
Kamu, Dekat di mata jauh di hati Tak mampu di gapai.
🌺🌺🌺
Rey mulai gusar, meski dia berusaha untuk tetap tenang. Tapi jika melihat pergerakan Sean, bagaimana dia bisa tenang. Benar-benar bala-bala cireng pria itu!
Alarm bahaya dalam diri Rey berbunyi, matanya melotot melihat adegan romantis di depan matanya.
"Sial, gue dilangkahin!" Geram Rey.
Rey bangkit. Dia takkan membiarkan Sean mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya. Rey berjalan menghampiri Ana yang masih terpaku, menatap kosong pada pria di depannya.
"Kamu! Wanita rendahan. Miskin! Kamu tidak sederajat dengan kami!"
"Meskipun Sean mencintai kamu! Tapi saya gak sudi merestui kalian! Saya gak sudi punya menantu dari kalangan bawah!"
"Sinetron terviral minggu ini. Ratapan menantu."
Seketika Ana menggelengkan kepala. Dia langsung berdiri dengan napas menggebu, matanya melotot. Bayangan mama Sean tiba-tiba memenuhi otaknya. Wajah garang wanita itu, membuatnya bergidik ngeri.
Sean jelas terkejut dengan reaksi Ana. Terlebih wanita itu menunduk, menatapnya ngeri. Lalu tatapan Sean beralih pada Rey yang berjalan menghampiri Ana.
"Maaf Sean."
Sean tersenyum kecut. Mendengar ucapan Ana. Hatinya jelas sesak luar biasa, tapi dia bisa apa. Nyatanya, Ana tak pernah bisa dia gapai.
"Aku pikir ini sudah selesai. Aku akan menikah, kamu pun begitu." Kata Ana.
Sean mendongak menatap wajah Ana, namun netranya justru tanpa sengaja melihat genggaman Rey pada tangan perempuan itu. Sean bangkit, memasukkan kembali cincin berlian ke dalam saku.
"Kamu tidak akan berubah pikiran? Aku masih akan menunggumu." Ucapan Sean jelas memancing huru hara dalam diri Rey.
Pria itu semakin erat menggenggam tangan Ana. Sean benar-benar melewati batas. Rey semakin geram, namun Ana menahannya. Perempuan itu menggeleng, sorot matanya meminta Rey agar tidak gegabah.
"Tidak. Kalo begitu kami pamit pulang." Kata Ana. Dia mengamit lengan Rey.
Sean tersenyum getir. Menatap punggung keduanya yang semakin jauh dari pandangan mata.
"Apa ini semua karena Mamaku?" Gumam Sean. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
•••
Sepanjang perjalanan Rey terus mengomel, menyumpah serapah Sean dalam hati. Dia mencengkram erat stir mobilnya. Menyalurkan segala emosi yang sempat tertahan. Ditambah Ana sudah menceritakan semua. Semakin membuat hatinya bergejolak.
Sial! Hampir saja dia kalah cepat dengan pria itu. Sepertinya Rey harus cepat-cepat menancapkan janur kuning di depan rumah Ana. Dia tidak bisa menunggu lebih lama. Bagaimana pun, hama-hama kecil itu akan terus berdatangan di setiap tikungan. Rey tidak mau jika akhirnya Ana di jegal darinya.
"Rey." Panggil Ana. Namun pria itu masih asyik dengan pikirannya.
"Pak Rey!"
Rey tersentak mendengar pekikan Ana. Dia langsung menginjak rem, membuat tubuh mereka terdorong maju. Hampir saja kening keduanya mencium dasbor.
"Kamu ngelamun?" Tanya Ana. Menatap Rey yang tampak bingung.
"Ana." Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh ke Ana.
"Apa jika aku tidak datang kamu akan jawab iya? Apa kamu juga mencintai Sean? Apa selama empat tahun ini kamu juga menyimpan ...." Mata Ana membulat seketika.
Kecupan Ana membungkam mulutnya. Memberikan sensasi cenat cenut dalam hati. Seolah tubuhnya dialirin listrik bertegangan tinggi. Wajah Rey memanas, merasakan bibir itu menempel untuk waktu yang cukup lama.
Ana menciumnya. Dia tidak sedang halu kan?
Ana menarik wajahnya, tersenyum tipis pada pria itu.
"Kamu bawel!" Bisiknya sembari mengusap pipi Rey. Dia kembali ke posisi duduknya, menatap keluar jendela. Gila! Gue kerasukan setan ganjen dari mana?
Rey mengusap bibir bawahnya.
"Kenapa gak dari tadi? Kalo gini kan aku tenang." Gumam Rey. Ana tak menyahut tapi senyumnya masih terukir indah.
Hingga malam tiba, Rey masih mengusap-usap bibirnya. Membayangkan bibir sensual Ana menyentuh bibir seksi-nya. Sungguh tak pernah ia duga, jika Ana akan melakukan hal itu.
