
Matahari mulai keluar, sinarnya memasuki ruang kamar sepetak.
Kring kring, bunyi alarm terus menggema mengusik wanita yang tengah terlelap.
Wanita itu mulai menggapai-gapaikan tangan ke meja nakas, mematikan alarm lalu kembali tidur. Hari minggu, jadwal tidur seharian untuk seorang Anastasya.
Wanita lajang yang baru saja diangkat menjadi sekretaris beberapa bulan lalu, menyandang gelar karyawan paling cantik di kantornya, ST Entertaiment. Ia bekerja dari hari senin sampai sabtu, membuatnya tidak punya waktu bersantai kecuali hari minggu.
Seperti sekarang schedule–nya hanya akan tidur seharian tanpa ada gangguan dari siapapun terutama bosnya, Reynaldi stronghold.
Derrrrrt derrrrrrrttt
Baru saja ia memasuki alam mimpi, tiba-tiba ponselnya bergetar mengeluarkan bunyi lagu aserehe.
Tangannya kembali terulur menggapai-gapai meja nakas. Meraih ponsel di atas meja lalu mendekatkan ke telinga.
"Halo" Ucap Ana saat sambungan telepon tersambung. Dan detik berikutnya ia langsung terbangun dengan mata melotot, saat penelepon langsung mengoceh dengan kecepatan 160km/menit.
Astaga. Ana menepuk jidat lalu melirik jam weker menunjukkan pukul 08.00. Masih ada satu jam lagi.
"Baik pak Rey. Saya akan segera meluncur kesa–––" Ana menatap nanar layar ponselnya, saat sambungan telepon itu langsung di putus sepihak padahal ia masih berbicara.
What the hell. "Emang dia siapa??" Ana membanting ponselnya segera loncat dari kasur.
"Gak bisa apa Bos mesum itu gak ganggu wekeend gue?" Gerutunya, berjalan menuju kamar mandi.
Hanya butuh lima belas menit untuk mandi dan bersiap-siap. Karena ini bukan hari kerja atau ke kantor, maka ia tidak perlu memoleskan make-up yang memakan waktu lama, cukup pakai bedak tipis serta liptint berwarna peach sudah membuatnya terlihat menarik.
Resiko cewek cantik.
Ana berlari menuruni tangga, karena kamar kosnya berada di lantai dua.
"Pagi Ana" Sapa cowok-cowok yang tengah berkumpul di teras, Ana hanya menyempatkan senyum sekilas lalu berlari menuju gerbang.
"Gila betah dah gue nongkrong di sini tiap hari." Celetuk salah seorang.
"Gue yang bosen kalo lo ke sini terus." Balas yang lain sambil menoyor kepalanya.
•••
Ana melirik jam tangan sudah menunjukkan pukul 08.30, tetapi busway belom juga tiba. Merutuki nasib yang sial, mau tidak mau ia harus berolahraga pagi, berlari menuju apartemen Reynaldi atau hukuman menanti.
Memakan waktu cukup lama, hingga Ana sampai di gedung apartemen bosnya, ia langsung menuju lift memencet tombol 10. Ia bersandar, menormalkan napas yang memburu, mengambil tisu dari tas menyeka keringat yang bercucuran.
Pintu lift terbuka, Ana langsung berlari menuju unit apartemen Rey yang paling ujung. Memencet bel apartemen berulang kali namun tidak ada sahutan, cukup lama ia berdiri menunggu dibukakan. Ana tampak berdecak.
"Ck, lama banget sih Boss. Gak tau kaki gue pegel apa!" Gerutu Ana.
Hingga tiba-tiba saja pintu terbuka menampilkan sosok Rey, bertelanjang dada hanya mengenakan handuk sepinggang dengan rambut yang masih basah.
Astaga mata gue ternodai pak Rey. Ana mengerjap-ngerjap tampak salah tingkah saat Rey hanya berdiam diri menatapnya intens.
"Ngapain masih di situ? masuk!!" Ana mengerucutkan bibir, mendengar suara Rey yang seolah-olah siap melahap dia hidup-hidup. Galak kayak kucing olen, arghhhh.
