
Setelah beberapa saat mereka mengobrol akhirnya Mira mengantar Ansel dan Clara hingga halaman depan rumahnya. Bukan hanya Mira, tapi juga dengan pelayan-pelayan di rumah Clara lainnya.
"Nona akan tetap berkunjung kesini bukan?" tanya salah seorang pelayan.
"Tentu saja, tenanglah aku hanya akan mengecek rumah baru kami dan tinggal selama beberapa hari di sana, untuk satu bulan ke depan kami masih akan bolak-balik kesini," jawab Clara.
"Baru setelah kami menikah mungkin akan berkunjung kemari beberapa bulan sekali," timpal Ansel.
"Syukurlah kalau begitu, tapi kami pasti sangat merindukan Nona," ujar pelayan perempuan.
"Benar, rumah ini mungkin akan sepi tanpa Nona," timpal pelayan laki-laki.
Ansel dan Clara tertawa kecil melihat tingkah para pelayanannya. Meskipun dalam hati kecil Ansel dan Clara juga sedikit berat meninggalkan rumah ini. Namun apapun yang terjadi ini adalah untuk kebaikan mereka semua.
Akhirnya Clara dan Ansel menyiapkan rencana pernikahan mereka untuk acara pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Clara tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya karena ini adalah momen sekali seumur hidupnya.
"Tenang Clara, jangan panik," ujar Mira.
"Tak bisa Mir, aku benar-benar gugup sekarang," sahut Clara.
Rangkaian bunga menghiasi sepanjang jalan utama. Bunga-bunga segar di desain melengkung berbentuk tanda cinta tepat di depan pintu gedung, bunga-bunga disebar meruah-limpah di satu titik tempat singgasana itu bertahta.
Sementara itu, beberapa lelaki dan perempuan berseragam dari satu organisasi vendor tampak sibuk mengatur kursi di depan tempat untuk pemberkatan. Petugas katering keluar-masuk ruangan masing-masing mengenakan celemek dan topi koki sambil membawa nampan berisi makanan.
Semua yang ada dalam ruangan itu hanya bekerja dengan dan untuk satu hal yaitu profesional untuk mensukseskan acara pernikahan Ansel dan Clara. Dan setelah semua tampak meyakinkan, karpet merah digelar memberi kesan mewah nan elegan.
Aula yang digunakan untuk acara pernikahan Ansel dan Clara sudah dipenuhi oleh banyak tamu. Ansel keluar lebih dulu menuju ke altar pernikahan, semua orang takjub melihat penampilan Ansel yang nampak tampan dan gagah mengenakan setelan jas berwarna putih.
"Tenangkan dirimu Sobat," ucap Ridwan sahabat Ansel.
"Tidak bisa, kakiku sudah gemetar sejak tadi," sahut Ansel berbisik.
"Hahaha… Rupanya laki-laki sepertimu juga bisa grogi jika berurusan dengan hal seperti ini," tutur Ridwan menggoda.
Sementara itu, Clara ditemani oleh Mira berjalan menuju ke altar pernikahan. Semua orang di gedung itu merasa terpana melihat Clara yang dibalut mengenakan gaun putih yang sangat cantik dan elegan. Ansel melemparkan senyum manis ke arah Clara yang membuatnya semakin grogi.
"Clara dan Ansel apakah kalian sudah siap untuk memulai pemberkatan pada pagi hari ini?" tanya seorang pendeta.
Ansel dan Clara kompak mengangguk bersama. Baik kedua orang tua Ansel maupun Clara sama-sama sudah meninggal, alhasil dalam acara pernikahan tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dan orang-orang terdekat mereka.
Ada rasa sedih di dalam hati Ansel maupun Clara karena dalam hari spesial mereka tak didampingi oleh kedua orang tua. Namun mereka berdua tetap bahagia karena banyak orang-orang yang menyayangi mereka dan turut membantu mengurus acara pernikahan Ansel dan Clara.
"Semoga kamu menikmati hidup yang dipenuhi dengan cinta dan kebahagiaan melalui Tuhan. Pernikahan juga adalah sebuah kebahagiaan ditemukan dalam mengasihi Tuhan dan berbagi dalam sukacita janji-janji-Nya. Maka tempatkan Tuhan pertama untuk pernikahan yang kuat, " ucap Pendeta saat mengakhiri acara pemberkatan pernikahan Ansel dan Clara.
Kini mereka berdua telah sah menjadi suami istri. Terdengar tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Ansel dan Clara saling memandang dan perlahan air mata Clara menetes karena terharu.
"Aku mencintaimu, Clara," ujar Ansel.
"Aku juga mencintaimu, Ansel," sahut Clara kemudian mengecup bibir Ansel.