It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 27



Cukup raga yang di lockdown, hatimu jangan.


🌺🌺🌺


Rey tak habis pikir dengan Ana. Kenapa perempuan itu begitu rumit, bahkan Rey tak bisa menebak apa isi kepala Ana.


Rey menatap punggung Ana yang sedang memasak. Dia bertopang dagu sembari melamun. Kenapa Ana harus mendiamkannya? Bahkan semenjak kemarin dia masih enggan bersitatap dengannya, selalu menghindar dan terkesan mengabaikan dirinya.


"Awww!!"


Rey tersentak ketika mendengar pekikan Ana, dia segera berlari menghampiri perempuan itu. Ana meringis memegangi tangannya, Rey yang melihat tangan Ana berdarah langsung membawanya ke wastafel.


Ana hanya diam, tatapannya terus tertuju pada wajah panik bosnya. Dia terus menatap lekat wajah Rey, yang sedang mengobati tangannya.


"Kamu ngelamunin apaan sih? Sampai teledor kaya gini ...."


"Pak Rey." jawab Ana membuat bibir Rey terkatup seketika. Pria itu mengangkat wajahnya, menatap Ana dengan alis berkerut.


"Saya?" Ucap Rey.


"Eh ...." Ana terkesiap, dia langsung menarik tangannya. Merutuki bibir jahanam yang asal nyeplos.


Rey tersenyum tipis, melihat ekspresi Ana tampak salah tingkah. Dia langsung menarik tangan Ana kembali untuk di obati.


"Makanya gak usah ngambek! Kangen juga kan?" Rey terkekeh. Ekspresi Ana berubah jadi kesal.


"Idih. Pede banget, siapa juga yang kangen," Sanggah Ana. Perempuan itu langsung membuang muka ke samping.


"Udah dong ngambeknya ...." Rey memegangi kedua lengan Ana, menarik tubuh perempuan itu agar menghadapnya.


"Gimana kalo kita ke danau hari ini, kayanya cuaca hari ini cerah." Rey tersenyum tulus, membuat hati Ana menghangat. Meleleh adik bang.


Dan pria itu benar-benar menepati janjinya. Kini Ana tengah berdiri di tepian danau yang begitu luas. Dia memejamkan mata, merentangkan kedua tangan, sembari menghirup udara segar.


"Mau naik gak?" Suara Rey membuat matanya terbuka kembali, Ana menoleh pada pria itu yang sudah berdiri di sampingnya.


Ana mengangguk antusias, lalu keduanya pun naik bebek-bebekan. Senyum Ana terus terpatri di wajah ayunya. Rey senang bisa membuat perempuan itu bahagia.


"Jadi resiko diterima berapa persen?" Celetuk Rey. Bebek-bebekan yang mereka tumpangi sudah berada di tengah.


"Mungkin 50%," Jawab Ana, matanya jelalatan melihat ke sekeliling danau. Pandangan takjub itu terus terpancar dari sorot matanya.


"Berarti aku masih harus berjuang untuk mendapatkan jawaban yes." Gumam Rey.


Ana langsung menoleh, menaikkan sebelah alisnya.


"Aku?" Ujar Ana. Aneh rasanya mendengar Rey tiba-tiba merubah panggilannya jadi Aku.


Rey tertawa, wajah Ana begitu menggemaskan. Bawaanya pengen khilaf.


"Kenapa? Aneh ya kalo saya manggil aku kamu?"


Ana menggangguk, memalingkan wajahnya ke arah lain. Kaki mereka terus menggenjot pedal agar bebek terus berjalan.


"Kalo aku minta kamu jangan panggil saya Pak, boleh?"


"Tapi ...."


"Lagi pula ini bukan di kantor Ana, saya berasa tua sekali padahal kita cuma beda dua tahun." Kata Rey menyela ucapan Ana.


"Hm ...." Ana hanya bergumam.


Setelah itu topik berganti, Rey memang pandai berbicara. Bahkan Ana tak merasa bosan mendengarkan celotehan pria itu, walau terkadang terselip modus terselebung dalam kata-katanya.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, keduanya tengah berjalan menuju parkiran hendak pulang. Namun langkah Ana tiba-tiba terhenti, membuat Rey ikut berhenti dan menoleh pada perempuan itu.


Wajah Ana berubah jadi datar, tanpa ekspresi. Sorot matanya tertuju ke depan, Rey pun menoleh dan seketika emosinya mencuat saat melihat Sean berdiri di depan mereka. Dari mana datangnya si remahan khong ghuan? Kok bisa ada di sini?


"Rey." Cicit Ana.


Rey refleks menoleh pada Ana. Perempuan itu menatapnya sendu.


Rey mengangguk. Dia sebenarnya enggan membiarkan Ana bersama Sean, namun tatapan AnaΒ  begitu teduh mana bisa dia menolak. Kini Rey hanya bisa memperhatikan Ana dari jauh.


β€’β€’β€’


Sepuluh menit berlalu, namun belun satupun dari mereka membuka suara. Ana meremas jemari tangannya, matanya menatap lurus ke depan.


Sementara Sean masih menatap lekat wajah Ana. Bibirnya kelu setiap kali ingin mengucapkan sesuatu. Dadanya bergemuruh, detak jantungnya berpacu dengan cepat.


