I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 15



Suara tawa Delia terdengar, membuat Ansel mendongakkan kepalanya. Tawa Delia bukanlah tawa tanda bahagia atau semacamnya, tapi justru tanda bahwa gadis itu sedang terluka. Bahkan Ansel bisa melihat kalau tawa Delia tak sampai ke matanya. Sebab mata gadis itu menyiratkan sebuah kekecewaan dan rasa sakit.


Ansel tidak akan pura-pura bodoh dengan tidak menyadari apa yang terjadi. Pria tersebut sadar betul jika apa yang dialami oleh Delia saat ini adalah murni kesalahannya. Kalau saja Ansel tidak terlalu egois dengan melibatkan orang lain hanya karena dia ragu dengan perasaannya, mungkin dia tidak akan menyakiti siapa pun. Namun kini, tidak hanya menyakiti Clara dan dirinya sendiri, Ansel juga menyakiti perasaan Delia.


“Jadi, benar kalau kamu menyukai keponakan kamu sendiri? Clara?” tanya Delia seraya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dia alami.


“Maaf, Delia. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Kamu adalah perempuan yang baik. Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku,” balas Ansel, enggan menjawab pertanyaan Delia mengenai perasaannya terhadap Clara.


“Apakah kamu tidak bisa menjadi laki-laki lebih baik untuk aku, Ansel?” tanya Delia, membalik pernyataan Ansel.


Ansel bungkam, tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut. Pria itu terdiam cukup lama sambil menundukkan kepalanya. Ia sadar kalau dia salah, dia tidak punya pembelaan terhadap hal tersebut.


“Maaf, Delia. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakitimu.”


“Omong kosong!” teriak Delia. Gadis itu menarik kerah baju Ansel, kemudian memukul-mukul dada bidang Ansel. “Kamu jahat, Ansel! Kamu jahat!”


Ansel diam saja, menerima pukulan dan makian dari Delia. Pria itu sadar betul jika semua ini salahnya, jadi dia akan menerima apa pun yang akan Delia lakukan padanya. Lagi pula, pukulan Delia tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang sudah Ansel torehkan di hati gadis tersebut.


Delia menghentikan pukulannya, kemudian menghempaskan kemeja Ansel yang dia genggam.


“Asal kamu tahu, Ansel. Saat kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu, aku pikir kamu benar-benar jatuh cinta kepadaku. Selama ini, kamu juga tidak pernah berbuat kasar atau semacamnya kepadaku. Tapi, ternyata aku terlalu bodoh karena sudah percaya jika semua yang kamu lakukan atas dasar cinta,” ujar Delia kemudian lagi-lagi tertawa dengan kencang.


Untung saja taman malam ini tak begitu ramai sehingga tidak ada yang menjadikan perdebatan mereka sebagai tontonan menarik.


“Maaf, Delia. Aku benar-benar tidak bisa jatuh cinta kepada kamu,” ucap Ansel sambil menghela napas lelah.


“Karena kamu sudah jatuh cinta kepada Clara? Apakah aku benar, Ansel?” tanya Delia. Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ansel, ia kembali mendesak pria itu, “Jawab, Ansel! Kamu mencintai Clara, ‘kan? Dan itulah alasan kenapa kamu tidak bisa mencintaiku. Iya, ‘kan?!”


Ansel menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat kepala. “Iya, kamu benar, Delia. Aku memang mencintai Clara,” jawab Ansel pada akhirnya.


Ansel terdiam, membiarkan Delia memakinya. Biarlah Delia mengeluarkan seluruh isi hatinya supaya gadis itu lega agar besok Ansel tak perlu memikirkan tentang malam ini karena tidak akan ada lagi yang mengganjal di hati Delia. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Ansel saat ini.


“Kamu tidak tahu diri, Ansel. Seharusnya kamu sadar kalau Clara adalah keponakanmu. Hubungan antara keponakan dan paman adalah sesuatu yang dilarang. Tidak hanya melanggar norma asusila, tapi juga dilarang oleh agama!” maki Delia, berharap jika Ansel akan tersadar jika keputusannya adalah sesuatu yang salah.


Tapi, tidak. Ucapan Delia tidak akan bisa menggoyahkan keputusan bulat Ansel. Pria itu sudah memutuskan akan mengakhiri hubungannya dengan Delia dan akan memperjuangkan perasaannya untuk Clara. Dia tidak akan terpengaruh ucapan Delia begitu saja.


“Aku tidak mengerti kenapa kamu lebih memilih untuk mencintai keponakan kamu sendiri. Kamu benar-benar gila, Ansel!” maki Delia.


Ansel mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berdiri. Delia pun juga ikut berdiri.


“Asal kamu tahu, Delia ... Clara bukanlah keponakan kandungku,” ucap Ansel kemudian meninggalkan Delia yang mematung di taman akibat terkejut dengan ucapannya.


*****


Gadis itu duduk di kursi tinggi sebuah bar sambil menegak minuman keras yang dia pesan. Entah sudah berapa gelas alkohol yang dia tegak habis, dia pun tidak tahu. Kepala gadis itu berputar-putar, gadis itu bahkan hanya bisa menyandarkan kepalanya di atas meja karena tak sanggup lagi menopang kepalanya.


“Satu gelas lagi!” seru Delia kepada bartender.


Bartender yang melihat Delia sudah mabuk berat pun ragu untuk memberikan minuman kepada Delia. Dia merasa iba dengan gadis tersebut karena dari tadi Delia sudah mulai meracau tidak jelas.


“Nona, apakah kamu sedang memiliki masalah?” tanya bartender.


“Bukan urusanmu! Lebih baik kamu berikan aku minumanku saja,” seru Delia kesal.


“Jika kamu memiliki masalah, cerita saja. Aku mungkin bisa memberikanmu solusi,” ucap bartender.