
Ana duduk bersebrangan dengan pria yang baru saja masuk, pertemuan yang sangat tidak disengaja dan jadi pertemuan paling canggung baginya.
"Kamu Ana kan?" Tanya pria itu, Ana mengangguk tetapi matanya tidak fokus. Ia menatap kesegala arah, merasa risih saat pria itu menatapnya dengan intens.
"Mass, mau nagih ongkos taksi kemaren, ya?" Tanya Ana membuat wajah pria itu berubah bingung.
"Ongkos?" Ucapnya, Ana mengangguk.
"Saya bayar kok mas, maaf. Sekali lagi maaf kemaren saya yang salah karena masuk begitu saja." Ucap Ana sembari menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.
Pria itu tertawa membuat Ana mengangkat kepala, menatap pria itu dengan heran. Apanya yang lucu?
"Jadi ... kamu pikir saya ke sini cuma mau nagih ongkos taksi?" Ana mengangguk.
"Kamu simpan saja." Pria itu mendorong tangan Ana.
"Saya Sean, apa Rey tidak bilang sama kamu kalo saya mau datang?" Tanya Sean, mengulurkan tangannya.
Ana tampak berpikir sejenak. M*mpus gue. Ana teringat dengan ucapan Rey sebelum pria itu pergi.
"Sean Davichi?" Tanya Ana sambil menajabat tangan pria itu dengan hati-hati. Sean mengangguk dengan senyum yang masih terukir dibibirnya.
"Oh, maafkan saya Pak Sean." Ana menundukkan kepala, merutuki dirinya yang bodoh. Lagi-lagi bersikap bodoh dan mempermalukan diri sendiri.
"Kamu lucu ya?"
"Hah?" Tolong ulangi. Ana mengangkat kepala dan mata mereka saling beradu.
"Apalagi kalo panik tambah gemesin." Sean tersenyum membuat Ana terlena dengan pesona pria itu. Tipe gue banget, calom suami masa depan.
•••
Rey tidak fokus dengan pekerjaanya, ia terus mencuri pandang pada Ana. Perempuan itu tengah senyum-senyum sendiri, membuat dia penasaran apa yang membuat mood Ana jadi sebahagia itu.
"Ekhem ...."
Rey berdehem, tetapi Ana sepertinya tidak menyadari. Membuat ia jengah sendiri.
"ANA?"
"Eh."
Ana menoleh pada Rey.
"Bapak manggil saya?" Tanyanya.
"Gak! saya manggil Soimah!!" Sarkas Rey.
"Ohh ...." Ana memalingkan wajahnya, kembali fokus dengan pekerjaannya mengecek data para model baru.
"Ana." Panggil Rey.
"Apalagi sih pak?!" Ana menatap Rey dengan sedikit kesal.
"Bapak mau saya panggilkan Soimah?" Rey mendengus, entah kenapa ia jadi gak jelas begini setiap kali bersama Ana.
"Kamu sudah ketemu Sean?" Tanya Rey, mengalihkan pembicaraan.
"Sean davichi maksud bapak?" Ana memastikan, Rey menjawabnya dengan anggukan.
"Sudah, dia juga sudah ngasih proposalnya." Jawab Ana.
"Bagaimana menurut kamu?" Tanya Rey, wanita itu menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudnya?"
"Menurut kamu Sean seperti apa?" Tanya Rey, dan dia terus memperhatikan perubahan mimik wajah Ana.
"Ganteng banget pak." Ujar Ana dengan wajah berbinar.
"Kaya Jaehyun NCT." Tambahnya.
"Oh." Rey mendengus, mendengar jawaban Ana terlihat sekali jika Rey tidak suka.
"Kalo gitu untuk pertemuan selanjutnya kamu serahkan ke Melly, biar dia yang urus." Rey kembali fokus pada laptopnya.
What?
"Tapi pak---" Ana tampak kecewa, wajahnya berubah jadi masam.
"Biar saya saja pak yang urus." Ana memohon, tetapi sepertinya mustahil bagi Rey untuk mengabulkan.
"Gak!" Jawab Rey.
Ana mengerucutkan bibir, menelan kembali kekesalannya, bossnya ini benar- benar tidak suka melihat dia bahagia. Menyebalkan!
•••
Ana merenggangkan tangan, seharian ini dia begitu letih mengerjakan pekerjaan Rey yang tidak ada habisnya. Bagaimana tidak Rey menangani dua perusahaan sekaligus, membuatnya sibuk dan Ana lah yang kena imbasnya.
