
Ana terbangun dari tidurnya, saat alarm ponsel berdering. Ia melirik jam menunujukkan pukul 06.00.
"M*mpus gue kesiangan." Ana langsung menyingkap selimut bergegas turun dari ranjang, tetapi netranya justru tanpa sengaja menatap ke meja nakas. Ia mendekat ke meja, mengambil secarik kertas yang berada di bawah gelas susu.
"Susu?" Benak nya, lalu membaca tulisan yang ada di kertas.
“Pagi sayang,,, satu gelas susu rasa strawberry biar tambah semangat.”
Tertanda aku yang masih belajar mencintaimu
Ana meraup wajahnya dengan kasar. Astaga, apa bosnya sudah sinting? Atau dia salah minum obat? Jangan bilang, beneran ada yang memukul kepalanya pake palu thor. Dia masih menatap secarik kertas itu, aneh sungguh hal yang aneh baginya, mendapati Rey melakukan hal semanis ini. Ia menghela napas panjang.
"Drama apalagi sih dia?" Kok dia tahu aku suka susu strawberry?
"Bodo amat, ah." Ana mengedikkan bahu tidak ingin pusing memikirkan itu. Ia langsung meminum susunya hingga tandas, setelah itu pergi ke kamar mandi. Karena setelah ini dia yakin bosnya akan lebih menggila memainkan drama tengik ini. Ngalahin film kolosal genta buana.
•••
Ana berdecak, kebiasaan dia lupa tidak membawa handuk ke kamar mandi. Alhasil dia harus keluar tanpa mengenakan apapun, jika di kosan ia akan leluasa tapi tidak dengan di sini mengingat ini apartemen Rey. Bosnya itu sering berkeliaran dimanapun, Ana mengendap-ngendap keluar dan ia bernapas lega mendapati kamarnya kosong.
Baru akan melangkah mata Ana langsung membulat sempurna, ia refleks menjatuhkan diri meringkuk memeluk lututnya. Sial. Ana mengumpat dalam hati merutuki kebodohnnya, bagaimana mungkin ia tidak menyadari Rey yang berdiri di balkon. Dan sialnya pria itu masuk menatap Ana tanpa berkedip.
"Pak Rey." Cicit Ana tanpa berani mengangkat kepalanya, sumpah jika ada lubang di depannya dia tidak akan pikir panjang untuk menenggelamkan diri saat ini juga.
Rey tidak menyahut pria itu berjalan ke lemari, mengambil handuk dan menyampirkannya pada tubuh Ana. Menutupi kepolosan wanita itu.
"Habis ini masakin saya ... saya laper." Ujar Rey, sebelum akhirnya pria itu pergi.
Ana melirik ke arah pintu, tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi.
"Pak Rey kenapa, sih?" Ana tampak bingung, pria mesum itu bisa berubah-ubah sikapnya.
"Dasar bunglon!" Umpat Ana, lalu ia berdiri segera mengenakan pakaiannya. Mengingat Rey tidak suka menunggu lama atau ia akan kena getahnya, mendengarkan omelan Rey yang berkepanjangan seperti jalan tol.
•••
Ana tampak sibuk di dapur, ya seperti inilah hari-harinya. Menjadi sekretaris merangkap jadi pembantu, asisten, dan baby sitter bahkan terkadang jadi sopir. Jadi sekretaris Rey menuntutnya harus bisa dalam segala hal, bahkan terkadang orang sampai mengira kalo dirinya gadun Rey. Astaga. Jika mengingat selentingan itu rasanya Ana ingin murka. .
Tetapi ia tidak akan menggubrisnya, terlalu tidak masuk akal apa yang mereka gosipkan tentang dirinya.
"Kamu sudah siapkan proposal untuk kontrak kerja sama dengan Sean davichi?" Suara bass itu membuat Ana tersentak dari lamunan, dan tangannya tanpa sengaja menyenggol wajan panas.
" Aaawwwww ...." Ana meringis kesakitan, dengan sigap Rey langsung membawa tangannya ke wastafel. Ana terperangah, entahlah tetapi sikap Rey begitu manis, bahkan dia meniupi tangannya.
"Sakit?" Ana mengangguk, matanya masih menatap pria di depannya dengan pandangan takjub. So sweet, melting me softly.
"Kamu bisa gak sih, gak ceroboh!" Byarrr. Rasa takjub itu langsung runtuh bersama suara yang tidak enak di dengar. Ana menghela napasnya. Menyebalkan!
"Lagian Bapak ngagetin saya." Ana mendengus, menarik tangannya lalu bangkit berjalan menuju kompor yang ia tinggalkan.
