
Ansel mengedikkan bahunya. “Tidak ada,” jawabnya kemudian bangkit berdiri. “Ridwan, jangan lupa hubungi bagian finance untuk segera mengirimkan laporan keuangan Minggu ini. Jangan sampai terlambat lagi seperti waktu itu.”
Ridwan menggeleng-gelengkan kepala, menyadari jika Ansel berusaha untuk mengalihkan pembicaraan mereka. “Clara masih belum pulang?” tebak pria itu.
“Kenapa malah membahas Clara?” tanya Ansel sambil menyipitkan matanya.
“Memangnya ada hal lain yang bisa membuatmu tidak berkonsentrasi bekerja selain Clara?” Ridwan berjalan menghampiri Ansel, kemudian menepuk bahu pria itu. “Jika kamu memang kangen dengan Clara, kenapa kamu tidak temui dia saja?”
Ansel berdecap. “Kamu ini bicara apa? Jangan ngawur! Untuk apa juga aku kangen dengan Clara. Dia sudah memilih untuk hidup mandiri. Aku hanya khawatir saja kalau dia kenapa-kenapa,” balas Ansel.
“Masih saja tidak mau mengaku?” Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan Ansel yang masih saja enggan untuk mengakui apa yang dia rasakan. Ansel seolah tidak kapok karena sudah pernah berpisah dengan Clara. “Ingat, Ansel. Gengsi yang terlalu tinggi bisa menyiksa dirimu.”
“Gengsi apa, sih? Sudah, lebih baik kamu cepat-cepat pergi untuk meminta laporan finansial dari pada berbicara tidak jelas seperti ini,” ujar Ansel lalu berjalan meninggalkan Ridwan yang hanya bisa tertawa renyah karena sikapnya.
Setelah masuk ke ruang kerjanya, Ansel kembali memandang layar ponselnya. Pria itu merasa kesal sebab status Clara saat ini online, namun Clara sama sekali tidak membaca pesan singkat yang dia kirimkan.
Ansel pun memutuskan untuk menelepon gadis itu, berpikir jika mungkin saja Clara tidak melihat pesan singkatnya. Namun, panggilan Ansel juga diabaikan oleh Clara.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Clara?” gerutu Ansel.
Karena kesal terus-menerus diabaikan, Ansel pun memilih untuk pergi menemui Clara. Pria itu langsung saja mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman orang tua Clara tanpa memedulikan pekerjaannya yang sedang menumpuk. Ansel tidak peduli jika besok pagi Ridwan akan mengejeknya jika Ridwan tahu Ansel akhirnya pergi menemui Clara. Yang jelas, Ansel harus menemui Clara secepatnya.
Setibanya di rumah orang tua Clara, Ansel mendapati rumah itu tampak sepi. Ansel berpikir bahwa rumah itu tampak sepi karena yang tinggal di sana hanyalah Clara dan seorang pelayan.
Ketika Ansel mengetuk pintu, Ansel heran karena yang membuka pintu tersebut bukanlah Clara, melainkan seorang pelayan.
“Bibi, apakah Clara ada di dalam?”
“Maaf, Tuan. Nona Clara kalau siang-siang seperti ini biasanya ada di perkebunan. Setiap hari Nona Clara selalu turun langsung untuk melihat hasil perkebunan,” jelas pelayan itu.
Ansel mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau begitu aku akan menyusul Clara ke sana,” ucapnya lalu pergi dari sana.
Jarak antara rumah Clara dengan perkebunan tak terlalu jauh. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Ansel sampai di perkebunan.
“Maaf, Pak. Apakah Bapak melihat Clara?” tanya Ansel.
Setelah berterima kasih, Ansel berjalan menuju ke sebuah rumah yang tak lain adalah kantor perkebunan. Di setiap perkebunan yang dimiliki oleh keluarga mereka, ada sebuah rumah yang akan menjadi ruang kerja para pengurus perkebunan.
“Om Ansel, silakan masuk, Om,” ujar Clara, mempersilakan Ansel masuk ke dalam ruang kerjanya. Clara menyambut kedatangan Ansel sambil tersenyum, seolah dia menyambut tamu pada umumnya.
Clara mempersilakan Ansel untuk duduk sementara dia pergi ke coffee table yang ada di sudut ruangan untuk membuatkan kopi untuk Ansel. Setelahnya, dia duduk di kursi kebesarannya yang letaknya berseberangan dengan Ansel.
“Tumben sekali Om ke sini. Ada apa, Om? Apakah Om ingin memeriksa calon-calon hasil panen kita?”
“Aku ke sini bukan untuk membahas tentang pekerjaan,” ujar Ansel dengan wajah kesal.
Pria itu sebal karena sikap Clara benar-benar telah berubah. Clara bahkan bersikap sangat profesional di depannya. Ansel seolah tidak bisa menemukan sosok manja di dalam diri Clara lagi. Padahal, sifat manja gadis tersebutlah yang selama ini Ansel rindukan.
“Lalu, apa yang ingin Om bicarakan?” tanya Clara sambil mengerutkan dahinya.
“Berhenti bersikap formal di depanku, Clara.”
Clara tersenyum. “Maaf, Om. Tapi, saat ini kita sedang berada di jam kerja. Jadi, aku harus bersikap formal di depan Om.”
“Persetan dengan itu semua, Clara! Apa yang sebenarnya kamu inginkan?” tanya Ansel lalu mengusap wajahnya dengan gusar.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Om.” Clara menghela napasnya. “Seingatku juga aku tidak meminta apa-apa darimu, Om.”
“Kamu menghindari Om, Clara. Kamu juga tidak mau membalas pesan singkat atau bahkan mengangkat panggilan dari Om. Kamu kenapa berubah seperti ini?” desak Ansel.
Clara tersenyum, mencoba untuk tetap bersikap tenang meskipun dalam hatinya dia ingin sekali marah karena Ansel tak kunjung peka.
“Om, aku hanya baru menyadari jika apa yang Om ucapkan selama ini benar. Perasaanku untuk Om adalah sesuatu yang salah. Tidak seharusnya aku mencintai Omku sendiri.” Clara tersenyum lembut. “Om, aku benar-benar minta maaf dan aku janji kalau aku akan menjadi keponakan yang baik untukmu.”
Mendengar itu, bukannya senang Ansel justru semakin kesal.
“Clara, aku ingin kamu bersikap seperti dulu lagi.”
Clara menggeleng. “Tidak bisa, Om. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi,” jawabnya.