
Setelah mendapat masukan dari Malik yang merupakan pengacara keluarga, Ansel mulai kembali yakin. Hari ini juga ia kembali ke rumahnya untuk mengemasi barang-barangnya. Ansel berencana untuk menginap di rumah orang tua Clara.
"Baiklah, jika kamu tidak mau tinggal di rumahku maka aku yang akan tinggal di rumahmu," ujar Ansel sambil memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Dalam hitungan menit, Ansel sudah melesat pergi meninggalkan rumahnya. Jarak antara rumah Ansel dan orang tua Clara memang cukup jauh. Selama perjalanan, Ansel tak bisa menepiskan wajah cantik Clara dari pikirannya.
"Aku tak sabar melihat ekspresimu saat aku tiba di rumah nanti," gumam Ansel sambil tersenyum.
Ansel memang sengaja tak memberitahu Clara jika akan datang ke rumah orang tuanya hari ini, apalagi untuk menginap. Sekitar satu jam kemudian mobil Ansel berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman yang luas.
"Rumah ini masih sama seperti dulu," tutur Ansel kemudian keluar dari mobil dan menenteng kopernya.
Ansel sekarang berada di rumah orang tua Clara, rumah almarhum kedua orang tua angkatnya yang Clara tempati. Ia masuk ke dalam rumah dan seorang pelayan menyambut kedatangannya.
"Selamat datang Tuan Ansel," ucap seorang laki-laki yang sedang menenteng sapu.
"Di mana Clara? Kenapa rumah ini terlihat sepi tak seperti biasanya?" tanya Ansel sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Ah, Nona Clara sedang berada di kebun, apakah saya harus memanggilkannya untuk Anda?" tanya pelayan itu.
"Tidak usah, aku menunggu saja di sini sampai dia pulang. Oh iya, tolong bawakan koperku karena aku akan menginap di sini," ujar Ansel.
"Baik, Tuan," jawab pelayan sambil membawa koper Ansel.
Ansel berkeliling ke sekitar rumah sambil memilih kamarnya sendiri di sana. Ia menatap foto-foto Clara ketika masih kecil yang di pajang di ruang tengah. Pelayan di saana yang mengenal Ansel jelas tidak melarang kehadiran Ansel di rumah ini. Justru mereka menyambut hangat kedatangan Ansel.
Ansel tersenyum menatap foto-foto Clara dari masih kecil hingga dewasa. Ia tak menyangka jika dirinya sebenarnya menjadi bagian dari masa pertumbuhan Clara karena ia yang merawat Clara semenjak kedua kakaknya meninggal karena kecelakaan. Tiba-tiba suara seorang pelayan menyadarkan Ansel dari lamunannya.
"Saya sudah menyiapkan makan siang untuk Tuan dan Nona Clara," ucap seorang pelayan berbadan gemuk.
"Ah, kau membuatku terkejut, aku akan makan nanti sambil menunggu Clara pulang," sahut Ansel.
Clara tiba di rumah saat jam makan siang. Ketika ia memarkirka mobilnya di halaman rumah, ia merasa heran karena ada mobil yang terlihat tak asing baginya. Mendadak perasaan Clara menjadi tidak enak.
"Aku seperti mengenal mobil ini, tapi aku pernah melihatnya di mana ya?" tanya Clara dalam hati.
Clara bersikap masa bodoh dan menganggap mungkin sedang ada tamu di rumahnya. Dan memang benar tamu itu adalah Ansel. Saat Clara pulang dari perkebunan dan masuk ke dalam rumah, sontak Clara terkejut melihat Ansel yang sedang duduk manis di sofa ruang tengah.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Clara menghampiri Ansel.
"Hai, kamu sudah pulang rupanya, bagaimana dengan keadaan di perkebunan?" ujar Ansel mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah basa-basi, jawab saja pertanyaanku sedang apa kamu di sini," tutur Clara dengan ketus.
Ansel menghela nafas panjang sambil beranjak dari tempat duduknya. Ia mendekat ke arah Clara, namun Clara memilih mundur menjaga jarak.
"Memangnya aku tidak boleh berkunjung ke rumah kakakku sendiri? Aku sudah lama tidak menginap di sini, jadi selama beberapa hari ke depan aku akan tidur di sini," ujar Ansel.
