I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 38



Dugaan Ansel benar, saat ia sudah berangkat kerja dan baru saja tiba di kantornya satu jam yang lalu, mendadak Clara meneleponnya. Di rumah, Clara merasakan perutnya yang sakit bukan main, bahkan asisten rumah tangganya bingung harus berbuat apa.


"Ansel!" teriak Clara sambil menangis melalui sambungan telepon.


"Astaga, Clara! Kamu kenapa?" tanya Ansel panik.


"Perutku sakit sekali, aku sudah tidak tahan," sahut Clara sambil meringis kesakitan.


"Apakah kamu mau melahirkan?" tanya Ansel.


"Aku tidak tahu, cepatlah pulang sekarang juga!" jawab Clara dan tiba-tiba sambungan telepon terputus.


Tanpa menunggu lama, Ansel segera menuju ke parkiran dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan, Ansel tak bisa tenang karena khawatir dengan kondisi Clara. Dalam hati ia terus berdoa semoga Clara baik-baik saja.


Clara tak bisa menahan rasa sakit di perutnya yang memang sudah membesar. Asisten rumah tangganya berulang kali berusaha membantunya dengan harapan bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya, namun Clara tak bisa lagi menahannya. Ia terus memanggil nama Ansel, berharap pria itu segera tiba.


"Nyonya, tarik nafas dan hembuskan perlahan, setidaknya itu bisa mengurangi rasa sakitnya," ucap asisten rumah tangganya sambil mengelus perut Clara.


"Aku tidak tahan lagi, ini sakit sekali," sahut Clara sambil menangis.


"Tahan sebentar Nyonya, Tuan Ansel sedang perjalanan kemari," tutur asisten rumah tangganya.


Sementara itu di jalan, Ansel justru tiba-tiba terjebak macet karena ada perbaikan jalan. Hal itu semakin membuat Ansel gusar. Mendadak suara dering ponselnya menyadarkan Ansel dari rasa paniknya. Rupanya itu telepon dari Mira yang ingin memastikan apakah benar Clara akan melahirkan.


Kring…Kring…Kring….


"Halo, Mira," ucap Ansel dengan nada panik.


"Ansel, apakah benar Clara akan melahirkan? Barusan ia meneleponku sambil menangis kesakitan, apakah kamu sudah membawa ia ke rumah sakit?" tanya Mira dengan nada khawatir.


"Aku sedang perjalanan menuju ke rumah karena Clara baru saja mengabari jika mengalami kontraksi saat aku baru tiba di kantor, dan yang jadi masalah sekarang adalah aku terjebak macet di jalan," jawab Ansel.


"Astaga, apakah kamu tidak bisa mencari jalan pintas? Aku khawatir dengan Clara. Sekarang aku dan Ridwan sedang perjalanan menuju ke kotamu," ucap Mira.


"Baiklah nanti akan aku beri kabar alamat rumah sakit bersalin untuk Clara, sekarang aku harus buru-buru menemukan jalan pintas untuk tiba di rumah," sahut Ansel kemudian mematikan ponselnya dan kembali fokus menyetir.


Ansel akhirnya berusaha mencari jalan pintas dengan melewati gang-gang sempit. Sementara itu Mira dan Ridwan sedang perjalanan menyusul mereka.


Suasana panik terasa juga di dalam mobil Mira dan Ridwan. Mereka khawatir dengan keadaan Clara. Mira meminta Ridwan untuk memotong jalan agar tiba lebih cepat ke kota mereka, karena jujur saja Mira sudah berjanji jika Clara melahirkan, ia akan ikut menemani.


"Adakah jalan pintas yang lebih cepat membawa kita kesana?" tanya Mira panik.


"Akses tercepat hanya melewati jalan tol, itupun kita hanya bisa menghemat waktu selama dua jam," sahut Ridwan.


"Astaga, aku sangat khawatir dengan Clara," gumam Mira.


"Tenang saja, aku yakin Ansel bisa mengatasi semuanya," ucap Ridwan berusaha untuk menenangkan Mira.


Setelah berhasil melewati gang-gang sempit untuk mencari jalan pintas, akhirnya Ansel berhasil tiba di rumahnya tepat waktu. Ia segera berlari menghampiri Clara yang sudah terbaring sambil kesakitan di atas tempat tidurnya.


"Astaga, Clara ayo kita ke rumah sakit sekarang," ucap Ansel.


"Sakit sekali, aku sudah tidak sanggup," sahut Clara merintih kesakitan.


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Ansel di bantu oleh beberapa pelayan di rumahnya segera membawa Clara ke rumah sakit terdekat. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di rumah itu. Namun rupanya apa yang rasakan Clara adalah kontraksi awal dan dokter memprediksi Clara baru akan melahirkan sore ini.


