
Ini adalah hari ketiga Ansel menginap di rumah orang Tua Clara. Selama itu juga Clara masih bersikap jaga jarak dengannya. Meskipun Ansel sudah meminta tolong pada pelayan untuk membujuk Clara, tetap saja tidak semudah itu mengubah suasana.
Pagi itu sebelum berangkat ke perkebunan, mereka memutuskan untuk sarapan bersama untuk pertama kalinya di ruang makan setelah perdebatan beberapa hari lalu. Clara hanya diam dan cuek sambil menikmati makanannya. Hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi karena ada notifikasi dari media sosialnya.
"Apalagi ini," gumam Clara sambil menatap layar ponselnya.
Mata Clara seketika terbelalak kala menatap apa yang terpampang di layar ponselnya. Banyak teman-temannya yang berkomentar buruk tentang Clara karena postingan yang di upload oleh Delia.
"Kamu kenapa?" tanya Ansel heran.
"Ini semua karena kesalahanmu," ucap Clara.
"Hah? Apa maksudmu, kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?" ujar Ansel.
Clara menyodorkan ponselnya pada Ansel. Kini apa yang Clara takutkan terjadi. Delia kembali mencari perhatian dengan mulai mengatakan hal-hal tentang Ansel dan Clara di media sosial yang membuat Clara mulai mendapat cibiran.
"Darimana Delia bisa tahu tentang hubungan kita? Itu pasti semua karena kamu membongkar hubungan kita di depan banyak orang dengan mengunggah foto kita berdua kemarin!" ujar Clara kesal.
"Sejak awal Delia memang sudah tahu, dan dia memang tak suka dengan hubungan kita," jawab Ansel.
"Tapi semuanya tak akan menjadi semakin runyam jika kamu tidak menunjukkan pada publik soal hubungan kita," bantah Clara.
Clara merasa malu dan marah pada Ansel. Tapi Ansel mencoba menenangkan Clara dan meyakinkan bahwa semua tak seburuk yang Clara kira. Ini akan menjadi awal proses untuk mereka mengakui hubungan mereka di depan semua orang.
"Clara, tenanglah ini bukan sesuatu yang besar. Justru dengan begini, akan menjadi awal dari fakta tentang hubungan kita yabg akan terungkap," tutur Ansel mencoba memberi pengertian.
"Tenang katamu? Kenapa kamu selalu menganggap hal seperti ini begitu remeh? Saat ini aku benar-benar malu karena gosip ini," sahut Clara kesal.
"Kita hanya perlu menjelaskan pada mereka jika hubungan kita sah-sah saja karena kita bukan paman dan keponakan kandung," ucap Ansel.
Clara menatap sinis ke arah Ansel, amarahnya meledak seketika. Clara tak jadi berangkat ke perkebunan, dan kembali ke kamarnya. Melihat hal itu, Ansel segera menahan Clara.
"Dengarkan aku dulu, kamu mau kemana?" ujar Ansel sambil memegang tangan Clara.
"Aku tidak jadi pergi ke perkebunan hari ini, aku sudah terlanjur malu dengan gosip ini!" jawab Clara.
Ansel meminta Clara untuk tenang menghadapi semua itu, karena dia akan mengatasinya. Tapi Clara tak menggubrisnya dan meninggalkan Ansel yang masih berdiri mematung di depan kamarnya.
Hari demi hari belalu, Clara masih saja diam dan tak memperdulikan Ansel. Sekalipun Ansel selalu berusaha untuk mencuri perhatiannya. Sejak gosip itu beredar, kini Clara jadi jarang keluar rumah dan lebih sering mengunci dirinya di kamar.
"Nona, sarapan untuk Anda sudah siap," ucap pelayan.
"Taruh saja makanan itu di depan kamarku, aku sedang tak ingin keluar dan bertemu siapapun," jawab Clara dari dalam kamarnya tanpa membuka pintu.
"Ba…Baik, Nona," sahut pelayan itu ragu.
Mira akhirnya datang berkunjung ke rumah Clara sebab sudah seminggu tidak bertemu dengannya setelah gosip tentang Clara dan Ansel menyebar. Mira khawatir dengan keadaan sahabatnya itu karena berulang kali ia mencoba menghubungi Clara tak pernah ada jawaban.
