
Saat Clara sedang beradu argumen dengan tetangganya itu, rupanya Ansel mendengarnya. Ia segera keluar dari rumah karena mendengar suara Clara. Ansel berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
"Dasar wanita murahan, mengakunya punya hubungan keluarga ternyata memang berkedok kumpul kebo! Sudah seharusnya kamu diusir dari kompleks ini," ucap wanita itu semakin tak terkendali.
"Jaga ucapan Anda ya!" bentak Clara.
"Hei, sudah-sudah ada apa ini ribut-ribut begini?" ujar Ansel yang berusaha menengahi.
"Oh ini, ternyata pasangan kumpul kebonya? Kamu tidak usah berlagak tidak tahu ya! Dasar tukang zina!" celetuk wanita itu.
Ansel yang menyadari jika situasi sudah mula tidak nyaman, segera menarik tangan Clara untuk masuk ke dalam rumah. Sementara wanita itu masih saja memaki Ansel dan Clara.
"Tenangkan dirimu sayang, " ucap Ansel sambil memeluk Clara.
"Bagaimana aku bisa tenang, wanita itu memfitnahku dengan berkata sesuatu yang salah tanpa bukti!" jawab Clara kesal.
"Anggap saja itu angin lalu, dan kamu tak perlu memikirkan ucapan wanita itu," ujar Ansel.
"Bagaimana bisa aku menganggapnya angin lalu, apa yang dia katakan sudah termasuk pencemaran nama baik," tutur Clara membela diri.
Clara kembali tak nyaman dan Ansel menyadari itu. Dan karena kejadian itu, kiki Clara menjadi pemurung dan enggan keluar rumah. Ansel jadi mulai khawatir dengan keadaan Clara.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ansel ragu-ragu.
"Aku sudah tak nyaman dengan lingkungan ini, rasanya aku ingin pergi," sahut Clara.
Ansel segera memutar otak, sebenarnya ia tak merasa keberatan jika pindah dan tinggal di kota lain. Sedangkan untuk urusan bisnis, mereka bisa mengecek sebulan sekali dan melakukan kontrol lewat telepon terhadap para karyawan dan orang kepercayaannya. Clara senang mendengar itu dan setuju.
"Ayo kita pindah ke luar kota saja, karena ini rumah peninggalan almarhum orang tuaku, aku bisa menitipkan rumah ini pada orang kepercayaan keluarga kami dan kita bisa berkunjung kemari beberapa bulan sekali," ujar Clara.
"Ide bagus, kalau begitu aku akan mulai menghubungi agen properti milik temanku da kita bisa segera bersiap untuk pindah," sahut Ansel.
Ansel memberikan beberapa foto rumah idaman untuk Clara. Dan dalam hitungan beberapa saat Clara sudah berhasil memilih rumah impiannya. Ansel segera mengurus pembelian rumah tersebut agar mereka bisa segera pindah.
"Apa kamu tidak masalah mengontrol perkebunan mu dari jauh?" tanya Ansel memastikan sekali lagi.
"Aku tidak masalah dan aku yakin bisa menghandle semuanya, yang terpenting adalah kota bisa hidup damai tanpa ada yang mengusik," sahut Clara dengan yakin.
Ansel akhirnya membawa serta Clara pindah ke rumah baru yang sudah dibeli oleh Ansel. Rumah bru tersebut berada di luar kota yang harus ditempuh menggunakan mobil sekitar lima jam perjalanan. Pagi itu, setelah sarapan Ansel membawa Clara untuk menuju ke tempat tinggal mereka yang baru.
"Hahaha, ya kamu bisa bersabar sedikit lagi sayang karena kita harus melewati perjalanan panjang untuk tiba di rumah baru," jawab Ansel.
"Tapi aku harus menunggu Mira sebentar, dia bilang mau menemuiku sebelum aku pergi," tutur Clara.
Ansel dan Clara menikmati sarapan pagi untuk terakhir kalinya di rumah ini sebelum mereka pindah. Sebenarnya mereka juga masih harus mengurusi persiapan untuk acara pernikahan yang akan digelar satu bulan lagi. Tapi entah kenapa pagi ini berasa seperti sebuah perpisahan untuk Clara.
"Kita kan masih akan bertemu Mira setelah pindah, karena kita masih mengurusi untuk acara pernikahan Kita," ucap Ansel sambil tertawa kecil.
"Hahaha, ya kamu benar sepertinya aku berlebihan pagi ini karena ini terasa seperti perpisahan. Tapi kebetulan aku memang sudah lama tak bertemu Mira dan aku ingin bertemu sebentar dengannya sebelum kita pergi," sahut Clara.
Setelah selesai sarapan pagi, Clara terlihat berkeliling di sekitar rumahnya. Ia ingin menikmati untuk yang terakhir kalinya suasana di rumah ini. Meskipun lingkungan sosial di sekitar rumahnya membuat Clara merasa tidak nyaman, namun dalam hati kecilnya ada sedikit perasaan berat untuk meninggalkan rumah ini.
"Kenapa kamu melamun?" ujar Ansel yang tiba-tiba muncul dari belakang sambil memeluk Clara.
"Astaga! Kamu ini selalu saja mengejutkan aku, bagaimana jika aku punya penyakit jantung," tutur Clara kesal.
"Hahaha, maaf sayang sebab aku lihat kamu terlalu serius," ucap Ansel sambil tertawa kecil.
"Aku merasa rumah ini punya banyak kenangan, apalagi kenangan bersama almarhum Mama dan Papa," celetuk Clara.
Ansel menoleh, menatap wajah Clara dengan seksama. Ia paham rumah ini membawa banyak kenangan untuk Clara. Bukan hanya untuk Clara tapi untuk Ansel juga. Mendadak semilir angin meniup wajah mereka berdua, suasana menjadi hening dan sejenak membuat Ansel dan Clara merenung.
"Kamu benar, rumah ini sangat penuh dengan kenangan, bukan hanya untukmu tapi juga untukku," sahut Ansel sambil menatap lurus ke luar jendela.
"Apa kenangan terindahmu di rumah ini?" tanya Clara penasaran.
"Dulu Kakak sering mengundang aku sambil membuatkan pancake kesukaanku, terlebih saat kamu masih kecil aku yang selalu menemanimu bermain dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga membawa kita pada titik sekarang," jawab Ansel.
Clara memeluk Ansel dengan erat, entah kenapa ia merasa begitu mencintai pria itu. Ansel mengelus lalu mencium kening Clara, hingga tiba-tiba perhatian Clara teralihkan kala mendengar suara deru mobil Mira.
" Itu Mira! " ucap Clara senang.
"Astaga, kalian benar-benar akan berangkat pagi ini?" ujar Mira menghampiri Ansel dan Clara.
"Iya, tapi tenang saja kita masih bisa sering bertemu karena kami masih harus mengurusi persiapan pernikahan," sahut Clara sambil merangkul Mira.
"Syukurlah setidaknya aku masih bisa bertemu denganmu, sebelum kamu jadi Nyonya Ansel," ujar Mira sambil tertawa.