Karena banyak pekerjaan Rey justru diserahkan kepadanya, walaupun itu sebanding dengan penghasilan wanita itu yang fantastis. Meski begitu orang lain berpikir itu hasil jual diri ke Rey.
"Ayo." Suara Rey menyadarkannya, Ana pun langsung bangkit. Berjalan mengikuti langkah Rey.
Sesampainya di lift keduanya pun masuk, waktu menunjukkan pukul 19.00 dan sebentar lagi jam pulang kantor.
"Apa saya masih ada jadwal pertemuan hari ini?" Tanya Rey, saat keduanya berada di lift. Ana membuka buku agenda.
"Gak ada pak." Jawab Ana.
"Bagus." Ana tidak menyahut lagi, meski ia heran apanya yang bagus. Mungkin bagus untuk Rey tetapi tidak untuknya. Mengingat itu artinya dia akan banyak waktu bersama Rey di apartemen, membayangkan saja dia sudah merinding.
Tiba-tiba saja lift berguncang membuat Ana panik dan langsung mencengkram lengan Rey.
"Pak Rey." Cicit Ana. Pria itu memegang bahu Ana menenangkannya.
Dan lift pun mati, Rey meraup wajahnya. Melirik Ana yang ketakutan.
"Kamu tenang, saya telepon teknisinya." Ana mengangguk, ia masih berpegang pada lengan Rey. Ana takut gelap.
Setelah menelepon teknisi keduanya saling diam, hingga sesuatu jatuh menimpa bahu Ana.
"Aaaaaaaaaawwww." Jerit Ana, ia langsung loncat ke Rey, membuat bosnya yang tidak siap pun akhirnya jatuh dengan posisi terjerembab ke belakang dan tertimpa tubuh Ana dalam posisi duduk diatasnya
Ana syok jelas, terlebih sesuatu di bawah sana yang entah kenapa terasa keras menyembul. Hingga lampu lift menyala kembali dan pintu terbuka.
"Maaf pak, ka---"
Ana dan Rey menoleh pada pintu lift yang terbuka dan terkejut, hingga mata Ana membulat sempurna. Saat melihat banyak orang yang menunggu di luar dengan wajah tercengang, mengingat ini sudah jam pulang kantor pantas saja.
•••
Ana masuk ke apartemen Rey, ia benar-benar kesal setengah mati. Entahlah besok akan ada setingan apalagi di kantor, mengingat hampir sebagian karyawan melihat kejadian di lift.
Ana membanting pintu kamarnya, merebahkan diri di ranjang.
"Ya Allah begini amat nasib hambamu ini." Keluh Ana.
Lalu dengan cepat ia tepis semua pikirannya.
"Gak! Gue harus semangat, demi Bapak." Ujar Ana.
Gadis itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Berharap dengan mandi mampu menghilangkan penat.
Di sisi lain Rey merebahkan diri di sofa, memijit pelipisnya yang berdenyut. Pikirannya masih berkelana pada kejadian beberapa jam yang lalu.
Bahkan adik kecilnya masih menegang hingga sekarang, hanya bersentuhan dengan Ana membuatnya terbangun. Rey meraup wajah dengan kasar, susah payah ia menepis semua pikiran kotor itu.
Hampir setahun ia menahan hasrat untuk tidak menyentuh Ana, entahlah apa yang menarik dari wanita itu. Dulu dia hanya karyawan biasa di kantor Mamanya, Rey sering memperhatikan bahkan ia sering membolos kuliah hanya untuk menguntit Ana kemanapun dia pergi.
Rey melihat Ana gadis yang berbeda saat itu, dia unik disaat gadis seusianya tengah menikmati masa remajanya seperti kuliah, hangout. Ana justru menghabiskan waktunya untuk bekerja.
"Aaaaaaaaaaa ...." Rey tersentak dari lamunannya saat suara teriakan Ana terdengar.
Pria itu langsung bangkit dan berlari ke kamar Ana. Beruntung kamarnya tidak di kunci, ia membuka pintu kamar mandi tetapi terkunci.
"Ana." Panggil Rey, sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Aaaaaaaaa ...." Terdengar jeritan Ana kembali, membuat Rey kian panik dan tanpa pikir panjang ia langsung mendobrak pintu kamar mandi.
"Pak Rey." Ana langsung menghambur ke Rey, membuat pria itu terpaku dengan pandangan terkejut. Bukan karena kecoak yang diteriaki Ana, melainkan karena tubuh polos Ana yang hanya berbalut handuk pendek. Kenapa wanita ini hobi sekali memancing jiwa mesum Rey.
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