
Ana semakin panik, saat Rey memperkecil jarak di antara mereka. Apa yang akan dilakukan Bosnya itu? Ana tak tahu, otaknya kembali tumpul. Bahkan kesadarannya masih belum pulih, dia tak tahu harus bagaimana? Karena dia tidak mungkin menghilang begitu saja. Ana bukan jin Tomang.
Ana memejamkan mata, untuk saat ini hanya itu yang terlintas di pikirannya. Meski degup jantungnya tak mampu berbohong, jika dia sangat gugup. Pikiran-pikiran aneh mulai menghantui, membuat dirinya menerka-nerka. Tindakan gila apa lagi yang akan dilakukan pria itu.
Ana tersentak dan mengerjapkan mata ketika suara Rey bergema di telinganya.
"Kamu makan kaya anak kecil, belepotan!" Seru Rey.
Ana melongo. Seakan baru saja di hempas dari atas awan, terjun bebas ke jurang. Dia mengangkat wajahnya menatap Rey. Pria itu tengah membersihkan bibir Ana dengan tisu.
"Kenapa?" Tanya Rey yang menyadari tatapan Ana.
Sontak saja Ana langsung menggeleng, seperti orang gagu tanpa mampu mengucapkan apapun. Why? Konspirasi macam apa ini? Kalian selalu berkhianat pada majikan!
Ana terus merutuki tubuhnya yang tak pernah selaras dengan pikiran. Ditambah hatinya, yang mulai merasakan hal-hal aneh yang tak mampu Ana jelaskan. Apa itu? Dia saja bingung dengan dirinya sendiri.
"Habis ini temani saya ke hotel ...."
Ana tersedak, mendengar ucapan yang terlontar dari mulut bosnya. Hotel? Bosnya sudah gila!
Rey menyodorkan gelas berisi air padanya. Ana meraih gelas itu dan menenggak habis isinya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rey.
Ana mengatur napas, mengontrol emosi yang menggebu-gebu. Bosnya ini memang hobi sekali merusak suasana. Dia melirik Rey dengan tatapan tajam, menusuk. Jelas itu membuat Rey bingung, bahkan pria itu sampai mengerutkan dahi melihat ekspresi Ana yang tiba-tiba berubah garang.
"Bapak pikir saya perempuan murahan!!" Bentak Ana.
Rey terkejut, bergidik ngeri melihat Ana segarang Kak Ros di upin-ipin.
"Walaupun saya terikat perjanjian dengan Pak Rey, bukan berarti Bapak bisa seenak jidat perlakukan saya!!" Ana mulai ngos-ngosan, tapi tak membuat dirinya berhenti berteriak.
"Sudah cukup spekulasi negatif orang-orang terhadap saya. Karena Bapak ... saya sering menerima cemoohan, bahkan tak jarang pelecehan verbal!! Dan sekarang ...." Ana menatap Rey dengan mata berkaca-kaca.
"Harusnya Pak Rey tidak melakukan ini pada saya." lirih Ana, dengan wajah tertunduk.
"Saya memang miskin tapi bukan berarti Pak Rey bisa bawa saya ke hotel dan ...." Ana tak kuasa menahan air mata yang menerobos keluar. Dia berbalik lalu berlari menaiki tangga. Meninggalkan Rey yang cengo, setelah mendengar penuturan Ana.
"Memang apa yang dia pikirkan?" Gumam Rey.
Dia memegangi dadanya yang berdetak tak karuan, hampir saja ia terkena serangan jantung tiba-tiba. Rey pikir reaksi Ana berlebihan.
Tiba-tiba dering ponsel membuyarkan lamunan Rey. Dia segera mengangkatnya.
"***Halo" Sapa Rey ketika telepon tersambung.
"Pagi Ma. Belum. Niatnya habis ini Rey mau ke hotel buat cek tempatnya lalu reservasi buat acara nanti malam***."
***Rey menghela napas.
"Jadi, Mama mau mengadakan di rumah saja?" Rey bergumam menyahuti celotehan Mamanya di telepon.
"Oke, nanti malam Rey ke sana ... tapi gak janji soal Ana." Rey menutup sambungan
telepon. Mengusap wajahnya dengan kasar***.
Apa Ana marah karena ini? Lalu nanti malam dia ke sana dengan siapa?
•••
Ana melangkah menuruni tangga. Dia mengenakan longdress hitam. Di ujung tangga sudah ada Rey yang tengah menunggunya. Ana mendengus. Dia masih kesal dengan pria itu. Jika saja bukan nyonya Reynata yang memintanya datang, mana mau dia pergi.
"Ana kamu ... cantik." Kata Rey. Dia terlihat gugup bahkan tampak salah tingkah.
Tapi Ana tak menyahuti, dia justru melewati Bosnya begitu saja. Rey mengusap wajahnya kasar. Kenapa wanita itu ribet sekali, padahal dia sudah menjelaskan perkara hotel tadi pagi. Tapi memang Ana saja terlalu membesar-besarkan masalah itu.
Sepanjang perjalanan, suasana begitu hening dan canggung. Rey tampak gusar meski ia mencoba fokus mengemudikan mobilnya. Sedangkan Ana tampak tak peduli, dia terlalu asik memandangi jalanan yang dilewati.
Hingga akhirnya mereka tiba di kediaman orangtua Rey.
Rey turun lebih dulu dia segera mengitari mobil, hendak membukakan pintu untuk Ana. Namun perempuan itu justru sudah keluar lebih dulu. Rey menghela napas melihat Ana enggan menatapnya.