"Kamu mau diam saja?" Suara Ana memecah keheningan. Perempuan itu menoleh ke Sean, ekpresinya datar. Tak ada senyum malu-malu seperti biasanya.


"Ana." Sean meraih tangan Ana, namun langsung ditepis oleh perempuan itu. Dia menghela napas panjang, bersandar pada kursi.


"Sampai kapan kamu akan menutup hati untukku?" Suara Sean terdengar begitu parau.


"Sean cukup. Bukankah aku sudah bilang ... kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh." Ana memalingkan wajahnya ke arah lain.


Perasaan Ana sudah berubah. Sepertinya rasa sukanya terhadap Sean hanya sebatas kagum. Dia gak mau jika laki-laki itu terus berharap lebih padanya. Sementara Ana tengah mencoba membuka hati untuk Rey.


"Padahal butuh waktu lama untuk aku bisa mengatakan ini." Sean tersenyum kecut. Menyadari respon Ana, semakin membuat dadanya sesak luar biasa.


"Maksud kamu?" Ana menatapnya dengan alis berkerut. Bukankah pertemuan mereka baru-baru ini? Lalu lama dari mananya?


Sean menatapnya dengan lekat. "Kos-kosan melati." Ana terdiam, itu kan kos-kosannya yang dulu. Sean tertawa sumbang, terdengar menyedihkan.


"Bahkan kamu tidak mengenaliku selama ini." Ana semakin heran, apa maksud dari ucapan Sean. Dia hanya diam terpaku menatap bingung pria itu.


"Empat tahun Ana. Bukan waktu yang sebentar, untuk aku memberanikan diriΒ  mengatakan hal ini. tapi ... sepertinya aku terlambat." Sean tersenyum getir. Dia memang terlalu cupu, untuk menyatakan cinta pada perempuan di sebelahnya.


"Ma ... mak..sudnya?" Ana tercengang mendengar penuturan Sean. Bibirnya bergetar, ia kembali merasakan gemuruh di dada.


"Apa kamu tidak sadar? Selama empat tahun aku selalu berada di dekatmu. Setiap pagi selalu menyapamu, meski kamu tak pernah me-notice-ku." Sean kembali terbayang saat pertama kali bertemu dengan Ana.


Pagi itu, Sean berdiri di dekat tangga. Dia tengah menunggu sahabatnya yang kebetulan kos di sana. Dia menyesap rokok, bersandar pada tembok. Hingga suara langkah kaki mengalihkan perhatiannya.


Untuk pertama kalinya, Sean melihat perempuan yang begitu cantik. Tanpa sentuhan make-up, pipinya merona. Bak bidadari turun dari langit. Sungguh cantik, untuk sesaat Sean tersihir oleh pesona perempuan itu.


Hingga pekikan lantang menyentaknya dari alam bawah sadar. Sean mengerjapkan mata, ketika tubuh perempuan itu terpelanting ke arahnya. Dengan sigap dia membuang puntung rokok di tangan, lalu menangkap tubuh mungil itu.


Perempuan itu bangkit, dengan malu-malu tanpa berani menatap Sean.


"Terimakasih." Katanya. Dia langsung memungguti berkas-berkas yang berserakan di lantai.


Semenjak itulah perasaan suka mulai tumbuh di hati Sean. Senyum manis Ana, pipi yang selalu merona, wajah malu-malu saat bersitatap dengan lawan jenis. Membuat Sean semakin penasaran dengannya.


Hampir setiap pagi Sean ke sana, hanya sekedar untuk menyapa Ana. Hingga teman-temannya heran, karena dia tak pernah memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh. Ketakutan akan penolakan membuatnya selalu psimis.


Hingga kejadian tak terduga, saat mereka kembali dipertemukan. Waktu itu Sean memberanikan diri berinteraksi dengan Ana. Dia bertekad pada dirinya sendiri, takkan lagi jadi pecundang. Namun nyatanya takdir berkata lain, Siapa yang menyangka jika Ana justru akan menikah dengan sepupunya sendiri. Rey!


Ana merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia tak menyadari itu semua. Harusnya dia curiga waktu itu, saat Sean tau alamat kos-kosannya. Padahal Ana hanya mengatakan kos melati, jl kenanga.


Bodoh! Apa dia memang tidak sepeka itu dengan sekitarnya. Empat tahun tanpa menyadari kehadiran pria itu di dekatnya.


Memang dulu setiap pagi cowok-cowok di kosan Ana, selalu menyapa dirinya. Tapi Ana pikir itu wajar, karena mereka hidup bertetangga. Namun tak pernah terpikirkan olehnya, jika salah satu dari mereka ternyata Sean.


"Ana."


Ana tersentak dari lamunannya, ketika tangan Sean menggenggam erat tangannya. Dan sejak kapan pria itu berlutut di depannya.


"Mungkin ini terlambat. Tapi ... beri aku kesempatan." Lirih Sean, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.


"Maukah kamu menikah denganku?"


Mata Ana membulat seketika, saat Sean menunjukkan cincin berlian kepadanya. Jantungnya berdetak tak wajar. Tatapan Sean begitu menghipnotisnya. Bagaimana ini?


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