"Apa itu artinya Ana udah mulai suka sama gue?" Gumam Rey. Sepertinya begitu, pikir Rey.
Rey beranjak dari kamarnya. Malam ini dia berniat mengajak Ana untuk makan malam romantis. Sekaligus melanjutkan aksi heroiknya. Dia harus gerak cepat, sebelum Sean kembali melemparkan bom molotov padanya.
Rey terpaku di depan pintu, matanya tertuju pada Ana yang baru saja keluar dari kamarnya. Jadi pengen nyanyi lagunya Aisyah.
"Kenapa?" Tanya Ana.
"Jelek ya?" Ana menundukkan kepala, mengamati diri dari dada sampai bawah.
Rey menggeleng, matanya masih terfokus ke Ana.
"Kamu cantik." Ana tersenyum tipis, merasakan pipinya memanas. Dia memilih berjalan lebih dulu. Pasti wajahnya saat ini sudah seperti udang rebus.
Rey memperlakukan Ana layaknya ratu. Malam ini dia jadi wanita paling istimewa. Dengan balutan gaun berwarna cream. Rey membukakan pintu untuknya. Pria itu mengandengnya masuk ke restoran mewah.
Setahu Ana jika mau makan di sini harus reservasi lebih dulu. Dia celingukan, memperhatikan sekelilingnya yang begitu sepi. Jangan bilang ....
"Kamu booking tempat ini?" Bisik Ana.
Rey tersenyum, mengelus pipi Ana yang menggemaskan.
"Demi kamu aku rela kalo harus beli restorannya."
Ana mendengus.
"Gak gitu juga kali, kamu jangan lebay deh. Kaya di sinetron jadinya." Rey terkekeh mendengar ucapan Ana.
Keduanya makan diiringi alunan musik yang begitu merdu.
"Kamu suka?" Tanya Rey.
"Suka. Makasih." Jawab Ana. Memasang senyum semanis madu.
"Mau kemana?" Tanya Ana saat Rey beranjak dari duduknya.
"Kamu tunggu sini." Kata Rey.
Ana mengekori Rey yang berjalan menuju panggung. Apa yang mau dilakukan Bosnya itu. Jangan bilang Rey mau ....
Dugaan Ana benar, Rey mengambil gitar lalu duduk di kursi. Matanya menatap ke arah Ana yang terpaku di tempatnya.
"Lagu ini untuk wanita spesial dalam hidupku." Kata Rey. Dia mulai memetikkan senar gitar, suara nada yang mengalun lembut. Menembus hati Ana, membuat getaran hebat di dalam sana.
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Ana semakin terdiam, matanya terkunci pada tatapan Rey yang begitu dalam. Suara merdu Rey membuat letupan-letupan dalam hatinya.
Ana kini tahu rasa aneh apa yang selama ini dia rasakan. Bahkan perasaan ini lebih dalam dari rasa kagumnya pada Sean.
Ana jatuh cinta.
Senyumnya terus terpatri di wajah. Bahkan sampai acara makan malam usai. Genggaman tangan Rey semakin membuat dada Ana berbunga-bunga. Dia menggigit bibir bawahnya tak kuasa menahan rasa bahagia.
"Hujan lagi." Kata Rey saat keduanya berada di lobi restoran.
"Kamu gak apa-apa kalo sedikit basah?" Ana mengangguk. Tak masalah jika basahnya berdua dengan Rey.
"Ayo." Rey langsung memakai jaketnya untuk melindungi kepala Ana.
Malam ini mungkin jadi yang teristimewa untuk keduanya. Hubungan mereka semakin dekat menuju pelaminan. Seyakin itu Rey.
"Jadi sudah berapa persen?" Tanya Rey. Matanya fokus ke depan, tapi sesekali melirik Ana di sebelahnya yang masih tersenyum.
"Sembilan puluh persen." Jawab Ana.
"Kenapa gak seratus persen." Rey pikir dia sudah berhasil merebut hati Ana. Sampai bela-belain ngebucin ala ABG.
"Gak apa-apa masih ada satu hari. Dan besok kamu harus kasih aku jawaban yes!"
"Idih. Ngarep!" Dalam hati Ana tengah tertawa bahagia. Dia memang sengaja mengulur waktu, untuk melihat sejauh mana usaha Rey.
"Biarin gak dosa ...."
"Rey!" Pekik Ana.
Lagi-lagi Rey mengerem tiba-tiba. Hampir saja kening Ana jadi bakpao. Dia menoleh pada Rey, tatapan pria itu tampak terkejut.
"Vania." Lirih Rey.
Vania?
Ana langsung menoleh ke depan. Betapa terkejutnya dia saat melihat Vania berdiri menghadang mobil Rey, di bawah guyuran air hujan.
Kenapa hidup gue banyak drama tengik ala sinetron!! Ana memekik dalam hati, merutuki tindakan gila wanita itu.
Kalo begini pengennya berubah jadi sadako!
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