It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 10



Menikah prosesnya lima menit efeknya seumur hidup


-Anastasya-


Rey benar-benar merealisasikan ucapannya, pria itu tidak main-main soal perkataannya. Ana mendengus, bahkan kini Bos sinting itu berhasil merebut hati bapak dan mas-nya. Seperti saat ini, Rey tengah bercengkrama dengan bapak dan Mas Yudha.


Ana yang sedari tadi hanya sibuk memainkan game diponsel pun sesekali melirik ke arah mereka. Pake pelet apaan tuh orang! gerutu Ana merutuki Bosnya dalam hati, dia tampak kesal melihat Rey begitu akrab dengan bapak dan Mas-nya. Menyebalkan!


"Ana?" Entah sudah berapa kali Mas Yudha memanggil Ana, namun wanita itu tak bergeming dengan tatapan kosong. Membuat mas-nya heran dan takut jika adik-nya tiba-tiba kesurupan.


"Ana!"


"Eh, iya Mas!" Ana tersentak saat Mas Yudha memanggilnya. Terdengar helaan napas mas-nya.


"Kamu pulang besok?" Tanya mas Yudha. Ana hanya mengangguk. Dia masih mengumpulkan nyawa-nya yang entah melayang kemana, membuatnya seperti orang linglung.


"Harus besok ndo." Sahut bapak-nya, yang sedari tadi hanya memperhatikan sikap Ana yang jadi pendiam.


"Em ... Iya Pak. Lagi pula Bos Ana gak bisa lama-lama ba––––"


"Semua bisa di cancel kok atau di handle yang lain, jadi kalo kamu masih betah di sini gak masalah." Potong Rey, membuat Ana terkesiap lalu melemparkan tatapan horor kepada Rey.


Bukannya Ana gak mau lama-lama di sini tapi masalahnya dia tidak bisa membiarkan Rey semakin lengket dengan Bapak dan Mas-nya. Bahaya yang ada nanti makin jauh harapannya buat terbebas dari Bos mesum itu.


"Gak apa-apa Pak. Lagian Bapak juga sudah mendingan kan?" Ujar Ana, dan di balas anggukan oleh bapak-nya.


"Yasudah, kamu besok ajak Pak Rey ke Dieng dulu sebelum pulang." Ujar Mas Yudha, menyarankan keduanya berjalan-jalan ke wisata Dieng.


"Ngapain?" Sergah Ana, menatap Mas-nya dengan ekspresi tidak suka. Ogah banget ngajak dia ke sana, Dieng terlalu indah untuk terkontaminasi oleh pria mesum itu.


"Ya biar Pak Rey tahu daerah sinilah, lagian Dieng bagus kalo pas pagi hari. Pasti Pak Rey suka udara sejuk di sana." Jawab Yudha.


"Gak perlu! Pak Rey alergi dingin!" Ana mendengus, benar-benar menyebalkan!


Keputusan pulang bersama Rey memang salah besar, harusnya dia bisa mencegah sejak awal. Ana terus merutuki keadaan yang semakin rumit dan berpotensi mengikatnya semakin jauh dalam drama tengik bos-nya. Oke ini bukan drama korea romantis, tapi lebih ke drama sinetron Azab!!


"Kata siapa? Saya gak alergi dingin kok." Sanggah Rey.


Ana kembali melotot menatap Rey, dan pria itu justru menyunggingkan senyum sok manis yang sangat menyebalkan! Pak Rey ngajak gelut apa gimana, sih? ngeselin!! Ana tak menyahut dia mengalihkan pandangan pada ponselnya .


"Gak boleh gitu ndo, sama calon suami. Kamu ajak biar nak Rey tahu daerah sini." Ana kembali melotot, mengerjapkan matanya tak percaya.


"Calon suami?" Ucap Ana. Lalu melemparkan tatapan penuh tanya pada Bos-nya. Namun pria itu justru menarik sebelah sudut bibirnya seolah tengah mengejek dirinya. PAK REY!!!


"Loh, bukannya kamu ajak nak Rey buat dikenalin ke Bapak sebagai calon suami? nak Rey juga sudah minta restu Bapak sama mas Yudha. Bapak restuin ndo." Ujar Bapaknya.


"Mas juga restuin dek." Timpal Mas Yudha.


Ana benar-benar tak habis pikir dengan bosnya, dia sinting apa gila sih? Dia pikir pernikahan itu main-main, seenak jidat ngaku-ngaku jadi calon suami.


Pria tak punya komitmen seperti Rey mana mungkin serius soal pernikahan. Ana takkan menggadaikan masa tuanya pada laki-laki mesum seperti Rey, laki-laki yang punya koleksi mantan layaknya trofi yang di pajang di lemari kaca.


"Ihs Bapak ... Ana belom mau nikah." Ana menghela napas yang begitu sesak, situasinya makin rumit dan ini semua gara-gara bosnya.


kini dia menatap Rey dengan sengit tapi pria itu tampak tak acuh membuat Ana semakin gondok.


"Lagian mas Yudha belum nikah Pak, pamali kalo ngelangkahin." Tambah Ana.


"Yaudah Pak barengin aja bulan depan sama nikahannya Yudha." Sahut Masnya.


"Boleh tuh Mas, saya juga setuju." Timpal Rey. What the hell!! Pengen banget masukin Rey ke kawah Dieng!


"Yasudah nanti kamu ke sini ajak orangtuamu buat lamar Ana." Ucap bapak Ana, yang langsung di balas anggukan Rey dengan senyum penuh arti. Lampu ijo! Menuju pelaminan.


