
Ana menundukkan kepala, kini ia duduk di ruang tamu berhadapan dengan nyonya besar Reynata stronghorld.
"Apa yang kamu pikirkan, Rey?" Pertanyaan menohok Mama Rey.
"Nyonya, ini tidak seperti yang Nyonya bayangkan ...." Ana meremas jemari di atas pahanya, tampak gugup sekaligus takut.
"Diam Ana!!" Bentak nyonya Reynata membuat nyali Ana kian ciut.
"Saya lihat kok semuanya, mata saya tidak buta." Ana bergidik ngeri mendengar suara lantang nyonya Reynata.
"Apa sih, Ma? aku cuma nolongin sih babon ini." Ana menoleh ke arah Rey yang tengah berdiri.
Babon? sebutan macam apa itu? Ana menelan mentah-mentah kegondokannya.
"Aku cuma bantuin narik resleting bajunya dan kenapa Mama musti berpikiran jorok, pasti karena Mama pikir dia sedang mendesah." Rey membuang napasnya kasar.
"Lagian kamu juga Ana ngapain mendesah?" Gerutu Rey, Ana hanya bisa menahan amarah.
Tuduhan macam apa itu? Bahkan Ana tidak meminta bantuan sama sih mesum ini, dia yang tiba-tiba masuk dan menawarkan diri bahkan Ana belom sempat menjawab iya atau tidak. menyebalkan!
"Kamu ini ngomong apa sih, Rey? desah-desah, apa? gak ngerti deh Mama," Jawab Mamanya.
"Ya, kan Mama tadi nyangka Rey sama Ana la---"
"Mama kesel karena kamu paksa Ana terus, buat pake baju kaya gitu." Potong Mamanya sambil menunjuk ke arah dada Ana, sontak saja ia menutupi dadanya.
"Baju kurang bahan begitu." Celetuk Mama Rey. Ana pun mencoba menaikkan baju bagian dada yang sedikit turun, membuat dadanya sedikit menyembul keluar, meski sesak ia susah payah menariknya ke atas.
Rey hanya mendengus, tetapi juga bernapas lega karena Mamanya tidak menuduh yang macam-macam seperti pemikirannya tadi.
"Kamu ganti pake yang ini Ana." Ana mengangguk, meraih paperbag pemberian nyonya Reynata.
"Terimakasih Nyonya." Ana tersenyum pada nyonya Reynata, wanita paru baya itu hanya mengangguk. Ana pun berlalu untuk mengganti pakaiannya, membiarkan mereka berdua di ruang tamu.
"Ingat Rey. Sekali lagi kamu memaksa Ana menggunakan baju seperti itu, Mama tidak segan-segan buat ambil kembali Ana jadi sekretaris Mama." Ancam mamanya.
"Iya ... iya." Jawab Rey, terlihat malas menanggapi.
•••
Kini mereka sedang menghadiri acara pernikahan putri pak Agung, kolega Rey.
Ana duduk di sudut ruangan, merasa bosan dengan gemerlap pesta yang cukup meriah. Tidak ada yang ia kenal, membuatnya seperti patung pancoran di sini.
"Permisi." Ana mengangkat kepala, menatap pria yang berdiri didepannya.
"Iya" Jawab Ana.
"Boleh saya duduk?" Ana mengangguk sambil mempersilahkan pria itu duduk.
"Sendiri?" Tanya pria itu.
Ana menggeleng, lalu menunjuk Rey dengan dagunya.
"Sama boss saya." Jawabnya dengan senyum tipis.
"Ohh, jadi kamu sekretaris Rey yang cantik itu? Gak heran si semua orang ngomongin kamu, karena aslinya kamu memang cantik." Ana hanya menanggapi dengan senyum canggung. Modus brekele.
“Mau dansa?” Ogah
Ana menggeleng, tetapi pria itu terus memaksa.
"Ayolah sekali-kali. kita have fun, bos kamu juga lagi sibuk tuh." Ana melirik Rey, benar saja si kadal gurun itu sedang menyapa para selebritas daun muda. Dasar genit.
"Aku bisa jadikan kamu seperti mereka, asal kamu–––"
"Jangan kurang ajar ya, Pak." Potong Ana saat tangan pria itu dengan lancang mencolek dagunya.
"Gak usah jual mahal, saya tau kok kamu itu SEKRETARIS ++ ...."
Byurrrrr
Ana menyiramkan minuman ke wajah pria itu, sontak saja itu menimbulkan keributan. Sehingga semua orang kini menatap Ana dengan saling berbisik membicarakannya.
"Ini baru sirup Pak, anda bisa bayangkan kalo ini air keras." Bisa hancur aset lo. Ana mendecit, muak dengan pria di hadapannya. Ia segera pergi dari sana.
Ia berlari keluar ball room menuju toilet. Wanita itu masuk ke salah satu bilik lalu menguncinya. Ana menangis sesenggukan, menutupi wajah dengan kedua tangan.
