleh pada bosnya yang masih terlelap. Dia mengambil lap dari kening Rey, menaruhnya ke dalam baskom.


"Udah gak panas." Gumam Ana, saat menempelkan punggung tangannya di dahi bosnya.


Ana yang akan beranjak tiba-tiba menoleh, ketika tangannya di cekal oleh Rey.


"Pak Rey!" Cicit Ana.


"Mau ke mana?" Suara Rey terdengar serak, pria itu mulai membuka matanya.


"Mau naruh ini." Ana menunjukkan baskom ditangannya.


"Pak Rey sudah mendingan? Ada yang sakit?" Ana tampak khawatir, dia kembali duduk ketika Rey menjawabnya dengan anggukan.


"Mana yang sakit?" Tanya Ana. Lalu Rey menarik tangan Ana.


"Ini yang sakit." Kata Rey. Dia meletakkan tangan Ana di dada sebelah kirinya.


Ana terdiam, merasakan degup jantung yang begitu kencang. Lalu sorot matanya beralih pada wajah Bosnya.


"Pak Rey sakit jantung?" Tanya Ana dengan polosnya.


Rey menaikkan sebelah alisnya. Jantung? Rey mendengus, dia lupa jika Ana ini spesies langka. Dia ini terlalu polos, sangat menyebalkan!


Rey menghempas tangan Ana.


"Iya, saya sakit jantung. Umur saya gak lama lagi, dan kamu masih tega gantungin saya tanpa kepastian." Rey memalingkan wajah ke samping.


Astaga. Ana mengerjapkan mata berulang kali. Apa yang barusan dia dengar? Menggantungkan? Sejak kapan Bosnya jadi jemuran? Ana mengatur napasnya yang tiba-tiba memburu, ditambah degup jantungnya yang semakin tak karuan.


"Pak Rey pasti laper. Kalo begitu saya buatin bubur dulu." Kata Ana. Dia segera bangkit berjalan menuju pintu.


"Ana." Panggil Rey. Ana yang sudah akan menarik knop pintu kembali berbalik.


"Iya."


"Terimakasih." Ana mengangguk, tersenyum tipis pada bosnya.


Ana menggelengkan kepala, menepis pikiran konyolnya. Dia gak mungkin baper. Gak! Cuma terbawa perasaaan saja.


Ana melangkahkan kakinya ke dapur, pikirannya terus berkelana memikirkan berbagai hal. Sampai ia tak menyadari ada seseorang di sana.


"Kamu udah bangun?"


Ana terkesiap, dia terkejut ketika suara itu menyadarkannya. DitambahΒ  baskom yang di pegangnnya justru jatuh mengenai kaki. Ana meringis menahan sakit.


"Ya ampun Ana!" Pekik wanita itu, yang langsung berlari ke arahnya.


"Kamu gak apa-apa?" Ana menggeleng, menatap wanita itu yang tampak panik.


"Ana gak apa-apa kok Nyonya." Kata Ana ketika wanita itu membawanya duduk.


"Nyonya?" Ucap wanita itu. Dia menghela napasnya.


"Mama, bukan Nyonya!" Perintahnya. Ana tersenyum canggung.


"Iya Nyo ... eh, Ma." Ana menggaruk kepalanya yang tak gatal. Rasanya aneh, harus memanggil mantan Bosnya dengan sebutan 'Mama'.


"Gimana keadaan Rey?" Tanya Mama Rey yang kembali sibuk di dapur.


"Udah mendingan Ma. Panasnya udah turun." Kata Ana.


"Maaf ya, jadi ngerepoti kamu. Pasti kamu semaleman begadang jagain Rey. " Mama Rey tersenyum simpul pada Ana.


"Gak apa-apa kok Ma, sudah jadi kewajiban saya ...."


"Oh ya jelas. Kamu kan calon istrinya." Sela Mama Rey.


Ana mengerjapkan mata. Calon istri? Padahal maksud dia kewajiban sebagai sekretaris. Ana hanya mengangguk ketika Mama Rey terus berceloteh tentang Bosnya. Terkadang dia akan tertawa saat wanita itu menceritakan setiap tingkah konyol putranya.


Ana kembali ke kamar Bosnya, setelah lebih dulu membersihkan diri. Di dalam masih ada Mama Rey yang tengah menyuapi pria itu.


"Aaaa ... buka Rey!" Rey menggeleng, mendorong tangan Mamanya.


"Rey gak mau makan bubur Ma." Rengek pria itu.


"Rey ...."


Rey langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Mamanya mengembuskan napas dengan kasar.


"Kamu ini kaya anak kecil banget sih." Wanita itu lalu menoleh pada Ana yang berdiri di dekat pintu.


"Ana tolong kamu lanjutin ya." Pinta Mama Rey.


Ana mengangguk, dia berjalan ke tepi ranjang menggantikan posisi Mama Rey.


"Kamu paksa aja kalo gak mau. Kalo perlu pake kekerasan gak apa-apa, yang penting dia makan." Kata Mama Rey. Sontak saja Rey melotot, Mamanya benar-benar kejam sama anak sendiri.


"Aku anak Mama bukan sih?!" Rey mendengus.


"Bukan!" Jawab Mamanya sambil terkekeh, lalu mendekat pada Rey.


"Mama pulang ya. Ingat kata Mama tadi, waktu kamu seminggu dari sekarang jadi selesaikan dengan baik sebelum Mama sama Papa yang turun tangan." Rey hanya mengangguk. Mamanya mencium kepalanya lalu beranjak pergi.


Kini hanya ada dia dan Ana dalam ruangan itu. Keadaan jadi canggung, bahkan bibirnya tiba-tiba kelu. Akhirnya dia memilih diam saja.


"Pak Rey makan dulu ya." Ana menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Rey.


Rey tak menyahut, namun dia membuka mulutnya. Meski mulutnya terasa pahit, dia terus mengunyah bubur itu hingga habis.


"Ana." Panggil Rey. Ana menoleh pada bosnya yang memalingkan wajah ke jendela.


"Kamu pernah patah hati?"


Ana terdiam cukup lama. Lalu dia mengangguk.


"Pernah." Patah hati saat tahu gebetannya telah bertunangan.


"Lalu apa yang kamu lakukan?" Ana mengernyitkan dahinya. Kenapa Bosnya bertanya hal aneh begitu.


"Apa yang membuatmu bisa bertahan, melawan rasa sakit yang terus menggerogoti hati?" Rey menoleh padanya.


Ana terdiam, dia tidak tahu jawabannya.


"Positif thinking. Mungkin ini cara Allah menguatkan hati kita, menyadarkan jiwa yang tersesat dan kembali pada tempat yang seharusnya." Sumpah gue ngomong apaan sih!


Rey terdiam, berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan Ana.


"Percayalah selalu ada hikmah dari setiap kejadian dalam hidup kita." Sumpah ini mulut abis kena rukiyah atau gimana sih?


Rey mengangguk, menyetujui ucapan Ana. Dia kembali menatap ke jendela.


"Allah gak pernah salah memberi jodoh hambanya." Celetuk Ana.


Rey langsung menoleh, menatap Ana dengan sendu.


"Lalu ... maukah kamu menjadi jodohku?"


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