I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 18



Mira berteriak kencang, membuat beberapa pengunjung restoran menoleh ke arah mereka. Menyadari hal tersebut, Mira dan Clara pun memberikan isyarat permintaan maaf kepada pengunjung restoran lalu kembali melanjutkan percakapan mereka.


“Ini sudah termasuk tindakan ancaman, kita tidak bisa tinggal diam. Apakah kita perlu lapor kepada polisi?”


Clara terkekeh. “Kamu benar-benar berlebihan kali ini, Mir. Kalau kita lapor ke polisi, yang ada nanti kita justru ditertawakan,” balas Clara sambil tertawa renyah.


Mira pun ikut tertawa, menyadari ucapan konyolnya. “Benar juga, sih,” ujarnya sambil menggaruk-garuk tengkuknya. “Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?”


Clara menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, kemudian menghela napasnya kembali. “Aku tidak tahu,” jawabnya singkat.


“Clara, apa pun keputusanmu. Jika kamu ingin memperjuangkan perasaanmu kepada Ansel setelah ini, aku pasti akan mendukungmu,” ujar Mira.


Clara tersenyum. “Terima kasih, Mira. Tapi, aku sudah yakin untuk melupakan perasaanku dan menguburnya dalam-dalam. Aku bahkan tidak yakin kalau Om Ansel memiliki perasaan untukku. Daripada aku berakhir sakit hati lagi, lebih baik aku melupakan dia, bukan?”


Mira meraih tangan Clara, kemudian menggenggamnya erat. “Aku mengerti. Aku juga akan mendukungmu jika kamu ingin melupakan dia. Oh, ataukah aku perlu mencarikan pria untukmu?” gurau Mira, membuat Clara tertawa.


*****


“Aku rasa ini sudah lebih dari cukup, Pak,” ucap seorang bartender kepada Ansel.


Pria yang duduk di kursi tinggi depan meja bar mengangkat kepalanya. “Apakah kamu pikir aku peduli dengan pendapatmu?” tanyanya dengan angkuh. “Aku akan membayar berapa saja asalkan kamu mau memberikanku minuman lagi.”


“Tapi, Pak, Anda sudah mabuk. Apakah Anda tadi ke sini bersama seseorang? Bisakah Anda menyetir sendiri?” tanya bartender tersebut.


Meskipun bekerja di bar dan sering kali melihat orang-orang minum hingga mabuk, dia tetap merasa khawatir. Apalagi, jika dilihat-lihat Ansel tak terlihat seperti pria brandalan yang sudah terbiasa minum banyak minuman keras. Penampilan Ansel yang masih mengenakan setelan jas mahal pun membuat bartender tersebut takut untuk memberikan minuman lagi kepada Ansel.


“Terserah kalau kamu tidak mau, aku akan pergi ke bar yang lain,” ujar Ansel kemudian berdiri.


Bruk!


Baru beberapa langkah Ansel berjalan, dia sudah jatuh di lantai bar, membuat orang-orang sontak berbondong-bondong untuk menolongnya. Kondisi mabuk dan tubuh yang sempoyongan membuatnya kesulitan untuk sekadar berjalan sendiri. Untungnya salah satu pengunjung ada yang tahu siapa Ansel dan di mana dia tinggal jadi pegawai bar bisa mengantarkan pria itu pulang ke rumahnya.


Baru saja lima menit terbaring di sofa dan orang-orang yang mengantarnya pulang pergi, Ansel kembali tersadar. Pria itu lantas berjalan dengan limbung menuju ke arah dapur. Di dapur, dia langsung mengambil minuman keras yang tersimpan di salah satu lemari khusus dan menegaknya.


Para pelayan dan penjaga rumah yang melihat hal tersebut berusaha untuk menghentikannya, namun Ansel justru mengamuk dan mengancam akan memecat mereka jika mereka berani melarangnya.


Karena bingung harus melakukan apa, salah satu pelayan berinisiatif untuk menghubungi Clara ketika Ansel masuk ke dalam kamarnya.


“Nona Clara, bisakah Nona datang ke sini sekarang?” tanya pelayan tersebut.


“Hm, memangnya ada apa?” tanyanya bingung.


“Tuan Ansel dari tadi mabuk dan mengamuk. Tidak ada yang bisa melarangnya. Aku khawatir jika hal buruk terjadi pada Tuan Ansel,” jelas pelayan tersebut.


Clara yang awalnya sangat mengantuk sontak saja merasa segar kembali. Gadis itu lantas buru-buru pergi ke rumah Ansel meskipun jarak yang harus dia tempuh cukup jauh. Tak bisa Clara pungkiri jika penjelasan dari pelayan membuatnya merasa begitu khawatir dengan kondisi Ansel.


Sesampainya di rumah Ansel, Clara memarkirkan mobilnya secara asal kemudian berlari masuk.


“Di mana Om Ansel?” tanya Clara pada seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.


“Ada di kamar, Nona,” jawab pelayan itu.


Clara mengangguk lalu berlari menuju ke lantai dua di mana kamar Ansel berada. Di sana, dia melihat para pelayan dan juga penjaga rumah berdiri di depan pintu kamar Ansel.


Prang!


Suara barang yang dibanting terdengar berasal dari kamar Ansel. Clara pun semakin khawatir dibuatnya.


“Kenapa kalian hanya berdiri di sini?” tanya Clara bingung.


“Tuan Ansel melarang kami masuk dan mengunci pintunya, Nona.”


Prang!


Lagi-lagi suara benda dibanting terdengar.


Clara yang khawatir pun mengetuk pintu kamar Ansel.


“Pergi! Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan memecat kalian kalau kalian berani melarangku untuk minum?!” teriak Ansel dari dalam kamar.


“Om Ansel, ini aku, Clara.”


Ucapan Clara membuat Ansel yang masih meracau terdiam seketika.