
Seorang pria keluar dari kamar mandi sambil bersiul senang. Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menyisirnya, Ansel mengambil setelan kemeja terbaiknya. Entah kenapa hari ini dia merasa ingin terlihat sangat rapi karena ada Clara yang akan menyambutnya. Suasana hati Ansel sangat bagus pagi ini sebab kini dia tidak perlu menahan rindu setiap kali dia ingin bertemu dengan Clara. Ya, setidaknya hal itulah yang ada di pikiran Ansel saat ini.
Ansel memeriksa penampilannya sekali lagi. Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, Ansel lalu keluar dari kamarnya. Pria itu melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Aroma makanan membuat Ansel tak sabar untuk segera sarapan bersama dengan Clara.
“Selamat pagi, Ansel. Kamu mau makan nasi goreng atau roti panggang?” tanya Delia yang sudah siap untuk menyiapkan sarapan untuk Ansel.
“Nasi goreng saja. Tadi aku meminta Bibi untuk membuat nasi goreng spesial untuk menyambut Clara,” ucap Ansel lalu menoleh ke arah salah satu pelayan yang tengah meletakkan nasi goreng di atas meja. “Bi, tolong panggil Clara supaya kita bisa sarapan bersama.”
Delia menelengkan kepalanya bingung. “Clara sudah pergi, Ansel. Bukankah dia sudah berpamitan dengan kamu?” tanya Delia.
“Pergi?” Ansel terkesiap lalu menatap Delia dengan bingung.
“Iya. Dia bilang dia ingin tinggal di rumah orang tuanya. Katanya juga dia sudah berpamitan kepada kamu tadi malam. Memangnya kamu tidak ingat?” tanya Delia.
Ansel merasa terkejut dengan ucapan Delia. Namun, pria itu bersikap tenang sebab dia tidak ingin Delia curiga dengan sikapnya.
“Ah, iya aku baru ingat kalau tadi malam Clara sudah berpamitan,” balas Ansel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mengetahui jika Clara pergi dari rumahnya tanpa pamit, selera makan Ansel tiba-tiba raib begitu saja. Pria itu pun kemudian kembali berdiri.
“Delia, maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan pagi ini,” ucap Ansel sambil mengetuk-ngetuk arlojinya. “Aku baru ingat kalau aku harus menyiapkan materi untuk rapat pagi ini. Aku berangkat bekerja dulu.”
Ansel langsung pergi begitu saja, meninggalkan Delia yang kebingungan di tempatnya karena sikap aneh yang ditunjukkan oleh Ansel. Tanpa mengindahkan panggilan dari Delia, pria itu langsung naik ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju ke kantor.
“Clara ... Clara ... Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu saat ini?” tanya Ansel bingung.
Bukannya memperbaiki hubungan mereka, sepertinya hubungan mereka justru semakin renggang. Waktu empat tahun seolah tak cukup untuk membuat mereka merindukan satu sama lain. Atau lebih tepatnya ... Waktu empat tahun belum cukup untuk membuat Clara dan Ansel berdamai dengan masa lalu dan juga perasaan mereka.
“Dasar gadis labil. Ternyata sifatmu masih saja kekanak-kanakan seperti dulu, Clara,” ujar Ansel, merutuki sikap Clara yang menurutnya sangat bodoh itu.
Pria itu yakin seratus persen jika Clara sebentar lagi akan menyesali keputusannya. Ansel juga yakin kalau Clara akan kembali menemuinya dan meminta maaf karena sudah mengambil keputusan seenaknya.
“Aku yakin kalau kamu tidak akan bisa hidup tanpa aku, Clara,” gumam Ansel lagi.
Pria itu lupa kalau selama empat tahun ini, Clara sudah tidak pernah bergantung padanya. Jadi, kemungkinan kalau Clara tidak akan bisa hidup tanpa Ansel sangatlah kecil. Tanpa Ansel sadari, Clara yang sekarang bukanlah Clara yang dulu. Sebab Clara yang sekarang jauh lebih kuat dan mandiri.
Di sisi lain ....
Clara baru saja tiba di kediaman lama orang tuanya. Meski sudah belasan tahun tidak ditinggali, rumah itu tetap bersih dan rapi sebab dari dulu Ansel memperkerjakan beberapa pelayan untuk selalu menjaga dan merawat rumah orang tua Clara.
Kedatangan Clara disambut oleh seorang pelayan berusia paruh baya.
“Selamat datang, Nona Clara. Apakah Nona akan tinggal di rumah ini?” tanya pelayan tersebut saat dia melihat koper yang baru saja diturunkan Clara dari bagasi mobil.
“Iya. Mulai sekarang aku akan tinggal di rumah ini. Apakah Bibi yang biasa mengurus rumah ini?” Clara balik bertanya.
“Iya, Nona. Mari, masuk. Aku akan menyiapkan sarapan untuk Nona sementara Nona bisa beristirahat dulu,” ucap pelayan tersebut kemudian membantu Clara membawa koper ke dalam rumah.