It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 13



Aku di matamu layaknya embusan angin ada tapi tak terlihat


-Reynaldi Stronghold-


•••


Ana melempar jauh-jauh harapannya yang sudah pupus. Belum juga PDKT sudah gagal duluan. Ana merasa bersalah, dua kali dia menolak ajakan Sean. Dari mulai makan siang bareng dan sekarang dia tak menghargai pengorbanan pria itu yang telah menunggu lama di depan kantor.


Ana mendesis, merutuki keadaan. Ini semua gara-gara Bosnya. Diliriknya Rey yang tertidur di bangku sebelah dengan posisi kepala bersender  di bahunya. Emang gue baby sitternya apa?


Ana menggerutu di sepanjang perjalanan, namun dia tetap fokus mengemudikan mobil. Hingga mobil itu memasuki pekarangan rumah Rey.


Ana enggan membangunkan Rey. Dia masih gondok dengan tingkah bosnya tadi, yang seenak jidat mencium pipinya waktu akan masuk ke mobil. Dan sialnya itu semua dilihat Sean. Berengsek memang!


Ana menaik turunkan bahunya berharap Rey akan bangun dengan sendirinya. Ana berdecak, melirik Bosnya dengan kesal. Ini orang tidur apa mati sih?! Kaya kebo banget tidurnya.


Perempuan itu semakin kesal, dia semakin kencang menggoyangkan bahunya. Tapi tetap saja tak ada reaksi sama sekali dari Rey.


Ana menghela napas panjang, mengontrol emosi yang menumpuk di ubun-ubun. Lalu dia mencoba sekali lagi, dengan sekali hentakkan ia menggerakkan bahunya.


Dan benar saja hanya satu kali hentakkan, kepala Rey yang ada di bahunya terlempar mengenai kaca mobil.


"Uppzz ...." Ana membungkam mulutnya.


Ketika melihat kepala Rey terbentur kaca mobil. Ana yang panik pun segera keluar dari mobil. Kabur! Sebelum kena semprot kemurkaan Bos sinting!


Ana terus berlari sambil merapalkan doa berharap setelah ini Rey amnesia selamanya. Hahaha jahatnya gue! Ana mengulas senyum tipis, membayangkan pikiran konyolnya.


Sedangkan Rey yang merasakan sakit di kepala akibat terbentur pun terbangun, ia memegangi kepalanya sambil meringis.


Pria itu menyipitkan mata, menatap lurus ke depan saat melihat siluet Ana yang berlari terbirit-birit masuk ke rumah. Lihat saja Ana, kamu akan dapat hukuman.


"Aaaaawww ...." Rey turun sembari mengusap-ngusap kepalanya yang berdenyut.


•••


Ana berjalan gontai layaknya zombi sambil membawa semangkok mie, dengan mata yang mulai redup seperti bohlam lampu 5 watt.


"Ana!" Teriak Rey dari kamar.


"Iya Pak sabar!" Balas Ana tak kalah lantang.


Dia semakin gondok karena Rey terus meminta ini dan itu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.


Dan itu semua membuat Ana belum juga tertidur meski sudah selarut ini. Orang sakit apa ngidam si? Permintaanya aneh-aneh.


Ana terus menggerutu dalam hati, ketika masuk ke kamar Bosnya. Pria itu tengah menatapnya dengan datar dan sangat menyebalkan!


"Lama banget sih!!" Bentak Rey dengan muka menyebalkan!


"Emang saya Pak Tarno, bikin mienya disulap!" Jawab Ana. Dia langsung menaruh mangkok mie yang dibawanya ke nakas.


"Ana!"


Ana yang sudah berjalan ke depan pintu pun mau tidak mau berbalik, memaksakan senyumnya menatap bosnya yang super sinting itu.


"Apa lagi?"


"Suapin."


Ana langsung melotot menatap horor Rey. Gue ngantuk Pak Rey!


"Pak." Panggil Ana, masih terpaku ditempatnya.


"Hm."


Ana menghela napasnya, karena Rey hanya bergumam dan tangannya asyik bermain ponsel. Bahkan pria itu enggan menoleh pada Ana.


"Saya digaji bukan untuk ini! Saya sekretaris bukan baby sister!" Matilah kau Ana. Dia meremas piyamanya, ketika Rey menatapnya dengan dingin.


"Memang, tapi kamu pacar saya. Kamu gak lupa itukan? Dan pacar yang baik akan merawat pacarnya yang sedang sakit." Ujar Rey. Dia kembali fokus pada ponselnya.


Sakit? Serius? Mana ada orang sakit bisa main ponsel!! Wajahnya seger buger begitu. Ana memutar bola matanya, ingin sekali dia mencelupkan bosnya ke dalam kawah gunung merapi.


"Kamu gak lupa kan point no 5!" Seru Rey.


Ana benar-benar merutuki Bosnya, menyumpah serapah Rey. Seandainya pembunuhan dilegalkan, pria itulah  target pertama yang ingin Ana binasakan dari muka bumi ini.