"Bapak ngapain sih suruh saya ke sini ini kan Wekeend pak?" Keluh Ana sembari memakaikan dasi Rey. Pria itu tidak menjawab tampak fokus mengamati diri di cermin.
"Saya tampan, kan?" Celetuk Rey, membuat Ana kembali menelan kekesalannya wanita itu mendesah pelan.
Berasa ngomong sama tembok, gue tanya gak jawab malah narsis bilang tampan, tampan dari hongkong. Duh telinga gue makin ternodai.
"Kenapa?" Tanya Rey. Ana mendongak, lalu cepat-cepat memutus kontak mata saat mata mereka beradu.
"Tidak apa-apa kok, Pak." Jawab Ana, menggelengkan kepalanya.
"Pakai ini." Rey memberikan bungkusan paperbag kepada Ana.
"Apa ini Pak?" Tanya Ana saat menerimanya.
"Baju, kamu ganti gih. hari ini kamu temani saya ke acara Pak Agung." Jawab Rey yang sedang merapikan tatanan rambutnya.
"Gak ada tapi-tapian Ana, atau kamu mau saya hu––––"
"Siap Pak. Saya ganti baju dulu." Ana langsung lari terberit-birit, saat mendengar ancaman Rey. Membuat sudut bibir pria itu terangkat.
Ana merutuki diri, kenapa ia harus terjebak dalam lingkaran setan Reynaldi. Bosnya yang makin hari makin menyebalkan! Ia mendengus kesal.
"Beraninya ngancem dasar Bos mesum." Umpat Ana.
Bagaimana tidak, pertama kali bekerja dengan Rey. Ana melakukan kesalahan kecil, padahal tidak begitu fatal namun Rey tanpa babibu menghukum dengan ciuman dan merenggut ciuman pertamanya.
"Ahh ... susah banget sih." Gerutu Ana. Tiba-tiba pintu kamar mandi digedor, siapa lagi pelakunya kalo bukan Bosnya yang temperamen dan tidak sabaran.
"Ana" Panggil Rey, yang terus menggedor pintu kamar mandi.
"Bentar Pak ini susah banget, awwhh!" Pekik Ana.
Rey langsung mendobrak pintu kamar mandi, membuat Ana kian memekik dengan bola mata melebar. Astaga. Ana masih bertelanjang dada, dia tercengang melihat sosok Rey berdiri menatapnya.
Tangannya refleks menyilang ke depan menutupi bagian dada yang terekspos lalu berbalik memunggungi Rey. B*go! B*go! Ngeselin!
Rey tampak kesusahan menelan saliva, jakunnya terlihat naik turun.
"Mau aku bantu?" Tawar pria itu.
Ana terdiam dan tanpa menunggu jawabannya, Rey langsung merapatkan tubuh Ana ke dinding.
Mencium aroma strawberry favoritnya dari rambut wanita itu.
Bau tubuh Ana yang memabukkan, bahkan ia menyelusupkan wajahnya di ceruk leher Ana.
"Aaahhh ...."
"Pelan-pelan Pak." Cicit Ana.
"Saya sudah pelan-pelan Ana, tapi ini susah." Rey menaik turunkan hingga merasa begitu pegal.
"Ahhhwwhh, sesak Pak."
"Diamlah Ana, sedikit lagi." Rey terus mencoba, menaik turunkan. Hingga keringat di dahi mulai bercucuran.
"Aaahhhrghh ... Pak." Erang Ana.
Sial, ngapain ngedesah b*go. Rey tidak tahan lagi, langsung menarik paksa resletingnya ke atas .
"Aaaaawhhhh!!" Jerit Ana. Rey mengembuskan napas dengan kasar.
"Kan udah." Ucap Rey, menyentuh bahu Ana, menyingkap rambut panjangnya.
"Masih sesak Pak." Cicit Ana.
"Ohh ...." Jawaban Rey membuat Ana mendengus kesal. Hingga suara dari arah kamar Rey membuat mereka berdua perlahan menoleh bersamaan.
"Reynaldii!!"
Mata Ana membulat saat tau siapa yang berteriak senyaring itu. "Nyonya besar?!" Pekik Ana.
Mama Rey berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka dengan tampang garang.
M*mpus gue, bakal dipecat ini. Ana merutuki posisinya yang tidak mendukung.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