I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 21



Clara seketika terdiam, ia bingung bagaimana menanggapinya. Ia merasa kasihan dengan Ansel namun di satu sisi ia juga masih merasa canggung dengan apa yang terjadi semalam. Clara memutar tubuhnya dan kini matanya saling bertatapan dengan Ansel.


"Aku mohon tinggal di sini bersamaku," ujar Ansel dengan tatapan mata penuh harap.


"Kenapa harus aku?" tanya Clara.


"Karena kamu mampu membuat hatiku menjadi tenang dan damai," sahut Ansel sambil tersenyum.


Clara menghela nafas panjang, seketika rentetan adegan semalam di ranjang berputar kembali di kepalanya. Ia menatap dalam-dalam mata Ansel dan entah kenapa jantungnya kini berdegup semakin kencang.


"Pipimu terlihat memerah," ujar Ansel yang membuat Clara menjadi semakin salah tingkah.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," sahut Clara.


"Apa itu?" tanya Ansel.


"Apakah kamu sadar dengan apa yang terjadi semalam?" ucap Clara ragu-ragu.


Ansel tertawa kecil dan Clara dibuat bingung dengan tingkahnya. Terlihat jelas raut wajah Ansel lebih sumringah dari biasanya. Bukannya menjawab pertanyaan Clara, Ansel justru mendekatkan tubuhnya pada Clara.


"Jawab pertanyaanku," tutur Clara.


"Ya aku mengingat dengan sangat rinci setiap hal yang terjadi semalam dan aku tidak menyesal sama sekali karena aku sangat mencintaimu, Clara," sahut Ansel sambil membelai rambut Clara.


Seketika Clara bungkam antara senang dan takut. Jantungnya berdegup semakin kencang kala Ansel tiba-tiba mengecup bibirnya. Ansel lalu tertawa kecil melihat wajah Clara yang semakin memerah seperti kepiting rebus.


"Kenapa Paman tiba-tiba menciumku!" ujar Clara terkejut.


"Karena aku mencintaimu," sahut Ansel membuatnya jelas terkejut.


Clara lalu melepas pelukan tangan Ansel dari tubuhnya. Ia mundur perlahan dengan tujuan menjaga jarak dari Ansel. Clara tetap teguh pada pendiriannya untuk pulang dan tak tinggal bersama Ansel.


"Clara, apakah kamu benar-benar tak ingin tinggal di sini lagi seperti dulu? Aku mohon rumah ini terasa begitu sepi dan itu semakin membuatku frustasi, jadi tinggal saja kembali bersamaku di sini," ujar Ansel yang masih bersikukuh memohon pada Clara.


Clara sontak menghentikan langkahnya, hatinya berkecamuk dan ia tak menjawab ucapan Ansel. Clara heran dengan Ansel, bahkan selepas kejadian semalam, Ansel justru bertingkah biasa saja seperti tak pernah terjadi apapun.


"Apa kamu marah karena kejadian semalam?" tanya Ansel.


"Tentu saja," tegas Clara sambil menoleh ke arah Ansel.


"Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan semalam, kamu bahkan menikmatinya, lantas kenapa tiba-tiba kamu menjadi seperti ini," sahut Ansel.


"Berhenti mengatakan jika aku menikmatinya! kamu tak benar-benar paham dengan apa yang terjadi semalam karena kamu dalam keadaan mabuk!" tukas Clara.


"Aku paham karena aku masih dalam keadaan sadar," timpal Ansel.


"Tidak! Semalam Paman mabuk berat dan kita tak sepenuhnya sadar dengan apa yang kita lakukan!" celetuk Clara yang terus berusaha mengelak dari kenyataan yang ada.


Entah kenapa Clara mendadak menyesali apa yang ia lakukan semalam. Hatinya sakit karena ia merasa di permainkan oleh Ansel. Selama ini Clara mengira jika Ansel telah terikat hubungan dengan Delia dan tak pernah benar-benar mencintainya.


"Tidak! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi semalam. Aku justru senang dan akan selalu mengingatnya," jawab Ansel.


"Terserah apa katamu Paman, aku sudah tidak ingin membahas hal ini lagi," ujar Clara kemudian berlalu meninggalkan Ansel.


Ansel menarik tangan Clara dan mendekap tubuhnya kembali. Tak terasa air mata Clara menetes membasahi pipinya. Semakin ia menangis, semakin Ansel mendekapnya dengan erat.


"Aku mohon jangan pergi, Clara," pinta Ansel.


Clara terus berusaha melepaskan pelukan Ansel, tapi Ansel tetap memeluknya. Ansel berusaha untuk menenangkan Clara. Tapi tetap saja Clara terus memberontak.


"Lepaskan aku, Paman! Atau aku akan berteriak!" kata Clara.


"Berteriak lah sepuasmu, karena tak ada satu orangpun yang bisa mendengar suaramu dari dalam sini," sahut Ansel.


Bertahun lamanya Clara merasa terabaikan oleh Ansel. Bahkan pria itu sampai mengirimnya kuliah di luar negeri. Lalu kini tiba-tiba Ansel mengatakan bahwa ia mencintainya saat Clara sedang berusaha melupakan semua perasaannya terhadap Ansel.


"Lepaskan aku, Paman. Aku ingin pulang, aku lelah dan ingin istirahat, ucap Clara dengan sendu.


"Kau ingin pulang kemana, ini adalah rumahmu," tegas Ansel.


"Tolong Paman, jangan siksa aku dengan perasaan seperti ini," tutur Clara.


Ansel dapat merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Clara dari nada suaranya. Akhirnya Ansel melepaskan pelukannya dan membiarkan Clara menjadi sedikit lebih tenang. Tangan Ansel memegang bahu Clara untuk menenangkannya.


"Apa kamu sudah tidak lagi menyukaiku?" tanya Ansel.


"Aku… Sudah melupakan semua perasaanku terhadap Paman," sahut Clara berusaha menutupi perasaan yang sesungguhnya.


"Katakan yang sejujurnya, Clara," tutur Ansel.


Clara menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia tak lagi mencintai Ansel. Melihat sikap Clara, membuat Ansel meminta maaf atas sikapnya selama ini yang mengacuhkan perasaan Clara. Ansel bahkan menyesal dengan keputusannya pernah mengirim Clara untuk kuliah di luar negeri.


"Aku minta maaf jika selama ini perbuatanku membuat merasa terbuang, tapi sungguh aku melakukan ini semua demi untuk kebaikanmu," ujar Ansel.


"Dengan cara membuangku untuk kuliah di luar negeri agar Paman bisa menjalin hubungan dengan Delia?" tanya Clara.


"Kau salah paham dengan itu semua, Clara," ucap Ansel berusaha menjelaskan.


Clara terlanjur muak dengan semua ucapan Ansel. Dia memilih diam ketika Ansel terus berusaha membela dirinya di depan Clara. Sebenarnya Ansel berkencan dengan Delia karena terpaksa.


"Aku tak pernah punya perasaan sedikitpun pada Delia," celetuk Ansel.


"Bohong! Aku tak percaya lagi dengan ucapan Paman," jawab Clara.


"Aku sudah menjelaskannya padamu. Aku melakukan semua itu bukan karena aku tak mencintaimu, Clara. Tapi justru karena aku ingin membuat dirimu bahagia, ini semua tak seburuk yang kamu kira," ucap Ansel berusaha meyakinkan Clara.


"Apa maksudnya?" tanya Clara heran.