I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 26



Ansel berlalu meninggalkan Clara yang masih terdiam tanpa sedikitpun peduli dengan Ansel. Ansel sempat menoleh ke belakang berharap jika Clara akan memintanya untuk tetap tinggal, namun harapan Ansel pupus sebab Clara tak lagi peduli.


Baru setelah beberapa saat Ansel berlalu pergi, Clara menyadari jika yang dia lakukan adalah hal yang salah. Perlahan penyesalan menyelimuti dirinya.


"Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padanya," gumam Clara dengan mata yang berkaca-kaca.


Clara segera beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menghampiri Ansel yang sudah menenteng kopernya. Saat Ansel akan pergi, Clara memeluknya dari belakang dan memintanya untuk tidak meninggalkannya.


"Ansel tunggu, jangan pergi," ujar Clara sambil memeluk Ansel dari belakang.


"Bukankah kamu yang menginginkan aku untuk pergi?" ucap Ansel yang masih diam mematung.


"Tidak, aku yang salah. Aku tak ingin kamu pergi sebab aku masih butuh dirimu," sahut Clara yang perlahan air matanya turun membasahi pipi.


Ansel menghela nafas panjang, ia kemudian berusaha untuk menekan egonya. Ansel paham tentang situasi yang dihadapi oleh Clara sehingga ia bersikap lebih dewasa dan memaklumi Clara.


"Apakah benar yang kamu ucapkan barusan?" tanya Ansel memastikan.


"Ya, selama ini aku hanya berusaha membohongi perasaanku terhadapmu. Sungguh aku tak membenci dirimu," sahut Clara.


Ansel kembali memutar tubuhnya menatap Clara. Ia menatap dalam-dalam mata perempuan yang sangat ia cintai itu. Entah kenapa jantung Ansel berdetak begitu cepat. Ia kemudian membelai pipi Clara dan menghapus air matanya.


"Aku tak ingin melihatmu sedih dan menangis seperti ini," tutur Ansel.


"Maaf jika selama ini aku meragukan kesungguhanmu bahkan menyudutkanmu, tapi sungguh gosip yang disebar Delia beberapa waktu lalu benar-benar membuatku takut," ujar Clara meluapkan isi hatinya.


Ansel semakin memeluk Clara dengan erat. Ia berusaha untuk menenangkan dan meyakinkan Clara bahwa semuanya baik-baik saja. Saat Clara sudah mulai tenang, Ansel memberanikan diri untuk bertanya lebih dalam tentang hubungan mereka.


"Sekarang bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Ansel.


"Apa?" ujar Clara.


"Kenapa kamu masih saja bertanya padahal kamu sendiri sudah tahu jawabannya, tentu saja aku benar-benar mencintaimu, aku tak mungkin menunggumu hingga bertahun-tahun lamanya jika aku tak serius padamu," sahut Clara.


"Lantas apa kamu mau menikah denganku?" tanya Ansel.


Clara diam membisu tak menjawab pertanyaan Ansel karena dia sendiri pun merasa ragu. Ansel memegang erat tangan Clara berusaha untuk meyakinkannya.


"Kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Ansel.


"Aku takut," jawab Clara ragu-ragu.


"Apa yang kamu takutkan? Kamu tak akan melewati ini sendirian, aku akan menemanimu melewati ini semua," ucap Ansel.


Clara takut tak bisa menghadapi reaksi orang-orang di sekitarnya jika mereka tahu tentang hubungan ini. Tidak semua orang bisa memahami situasi Clara dan Ansel. Dan hal tersebut yang membuat Clara tak mampu menghadapi omongan orang-orang di sekitarnya.


"Bagaimana caraku untuk menjelaskan pada semua orang tentang kita? Mereka akan mengira hubungan kita adalah hubungan terlarang," ucap Clara.


"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, beberapa saat yang lalu aku menghubungi seorang pengacara milik keluarga ibuku dan menanyakan tentang hal ini," sahut Ansel.


"Lalu apa katanya?" tanya Clara penasaran.


"Dia mengatakan jika secara hukum maupun agama hubungan kita adalah legal karena kamu adalah keponakan tiri dan tidak ada hubungan darah denganku," jawab Ansel.


"Kamu sedang tidak berbohong kan?" tanya Clara memastikan.


"Astaga, tentu saja aku bicara jujur, jika kamu tidak percaya aku bisa mengantarmu untuk bicara langsung dengan pengacara itu," sahut Ansel.


Ansel kembali menenangkan Clara jika mereka akan menghadapi itu semua bersama. Clara akhirnya setuju dan keduanya resmi menjalin hubungan. Ansel memeluk erat tubuh Clara dan mencium keningnya.


"Aku sangat mencintaimu, Clara, " bisik Ansel.