"Ana saya mohon, jangan tunjukkan ini di depan orangtua saya." Pinta Rey.
Ana tak menyahut, namun dia menerima uluran tangan bosnya. Keduanya pun berjalan masuk. Layaknya pasangan yang memang sedang dinantikan, kehadiran mereka mencuri perhatian orang-orang di dalam rumah.
"Nah, itu Rey." Mama Rey segera menghampiri keduanya.
Ana menatap bingung pada bosnya. Pasalnya tadi pria itu bilang kalo dress ini pemberian Mamanya. Dasar pembohong!!
Ana semakin gondok dengan Bosnya, lihat saja sekarang dia sudah pergi entah kemana meninggalkan Ana seorang diri di sofa. Beruntung ini hanya arisan keluarga, jadi tidak begitu banyak tamu. Tapi kalo dilihat-lihat banyak juga keluarga besar Stronghold.
Nyonya Reynata berjalan menghampiri Ana, lalu duduk di sebelahnya.
"Maaf ya Ana, kamu pasti tidak nyaman berada di sini." Kata nyonya Reynata. Wanita paruh baya itu mengusap punggung tangan Ana.
"Tidak masalah Nyonya, saya senang Anda mau mengundang saya di acara keluarga. Padahal saya bukan siapa-siapa." Ana tersenyum tipis.
"Siapa bilang, kamu kan calon istrinya Rey. Jelas kamu itu akan jadi anggota keluarga kami. Oh ya, jangan Panggil nyonya. Panggil Mama." Ana mengerjapkan mata, mendengar permintaan nyonya Reynata.
Mama? Bahkan Ana saja belum tentu mau jadi istrinya Rey. Mereka kan, cuma sandiwara.
Ana hendak menyangkal ucapan nyonya Reynata, namun tiba-tiba datang dua orang wanita paruh baya membuatnya urung melakukan itu.
"Ini siapa Nat?" Tanya salah seorang wanita yang sudah duduk di hadapan Ana.
"Iya, kayanya baru lihat." Sahut wanita di sebelahnya.
Entah kenapa melihat aura wanita itu begitu mencekam. Bahkan tatapan tak suka terlihat jelas dari sorot matanya. Wanita itu juga terlihat sangat angkuh.
"Kenalin ini Ana, calon istrinya Rey." Ana tersenyum manis pada dua wanita itu yang tak lain kakak dari mamanya Rey.
"Kerja di perusahaan mana?" Tanya kakak kedua nyonya Reynata. Wanita yang terlihat angkuh dan sombong, Revina.
"Em, saya——"
"Dia sekretarisnya Rey." Sela Mama Rey memotong ucapan Ana begitu saja. Bahkan wanita itu menggenggam erat jemari tangan Ana.
Ada apa ini? Ana melihat kegusaran dari tubuh wanita di sebelahnya. Lalu dia beralih menatap wanita yang ada di depannya. Entah perasaannya saja atau memang benar jika wanita itu tengah tersenyum sinis, seolah mencemooh dirinya. Memang apa yang salah dengan jadi sekretaris? Bukan jadi germo ini!!
"Oh sekretaris." Revina memperhatikan tampilan Ana dari atas sampai bawah.
"Pantas biasa saja." Tambahnya.
"Memang kenapa kalo sekretaris?" Sahut wanita di sebelahnya. Dia kakak pertama nyonya Reynata, Revalina.
"Rey itu kompeten, gak mungkin pilih orang sembarangan buat jadi sekretarisnya." Revalina melemparkan senyum ramah pada Ana.
Hati Ana sedikit menghangat, ditambah usapan lembut Mama Rey.
"Jangan didengerin, kakak saya memang begitu." Bisik Mama Rey. Ana mengangguk, tersenyum tipis pada wanita itu.
"Tapi sayangnya dia gak kompeten buat cari calon pendamping." Celetuk Revina.
Apa sih mau wanita itu? Apa dia mau menabuh genderang perang? Astaga. Ana mulai muak berada di hadapan wanita itu, meski dia mencoba tetap tersenyum karena masih menghargai mama Rey.
"Untung Ichi pandai pilih pasangan. Calonnya cantik, pintar, lulusan Harvard pula." Revina terus berceloteh membanggakan calon menantunya.
Sedangkan Revalina memutar bola mata, sepertinya wanita itu juga jengah mendengarkan Revina yang terus bercerita tanpa henti.
"Kamu tetap yang terbaik." Bisik Mama Rey.
Beruntungnya Ana, mama Rey sangat baik. Bahkan wanita itu tak pernah membandingkan derajat maupun kasta mereka. Calon mertua idaman pokoknya.
Ana tidak bisa membayangkan jika dirinya mendapat mertua seperti Revina. Mungkin hari-harinya akan dipenuhi celotehan wanita itu. Amit-amit. Ana membuang jauh-jauh pikiran itu, dia tidak akan mau jika punya mertua sebawel itu.
"Mama."
Suara itu menginterupsi Revina, dia sontak berhenti berceloteh. Matanya berbinar melihat siapa yang memanggil.
"Itu dia, Ichi sama calon istrinya." Kata Revina terlihat antusias sekali.
Ana penasaran seperti apa perempuan yang diagung-agungkan oleh wanita tua itu. Dia pun menoleh ke asal suara, dan matanya seketika melebar.
Bukankah dia?
"Sean!" Pekik Ana tanpa bisa mengontrol ekspresinya yang terkejut.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