
Rupanya selama ini Ansel tidak ingin jika mereka menjalin hubungan secara terang-terangan di depan orang lain. Karena Ansel paham jika hal itu akan menyebabkan Clara mendapat cibiran banyak orang. Ansel hanya bermaksud untuk melindungi Clara dari orang-orang yang akan menyakiti hatinya.
"Itu semua demi kebaikan dan kebahagiaanmu, Clara. Jika aku secara terang-terangan menunjukkan pada orang lain bahwa kita berdua punya hubungan spesial lebih dari seorang paman dan ponakan, maka mereka akan mencibirmu," ucap Ansel menjelaskan.
"Apakah benar semua yang Paman ucapkan?" tanya Clara yang masih saja ragu terhadap Ansel.
"Untuk apa aku berbohong," sahut Ansel.
Sebab ingin menutupi perasaannya terhadap Clara dari orang-orang di sekitarnya, Ansel juga terpaksa mengencani Delia agar semua orang tak berpikir buruk tentang kedekatan Ansel dan Clara selama ini.
"Aku tak benar-benar mencintai Delia, sungguh aku berani bersumpah," tutur Ansel.
Setelah Ansel mengakui semuanya, hal itu justru membuat Clara semakin bimbang. Jika saja Ansel jujur mencintainya dari dulu saat Clara mengejarnya, maka Clara tidak akan ragu menerima Ansel. Namun kini hati Clara seolah tertutup untuk Ansel.
"Semuanya sudah terlanjur, perasaanku padamu sudah tak sama seperti dulu," tutur Clara berbohong.
"Jangan berusaha untuk membohongi perasaanmu sendiri. Aku masih bisa melihat dari tatapan matamu selama ini padaku, bahkan aku masih bisa merasakan ketika semalam kita…" jawab Ansel yang kemudian dipotong oleh Clara.
"Berhenti untuk terus mengungkit-ungkit kejadian semalam, itu hanya perasaanmu saja dan kamu tak pernah benar-benar tahu bagaimana perasaanku selama ini!" bentak Clara yang mulai kehilangan kendali atas dirinya.
Ansel mulai dihantui rasa bersalah karena terlambat mengakui semuanya justru disaat Clara sudah mulai sadar hubungan mereka tidak akan baik dan saat Clara berusaha menjauh.
"Ini tidak benar, tak seharusnya aku jatuh hati pada Pamanku sendiri, seharusnya aku sadar lebih awal dan berhenti sebelum semuanya berjalan terlalu jauh," ucap Clara sambil menahan air mata.
Sekali lagi Ansel meminta kejelasan pada Clara tentang perasaannya. Ia berharap jika Clara berubah pikiran. Namun sayang, harapan Ansel tak sesuai dengan realita yang ada.
"Jawab jujur, apa kamu masih mencintaiku?" tanya Ansel penuh harap.
"Tidak," jawab Clara dengan yakin sambil menatap tajam mata Ansel.
Ansel bagaikan disambar petir di tengah siang hari karena mendengar jawaban Clara. Setelah mengatakan itu, Clara berlari pergi dari sana, dan memilih untuk kembali ke rumah orang tuanya.
***
"Tidak! Aku tidak lagi mencintainya!" gumam Clara.
Clara kemudian memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah Ansel. Hati dan pikiran Clara mendadak kacau sehingga ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ada perasaan menyesal dalam diri Clara karena apa yang ia lakukan semalam dengan Ansel.
"Harusnya aku tak datang ke rumah Paman kemarin maka ini semua tak akan terjadi," gumam Clara.
Dalam hati Clara bersumpah tak ingin kembali ke rumah itu dan mengulang kesalahan yang sama. Sekarang yang ada dipikiran Clara adalah bagaimana cara ia bisa melupakan dan melepaskan Ansel.
Sementara itu di rumah, Ansel terduduk lemas di lantai masih meratapi kepergian Clara yang begitu saja. Ansel mengacak-acak rambutnya karena merasa frustasi. Akhirnya ia meraih ponselnya dan berusaha untuk menghubungi Clara.
Tut…Tut…Tut…
"Ayolah Clara, angkat teleponku," gumam Ansel harap-harap cemas.
Clara yang sedang mengemudikan mobilnya sontak melirik ke arah ponselnya yang berdering. Ketika ia tahu jika yang menelpon adalah Ansel, segera Clara mematikan ponselnya. Ia benar-benar tak ingin berurusan dengan pria itu untuk saat ini.
"Sial! Dia mematikan ponselnya!" ujar Ansel kesal kemudian melemparkan ponselnya ke sofa.
Ansel duduk di sofa sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Entah kenapa ucapan Clara yang membuatnya kecewa terus terngiang di kepalanya. Rasanya Ansel ingin menyusul Clara ke rumah orang tuanya, tapi ia mendadak ragu.
"Jika aku datang menemui Clara ke rumahnya belum tentu aku bisa mengambil hatinya dan membuat dia kembali percaya padaku, karena aku tahu yang dia butuhkan adalah pengakuanku atas dirinya di depan semua orang," gumam Ansel.
Ansel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir. Ia berusaha mencari cara untuk mengatasi ini semua. Pikiran Ansel benar-benar kacau dan bercampur aduk sekarang.
Ia yang awalnya berharap bahwa kejujurannya dapat membuat hubungannya dengan Clara kembali membaik justru berakhir sebaliknya, yaitu menjadi lebih buruk. Terlebih kala Ansel merenggut kesucian Clara, hal itu semakin menjadi beban bagi Ansel.
"Apakah yang aku lakukan adalah yang salah? Tapi aku dan Clara sama-sama menikmatinya," tanya Ansel dalam hati.
Namun Ansel heran, jika memang Clara menginginkan dirinya kenala sekarang justru Clara yang menolaknya. Apakah karena Clara merasa jika mereka berdua memiliki hubungan keluarga. Cukup lama melamun, Ansel sadar jika dia tidak boleh menyerah.
"Tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku harus bisa kembali mendapatkan hati Clara apapun yang terjadi, bahkan aku akan memberitahu pada semua orang jika aku sangat mencintai Clara bukan sebagai seorang keponakan," ucap Ansel dengan penuh percaya diri.