Bahkan gue masih perawan. "Jadi sekretaris Rey, menuntut gue harus jadi multitalent tapi pak Rey tidak pernah menyuruh gue buat muasin nafsu dia, lalu kenapa mereka sekotor itu berspekulasi tentang gue."
•••
Ana keluar dari gedung, acara sepertinya sudah selesai. Ia cukup lama berdiam diri di toilet, ia juga sengaja mematikan ponsel. Cukup lelah hari ini, jadi tidak ingin ada yang mengganggu. Ia berjalan di sepanjang trotoar sambil menenteng high heelsnya.
"Apa gue resign aja ya? Ck." Gumam Ana, "Terus gue nganggur dong." Jadi gelandangan? Ana tampak merenungi nasib yang begitu malang.
Tiiiin tiinnn
Ana terlonjak mundur, saat sebuah mobil berhenti di depannya memblokir jalan. Pemilik mobil itu menurunkan kaca mobil bagian depan.
"Pak Rey!" Pekik Ana.
"Masuk!" Ana menggeleng.
"Anastasya, MASUK!!" Ana tetap menggeleng, ia hendak mundur berjalan kesamping. Tetapi Rey langsung turun dengan cepat menahan lengannya.
"Kalo saya bilang masuk ya ... masuk!" Hardik Rey menarik lengan Ana, mendorong tubuh Ana agar masuk mobil.
"Pak lepas, saya bisa pulang sendiri." Rey hanya berdecak. Ia masuk duduk di bangku pengemudi, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Pak pelan-pelan." Cicit Ana. Saat mobil Rey melaju dengan kencang, bahkan rasanya melebihi naik rollercoaster. Gue masih mau hidup, belom kawin.
"Pak, ini bukan jalan ke kos-kosan saya." Ujar Ana, menatap jalannan yang dilewatinya.
"Diam!!!" Ana pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, pria itu terlihat sangat murka. Malem jumat ya? Kok horor gini, padahal malam senin.
Keduanya saling diam, tampak Ana sesekali menggigiti bibir bawah, ia terlihat ketakutan. Hingga akhirnya mobil Rey memasuki parkiran sebuah rumah, Ana tahu ini rumah Rey walaupun jarang di tempati oleh pria itu.
"Pak" Panggil Ana saat turun dari mobil, Rey tidak menjawab ia membanting pintu mobil dan berjalan masuk rumah.
"Ngapain bawa gue ke sini? kalo cuma jadi manekin doang." gerutu Ana saat diacuhkan oleh Rey. Ia pun mengikuti langkah pria itu masuk rumah.
"Pak Rey." Panggil Ana saat pria itu sedang merebahkan diri di sofa dengan mata terpejam dan tangan memijit pangkal hidungnya.
"Saya ...." Ana tampak ragu, tapi ia harus pulang.
"Masakin saya. Saya lapar gara-gara kamu saya belom sempat makan." Rey berdiri lalu pergi meninggalkan Ana yang melongo.
"Gue ini sekretaris apa pembantu sih?" Gerutu Ana menoleh ke Rey yang sudah hilang di undakan tangga teratas.
"Boss bangke!" Umpat Ana, meniup poninya lalu bergegas berjalan ke dapur.
"Masak apa coba?" Gumam Ana, saat membuka kulkas dan tidak ada apapun kecuali telur dan sayur kol. Ya kali masak sayur kol?
"Bikin okonomiyaki aja." Ujar Ana, lalu mengambil kol dantelur di kulkas. Ia menambahkan tepung, mencampur semua jadi satu adonan lalu menggorengnya.
Tidak butuh waktu lama ia pun selesai memasak. Ia tengah menyajikan okonomiyaki ke piring, saat tangan kekar itu menyelinap diperutnya. Membuat Ana terkejut dan hampir menjatuhkan penggorengan, jika saja tangan kokoh itu tidak sigap menangkap.
"Pak Rey!" Pekik Ana, saat ia merasakan tangan Rey melilit perutnya dari belakang di tambah deru napas pria itu membuat bulu kuduk Ana merinding. Horor kaya malam jumat kliwon.
"Pak" Panggil Ana.
"Diam!!" Bentak Rey, saat gadis itu meronta, mencoba melepaskan pelukan Rey. Ana pun diam, ia hanya bisa mendesah pelan dan pasrah. Selalu begitu tidak mampu melawan jika bukan karena prjanjian itu. Laknat memang.
"Besok kita ke KUA."
"HAH!" Ana berbalik menatap wajah Rey yang datar. Ngapain ke kua? Balikin peci penghulu?.
"Siapa yang mau nikah Pak? Bapak mau nikah?" Rey mengangguk, posisi mereka masih berpelukan dan saling berhadapan. Tangan Rey menahan punggung Ana.
"Sama siapa?"
"Kamulah, siapa lagi?" What the hell.
"Apa?" Mata Ana membulat seperti bola pimpong, mulutnya menganga tidak percaya. Bosnya mulai gila!!
Hii reader's...... Jangan lupa Like and vote nya yah.....😘
Next story......🧐🧐🧐🧐
Happy Reading....😊😊😊😊