"Ana! Saya laper. Kamu mau sampai kapan jadi manekin di situ?!"


Ana langsung mengerjapkan mata, dengan malas dia berjalan ke tepi ranjang. Tanpa bersuara sama sekali  ia langsung mengambil mangkok mie di meja nakas dan mulai menyuapkannya pada Rey.


"Aaaaaawwww ... panas!!" Rey mengibas-ngibaskan mulutnya, sedangkan Ana tengah menahan tawa. M*mpus! Sukurin, emang enak.


"Ana, tiupin. Kamu mau bikin bibir saya melepuh!" Iya.


Ana memutar bola matanya, tapi dia menurut meniupinya sebelum disodorkan ke depan mulut Rey.


"Awww ... pelan-pelan Ana!" Ribet.


Rey mendengus, memegangi bibirnya. Ana benar-benar kasar memasukkan sendok kemulutnya.


"Kamu ikhlas gak, sih?" Gak!


"Mau Bapak apa, sih?! Saya capek Pak. Bahkan saya belum tidur sama sekali! Bapak main game bisa tapi makan saja musti saya suapin!!" Dengan kesal Ana menaruh mangkok yang isinya tinggal sedikit ke meja.


Ia berdiri akan beranjak pergi. Namun lagi-lagi Rey menahan lenganya. Ana memutar bola mata lalu menoleh ke belakang.


"Apa lagi?" Ana menatap sebal Rey yang tengah menatapnya dengan wajah innocent.


"Pijitin kepala saya ... saya pusing." Pinta Rey sambil memegangi kepalanya. Bunuh orang kaya Rey gak dosa kok, pengen gue mutilasi campurin indomie soto, enak.


"Saya ngantuk Pak." Sahut Ana dengan suara paraunya.


"Pijitin kepala saya ... saya gak bisa tidur, nanti kamu bisa pergi kalo saya sudah tidur." Kata Rey sembari menepuk-nepuk tempat disisinya.


Ana pun tak bisa mengelak, mau tidak mau iya harus menurut. Dia duduk bersandar disamping Rey. Tangannya terulur memijit kepala pria itu, tangan satunya menutup mulutnya yang terus menguap.


•••


Rey terbangun karena suara jam weker yang berbunyi nyaring memenuhi kamarnya. Dia langsung mematikannya, karena tak mau mengganggu perempuan yang tengah  terlelap dalam pelukannya.


Rey tersenyum, tak sia-sia dia berbohong soal kepalanya yang pusing. Padahal ia hanya ingin Ana selalu berada disampingnya. Mungkin jika Mamanya melihat posisi mereka, wanita paruh baya itu sudah dipastikan akan terkena serangan jantung!


Rey membelai pipi mulus Ana, mengecup sekilas bibirnya.


"Kalo jinak gini kan tambah cantik." Rey terkekeh, kapan lagi dia bisa begini. Dia merasa seperti angin bagi Ana, ada tapi tak terlihat. Sehoror itukah?


Rey terus memperhatikan wajah Ana, bahkan saat tidur pun perempuan itu tetap terlihat cantik, manis dan imut. Bawaanya mau khilaf!


Hatinya menghangat melihat wajah polos Ana. Hingga terbesit sebuah ide, ide gila seorang Reynaldi. Dia sengaja membuka kancing piyama Ana. Rey bernapas lega saat mengetahui perempuan itu memakai tanktop, entahlah jika tidak. Mungkin ceritanya beda lagi.


Tiba-tiba saja Ana bergerak, merasa terusik. Rey pun langsung berpura-pura tidur. Meski matanya terpejam, namun dia bisa melihat ekspresi Ana ketika terbangun lewat celah matanya yang terbuka sedikit.


Ana mengerjapkan mata, ia merenggangkan kedua tangan. Tidurnya begitu nyaman, ia melihat jam di meja. Sudah pukul tujuh Ana langsung bangun dengan mata membulat sempurna. ****** kesiangan!


Tapi tunggu, ini bukan kamarnya. Ana menoleh dan langsung melotot saat mendapati Rey tidur disampingnya. Dan yang tak kalah horornya, kancing piyamanya sudah terlepas semua. Menampilkan tanktop warna putih susu.


"PAK REEEEEEEEEYYYYY!!" Teriak Ana, sambil memukul Rey secara membabi buta.


"Ana, apaan sih?" Rey menangkis pukulan Ana.


"Bapak jahat! Bapak mesum! BERENGSEK!!!" Umpat Ana. Dia terus membabi buta memukuli Rey. Menumpahkan semua kekesalannya.


Ceklek


Keduanya tersentak saat derit pintu berbunyi, membuat keduanya berhenti dan menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Mama!"


"Nyonya!"


Lalu keduanya saling berpandangan satu sama lain. Ya Allah cobaan apa lagi ini. Ana merutuki takdir yang tak pernah memihaknya. Bapak tolong Ana!!


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