I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 35



Beberapa saat kemudian, taxi yang akan membawa mereka ke bandara tiba di hotel. Mereka tiba di bandara dan segera melanjutkan perjalanan ke kota tempat tinggal mereka yang baru. Ansel membawa Clara ke rumah baru mereka, di daerah pegunungan.


"Bagaimana, apa kamu suka dengan lingkungan rumah baru kita?" tanya Ansel di sela-sela perjalanan menuju rumah baru mereka.


"Aku sangat senang dengan tempat ini, apalagi dengan pemandangan pegunungan seperti ini. Bagaimana kamu bisa menemukan rumah di tempat seperti ini?" tanya Clara penasaran.


"Seorang teman merekomendasikan tempat ini untukku dan aku setuju karena kamu pernah bilang ingin memiliki rumah impian di wilayah pegunungan seperti ini," sahut Ansel.


Mobil yang membawa mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan halaman taman yang luas. Di sebelah barat terdapat kolam dengan dua ekor angsa. Bunga mawar putih menghiasi setiap sudut taman.


"Astaga, tempat ini indah sekali, " gumam Clara terpana.


Ansel menarik tangan Clara dan mengajaknya untuk berkeliling di sekitar rumah. Pemandangan pegunungan menjadi latar belakang rumah mereka membuat suasana di sekitar rumah menjadi semakin damai.


Waktu terus berputar, tak terasa sinar mentari pagi berganti dengan sinar rembulan yang menerangi gelapnya malam. Clara sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Tercium aroma masakan yang khas dari arah dapur, membuat Ansel tergoda.


"Apakah makan malamnya sudah siap?" tanya Ansel.


"Sudah sayang, duduklah aku akan mengambilkan untukmu," sahut Clara.


"Hmmm, aromanya sangat lezat pasti sesuai dengan rasanya," tutur Ansel.


Clara hanya tersenyum melihat Ansel yang begitu lahap menikmati hasil masakannya. Mereka menikmati makan malam sambil asyik mengobrol. Hingga tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 09.00 malam.


" Astaga, cuaca di sini saat malam dingin sekali," gumam Clara sambil merapatkan bajunya.


"Mungkin kamu butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuhmu," sahut Ansel.


"Maksudnya?" tanya Clara dengan tatapan menggoda.


Ansel yang seolah mengerti dengan kode tatapan mata Clara segera mendekap tubuhnya dan menggendongnya menuju ke kamar. Clara tersipu malu, meskipun ia pernah melakukan hubungan dengan Ansel sebelumnya bahkan melepaskan keperawanan di rumah Ansel beberapa waktu lalu, tetap saja ini seperti menjadi momen pertama kalinya untuk Clara.


"Kenapa kamu masih merasa malu-malu sayang"? tanya Ansel menggoda.


"Entahlah, mungkin karena aku belum terbiasa," sahut Clara ragu-ragu.


Tanpa basa-basi Ansel segera mencium bibir Clara sambil tangannya melepaskan satu per satu kancing baju Clara. Tangan Clara tak tinggal diam, ia juga melepaskan baju yang menempel di tubuh Ansel. Hingga akhirnya kini mereka tak mengenakan sehelai benangpun.


"Akh… Sayang… Kamu membuatku geli," ujar Clara sedikit mendesah karena merasakan sentuhan dari tangan Ansel.


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Ansel dan Clara. Mendadak cuaca yang dingin berubah menjadi panas. Terdengar suara lenguhan dan ******* dari ruang kamar mereka, membuat suasana malam ini menjadi semakin syahdu.


***


Ansel dan Clara menjalani hari-harinya sebagai pengantin baru dengan penuh kebahagiaan. Mereka berdua sengaja mengambil cuti yang agak panjang agar bisa menikmati waktu honeymoon. Hingga suatu pagi saat mereka sedang sarapan, ponsel Ansel berdering. Seorang kolega memintanya untuk pergi ke kota beberapa hari ke depan karena ada urusan perusahaan yang harus diselesaikan.


Kring… Kring…Kring…


"Sayang, ada telepon," teriak Clara dari arah dapur.


Ansel yang sedang berada di kamar mandi segera keluar hanya mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia melihat ke arah ponsel dan mengetahui jika asisten pribadinya yang menelpon.


"Halo," ujar Ansel.


"Halo Bos, saya mendapat kabar dari perusahaan pusat bahwa kita akan mengadakan rapat untuk menyusun rencana pembukaan perusahaan cabang baru di luar kota, jadi untuk beberapa hari ke depan kita harus pergi ke luar kota untuk mengikuti kegiatan tersebut," ujar asisten pribadi Ansel.


"Astaga, ini masih terlalu pagi dan kau sudah menyambutku dengan kabar meeting bersama klien," sahut Ansel sambil menghela nafas.


"Ah, emmm maafkan saya Bos tapi ini memang perintah dari pusat," tutur asisten pribadinya.


"Baiklah, siapkan saja dokumen yang diperlukan untuk meeting, aku akan pergi ke kota beberapa hari lagi," ucap Ansel kemudian menutup teleponnya.


Ansel berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian, kemudian bergabung dengan Clara yang sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan. Clara penasaran tadi telepon dari siapa.


" Telepon dari siapa?" tanya Clara


"Asisten pribadiku, sepertinya aku akan pergi ke kota beberapa hari lagi," sahut Ansel.


"Bukankah kamu mengajukan cuti yang agak lama supaya kita bisa honeymoon?" tutur Clara.


"Iya niatku juga begitu, tapi ada urusan di perusahaan yang tak bisa aku tinggalkan jadi terpaksa aku harus masuk lebih awal, kamu tidak keberatan bukan jika aku harus meninggalkanmu?" tanya Ansel.


"Emm, ya tidak masalah lagipula itu urusan pekerjaan," sahut Clara sambil tersenyum.