"Apakah tidak bisa di percepat, Dok? Aku tidak tega melihat istriku seperti itu," tanya Ansel panik.


"Bisa, namun harus melalui operasi ceasar? Apakah Anda dan istri bersedia?" tanya Dokter.


" Sayang, apa kamu yakin tidak ingin melahirkan secara caesar?" tanya Ansel.


"Tidak, ini momen pertamaku dan aku ingin melahirkan secara normal," sahut Clara.


Akhirnya Ansel menuruti saja permintaan Clara. Satu jam kemudian, Mira dan Ridwan tiba di rumah sakit. Mereka melihat Ansel yang masih berjalan mondar-mandir di depan lorong kamar Clara. Mereka berdua segera menghampiri dan menanyakan bagaimana keadaan Clara.


"Ansel, bagaimana keadaan Clara?" tanya Mira.


"Dia baru akan melahirkan sore nanti," sahut Ansel.


Akhirnya saat yang ditunggu telah tiba. Clara melahirkan secara normal ditemani oleh Ansel di dalam ruang bersalin, sementara Mira dan Ridwan menunggu di luar. Terdengar suara tangis dan rintihan suara Clara hingga ke luar ruangan, membuat Mira dan Ridwan semakin tegang.


Hingga akhirnya tak berselang lama, samar-samar terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin. Mira dan Ridwan saling tatap.


"Bayinya sudah lahir," ucap Ridwan.


Dokter dan perawat kemudian keluar dari ruang bersalin, Mira dan Ridwan diperbolehkan untuk masuk melihat keadaan Clara dan bayinya.


"Syukurlah, semua berjalan dengan lancar, bagaimana keadaanmu?" tanya Mira.


"Aku masih merasa lemas, tapi tak apa-apa mungkin aku harus banyak makan setelah ini," jawab Clara sambil menggendong bayi mungil.


"Lalu akan kalian beri nama siapa bayi yang cantik ini?" tanya Ridwan.


"Tenang, kami berdua sudah lama menyiapkan nama untuk bayi ini," sahut Ansel.


Clara melahirkan bayinya dengan selamat. Ia dan Ansel memberikan nama anaknya Rachel Mauren. Ridwan dan Mira ikut bahagia melihat kehadiran bayi mungil di tengah keluarga Ansel dan Clara. Tiga hari setelah menjalani rawat inap untuk pemulihan pasca melahirkan di rumah sakit, Clara akhirnya diperbolehkan untuk pulang.


"Selamat datang, Nyonya," sambut para pelayan di rumah yang sudah menyiapkan perayaan kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan Clara dan Baby Rachel.


"Wah, kalian repot-repot membuat perayaan seperti ini," ujar Clara terpukau.


"Tidak, Sayang. Semua ini aku, Ridwan dan Mira yang menyiapkan. Kita tak ingin kehadiran Baby Rachel di rumah ini hanya disambut dengan hal-hal yang biasa saja," ucap Ansel.


Selama tiga hari Mira dan Ridwan menginap di tempat Ansel. Sebenarnya Mira masih ingin berlama-lama di sini, namun pekerjaan kantor sudah menantinya. Akhirnya ia dan Ridwan harus segera pulang.


***


Tak terasa satu tahun berlalu, Baby Rachel semakin hari tumbuh besar dan menggemaskan. Clara menjalani hari-harinya sebagai istri dan ibu baru dengan penuh antusias. Suatu sore Ansel dan Clara duduk di halaman rumah sambil mengawasi Rachel yang sudah mulai belajar merangkak.


"Lihatlah, Rachel tumbuh begitu cepat," ucap Clara.


"Kamu benar, apakah sudah saatnya kita memberi dia adik?" tanya Ansel yang sontak membuat Clara terkejut.


"Apa? Tidak! Aku belum siap untuk mengurus dua anak yang masih bayi, Ansel," jawab Clara menolak mentah-mentah.


"Hahaha… Aku hanya bergurau, Sayang," tutur Ansel menggoda.


Semburat sinar mentari senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat membuat suasana sore ini terasa hangat. Ansel sempat menanyakan apakan setelah punya anak mereka akan kembali ke kota asal. Namun, mereka memilih hidup menetap di tempat baru tersebut.


"Aku sudah bahagia di sini, Ansel," tutur Clara.


"Baiklah jika memang itu maumu," sahut Ansel.


Ansel dan Clara hidup bahagia di kota ini. Meluapkan dan mengubur dalam-dalam semua kisah masa lalu mereka. Yang ada saat ini di pandangan mereka adalah harapan untuk masa depan mereka yang lebih baik.


TAMAT