
Tak terasa satu bulan berlalu, hari ini Ansel harus pergi ke kota asal mereka untuk mengecek langsung pekerjaan di sana. Sebenarnya Ansel ingin mengajak Clara, sekaligus untuk berkunjung ke rumah orang tua Clara tapi ia menolak. Clara memilih tinggal sebab masih merasa takut dengan cibiran orang-orang tentang mereka.
"Sayang, bagaimana jika kamu ikut saja denganku ke kota, lagipula kita bisa sekalian berkunjung ke rumah lamamu," ucap Ansel menawarkan.
"Aku… Sepertinya aku menunggumu di sini saja, aku masih merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitarku karena trauma dengan cibiran mereka," sahut Clara.
"Tapi kamu yakin tidak masalah jika aku harus meninggalkanmu selama beberapa minggu di sini? Justru aku yang khawatir kalau harus meninggalkanmu sendirian," tutur Ansel sambil membelai rambut Clara.
"Tidak apa-apa Ansel, aku akan baik-baik saja di sini. Lagipula lingkungan di sekitar sini aman, jadi kamu tak perlu mengkhawatirkan aku," jawab Clara sambil tersenyum.
Akhirnya Ansel menuruti permintaan Clara selama itu membuatnya nyaman. Malam ini, Clara membantu Ansel untuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke kota dan memasukkannya ke dalam koper. Sebenarnya cukup berat bagi Ansel untuk meninggalkan Clara. Tiba-tiba saja Ansel mengecup bibir Clara yang sontak membuatnya terkejut.
"Astaga, kenapa kamu tiba-tiba menciumku?" ujar Clara terkejut.
"Kamu masih saja sering terkejut jika aku memberikan kejutan seperti ini," ucap Ansel terkekeh.
"Tidak lucu, kamu selalu saja menggoda ku," tutur Clara kesal.
"Jangan marah begitu, Sayang. Selama aku pergi beberapa minggu ke depan kamu pasti akan merindukan kecupanku," celetuk Ansel menggoda.
"Berhenti menggodaku, Ansel atau akan ku lempar bantal ini ke wajahmu," sahut Clara sambil tertawa.
Keesokan harinya, Clara mengantar Ansel sampai halaman depan rumahnya. Ansel lebih memilih ke kota menggunakan mobil pribadinya. Tak henti-hentinya Ansel mencium pipi Clara, membuatnya jadi tersipu malu. Dalam hitungan detik deru suara mobil Ansel pergi menjauh meninggalkan halaman rumah mereka.
Clara masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Matanya memandang ke luar jendela, melihat pemandangan yang indah di luar sana. Tapi hatinya mendadak merasa sepi setelah Ansel pergi, padahal baru beberapa menit yang lalu.
"Astaga, rumah ini jadi benar-benar sepi tanpa Ansel," gumam Clara.
Setelah Ansel pergi, Clara merasa kesepian. Akhirnya ia teringat Mira, sahabatnya. Clara segera meraih ponsel dan mencari nomor Mira dan menghubungi sahabatnya itu. Sementara itu, Mira sedang berada di kedai kopi karena baru saja Meeting dengan kliennya.
Tut… Tut…Tut…
"Halo Clara," terdengar suara heboh dari seberang telepon.
"Mira! Aku sangat merindukanmu, bagaimana kabarmu di sana?" tanya Clara.
Keduanya akhirnya saling bertukar cerita. Mira senang mendengar Clara nyaman dengan rumah baru mereka. Bahkan ia ingin sesekali mampir ke rumah baru Clara. Dan Mira juga mengatakan pada Clara jika tak ada lagi yang membahas hal-hal buruk tentang Clara dan Ansel.
"Syukurlah jika kamu senang berada di sana, tapi asal kamu tahu di sini sudah tidak ada lagi orang-orang yang membahas soal hubunganmu dengan Ansel," tutur Mira.
"Benarkah? Ah… Lagipula semenjak aku pindah kesini, aku juga tidak pernah lagi membuka media sosial, aku sudah merasa tenang sekarang," ucap Clara.
"Lalu apakah kamu tidak mau kembali saja kesini, situasi di sini sudah membaik," tanya Mira.
Clara senang mendengar itu akan tetapi ia masih ingin menetap di rumah barunya. Mira memaklumi hal itu, dan ia mendukung apapun yang menjadi keputusan sahabatnya itu.
"Ya, meskipun situasi di sana sudah membaik, tapi tetap saja aku belum ingin kembali ke sana dan memutuskan benar-benar menetap di tempat ini," sahut Clara.
"Baiklah, tidak masalah mungkin nanti jika ada waktu luang aku yang akan berkunjung ke sana," ucap Mira.
"Benarkah? Aku akan senang jika kamu kamu berkunjung ke sini," tutur Clara dengan penuh antusias.
Rupanya Clara punya alasan tersendiri kenapa tak ingin kembali ke kota asalnya. Rasa trauma yang mengendap di dalam dirinya membuat ia takut jika ia punya anak lalu menjadi korban cibiran dari orang-orang sekitarnya. Clara khawatir anaknya nanti mendapat cibiran karena masa lalu mereka.
"Tunggu, bicara soal anak aku jadi teringat sesuatu, apakah kamu sudah hamil?" tanya Mira penasaran.
"Apa? Ah, tidak aku belum hamil, kenapa tiba tiba bertanya begitu?" ujar Clara.
"Tidak apa, aku hanya memastikan saja," sahut Mira.
Mendadak Clara menoleh ke arah meja rias. Di atas meja rias tersebut ada kalender yang biasanya ia tandai ketika datang bulan. Namun untuk bulan ini, ia belum melingkari kalender datang bulan, karena ia sudah tekat hampir satu bulan. Lalu setelahnya terdengar heboh berkata jika bulan ini dia belum haid.
"Astaga Mira!" teriak Clara yang memuat Mira ikut terkejut.
"Ada apa? Jangan membuatku panik!" sahut Mira ikut terkejut.
"Aku baru ingat jika bulan ini terlambat datang bulan!" tutur Clara.