It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 24



"Kamu, yang membuatku merasakan indahnya cinta kamu juga yang memberikanku kenangan atas luka"


Rey berjalan menyusuri jalan setapak, tangannya memegang buket bunga krisan merah dan boneka panda. Senyumnya terukir, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya.


Vania!


Mata Rey berbinar ketika melihat gadis itu tengah duduk di bangku taman.


"Vania." Panggil Rey.


Rey berjalan perlahan, ketika melihat ekspresi wajah Vania yang datar.


"Ada apa?" Tanya Rey.


"Aku mau ke Paris." Kata Vania.


Rey terdiam. Dadanya sesak, tenggorokannya tercekat bahkan bibirnya tiba-tiba kelu. Dia hanya memandang Vania dengan tatapan kosong.


"Aku cuma mau ngomong itu, sebentar lagi pesawatku berangkat. Jadi, aku harus segera ke bandara." Rey seolah tuli, dia tak merespon ucapan Vania.


"Sampai jumpa Rey." Ucap Vania, lalu berbalik meninggalkan Rey yang masih terdiam.


"Van." Lirih Rey, mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Gadis itu berbalik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rey mengangkat wajahnya, menatap sendu Vania.


"Apa kamu harus pergi?" Vania mengangguk.


"Ini mimpiku Rey, aku akan jadi model terkenal dan Om Bayu bisa mewujudkannya." Rey tersenyum kecut mendengar penuturan Vania.


Hatinya hancur, padahal mereka sudah membahas hal ini sebelumnya. Namun Vania terlalu ambisius, bahkan dia sampai menghalalkan berbagai cara.


"Aku bisa Van." Lirih Rey, masih berusaha menahan gadis itu agar tidak pergi.


"Tidak Rey, kamu bahkan baru lulus SMA ...."


"Kamu memilih sih tua bangka itu dari pada aku!" Sergah Rey, matanya memerah tak kuasa menahan gemuruh di hati.


"Maaf." Kata Vania.


Rey terjatuh berlutut di atas tanah, ketika gadis itu memilih pergi. Dia menatap nanar bunga krisan merah dan boneka panda di tangannya.


"Aku akan buktikan Van, aku bisa!" Gumam Rey, dia menangis di taman itu meratapi kisah cinta pertama sekaligusย  patah hati perdananya.


Rey tersenyum kecut, kini dia duduk di bangku taman. Tempat penuh kenangan dan luka. Jika ia biasa ke sini sendiri, kini berbeda ada Vania yang duduk di sebelahnya.


"Kamu ingat Rey, dulu kamu nembak aku di tempat ini. Ternyata gak banyak yang berubah ya." Kata Vania, menoleh menatap Rey yang sedari tadi membisu.


"Aku kangen Rey." Lirih Vania, lalu bersandar di pundak Rey.


Namun reaksi Rey diluar dugaan, pria itu langsung berdiri. Sontak saja itu membuat Vania terkejut.


"Kenapa kamu kembali?" Suara Rey lirih, namun terdengar dingin dan menyeramkan dengan sorot mata penuh kebencian.


"Rey ...."


"Apa pria itu mencampakkanmu?!" Sarkas Rey.


"Aku ...."


"Jika Tujuan kamu ke sini untuk mengulang kisah kita ... aku tegasin sama kamu!" Rey menatap tajam Vania.


"Tempat kamu di hati aku sudah tergantikan, jadi jangan pernah bermimpi untuk kembali!!" Bentak Rey.


Emosi yang sedari tadi ia tahan, kini ia luapkan. Vania terdiam dengan mata berkaca-kaca, wanita itu tak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini dari Rey.


"Aku pikir kamu masih ...."


"Masih mencintaimu?" Rey berdecih, tersenyum sinis.


"Bahkan aku menyesal pernah mencintaimu!"


Vania mengerjap berulang kali. Air matanya turun membasahi pipi, ucapan Rey begitu menyakiti perasaanya. Pria itu berubah, bukan lagi Rey yang dulu.


"Aku dengar sugar Daddy mu ditangkap polisi?" Rey tersenyum miring, ketika melihat ekspresi terkejut Vania.


"Apa itu alasan kamu kembali?"


Vania menggeleng, namun Rey berdecak seolah meragukan wanita itu.


"Sepertinya kamu perlu cari mangsa baru." Kata Rey.


"Rey!" Hardik Vania, dengan tangis yang semakin pecah.


"Kenapa? Apa aku salah? Atau ... kamu udah tobat?"


Vania mengusap air matanya, dia bangkit lalu mendorong Rey dan berlari meninggalkan pria itu.


Rey terduduk di bangku, tanpa bisa ditahan air mata itu menerobos kembali. Rey mungkin jahat karena mengatakan hal itu pada Vania, tapi itu satu-satunya cara untuk tetap bertahan dari luka yang masih menganga.


Ana mondar-mandir di kamarnya, sesekali dia akan melirik ponsel dan jam di nakas.


Perempuan itu tampak gelisah, pikirannya kacau. Bahkan ucapan Sean terus berputar di otaknya.