Ana meraup wajahnya dengan kasar, sungguh konspirasi terkutuk. Ya Allah cepat kirim jodoh hamba. Jerit Ana dalam hati, berharap jika yang di kirim Allah bukan Rey. Bisa gila dia jika menikah dengan Rey, mendengarkan omelan bosnya setiap hari.


Menikah itu hanya untuk orang-orang yang berkomitmen dan kuat mental. Sayangnya, Ana tidak siap lahir batin jika harus menikah dengan seorang Reynaldi Stronghold.


•••


Ana duduk di dipan depan rumah, tatapannya menerawang ke depan. Membayangkan dia menikah dengan Rey, dia pasti akan menjalani hari-hari yang menyebalkan! Hari-hari penuh kutukan, membayangkannya saja sudah sangat mengerikan!


"Gak-gak!!" Ana menggelengkan kepala.


"Terima saja takdirmu Ana!" Suara bass itu menginterupsinya. Ana menoleh dan terkejut saat melihat sosok Rey berdiri dan bersandar di pintu.


"Takdir menikah dengan Pak Rey maksudnya?" Ana menggeleng.


"Gak Pak! Pernikahan itu sakral bukan buat main-main, harus punya komitmen untuk menjalaninya." Kata Ana. Wanita itu lalu menatap ke arah lain.


"Memangnya siapa yang main-main?" Rey menaikkan sebelah alisnya.


"Maksud Bapak?" Ana menatap Rey dengan heran, kini perasaanya campur aduk. Terlebih pria itu berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.


"Saya gak pernah main-main Ana soal menikah." Bisik Rey, membuat bulu kuduk Ana merinding. Kok merinding gini sih? Mana malam jumat.


"Bahkan saya sudah siap, jika kamu minta di lamar sekarang." Tambah Rey, mengunci tatapan Ana.


Untuk sesaat Ana terperangah mendengarnya, namun kesadaran mengambil alih tubuhnya. Gak! Ucapan seorang Reynaldi itu hoax! Ana segera memutus kontak mata keduanya, lalu memalingkan wajahnya kembali.


"Tapi saya yang enggak siap!" Sahut Ana. Dia langsung berdiri dan berlari masuk.


Sungguh tidak nyaman berada di samping Rey, tubuhnya selalu mengirim sinyal bahaya mengingat di rumah hanya ada mereka berdua.


Mas Yudha masih menjaga bapak di rumah sakit, ditambah rumah Ana berada di ujung dengan jarak antar rumah yang cukup jauh, membuat wanita itu was-was dengan Bosnya. Ana takut jika sewaktu-waktu Rey akan melancarkan aksinya seperti waktu itu.


"Ana!"


Rey menahan pintu kamar Ana yang akan di tutup.


"Pak Rey mau apa lagi, sih?!" Ana mulai panik.


"Saya belum selesai bicara." Ucap Rey. Dia berusaha masuk lewat celah pintu yang terbuka sedikit.


"Tapi saya yang enggak mau bicara sama Pak Rey! Apalagi kalo bahas pernikahan!!" Seru Ana.


"Beri saya alasannya kenapa kamu tidak mau menikah dengan saya?" Rey terus mendorong pintu kamar Ana.


"Karena Pak Rey bukan tipe saya." Wajah Rey seketika berubah menyeramkan, membuat Ana merutuki mulutnya yang asal bicara.


Brughhh


Dan benar saja, Rey mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Membuat Ana terjungkal kebelakang. Rey masuk dan duduk di tepi ranjang matanya mengedar kesekeliling ruangan kamar yang tak begitu luas.


"Saya pikir saya tipe kamu, kamu lihat." Rey menunjukkan poster milik Ana mensejajarkannya disamping wajahnya.


"Mirip kan? malah gantengan saya." Tambah Rey.


Dia menatap poster Suho Exo yang diedit dengan foto Ana dan diberi caption 'calon suami idaman' di belakang posternya.


Ana mengerjapkan matanya, dari mana dia dapat poster itu? Sialan! Ana langsung bangun meraih poster itu tapi Rey malah mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Pak rey! balikin gak!" Hardik Ana, menjijitkan kakinya, tangannya mengapai-gapai tangan Rey. Tubuhnya yang kalah tinggi dari Rey tak mampu meraihnya.


"Kalo saya gak mau?" Rey menaikkan sebelah alisnya, tersenyum miring mengejek Ana.


"Pak Rey balikin." Ana masih meloncat-loncat, tanggannya terus mengapai-gapai tangan Rey, tapi pria itu terus menggerakkan tangannya ke sana-sini mengecoh Ana membuat wanita itu semakin kesal.


Ana pun terus meloncat hingga sesuatu yang tak diinginkan terjadi tubuhnya yang hilang keseimbangan justru menubruk dada Rey, membuat pria itu terjatuh kebelakang bersamaan dengan Ana yang jatuh diatasnya.


"Ammmmphh ...." Ana mengerjapkan mata merutuki posisinya saat ini, keduanya jatuh ke atas ranjang dengan posisi Ana diatas Rey dan bibir yang saling bersentuhan.


Ana mendorong dada Rey, hendak bangun tapi tangan Rey justru semakin merengkuh pinggang dan merapatkan tubuhnya.


Rey tak melepaskan sentuhan bibir keduanya meski Ana berusaha melepas, pria itu justru semakin memperdalam ciumannya, ******* bibir Ana.


Membuat tubuh Ana menegang seketika dengan desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Pak hansip tolong Ana ....


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