It's Wrong To Marry My Secretary

It's Wrong To Marry My Secretary
Part 31



Karena usaha tak pernah mengkhianati hasil.


❤️❤️❤️❤️


"Will you marry me?"


Jantung Rey serasa mau meledak, harap-harap cemas menunggu jawaban Ana. Please, jangan gantungin lagi.


Rey merapalkan segala macam doa, berharap kali ini takdir tak lagi mempermainkannya. Hening sesaat, hingga Rey tersentak oleh sentuhan lembut di bibirnya.


Rey mengerjapkan mata tak percaya. Kenapa wanita itu selalu membuatnya tercengang. Syok mendadak kalo jantungan bagaimana? Namun rasa terkejut itu, tergantikan oleh sensasi luar biasa yang dia rasakan.


Ana menciumnya!


"Yess, i will." Bisik Ana.


Akhirnya setelah penantian panjang dengan proses berlika-liku, kini pelaminan semakin dekat di depan mata.


Rasa bahagia Rey tak mampu di tutupinya, bahkan dia langsung membawa Ana pulang menemui kedua orangtuanya.


"Menikah!"


Kedua orangtua Rey saling beradu pandang, lalu kembali menatap putranya yang duduk di hadapan mereka.


"Kamu yakin?" Tanya Papanya, tampak masih ragu.


Rey mengangguk, terlihat sangat antusias. Bahkan senyum lebar itu terus terpatri di wajahnya.


"Ana, kamu beneran mau nikah sama Rey?" Kini Mama Rey yang balik bertanya pada Ana. Memastikan jika anaknya tidak sedang menghalu.


"Iya Ma, Ana harap kalian mau merestui ...."


"Oo, ya jelas. Kita pasti merestui, jadi mau kapan? Bagaimana kalo besok? Atau sekarang saja kita langsung terbang ke Wonosobo ...."


Ana mengerjapkan mata berulang kali, Mama Rey begitu antusias. Meski ini diluar ekspetasinya, tapi Ana merasa sangat bahagia karena kedua orangtua Rey menerimanya dengan senang hati.


•••


Hal yang membuat Ana terkesan dengan keluarga Stronghold, mereka tak pernah main-main dengan ucapannya.


Buktinya kedua orang tua Rey benar-benar merealisasikan ucapannya. Mereka langsung terbang ke Yogyakarta, lalu melanjutkan naik mobil rental menuju Wonosobo.


Proses lamaran sudah berlangsung, Bapak dan Mas Yudha jelas memberi restu untuk Rey meminang Ana. Apalagi sejak awal Bapak sudah menaruh hati pada Rey, atas kepribadian pria itu yang terbilang sopan dan mudah berbaur.


"Ekhem!"


Ana berbalik saat Rey berjalan menghampirinya.


"Kamu udah siap?" Tanya Ana, dia memperhatikan penampilan Rey dari atas sampai bawah.


"Kenapa?" Rey ikut melihat penampilannnya.


"Jelek ya?" Ana menggeleng.


"Kamu rapi banget, kita kan mau ...."


"Ana, aku kan mau ketemu orang spesial. Jadi, aku harus rapi. Gimana ganteng gak?" Rey menaik turunkan kedua alis, sembari merapikan jambul depannya.


Ana menghela napas, memutar bola matanya. Dia memilih berjalan lebih dulu, dari pada menggubris kenarsisan Rey yang tak ada duanya.


"Ana, tunggu!" Rey langsung mengejar Ana, mensejajarkan langkahnya.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Ana berjongkok, diikuti Rey yang berjongkok di hadapannya.


"Assalamualaikum Bu." Lirih Ana.


"Ibu, maaf ya Ana baru nengokin." Ana menyeka air mata yang menerobos keluar tanpa bisa dicegah.


Sementara Rey sibuk mencabuti rumput di atas pusaran makam ibu Ana. Dia hanya diam, mendengarkan segala keluh kesah Ana. Membiarkan wanita itu menumpahkan isi hatinya di depan makam sang ibu.


"Oh ya bu, Ana ke sini sama ...."


"Assalamualaikum ibu." Rey langsung menyambar ucapan Ana.


"Kenalin saya Rey, calon mantu Ibu yang paling ganteng." Masih sempat-sempatnya Rey narsis.


"Saya mau minta doa restu, ibu restuin ya. Saya janji, pasti buat Ana bahagia. Saya janji buat Ana tersenyum, agar ibu bisa tenang di sana." Ana tersenyum tipis, mendengar Rey terus berbicara memohon restu pada mendiang ibunya.


Selepas hari itu, Rey memboyong keluarga Ana ke Jakarta. Kini Bapak dan Mas Yudha ikut tinggal di rumah Rey. Sementara pria itu mengungsi ke rumah orangtuanya.


Cuaca hari ini begitu cerah, Rey dan Ana sudah bersiap untuk melakukan pengambilan foto prewed.


Sedari tadi Rey tak henti-hentinya memandangi Ana. Wanita itu begitu cantik dengan dress putih yang melekat di tubuhnya.


