
“Clara ....”
Ansel hendak berjalan mendekati Clara, namun Clara meminta Ansel untuk berhenti. “Jangan mendekatiku, Om. Bukankah ini yang Om inginkan dari dulu? Supaya aku melupakan perasaanku untuk Om? Sekarang aku telah melakukannya. Apa lagi yang Om inginkan?” balas Clara sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Ansel membuka bibirnya, hendak mengatakan sesuatu, namun mengurungkan niatnya. Pria itu lantas membalik badannya dan pergi begitu saja dari ruang kerja Clara.
Pertanyaan Clara betul-betul menusuk hati Ansel. Ansel sendiri pun tak mengerti kenapa dia bisa merasa sangat kehilangan Clara padahal dia sendiri yang dari awal meminta Clara untuk melupakannya dan menjauh darinya.
Sementara itu, setelah Ansel pergi, Clara menyibak tirai jendela ruang kerjanya. Gadis itu memerhatikan Ansel hingga Ansel masuk ke dalam mobilnya. Begitu mobil Ansel meninggalkan area perkebunan, air mata Clara jatuh di pipinya.
Clara menutup bibirnya dengan telapak tangan, berusaha untuk menahan isak tangisnya yang hendak keluar. Gadis itu menangis dalam diam, tidak mau orang lain mendengarnya menangis.
Ia tidak menangis karena menyesali keputusannya atau ucapannya. Akan tetapi, dia menangisi kebodohannya. Ia juga menangisi keadaan yang mengekangnya. Mencintai Ansel adalah sebuah kebodohan terbesar yang pernah dia lakukan. Karena jika dia tidak pernah jatuh cinta pada Ansel ... mungkin dia tidak akan pernah merasakan rasa sakit seperti apa yang dia rasakan saat ini.
“Tidak, tidak! Aku tidak boleh menangisi Om Ansel,” ucap Clara sambil mengusap air matanya. Gadis itu mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang hendak jatuh lagi. “Aku harus bisa melupakan Om Ansel.”
Clara menarik napas dalam-dalam, kemudian perlahan menghembuskannya dari bibir. Ia pun berjalan menuju ke kursi kebanggaannya, lalu duduk di sana.
“Sekarang, aku harus kembali fokus pada pekerjaanku supaya aku tidak memikirkan Om Ansel lagi. Lagi pula, Om Ansel sudah memiliki pacar. Tidak seharusnya aku mencintai dia,” gumam Clara.
Ia pun membuka dokumen-dokumen yang ada di mejanya, berusaha mengalihkan pikirannya dari Ansel. Meskipun demikian, pikirannya tetap saja berkelana ke sana dan ke mari, memikirkan tentang percakapan mereka tadi.
*****
Di sisi lain ....
Di tengah perjalanan menuju ke rumahnya, Ansel menepikan mobilnya di pinggir jalanan yang tidak terlalu ramai. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih kemudian memukul kemudi mobilnya dengan keras.
“Argh!!”
Ansel berteriak marah sambil terus memukul-mukul kemudi mobilnya. Pria itu marah pada keadaan dan takdir yang seolah ingin mempermainkannya. Ia marah sebab apa yang terjadi padanya kali ini membuatnya tak bisa bernapas. Pria tersebut merasa seolah takdir sedang berusaha menekannya hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali.
“Kenapa aku harus jatuh cinta dengan Clara?!” teriaknya kesal.
Ansel marah pada dirinya sendiri karena sudah dengan bodoh jatuh cinta pada keponakannya sendiri. Meskipun benar jika Clara bukanlah keponakan kandungnya, Ansel tetap merasa jika perasaannya untuk Clara adalah sesuatu yang tidak benar.
Drtt ... Drtt ....
Suara dering ponsel membuat konsentrasi Ansel buyar. Pria itu mengusap wajahnya dengan gusar kemudian meraih ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
“Halo?”
“Halo, Ansel. Kamu ada di mana sekarang?” tanya Ridwan.
“Aku sedang ....” Ansel menghentikan kalimatnya sejenak. Apakah dia harus bercerita dengan jujur kepada Ridwan kalau tadi dia pergi menemui Clara?
“Sedang apa?”
“Aku sedang di jalan,” jawab Ansel asal.
“Memangnya kamu dari mana?”
Ansel berdecap. “Ada apa?” tanyanya, mengabaikan pertanyaan Ridwan.
“Barusan aku mencarimu di ruang kerjamu tapi kamu tidak ada. Satu jam lagi ada rapat dengan salah satu klien dan aku butuh untuk membicarakan beberapa hal kepadamu,” jelas Ridwan.
“Ridwan, aku sepertinya tidak bisa menghadiri rapat nanti. Kamu tahu sendiri, ‘kan, tadi saja aku tidak bisa konsentrasi sama sekali. Aku minta tolong supaya kamu handle dulu rapat nanti. Apakah kamu bisa?” balas Ansel.
Ansel yakin sekali jika dia tidak akan bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya saat ini. Apalagi, setelah apa yang terjadi dengan dirinya dan Clara.
“Baiklah, aku mengerti. Kamu tenangkan diri dulu saja. Masalah pekerjaan bisa kamu pikirkan nanti. Setelah selesai rapat, aku akan langsung mengirimkan laporannya kepadamu,” jawab Ridwan setuju.
Ansel tersenyum tipis. Dia senang sebab Ridwan adalah sahabat paling pengertian yang pernah dia dapatkan.
“Terima kasih, Ridwan.”
“Sama-sama. Ya sudah, kalau begitu aku akan mempersiapkan materi rapat dulu,” ucap Riwan lalu mematikan sambungan telepon mereka.