
Ansel tersenyum simpul sambil masih mengelus kepala Clara. Ia melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ansel menyadari mungkin Clara masih lelah akibat pergumulan mereka semalam, jadi ia membiarkan saja Clara untuk tetap tidur di kamarnya.
"kamu bahkan terlihat sangat cantik saat sedang tertidur seperti ini," gumam Ansel.
Akhirnya Ansel memindahkan Clara dari sofa ke tempat tidurnya. Ia menyelimuti tubuh Clara lalu mengecup keningnya sebelum ia keluar dari kamar.
Seperti biasanya, setelah bangun pagi Ansel selalu menyempatkan diri untuk melatih otot-ototnya. Ia menghabiskan satu jam waktunya untuk berada di ruang gym miliknya. Namun entah mengapa pikirannya selalu tertuju pada Clara.
"Astaga, aku ingat dengan apa yang terjadi semalam. Aku benar-benar tidur dengannya," ucap Ansel dalam hati, mendadak senyum simpul terukir di wajahnya.
Ada perasaan yang bercampur aduk di dalam hati Ansel. Ia sebenarnya merasa bersalah melakukan hal pada Clara yang merupakan keponakannya, namun ia tak bisa memungkiri jika ia mencintai Clara bukan sebagai keponakan tapi lebih dari itu.
Seketika muncul ide di kepala Ansel membuatkan sarapan untuk Clara. Ia beranggapan dengan cara ini ia dapat mengambil hati Clara. Tak menunggu lama, Ansel segera menghentikan kegiatan olahraganya dan menuju ke dapur.
"Maaf, apa yang sedang Tuan lakukan di dapur pagi-pagi begini?" tanya salah seorang pelayan yang heran melihat Ansel menyalakan kompor.
"Aku ingin membuat sarapan pagi," sahut Ansel.
"Ah, kalau begitu biar saya saja yang buatkan untuk Tuan," sahut pelayan itu.
"Tidak, kali ini aku ingin memasak sarapan untuk Clara dengan tanganku sendiri. Ah iya, lebih baik hari ini kamu mengambil libur sama seperti pelayan yang lain," tutur Ansel sambil sibuk mengocok sebutir telur.
Pelayan itu hanya mengangguk sambil menatap Ansel dengan tatapan heran. Ia bingung karena tak seperti biasanya Ansel rela berkutik di dapur untuk memasak. Akhirnya pelayan itu berlalu pergi meninggalkan Ansel yang sibuk dengan aktivitasnya di dapur pagi ini.
Sinar matahari mulai meninggi, cahayanya menembus masuk ke dalam ruang kamar Ansel melalui celah-celah kaca jendela. Clara terbangun sambil menutupi matanya yang terasa silau karena pancaran sinar matahari.
"Hoam… Pukul berapa ini," gumam Clara sambil melirik ke arah jam dinding.
Clara terbangun kesiangan dan ia menyadari jika saat ini ia terbangun bukan di kamarnya, tapi di kamar Ansel. Clara segera merapikan pakaiannya dan keluar dari kamar Ansel. Saat ia keluar kamar, Clara mencium aroma masakan yang begitu lezat.
"Hmmm… Baunya begitu lezat, apa yang sedang dimasak oleh para pelayan di dapur," gumam Clara sambil berjalan mengikuti sumber aroma masakan itu.
Ketika tiba di depan dapur, Clara sedikit terkejut karena yang menyiapkan makanan bukanlah pelayan. Clara melihat Ansel tengah sibuk menyiapkan sarapan.
"Oh, kamu sudah bangun rupanya," tutur Ansel yang menyadari kehadiran Clara.
"Paman sedang apa?" tanya Clara heran.
"Tentu saja sedang membuat sarapan untuk kita. Aku sudah membuatkan omlete dan salad kesukaanmu," sahut Ansel.
"Ayo kita sarapan pagi sekarang, kamu pasti sudah lapar bukan," ujar Ansel.
Clara berusaha bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Ia tak ingin mengingat kejadian semalam di kamar Ansel. Clara pun berjalan menuju ke meja makan dan menikmati sarapan paginya bersama Ansel.
"Kenapa Paman yang memasak hari ini? Bukankah ada pelayan di rumah ini?" tanya Clara.
"Aku baru saja meliburkan semua pelayan di rumah ini karena aku yakin mereka juga butuh waktu untuk beristirahat," jawab Ansel.
"Ah begitu, mendadak sekali," sahut Clara sambil mencicipi omlete buatan Ansel.
"Bagaimana, apa kamu menyukai masakanku?" tanya Ansel.
"Hmmm… Ini lezat sekali, Paman pandai memasak rupanya," puji Clara.
Suasana yang awalnya mencair tiba-tiba berubah menjadi canggung kala Ansel membahas tehtang apa yang terjadi semalam. Seketika Clara tersedak karena sejujurnya ia merasa malu untuk membahas hal itu sekarang.
"Clar terima kasih karena kamu sudah mau datang kemari, dan untuk kejadian semalam…." ujar Ansel yang kemudian segera di potong oleh Clara.
"Ah, aku rasa harus buru-buru pergi dari sini karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," celetuk Clara.
"Tapi makananmu belum habis," jawab Ansel.
"Tak apa aku sudah kenyang, aku pulang dulu," ujar sambil Clara mengangguk acuh lalu berpamitan pulang.
Ansel seketika berdiri dan mengejar Clara. Ia langsung menahannya dengan memeluk Clara dari belakang. Sontak Clara melotot karena terkejut dengan apa yang dilakukan Ansel.
"Astaga! Jangan seperti ini, bagaimana jika ada orang yang melihat!" kata Clara sambil berusaha melepaskan pelukan Ansel.
"Tidak akan ada yang melihatnya karena di rumah ini hanya ada kita berdua, dan kalaupun ada yang melihat aku juga tak peduli," sahut Ansel memeluk Clara semakin erat.
Ansel berusaha untuk meminta Clara tetap tinggal bersamanya. Suasana hati dan pikiran Ansel sedang kacau dan ia butuh seseorang untuk menemaninya. Ansel mendekap Clara dan ia dapat mencium aroma tubuh perempuan itu yang membuatnya semakin merasa tenang.
"Maaf, Om. Aku tidak bisa tinggal di sini," sahut Clara dengan nada suara tercekat.
"Kenapa? Aku butuh seseorang untuk menemaniku, aku mohon padamu, Clara," tutur Ansel dengan sikapnya yang begitu membuat Clara bingung sebab sangat berbeda dengan sikap Ansel sebelum Clara pindah.