"Apa! Tidak, kamu tidak bisa seenaknya menginap di sini, ini bukan rumahmu!" jawab Clara.
"Aku juga punya hak untuk menginap di rumah kakakku sendiri, Clara," sahut Ansel dengan santai.
Clara semakin panik, ia tak ingin Ansel berada satu atap dengannya. Alhasil, Clara berusaha mengusir Ansel. Namun Ansel tak peduli, dan justru menganggap ucapan Clara hanya candaan.
Clara yang tahu akan percuma berurusan dengan Ansel, akhirnya memilih untuk mengabaikan Ansel. Tapi sikap Ansel justru semakin menjadi dengan terus mendekatinya layaknya remaja yang tengah mengejar pujaan hatinya.
"Baiklah jika itu maumu, terserah aku sudah tidak peduli," ujar Clara kemudian berlalu meninggalkan Ansel seorang diri.
"Hei, kamu mau kemana? Harusnya kamu menemaniku karena aku tamu di rumahmu," ucap Ansel sambil mengikuti Clara dari belakang.
"Tamu yang tidak diundang lebih tepatnya," tegas Clara dengan sorot mata tajam.
"Oh ayolah, kenapa kamu begitu benci melihat aku di sini," ujar Ansel merengek seperti anak kecil.
"Jangan berusaha mengambil perhatianku, jika kamu butuh sesuatu minta saja pada pelayan," tutur Clara lalu berjalan menuju ke kamarnya.
Tapi bukan Ansel jika menyerah begitu saja. Ia mengejar Clara dan menarik tangannya di depan para pelayan di rumah ini. Clara benar-benar merasa malu pada pelayan sebab Ansel terang-terangan mengejarnya tanpa rasa malu.
"Tunggu dulu, Clara," ucap Ansel.
"Lepaskan aku! Apa kamu tidak malu menjadi bahan tontonan para pelayan di rumah ini!" tukas Clara.
"Biarkan saja mereka lihat, supaya mereka juga tahu kalau aku benar-benar tulus mencintaimu," tutur Ansel.
Clara tak memperdulikan ucapan Ansel dan masuk ke kamarnya. Salah satu pelayan yang mengenal Clara sejak kecil melihat hal itu dan memutuskannya untuk menyusul Clara di kamarnya sambil membawakan makan siang untuknya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" teriak Clara dari dalam.
"Ini saya Nona, saya membawakan makan siang untukmu," sahut pelayan itu
Clara membukakan pintu dan membiarkan pelayan yang ia anggap sebagai sahabatnya itu masuk ke kamarnya. Mendadak pelayan itu mengerti apa yang Clara pikirkan dan mencoba menasehati Clara.
"Apakah Nona tidak suka dengan kehadiran Tuan Ansel di sini?" tanya pelayan.
"Iya, aku ingin dia pergi dari sini, keberadaan di sini semakin membuatku tersiksa dan tak bisa melupakannya," sahut Clara.
"Tapi jika aku lihat, Tuan Ansel terlihat tulus menyukaimu, Clara," ucap pelayan.
"Kenapa kamu bisa berkata begitu?" tanya Clara.
"Jika Tuan Ansel tak benar-benar mencintaimu, maka dia tidak mungkin jauh-jauh datang kemari untuk menemuimu bahkan bersedia untuk menginap," jawab pelayan.
Pipi Clara mendadak menjadi merah karena semakin malu saat pelayan mengomentari hubungan mereka secara langsung.
"Tapi dia adalah Pamanku, meskipun kami tak punya hubungan sedarah, semuanya akan terasa rumit, " jawab Clara.
"Semua memang rumit, tapi tidak ada larangan untuk kalian menjalin hubungan," ucap pelayan itu.
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang menganggap jika hubungan kami adalah terlarang," tanya Clara.
"Nona hanya perlu menjelaskan pada mereka, aku yakin mereka akan mengerti," sahut pelayan.
Tanpa disadari Ansel diam-diam menguping merasa senang mendengar hal itu. Ansel tersenyum mengingat kejadian disaat dia baru tiba disana dimana Ansel dengan berani bertanya pendapat pelayan itu.