"Di mana Clara? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Mira pada seorang pelayan.
"Nona sedang berada di kamar, sudah beberapa hari ini ia tidak mau keluar," sahut pelayan itu dengan wajah cemas.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" terdengar suara Clara dari dalam kamarnya.
"Ini aku Mira, bolehkah aku masuk?" jawab Mira.
Ceklek! Terdengar suara kunci pintu di buka. Mira lalu masuk ke kamar Clara. Sungguh ia terkejut melihat sahabatnya itu yang nampak lebih kacau dari biasanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mira.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat kacau," sahut Clara dengan tatapan mata sayu seperti orang yang tidak tidur selama beberapa hari.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini semua karena gosip di media sosial itu?" ucap Mira.
"Sungguh keberadaan Ansel dihidupku membuat semua jadi kacau. Aku sudah berusaha melupakan semua perasaanku dan menjauh darinya, tapi dia justru bersikukuh untuk terus mendekatiku dan mengatakan pada semua orang bahwa kami punya hubungan spesial," tutur Clara meluapkan semua keluh kesahnya.
"Tidak ada yang salah dengan itu, lalu kenapa kamu membenci Ansel?" tanya Mira.
"Tentu saja salah, Mir! Orang-orang menganggap kami punya hubungan darah, seorang Paman dan keponakan terlibat hubungan percintaan adalah sebuah hal yang salah," tykaa Clara.
Mira cukup prihatin dengan keadaan Clara. Namun ia sebenarnya juga paham tak ada yang salah dengan hubungan Clara dan Ansel karena keduanya tidak memiliki hubungan darah yang sah. Kali ini Mira berusaha untuk meyakinkan Clara dengan cara menasihatinya.
"Clara, jika memang semua terbongkar maka biarkanlah karena semua akan berlalu. Lagipula orang-orang perlahan akan paham kalau kalian berdua bukanlah Paman dan keponakan kandung, kalian tak memiliki ikatan keluarga sedarah," ucap Mira menasihati.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, seorang pelayan yang merupakan orang terdekat Clara di rumah ini masuk dan membawakan dua gelas jus jeruk untuk mereka. Mira lalu meminta pendapat pada pelayan itu soal hubungan Ansel dan Clara. Tentu saja pelayan itu setuju dengan pendapat Mira.
"Tentu saja Nona, aku tidak mempermasalahkan hubungan antara Tuan Ansel dan Nona Clara, karena aku tahu jika kalian bukanlah saudara kandung," ucap pelayan itu.
"Kau lihat bukan, semakin banyak orang yang mendukungmu dengan Ansel," sahut Mira.
"Aku tidak peduli, tetap saja aku merasa malu!" tukas Clara.
Malam harinya Ansel baru saja pulang dari kantornya. Ia berjalan menuju ke ruang makan karena ini adalah jam makan malam. Namun lagi-lagi Clara tak ikut makna malam.
"Clara tak ikut makan malam lagi?" tanya Ansel pada pelayan.
"Saya sudah berusaha Membujuknya keluar kamar Tuan, tapi tetap saja Nona tidak mau," sahut pelayan.
Akhirnya Ansel mencoba membujuknya ke kamar Clara. Namun justru yang didapat oleh Ansel adalah ucapan yang membuat ia semakin lelah menghadapi sikap Clara. Clara kembali menyalakan Ansel atas apa yang terjadi yang membuat Ansel tak tahu harus berbuat apa lagi.
"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?" tanya Ansel.
"Sampai kamu menyadari jika semua hal yang kamu lakukan itu salah!" bentak Clara.
"Aku tak mengerti kenapa kamu begitu membenciku, aku sudah berusaha membuat keadaan kita menjadi lebih baik tapi semua yang aku lakukan tak pernah berarti di matamu," sahut Ansel.
"Pergi, aku tak ingin melihatmu," tutur Clara.
"Baik, jika itu yang kamu mau, aku akan pergi dan tidak akan lagi mengganggu hidupmu," jawab Ansel seraya berlalu meninggalkan Clara.