I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 30



Sementara itu, para netizen mulai menyerang balik menyerang Delia. Segala ucapan dan sumpah serapah menghiasi dinding kolom komentar akun media sosial Delia.


"Lebih baik hapus saja video yang kita buat tadi, daripada kamu harus menanggung cercaan dari para netizen," ucap anak buah Delia memberi saran.


"Ini semua salah Clara! Andaikan ia tak datang dalam kehidupan Ansel dan merebut pria yang kucintai maka semua tidak akan berakhir menjadi seperti ini," ujar Delia meluapkan amarahnya.


Karena komentar yang diterima Delia cukup membuat ia frustasi, akhirnya Delia menghapus semua video yang berkaitan dengan Ansel dan Clara. Ia bahkan sampai menutup kolom komentar dan privasi akun media sosialnya. Delia kapok dan tak ingin lagi mengganggu ataupun mengacau ke dalam kehidupan Clara.


Sejak kejadian itu kini Clara dapat menjalani hari-harinya dengan lebih tenang. Ia tak perlu khawatir tiap membuka media sosial karena tak ada lagi orang-orang yang menyudutkan dirinya.


Sinar mentari pagi menembus kaca jendela kamar Clara. Ia mendadak terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya karena mencium aroma masakan yang tak asing buatnya. Clara berusaha mengingat-ingat di mana ia pertama kali mencium aroma masakan ini.


"Aku tak asing dengan dengan aroma ini, tapi di mana aku menemukannya pertama kali," gumam Clara dalam hati.


Clara segera bergegas turun menuju ke dapur di lantai satu. Ia melihat semua pelayan di rumahnya sedang sibuk membereskan rumah dan memotong rumput di kebun. Dari situ Clara sudah merasa heran lalu siapa yang sedang memasak di dapur.


"Astaga, Ansel?" ucap Clara yang terkejut karena pagi-pagi sekali Ansel sudah berada di rumahnya bahkan sedang berkutat di dapur.


"Hai, kamu sudah bangun? Bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?" tanya Ansel.


"Ya aku tidur dengan nyenyak, tapi kenapa tiba-tiba kamu sudah ada di rumahku pagi-pagi begini?" tanya Clara.


"Tentu saja aku ingin memastikan jika kamu baik-baik saja dan aku rindu membuatkan omelet serta salad kesukaanmu," ujar Ansel.


"Kenapa kamu hanya berdiri di situ, mari kita sarapan pagi, bukankah hari ini kamu harus pergi ke perkebunan?" tanya Ansel.


"Ah iya, tapi mungkin aku akan berangkat untuk mengecek perkebunan agak siang," sahut Clara.


"Baguslah kalau begitu aku jadi punya banyak waktu bersamamu," goda Ansel.


Clara tersipu malu dan meminta Ansel jangan terlalu mengumbar kemesraan karena Clara merasa tidak enak hari dengan pelayan-pelayannya. Akhirnya mereka menikmati sarapan pagi mereka membicarakan tentang rencana pernikahan mereka.


"Emm, sepertinya akan memakan banyak waktu jika aku harus bolak-balik dari rumahku menuju kesini untuk mengurus pernikahan kita," tutur Ansel.


"Kalau begitu bagaimana jika kamu menginap saja di sini, toh ini juga rumah mendiang kakakmu jadi kamu bebas kapanpun untuk berkunjung kemari," sahut Clara.


"Benarkah tidak masalah?" tanya Ansel memastikan.


"Tentu saja, asal kamu tidak tidur satu ranjang denganku," sahut Clara tersipu malu.


Ansel tersenyum mendengar ucapan Clara barusan. Meskipun sebelumnya mereka pernah tidur bersama, namun rupanya Clara masih merasa malu-malu dengan urusan ranjang.


"Kenapa harus malu, bukankah…" tutur Ansel yang kemudian dipotong oleh Clara.


"Sudah, hentikan jangan lagi membahas hal itu," tukas Clara dengan wajah memerah.