"Saya?" Ucap Rey. Ana tidak menyahut. Entahlah ia kesal rasanya, ia juga tidak tahu kenapa bisa kesal tetapi ia benci setiap kali Rey mengomelinya.
"Pak rey!" Pekik Ana, saat pria itu menarik lengannya setelah mematikan kompor.
" Lepas!" Ana menarik tangannya, tetapi cekalan Rey terlalu kuat.
"Diamlah Ana!" Rey mendudukkan Ana di kursi, ia berjalan ke lemari mengambil kotak obat.
"Saya bisa sendiri." sela Ana saat Rey akan mengolesinya dengan salep, tetapi Rey menepis tangan Ana dan jangan pernah lupakan tatapan mengintimidasi pria itu.
Ana mengerucutkan bibir, memperhatikan Rey yang begitu telaten mengolesi tangannya dengan salep.
"Masih sakit?" Tanya Rey, mendongak menatap Ana.
•••
Hari ini Ana begitu sibuk, ia sampai melupakan jadwal makan siang karena Rey terus menyuruhnya melakukan semua pekerjaan pria itu.
Ana menggerutu, menyumpah serapah Rey. Bisa-bisanya ia memintanya membeli nasi padang yang berada di dekat apartemen, padahal di depan kantor juga ada.
Ana berjalan masuk lobi dengan wajah ditekuk, persetan dengan karyawan lain yang melirik ke arahnya dan memulai pergibahan unfaedah itu.
Tok tok tok
Ana mengetuk pintu ruang kerja Rey, ia masuk saat terdengar sahutan dari dalam. Ana memutar bola mata saat gadis tengil itu turun dari pangkuan Rey.
What the hell. Ana mendengkus, harusnya ia tidak terkejut mengingat track record seorang Reynaldi stronghold. Jadi tidak heran jika ada seorang gadis yang masuk keruangan Rey seperti saat ini, Ana mendesis melirik gadis itu yang membenahi bajunya. Ana mendecit, muak rasanya melihat pemandangan seperti ini. Ia berjalan menghampiri meja Rey.
"Ini nasi padangnya, saya beli di dekat apartemen sesuai perintah Pak Rey yang terhormat." Ana tidak tahu kenapa ia rasanya ingin marah meledak-ledak, aneh bukan.
"Gak pake daun singkong, pake ayam goreng di goreng dengan suhu api yang pas, gak kematengan pake sambal ijo tiga sendok makan." Tambahnya.
"Makan aja." Jawab Rey, membuat Ana mengerjapkan mata tidak percaya. Lo gak bisa hargai perjuangan gue dikit apa!!
Ana meremas roknya, ingin sekali ia memuntahkan semua sumpah serapah pada bosnya. Menyebalkan!
Rey mengangkat kepalanya, menatap Ana yang masih mematung di depan meja.
"Makan!" Rey menatapnya dengan sorot mata tajam mengintimidasi.
Ana menghentakkan kaki dan berbalik.
"Tadi katanya minta, sekarang malah suruh di makan maunya apa, sih? Buang-buang waktu gue." Gerutu Ana.
"ANA!"
Ana memejamkan mata, sumpah ini bos gila maunya apa sih? Ana berbalik memasang senyum palsunya.
"Iya Pak Rey, ada yang bisa dibantu?" Jawab Ana dengan manisnya. Eneg gue mau muntah.
"Kamu makan di sini saja, saya mau makan di luar bareng Tiara." Ana melirik gadis tadi yang tengah tersenyum miring kearahnya. Idih.
"Saya makan dipan–––"
"Di sini saja, soalnya nanti Sean mau ke sini." Potong Rey, lalu pria itu pergi dengan Tiara yang bergelayutan dilengannya. Kadal gurun!
Ana mendesis setelah kepergian keduanya.
"Gue kenapa sih?!" Gumamnya, menghempaskan bokong di sofa.
"Lagian lo cuma pacar boongan Ana, sadar diri jangan cemburu jangan baper, endingnya pahit." Ana menepuk-nepuk kedua pipinya.
Dan ia memilih makan dari pada memikirkan sikap Rey yang menyebalkan itu. Ana menelan makanan bersama kegondokannya.
Hingga tiba-tiba saja terdengar suara derit pintu, membuat Ana menoleh ke pintu ruangan Rey yang terbuka menampilkan seseorang yang berdiri di ambang pintu.
"Kamummm!" Pekik Ana, dengan mulut penuh makanan untung saja dia tidak menyemburkannya. Susah payah ia menelan paksa makannannya, saat pria itu berjalan ke arahnya. Mati gue ditagih ongkos kemaren.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