"Kamu tahu kenapa Rey belum mau menikah sampai detik ini? Bahkan dia tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Kamu tahu alesannya kenapa?"


Ana terdiam, dia tak tahu. Meski Rey memang fuckboy, tapi pria itu memang tak pernah menjalin komitmen dengan wanita mana pun.


"Vania ... dia alasan Rey tetap menyendiri. Dia masih menunggu Vania kembali!" Ana menggeleng, dia tak mau percaya ucapan Sean.


"Kamu bohong!"


"Kamu pikir kenapa Rey mendirikan St Entertainment? Tentu saja karena Vania, karena janji yang pernah ia ucapkan demi Vania."


Ana terduduk di tepi ranjang, tatapannya kosong.


"Pak Rey di mana sih?" Gumamnya, terdengar putus asa.


Dia menatap layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul 21.30 dan Rey belum juga pulang. Ana terus menepis pikiran negatif yang merongrong otaknya.


"Gak, gak! Pak Rey gak mungkin ke hotel sama wanita itu! Gak mungkin!" Ana terus menggelengkan kepalanya.


Dia kembali gusar, bayangan Rey dan wanita bernama Vania itu terus berputar menghantui pikirannya. Dia berdiri, kembali mondar mandir sembari menggiti kukunya.


"Pak Rey, angkat!" Ana berdecak saat sambungan telepon itu justru di jawab operator.


Ana terdiam, mengingat-ingat sesuatu. Matanya langsung melebar ketika ia mengingat tempat keramat bosnya.


Ana segera mengenakan cardigan, meraih slingbag lalu berlari keluar.


Ana terus berusaha menghubungi nomor Rey, namun nomor itu tak aktif. Ana semakin gelisah, ditambah taksol yang ditumpanginya malah terjebak macet.


Ana terus menatap keluar jendela, langit mendung seakan sebentar lagi turun hujan. Dia semakin panik, memikirkan keadaan Rey. Tak lama taksol yang ditumpanginya tiba di lokasi tujuan.


Ana segera turun namun suara sopir menginterupsinya. Dia menoleh, keningnya berkerut menatap payung yang di sodorkan sopir itu.


"Mau hujan Mba." Kata sopir itu.


Ana menggeleng.


"Gak usah Pak."


Namun sopir itu tetap memaksa Ana untuk menerimanya.


"Gak apa-apa Mba, bawa aja. Kebetulan tadi saya abis dapat endorse payung banyak banget."


Apa sopir taksol sekarang merangkap jadi selebgram? Ana yang awalnya menolak akhirnya menerima payung itu lalu bergegas keluar.


Jalan menuju taman lumayan jauh dari jalan raya. Ana harus menyusuri jalan setapak itu, dia bisa melihat mobil Rey yang terpakir tak jauh dari sana. Firasatnya benar, jika Bosnya itu akan ke tempat keramat.


Ana berhenti ketika wajahnya terkena tetesan air. Dia mendongak, merasakan tetesan itu berubah jadi gerimis. Dugaan sopir itu benar, kalo hujan akan turun. Ana segera membuka payung itu, lalu berlari ke arah taman.


Ana berhenti, matanya menangkap sosok Rey yang berdiri di bawah guyuran hujan. Pak Rey lagi syuting sinetron?


Ana berdecak, bosnya begitu bodoh! Ngapain main hujan-hujanan seperti anak kecil. Kalo sakit kan dia juga yang repot. Ana menghampiri bosnya.


"Pak Rey." Panggil Ana.


Pria itu menoleh, Ana terdiam saat melihat mata Rey yang sembab. Meski wajahnya terkena air hujan, dia bisa melihat jika Rey tengah menangis.


Ana melangkah maju, menghampiri Rey yang terpaku di tempat.


"Pak Rey kenapa di sini?" Tanyaย  Ana.


Rey masih terdiam, namun matanya menatap lekat wajah Ana.


"Ayo, pulang." Ana meraih tangan Rey, lalu berbalik namun tiba-tiba tubuhnya tertarik ke belakang.


Rey menarik tangan Ana hingga tubuhnya menabrak dada bidang Rey. Ana jelas terkejut, bahkan ia sampai tak sengaja menjatuhkan payungnya.


"Pak Rey." Cicit Ana.


Rey tidak menyahut dia memeluk Ana dengan erat, menyembunyikan wajahnya di pundak Ana. Bahkan terdengar jelas jika pria itu semakin terisak.


Ana tertegun, bahkan ia tak peduli dengan hujan yang semakin deras. Yang jadi masalahnya kenapa jantungnya berdegup kencang, kenapa dia ikut merasa sesak melihat Rey terpuruk. Dan perasaan macam apa ini?


Bahkan tangan Ana terulur mengusap belakang kepala Rey.


"Ana ... saya lelah." Lirih Rey.


Baca sambil dengerin backsoun lagunya, biar tambah ngena ๐Ÿคง


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....๐Ÿ˜˜


Next story......๐Ÿง๐Ÿง๐Ÿง๐Ÿง


Happy Reading....๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š