
Ana megap-megap, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Akibat ciuman Rey, ia hampir terkena serangan jantung. Gadis itu masih terus menormalkan gemuruh detakannya yang terasa seperti bom, siap meledak sewaktu-waktu. Benar-benar menegangkan.
Ana masih tak habis pikir dengan tindakan gila Bosnya. Pria itu membungkam bibirnya dengan ciuman panas. Bahkan sentuhan bibir Rey, mampu membuat tubuhnya tegang seketika. Darahnya berdesir memberikan sensasi menyengat di sekujur tubuh.
Tetap saja Ana bukanlah pemain handal, dia seperti ikan koi yang dilepas dari aquarium. Wajahnya masih memerah, keadaan pun mulai canggung setelahnya.
Ana hendak memaki Rey yang seenak jidat menciumnya. Namun dia urungkan ketika melihat sosok pria yang berdiri di depan mobil Rey.
Sean? M*mpus!
Jantung Ana kembali berdetak cepat, seakan kali ini nyawanya tengah di pertaruhkan. Dia menatap lekat Sean yang berjalan menuju ke arahnya. Kabur Ana!! Mana bisa b*go, emang gue punya jurusnya Naruto buat ngilang!
Mata Ana melotot, ketika Sean berdiri di samping mobil. Dia mengetuk kaca mobil sebelahnya. Apa Sean melihat semua? Pertanyaan itu terus berputar-putar di otak. Ana menerka-nerka ekspresi Sean yang sulit di artikan.
Sial!
Ana mengerjap lalu menoleh pada Rey. Memang sialan Bosnya itu. Pria itu justru membuka kaca mobil samping Ana.
"Ana." Refleks ia menoleh waktu Sean memanggilnya.
"I ... ii-iya." Jawab Ana tampak gelagapan. ****** mau ngomong apa gue!
"Punya kamu, kan?" Sean menyodorkan dompet kecil berwarna merah. Ana mengangguk lalu mengambil dompet itu.
"Makasih." Ana menundukkan kepala, terlalu malu untuk menatap Sean.
Hancur sudah harapannya, pasti pria itu sangat ilfeel. Pasalnya Ana terus menyangkal waktu Sean menanyakan perihal hubungan nya dengan Rey. Dan sialnya hari ini semua penyangkalan itu justru jadi bomerang buat Ana.
"Hai, Rey." Sapa Sean.
Rey hanya mengangguk, sama halnya seperti Ana. Dia merasa canggung seolah baru saja terciduk, setelah melakukan tindakan asusila. Walaupun Rey sama sekali tidak menyesal dan dia tahu setelah ini Ana akan semakin murka padanya.
"Sepertinya kaca mobil kamu kurang gelap." Hampir saja Ana tersedak salivanya sendiri, saat mendengar penuturan Sean. Jadi pria itu memang melihat adegan mereka barusan. Shit!!
"Atau lo bisa cari ruang tertutup. Karena di sini banyak anak kecil yang melihat." Ujar Sean.
"Pak Se ... Em, Sean ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan." Kata Ana mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Ini ...."
"Sayang."
Suara itu menginterupsi Ana, kini matanya beralih pada wanita yang berlari menghampiri Sean dan langsung memeluk pria itu dari belakang.
Sayang?
Jadi ... mereka ....
•••
Sepanjang perjalanan, Rey melirik Ana yang termenung di sebelahnya. Setelah kejadian tadi, perempuan itu berubah jadi seperti orang bisu. Padahal baru tadi dia mengoceh layaknya petasan banting yang tidak berhenti-henti.
"Ana." Panggil Rey, melirik sekilas Ana.
"Hm." Ana hanya bergumam, enggan berbicara apapun. Mood-nya ambyar seperti butiran kaldu yang hambar.
Baru kali ini dia merasakan patah hati sebelum sempat memiliki. Entah kenapa melihat Sean bersama wanita lain, rasanya seperti ada yang memberontak di hati kecilnya. Meski Ana belum yakin jika dia memang benar-benar menyukai pria itu, bukan hanya sekedar mengagumi saja.
"Kamu laper?" Tanya Rey.
Ana menggeleng lalu memalingkan wajahnya ke samping kaca.
"Gimana kalo kita makan nasi pecel, kayanya enak!" Seru Rey lagi.
Rey tak lagi bersuara, melihat Ana murung membuatnya merasa sedih dan bersalah.
Apa Ana menyukai Sean? Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas di pikirannya. Gak mungkin! Rey menggelengkan kepala menepis semua dugaan itu. Tapi terlihat jelas sorot mata Ana menampilkan kekecewaan yang mendalam.
Apa benar dia menyukai Sean?
Hingga mobil Rey memasuki pekarangan rumah, Ana masih terdiam dengan tatapan kosong. Dia masih enggan berbicara. Bahkan kali ini tanpa berucap apapun dia langsung turun begitu saja, meninggalkan Rey yang hanya bisa menatap punggung Ana yang mulai menjauh.
Apa tidak ada tempat untukku?
•••
Ana terbangun di tengah malam, merasakan perutnya yang begitu sakit. Rasanya seperti di peras dengan kuat. Perih dan juga melilit. Dia bangun, menggosok kedua matanya yang terasa berat.
Sehabis pulang dari mall Ana memang langsung tidur. Tubuhnya lelah, begitupun pikiran dan hati yang ikutan kalud. Mencoba melupakan semua kejadian tadi siang, nyatanya saat terbangun dia kembali mengingat kejadian memalukan itu.
"Arrghhh ... Sial!" Erang Ana, merutuki keadaanya.
"Awwww ...." Ana meringis menahan sakit sembari memegangi perutnya.
Dia beringsut dari ranjang, matanya melebar seketika saat melihat bercak darah di seprei.
"Pantes!" Ana mendengus.
Pantas saja emosinya menggebu-gebu, ternyata dia kedatangan tamu bulanan.
"Dasar tamu gak di undang!" Gerutu Ana. Dia berdiri menuju lemari.
Ana berdecak karena tak menyadari jika persedian pembalutnya habis. Lalu dia teringat jika siang tadi Rey membelikannya.
"Hebat sekali prediksinya." Gumam Ana.
Dia berjalan menuju pintu, mau tidak mau Ana harus keluar untuk mengambil pembalut di belanjaan tadi. Ana yakin jika Bosnya sudah tidur, karena sudah lewat jam dua belas malam.
Dia meraih knop pintu, Ana tercengang ketika dia menemukan bungkusan kresek di depan pintu. Dia segera mengambilnya.
Senyumnya terukir ketika mengetahui isi bungkusan itu yang ternyata pembalut dan kiranti.
Kiranti?
Ana berpikir sejenak, apa Rey yang membelikan ini? Dia mengedikkan bahu dan segera masuk.
Setelah selesai membersihkan diri Ana memilih turun ke dapur. Perutnya terus meraung minta jatah. Sepertinya cacing di dalam sana sudah mulai anarkis.
Ana mengambil bungkus mie instan di lemari, karena semua belanjaan sudah di rapikan oleh Rey. Ana asik mengiris cabe, hingga tak menyadari langkah kaki yang mendekat.
"Ana!"
"Eh, tongkol!!" Pekik Ana. Perempuan itu terkejut ketika bahunya di sentuh. Dia meringis ketika melihat darah mengalir dari ujung jarinya.
"Jari kamu?" Gumam Rey. Matanya melotot lalu tanpa berpikir panjang dia langsung menarik jari Ana.
Ana terkesiap, melihat Rey tanpa jijik menghisap darah yang terus mengalir dari telunjuknya.
Apa pak Rey sekarang bermetamorfosis jadi Vampir?
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