"Satu lagi ya, sendiri sambil pegang bunga." Intruksi sang fotografer.


"Gimana?" Tanya Rey saat pemotretan selesai.


"Bagus, calon bini lo cantik. Beruntung banget lo bro." Rey tersenyum tipis menimpali fotografer yang merupakan temannya sendiri.


Rey menatap takjub foto Ana yang baru saja di ambil. Tanpa sadar sudut bibirnya membentuk garis lengkung ke atas.


"Cantik." Gumam Rey.


"Capek ya?" Tanya Rey ketika Ana berjalan lesu menghampirinya. Wanita itu mengangguk, memanyunkan bibirnya sungguh menggemaskan di mata Rey.


"Yaudah kita makan, habis itu ke butik." Ujar Rey dibalas anggukan Ana.


Keduanya pun pergi, setelah berpamitan dengan kru fotografer.


•••


Tepat hari H, prosesi pernikahan di selenggarakan di ballroom hotel bintang tujuh.


Rey gugup, dia terus menyeka keringat yang bercucuran di dahi. Jantungnya terus berdetak seolah siap meledak. Para undangan sudah memadati ruangan sejak pagi tadi, karena prosesi ijab kabul akan segera dilangsungkan.


"Gugup ya?" Ledek mas Yudha, menyenggol bahu Rey. Pria itu mengangguk dengan wajah yang sudah pucat pasi.


"Rileks, gue juga kemarin gitu. Jangan gugup nanti lo salah nyebut nama lagi." Yudha terkekeh melihat ekspresi tegang Rey.


Namun hanya sesaat, ekspresi Rey berubah saat melihat Ana dengan gaun kebaya. Matanya semakin berbinar. Astaga bidadari gue!


Dengan malu-malu Ana melangkah menghampiri Rey, duduk di sebelahnya.


"Kamu cantik." Bisik Rey.


"Jadi gak sabar mau nyetak gol ntar malem ... awww, sakit." Rey meringis mengusap bahunya yang di pukul Ana.


"Dasar mesum!" Ana mendengus.


Tak lama kedua orangtua Rey dan bapak Ana datang beserta penghulu. Meski gugup Rey tetap lancar melafalkan ijab kabul, tanpa salah sepatah kata pun.


Kini keduanya sudah sah menjadi suami istri, tangis haru para keluarga menyaksikan acara sakral keduanya. Siapa yang menyangka jika akhirnya Rey akan menikahi sekretarisnya.


"Ikhlas?" Celetuk Sean, berdiri di samping Vania. Keduanya tengah menatap ke arah pelaminan.


"Em, lo sendiri?" Vania menoleh pada Sean. Pria itu mengedikkan bahu.


"Sepertinya begitu." Kata Sean. Vania tersenyum tipis.


"Gak nyangka ya, akhirnya kita kaya gini. Tapi gue seneng kok Rey akhirnya nemuin pilihan yang tepat, setidaknya wanita itu gak bakal ninggalin Rey apapun keadaanya. Gak kaya gue dulu." Sean mengangguk, menyetujui ucapan Vania.


Keduanya berusaha ikhlas melepas perasaan masing-masing, berusaha move on meski sulit.


Acara berlangsung meriah, tak terasa memasuki sesi terakhir. Ana dan Rey berdiri memunggungi para hadirin, mereka berdua siap melemparkan bunga.


"Lempar!"


"Lempar!"


"Lempar!" Terdengar teriakan para tamu undangan yang begitu bersemangat.


"Kamu siap?" Tanya Rey dibalas Anggukan oleh Ana.


Lalu para hadirin mulai menghitung mundur, tepat saat hitungan terakhir Rey dan Ana langsung melemparkan bunga ke belakang.


Mereka heboh saling berebut menangkap bunga. Namun siapa sangka bunga itu justru jatuh ditangan Sean. Terdengar kekecawaan dari teman-teman yang lain.


"Wuah, lo musti cepetan nyusul kayanya." Rey terkekeh geli, melihat ekspresi Sean yang melongo menatap bunga ditangannya.


"Cepetan deh nikahin si Kimmi, keburu Mami lo download cucu di playstore."


"Sial!" Sean mendengus, namun Rey justru semakin menertawakannya.


Begitupun dengan yang lainnya. Acara kembali meriah saat diisi oleh Didi Kempot yang menyanyikan lagu 'pamer bojo'.


"Cendol dawet!"


"Limangatusan, gak pake ketan, yang bikin setan!" Semua orang tertawa ketika mendengar suara si cowok lekong yang ikut menyanyikan lagu, dengan lirik aransemen sendiri.


Semua orang larut dalam kebahagiaan, terutama Rey dan Ana beserta keluarga besar mereka.


Perjalanan kisah cinta mereka yang penuh drama belum usai. Karena ini merupakan awal bagi kisah cinta mereka dalam menaungi bahtera rumah tangga yang sesungguhnya.


Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘


Next story......🧐🧐🧐🧐


Happy Reading....😊😊😊😊